ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
Pengorbanan


__ADS_3

**JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMENNYA YA BUAT NENG DEVA


HATUR NUHUN


SELAMAT MEMBACA**...


"Dek.....! Aqillaaaa....!" Deva terlihat terburu buru saat menuruni tangga, dia memanggil manggil Aqilla namun manusia yang di carinya tidak menampakan diri.


"Aqillaaa....!" Saat Deva tengah berteriak memanggil Aqilla terlihat seorang pelayan muda segera menghampirinya.


"Nyonya ada yang bisa saya bantu." Deva menoleh


"Eemm..Iya, aku mencari adik ku Aqilla apa kamu melihatnya Ina ". Pelayan yang di panggil Ina itu menganggukan kepalanya.


"Nona Aqilla ada di halaman belakang bersama kedua orang tua nyonya, seperti nya mereka sedang menanam sesuatu." Setelah memberitahu Deva di mana keberadaan Aqilla, Ina pun bergegas pergi untuk menyelesaikan tugasnya.


"Selamat pagi kakak ipar, Basstian siap melaksanakan tugas." Deva tersenyum misterius saat melihat Basstian sudah tiba, tadi dia meminta pada suaminya agar Basstian datang ke penthouse untuk mengantar Aqilla belanja oleh oleh untuk di bawa pulang ke indonesia.


"Kamu sudah datang Bass, bagus berarti Boss mu itu sangat menyayangimu." Basstian menaikan sebelah alis nya, apa maksud nya? dia pun mengikuti langkah sang kakak ipar sekaligus nyonya besar nya menuju halaman belakang.


***


"Zaeeee awas keun hileud na, Emaakkkk....!"( Zaee awasin ulat nya, emakk) Aqilla berjingkrak geli saat Zae melempar ulat yang di pegang nya kepada Qilla.


"Pangeran hileud jang teteh hiiiihhiii...".( Pangeran ulat buat tereh)


Zae terus mengejar Qilla yang berlari menghindar


"Zae picen hileud na ageh, lamun henteu teteh kutuk siah jadi bangkong!" ( Zae buang ulat nya cepat, kalau enggak teteh kutuk kamu jadi kodok)


Bukan nya takut Zae malah semakin jahil, dia mengambil ulat kedua yang ada di daun yang dia lihat.


"Hoyo loh, hileud na bogohen ka teteh."( hayo loh , ulat nya suka sama teteh."


"Eeemaaakkkkkk.......". Aqilla memikik sembari berlari menghindar dari kejaran Zae


Bugghh....


tanpa sengaja tubuh nya terasa menghantam sesuatu yang keras, terutama dia area jidat nya.


"Awwww....Nyeuri."(awww...Sakit) Aqilla meringis mengelus jidat nya, hingga sampai dia tersadar ada sebuah tangan yang ikut mengelus jidat nya yang sedikit memerah.


Aqilla mendongakan kepalanya untuk melihat siapa yang sudah dia tabrak serta mengelus dahi jenong nya itu


"Ka..Kakak..!" Basstian tersenyum lembut pada Aqilla, tangan nya masih mengelus dahi Qilla yang memerah namun tidak lama lengan nya di tepis kasar oleh gadis itu.


"Maaf...!" Dengan wajah biasa Aqilla meminta maaf pada Basstian entah meminta maaf untuk apa, meminta maaf karena sudah menabrak nya atau karena sudah menepis kasar tangan nya yang sedang mengelus dahi jenong milik nya.


"Teteh Qilla...Dimana maneuh."( Teteh Qilla..., Di mana kamu)


Aqilla merasa merinding saat mendengar suara Zae yang persis seperti di film horor tapi versi sunda bahasanya


tanpa sadar Aqila menyembunyikan diri di balik tubuh tegap pria bule yang ada di dekatnya.


"Kamu kenapa." Basstian merasa heran, padahal gadis galak ini bersikap seperti Valak tadi kenapa sekarang malah seperti hello kitty yang sedang ketakutan.


"Sssttt.... jangan kasih tau si Jahe Jahe rimpang kalau Qilla di sini, kalau sampai bocor awas aja." Aqilla memelototkan kedua mata nya seolah olah memberi ancaman mati pada pria yang tengah menjadi tempat berlindungnya dari kejahilan si Zaenudin.


Basstian tersenyum tipis dan mengangguk seolah mengiyakan.


"Kalian lagi apa sih." Aqilla menoleh ke arah belakang saat mendengar suara yang dia kenali


"Sssstttt...Teteh tong gandeng."( Sstt...Teteh jangan berisik)


Deva mengerenyitkan dahinya saat melihat Aqilla menyembunyikan diri di punggung lebar Basstian.


"Pasangan were, sok sok an embung tapi mani leget jiga pacet "( Pasangan mabok, sok sokan gak mau tapi lengket banget kayak lintah/ pacet)


"Qilla masih denger loh teh." Deva hanta melebarkan senyuman nya saat Aqilla ternyata masih mendengar gumaman nya


"Udah ah, Dek cepetan kamu ganti baju katanya mau nyari oleh oleh hayuk atuh." Mata Aqilla berbinar saat dia mendengar kata oleh oleh

__ADS_1


"Sekarang."


"Henteu, engke nungguan heula sampe lebaran kuda, nya he'eh atuh ageh salin."( Gak, nanti nungguin dulu sampai lebaran kuda, ya iya dong cepet ganti)


Aqilla bergegas pergi dari sana dengan semangat 45 di dalam hati dan kaki nya saat berlari menuju kamar.


beberapa menit kemudian ...


"Loh teteh mana." Basstian menegakan kepalanya dan mengalihkan pandangan mata nya dari ponsel .


"Eemm..Kakak ipar dia ti..."


"Teteh gak bisa ikut dek, maaf ya. Teteh lupa kalo hari ini tereh harus ke rumah sakit sama Abang buat cek up, jadi kamu perginya sama Basstian aja ya." Aqilla terdengar berdecak sebal, dan menekuk wajah serta bibir nya berlipat lipat


"Sama Emak aja deh kalo gitu." Deva memutar bola matanya seolah olah tengan mencari alasan


"Eeemmm... Emak gak bisa ikut karena lagi bikin kembang goyang sama cuhcur pesenan Abang, lalu bapak sama Zae lagi nanam bibit cabe sama temen temen nya di halaman belakang jadi kamu perginya sama Bastian aja ya, oke manis." Deva menaik turun kan alis tebal nya seolah tengah menggoda sang adik.


"Gak oke, gak asyik teteh mah." Aqilla ngeloyor menjauhi Deva untuk menuju mobil Basstian yang sudah terparkir di halaman.


"Kalau mau apa apa kamu tinggal minta sama Basstian ya!!!" Deva berseru kencang saat Aqilla menjauh dari nya


"kami berangkat dulu kakak ipar."


"Iya, hati hati ! jaga adik ku Bass." Basstian tersenyum dan menganggukan kepalanya , sudah pasti dia akan menjaga Aqilla sepenuh hati dan raganya.


"Sudah siap." Basstian membantu Aqilla memakaikan sabuk pengaman nya.


"Hhmm...!" Aqilla hanya berdehem dengan wajah yang terlihat lesu


Mereka tidak tahu semenjak mobil Basstian keluar dari penthouse itu ada yang mengintai gerak gerik mereka.


"Mereka sudah keluar ." Dia seperti sedang berbicara dengan seseorang di ujung telpon


"Lakukan dengan rapi jangan sampai gagal."


Orang yang ada di ujung telpon itu mematikan panggilan nya sepihak


Hening.....


"Terserah kakak, Qilla mah ikut aja." Bastian tersenyum tipis mendengarnya,biarpun terdengar cuek setidak nya gadis yang tengah bersamanya ini masih mau berbicara pada nya.


Tidak lama setelah beberapa belas menit kemudian mereka sampai disebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Ottawa.


Basstian membukakan pintu untuk Aqilla dan segera mengulurkan tangan nya, tapi sayang seribu sayang Aqilla mengabaikan uluran tangan itu dia memilih turun sendiri dari mobil.


Basstian hanya bisa meninju kosong udara di depan nya lalu bergegas menyusul gadis kecil yang sulit untuk dia dapatkan


"Astaga kenapa aku seperti benar benar cinta mati pada gadis kecil itu padahal dulu banyak wanita yang cinta mati padaku, tapi sekarang? apa ini balasan Tuhan untuk ku." Basstian memggelengkan kepalanya , banyak spekulasi kini telah membanjiri otak pintarnya, pintar dalam memPHP kan wanita, DULUUU!!




"Kamu mau belanja apa." Basstian kini sudah mensejajarkan diri dengan langkah kecil Aqilla


"Terserah kakak." Mood nya benar benar buruk sekarang, Basstian terus saja berusaha membuat Aqilla senang dan terhibur dengan mengajak nya kesana kemari. Berbelanja ini itu, memainkan permainan yang ada di sana dan usaha nya tidak sia sia Aqilla terlihat senang di balik wajah datarnya.


"Kamu mau kemana lagi." Aqilla mendongakan kepala nya untuk melihat pria yang sedang berdiri di samping nya , karena tinggi Aqilla hanya 155 cm tapi masih dalam masa pertumbuhan mungkin suatu saat bisa bertambah , sedangkan tinggi Basstian 180cm jadi Aqilla harus mendongakan wajahnya.


"Terserah kakak." Aqilla kembali menjilati eskrim yang ada di tangan nya.


" Segitu enak nya apa eskrim itu sehingga dia mengacuhkan ku, apa aku harus menjadi eskrim dulu agar gadis ini peka kepadaku." Basstian terus saja menggerutu dalam hati sampai sampai dia cemburu pada sepotong eskrim


"Bagaimana kalau kita makan dulu." Mata Aqilla terlihat berbinar dan langsung menganggukan kepalanya


"Ayo." tanpa di sengaja Basstian mengandeng tangan Aqilla namun setelah dia sadar Basstian langsung melepaskan nya.


"Maaf." Basstian terlihat mengusap pundak nya kikuk.


Mereka berdua keluar dari dalam Mall dengan membawa banyak paperbag di tangan mereka masing masing.

__ADS_1


Aqilla terlihat menghentikan langkah nya saat melihat tali sepatu nya terlepas, dia membungkukan badan nya setelah menaruh paperbag yang dia bawa untuk menalikan tali sepatu nya.


Aqilla tidak tahu bahwa kini ada seseorang di atas gedung sana yang tengah mengincar nyawanya , Basstian yang melihat Aqilla masih menunduk untuk menalikan sepatu nya pun kembali ke arah nya, namun saat dia melihat ada sesuatu yang asing di sekitar kepala Aqilla yang tertutup hijab , Basstian langsung melempar semua paperbag di tangan nya. Basstian melihat satu titik berwarna merah dan sudah di pastikan itu adalah sebuah sinar leser jarak jauh.


"Aqillaaaa awaaasss...!" Bastian dengan cepat menubrukan tubuhnya ada tubuh gadis kecil itu


DOR...


Satu tembakan meletus membuat semua orang di sana menjerit ketakutan.


"Kamu tidak apa apa." Aqilla masih terdiam dengan wajah masih tegang.


"Hei...Lihat kakak, kamu tidak apa apa." Aqilla terlihat kebingungan saat Basstian berbicara , saat Basstian menoleh ternyata earpiece milik Aqilla terlepas dengan cepat dia memasangkan alat itu ketelinga Aqilla tidak peduli kalau dia harus membuka sedikit hijab nya.


"Kamu tidak apa apa." Basstian mengulangi pertanyaan itu dan tidak lama di angguki oleh Aqilla,namun saat Aqilla melihat bahu Basstian dia memekik keras karena kemeja hitam yang di pakai Basstian basah, tapi bukan karena air. Saat Aqilla menyentuh nya ternyata cairan berwarna merah yang ada di tangan nya.


" KAKAK BERDARAHHH!!" Aqilla memekik tambah keras, sedangkan Bastian terlihat meringis menahan sakit. Ternyata peluru itu menembus pundak Basstian.


"Kakak tidak apa apa." Basstian mencoba menenangkan Aqilla yang terlihat sudah berembun di kedua mata nya.


Basstian mencoba bangkit di bantu oleh Aqilla, tanpa sepengetahuannya Basstian menggerakan telunjuk serta jari tengah nya seolah olah sedang memberikan sebuah kode pada seseorang.


"Apa kami bisa membantu nona cantik." Terlihat seorang wanita parubaya mendekati mereka berdua


" Nyonya bisa antarkan kami ke rumah sakit terdekat." Aqilla terlihat kawatir melihat wajah Basstian yang mulai memucat.


"Ayo, seperti nya kekasih mu itu kehilangan banyak darah."


"Dia buk...Aahh...Baiklah." Aqilla pasrah kali ini biarkan saja mereka menilai kalau dia dan Basstian adalah sepasang kekasih.


Aqilla di bantu oleh beberapa orang di sana membawa Basstian kedalam mobil nyonya itu. Tidak lama mereka sampai di rumah sakit terdekat.



Tim medis segera menghampiri mobil yang membawa Basstian, air mata Aqilla terlihat mulai menganak walau pun tidak terdengar menangis.


Basstian yang masih terlihat sadar padahal darah nya sudah mengalir di mana bahkan tangan Aqilla yang sedari tadi membantu nya untuk menekan luka itu agar tidak mengeluarkan darah sekarang di penuhi cairan merah itu.


"Ssstt..Jangan menangis, aku tidak apa apa lihatlah." Bukan nya berhenti air mata Aqilla semakin mengalir deras, sebelah tangan nya kini menggenggam tangan Basstian yang mulai dingin sedangkan satunya lagi masih menekan kuat bahu Basstian yang tertembak, bahkan Aqilla menyumpal dengan hijab pasminahnya yang menjuntai panjang.


"Jangan tinggalin Qilla..." Aqilla bergumam lirih saat Basstian di bawa oleh Para medis keruangan dan dengan terpaksa Aqilla melepaskan genggaman tangan nya.


Tangis nya semakin menjadi jadi saat Basstian sudah tidak terlihat lagi di matanya, dengan pakaian dan tangan yang penuh dengan darah Aqilla tidak tahu harus berbuat apa, ponselnya tertinggal di dalam mobil, sedangkan dia tidak tahu harus menghubungi siapa nomor ponsel kakak ipar bahkan teteh nya Aqilla tidak hapal di luar kepala.


Aqilla terduduk dilantai tanpa ada orang yang memperdulikan nya


"Aqilla...". Aqilla mendongakan kepalanya saat ada sesorang memanggil namanya


Terlihat dua orang pria mendekat ke arah nya dengan sangat tergesa gesa.


"Aa bule...". Tangis Aqilla kembali pecah saat Dominic memeluk tubuh gemetarnya


"Sstt..Sudah tidak apa, semua nya akan baik baik saja." Tangis Aqilla tidak mereda , Jack yang melihat itu hanya menghembuskan napasnya kasar apa lagi melihat penampilan adik dari kakak iparnya ini, dia yakin Aqilla sangat syok dengan kejadian yang menimpanya.


"Kakak berdarah banyak, pundak nya tertembak Qilla takut." Dominic membelai penuh kasih sayang kepala Aqilla, dia sudah menganggap adik adik dari istrinya itu sebagai sodara kandung nya sendiri.


"Sudah Basstian tidak apa apa, sekarang aa bule minta kamu pulang sama Jack oke. Biar aa bule yang menemani Basstian di sini." Aqilla menyusut ingus nya menggunakan hijab yang dia pakai


"Tapi...!"


"Kamu pulang." perkataan sang kakak ipar terdengar seperti perintah yang tidak bisa di bantah oleh siapa pun, akhirnya Aqilla menganggukan kepalanya


"Ayo Om Jack." Jack yang di panggil om oleh Aqilla hanya membelalakan matanya


Oh hei gadis kecil usia Jack baru 26 tahun hanya berbeda empat tahun dari Basstian, kenapa dirimu memanggil nya Om sedangkan kau memanggil Basstian dengan sebutan kakak. Ahh malang sekali nasib mu Jack sudah jomblo , Om Om lagi.


" Aku pulang dulu, kamu cepat sembuh ya kak."


Aqilla menatap ruangan yang tadi Basstian masuki dengan sayu, hati nya tidak tenang sebelum Aqilla melihat Basstian baik baik saja.


**APAKAH BASSTIAN AKAN SELAMAT, APA KAH PENGORBANAN NYA BERBUAH MANIS?

__ADS_1


TUNGGU DI CHAPTER SELANJUTNYA..


Babayyyyy**.....


__ADS_2