
**JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMEN NYA YA...
HATUR NUHUN..
SELAMAT MEMBACA**
4 bulan berlalu, waktu bergulir dengan cepat Emak, bapak, Qilla dan Zae sudah pulang ke indonesia, dan tersangka utama yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Aqilla belum di ketahui siapa dalang nya namun Dom tetap tidak menyerah begitu saja diam diam dia masih melakukan pencarian.
Hubungan Basstian dan Aqilla pun mulai membaik setelah kejadian itu. Mereka sering melakukan panggilan jarak jauh, apa mereka sudah jadian? Entah lah hanya waktu yang bisa menjawab nya.
Bruno dan Jerry kini sudah berada di dalam genggaman Vins bahkan mereka kini menjadi salah satu sekutu untuk klan Vins. Tentu saja Bruno langsung menerimanya, beruntung saja dia tidak langsung di bantai oleh Dominic setelah melakukan kesalahan terbodoh nya.
"Pinky...Pus..Pus..Pus..".Deva tengah berjongkok mencari kucing kesayangan nya yang bersembunyi entah di mana
"Nyonya sedang apa?" Deva mendongak saat mendengar seseorang
"Aku sedang mencari Pinky, entah kemana itu kucing." Pelayan itu pun ikut berjongkok mensejajarkan tubuh nya dengan sang nyonya
"Ina kamu mau apa."
"Saya mau membantu nyonya mencari Pinky." Pelayan yang bernama Ina itu pun berjongkok sembari menyusuri setiap ruang sempit seperti dibawah meja dan kursi serta lemari.
Deva pun tidak tinggal diam dia terus memanggil manggil Pinky
"Kalian sedang apa."
Dukkhh...
"Aawwww....." Kepala Deva terbentur meja saat dia hendak bangkit dari jongkok nya
"Sayang kenapa di benturin kepalanya." Dominic segera menghampiri Deva yang tengah memegangi kepalanya
"Kejeduk bukan di jedukin." Mata Deva berembun saat merasakan kepalanya cenat cenut.
"Kalian sedang mencari apa sih sampai jongkok jongkok begitu di lantai." Dominic mengusap kepala Deva yang sedari tadi di peganginya.
"Kami sedang mencari Pinky Tuan." Ina ikut menimpali dia ikut meringis saat melihat wajah meringis Deva karena kejedug dengan sudut meja
"Memang nya kucing itu kemana." Tangan Dominic masih setia mengelus lembut kepala Deva
"ilanggg..." Deva merengek manja pada Dominic sembari memeluk Dominic dari samping
Dom menghela nafas nya, lalu memberi kecupan lembut di dahi Deva
"Jackk....!" Jack yang baru masuk kedalam segera berlari saat mendengar panggilan untuk nya
"Ya Boss!"
"Cari Pinky sampai ketemu, dan kau Ina bantu Jack."
Jack melongo di buat nya, jadi dia dipanggil hanya untuk mencari seekor kucing. Lain dengan Ina sang pelayan muda itu terlihat menahan senyum dengan semburat merah di pipi nya.
"Dasar gila aku di panggil kemari hanya untuk mencari seekor kucing." Jack berdecak kesal dia melepas jas hitam dan melemparkan nya di sofa
"Kau cari ke arah sana aku ke arah sini." Ina menganggukan kepalanya tanpa bersuara sedikit pun
***
"Abang kalo Pinky gak ketemu gimana." Deva kini tengah berada di dalam pelukan hangat Dominic. Mereka tengah menghabiskan waktu di balkon kamar yang menghadap langsung dengan sungai buatan di belakang penthouse.
"Ya kita cari kucing baru lagi." Deva langsung menegakan tubuh nya dan melepaskan dekapan Dominic mata bulat nya menatap tajam pada sang suami
"Maksud Abang kalau Pinky ilang bakalan nyari gantinya gituh." Dominic mengerutkan dahi nya saat melihat istrinya melontarkan nada ketidak sukaan
"Ya kalau sudah hilang mau gimana lagi." Dengan santai Dominic menjawab dia tidak sadar wajah Deva menjadi semakin masam
"Ohh jadi gituh, jadi kalau Neng ilang kayak Pinky Abang mau nyari ganti nya gituh." Ocehan Deva sontak membuat Dominic menegakan tubuhnya.
"Eh...!" Dia belum peka kalau Deva kini dalam mode sensitif
__ADS_1
"Jadi kalau neng ilang Abang mau nyari ganti nya neng." Deva kembali mengulangi pertanyaan nya
"Sayang kok ngelantur kemana mana bicaranya, ya enggak lah. Siapa yang bilang kalau Abang mau cari gantinya kamu, memang nya kamu mau kemana." Dominic kembali merengkuh tubuh mungil itu kembali kedalam dekapan nya
"Abang yang bilang."
"Kapan?"
"Tadi, Abang bilang kalo pinky gak ketemu mau nyari ganti nya. Berarti kalau neng ilang kayak Pinky Abang juga bakalan nyari ganti nya kan." Mata Deva sudah berembun sekali dia mengedipkan matanya pasti air mata nya menetes.
Dominic menghela nafas nya panjang, dia tidak mengerti kenapa istri nya sangat sensitif akhir akhir ini.
"Tidak akan, Abang tidak akan pernah gantiin kamu dengan siapapun. Biarpun suatu saat nanti kamu ninggalin Abang." Deva memeluk erat tubuh kekar Dominic
"Neng gak bakalan ninggalin Abang, dan Abang harus tahu kalau yang pertama itu tidak akan pernah ada yang menyamainya tidak akan tergantikan." Dominic tersenyum sembari membalas pelukan erat Deva, dia tidak lupa memberikan kecupan berkali kali di pucuk kepala istri imutnya.
***
"Bagaimana ketemu tidak." Dominic menuruni anak tangga bersama sang istri saat melihat Jack dan Ina masih sibuk mencari kucing putih itu.
"Saya sudah mencarinya kemana mana Boss tapi kucing itu tidak ada seperti hilang di telan bumi." Jack sudah lelah bahkan penampilan nya kini sudah tidak beraturan. Namun tetap saja terlihat mempesona di mata seseorang
"Ina apa Dorothi sudah menyiapkan makan malam." Ina teresentak dari lamunan nya
"Eeh...I.. iya Tuan, Dorothi sudah menyiapkan makan malam." Dominic mengandeng tangan Deva untuk menuju meja makan.
"Bersihkan dirimu Jack, setelah itu menyusulah untuk makan malam." Jack menganggukan kepalanya dengan gontai dia masuk kedalam salah satu kamar di lantai itu.
❄❄❄
Dominic mengetuk ngetukan telunjuk nya di atas meja, dia terlihat malas untuk menghadiri panggilan rapat yang di buat oleh para petinggi Klan.
"Jadi apa yang ingin kalian bahas." Dominic sudah mulai bosan dengan suasana di sana
"Be...begini tuan Vins, kami hanya ingin kepastian dari anda." Dominic menaikan sebelah alis nya saat mendengar mereka meminta' kepastian' , kepastian macam apa yang mereka pinta.
"Jangan bertele tele sebutkan saja apa keinginan kalian kali ini dariku."
"Kami ingin kepastian apa kah nyonya Vins sudah mengandung atau belum setelah keguguran sebelum nya, Kami saran kan agar anda mencari wanita yang bisa anda jadikan sebagai indung dari keturunan klan kita." Kali ini salah satu dari petinggi klan ada yang berani mengutarakan isi pikiran mereka semua.
Dominic tersenyum sinis pada orang itu
"Ada urusan apa kalian menanyakan hal itu huh. Kalian kira kalian siapa, jangan karena kalian petinggi klan ini kalian bisa masuk dan mengatur alur hidupku seenak nya. Kalian dengar biarpun istriku tidak bisa mengandung lagi jangan harap aku akan meninggalkan nya, tanam kan itu di otak kalian."
Braakk... Dominic membalikan meja di hadapan nya membuat para petinggi menahan nafas nya sejenak
"Jangan hubungi aku lagi kalau kalian hanya ingin membahas hal yang tidak berguna dengan ku." Dominic melangkahkan kaki nya keluar di ikuti oleh Basstian yang harus menggantikan Jack untuk mendampingi sang Boss dalam pertemuan tak berfaedah ini.
"Hubungi Jack suruh dia langsung ke penthose setelah urusan nya selesai." Basstian menganggukan kepalanya
"Baik Boss!"
"Dasar manusia tidak tahu di untung, sampai kapan pun aku tidak akan meninggalkan Deva. Persetan dengan yang namanya keturunan."
Dominic kini benar benar sudah muak dengan para petinggi klan nya, mereka terlalu mencampuri hidupnya bersama Deva.
***
Deva tengah menyusun baju baju Dominic di walk in closet yang ada di kamar mereka.
"iyeh di simpen di mana nyak, kok jadi poho sih tempatna."( ini di simpan di mana ya, kok jadi lupa sih tempat nya)
Deva terus menyusuri satu persatu lemari yang ada di sana sembari membawa satu tumpuk baju yang sudah dia setrika sebelum nya.
"Gusti loba pisan sih yeh bupet , nyien riweh bae."(, Gusti banyak banget sih ini lemari, bikin repot aja)
Deva medumel sendiri sembari meletakan pakaian yang ada di tangan nya
"iyeh mah kudu di picen saparo bupet teh amih teu lier ari rek neangan baju." ( ini mah harus di buang separo lemari tuh biar gak pusing kalau mau nyari baju)
__ADS_1
Deva terus saja ngedumel tanpa menyadari kehadiran seseorang di sana
Greepp...
Dua buah tangan besar melingkar di leher nya membuat Deva menjatuh kan pakaian yang di pegang nya.
"Astagfiroulohaladzhim Abang nyien rewas bae."( bikin kaget aja)
Dominic terkekeh mendengar omongan spontan Deva yang memakai bahasa sunda
"Kamu sedang hm." Dominic meletakan dagu nya di puncak kepala Deva.
"Lagi mau ngobral baju." Deva menjawab sekenan nya membuat Dominic membalikan tubuh mungil nya itu.
"Kenapa?" Dom menaikan sebelah alisnya
"Apa nya yang kenapa." Kedua angan Deva kini sudah melingkar di pinggang Dominic.
"Kenapa kamu mau mengobral baju, memang nya uang pemberian dari Abang masih kurang hem." Dominic perlahan membuka hijab instan yang membalut kepala istri imut nya itu
"Bukan karena uang yang dari Abang kurang, tapi biar baju nya berkurang aja jadi Neng gak kebingungan lagi kalau mau nyimpen baju." Tangan Dominic kini sudah bergelayar kesana kemari
"Kenapa?"
"Apa nya lagi yang kenapa ihh." Deva mulai kesal saat Dominic bertanya kenapa kenapa kenapa terus dari tadi
"Ya kenapa kamu susah pas nyimpen baju, kan lemari di sini banyak." Dom perlahan membuka seleting gamis Deva yang berada di belakang punggungnya.
"Justru karena lemari nya kebanyakan Neng jadi pusing nyimpen nya, suka lupa di mana nyimpen nya." Dominic terkekeh melihat wajah kesal wanita yang amat di cintainya itu
"Abang mau apa, Jangan macem macem !" Deva terkejut saat gamis yang dia pakai bagian belakang nya sudah terbuka akibat ulah tangan jahil Dominic.
"Abang tidak macam macam kok,cuma satu macam saja." Dengan cepat Dominic meraih tengkuk Deva dan langsung menyambar bibir yang sedari tadi menggodanya meminta untuk di kecup.
Dom memangku tubuh mungil Deva seperti koala saat pakaian yang di pakai istrinya sudah tergolek begitu saja tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Dom merebahkan Deva dengan hati hati di atas tempat tidur mereka tanpa melepaskan tautan dan dekapan nya.
Dan sore itu menjadi sore yang panas mengelora. Decapan serta desahan erotis menggema di kamar mewah itu. Keringat membanjiri tubuh dua insan yang tengah melakukan percocok tanaman. Semoga si Mr.Cau Boma bisa menghasilkan bibit unggul kali ini dan tidak nyasar lagi seperti kemarin.
💐💐💐
Jack mengetuk ngetukan jari nya di stir kemudi, dia tengah menikmati alunan lagu yang ada di dalam mobil nya.
Jack berencana untuk ke Penthouse Dominic malam ini, karena dia mendapat pesan dari Basstian tadi bahwa sang Boss menyuruh nya segera kesana setelah urusan nya selesai. Ahh bisa sekalian makan malam gratis pikirnya.
Bruukkk... Karena kurang berkonsentrasi mobil yang di kendarai Jack menyerempet seseorang.
"Shiitt....". Jack mengumpat saat melihat seorang wanita tergolek di depan mobil nya.
Jack segera melepaskan safety belt nya dan turun dari mobil untuk melihat keadaan wanita yang tidak sengaja dia tabrak
"Nona anda tidak apa apa." Jack menepuk nepuk pipi wanita berambut sebahu itu
Tidak ada pergerakan sama sekali dari tubuh nya, mungkin dia pingsan karena syok soalnya Jack tidak menemukan luka atau pun darah dari tubuhnya.
Sebelum orang orang melihat dan menghakiminya Jack segera memangku wanita itu dan membawanya kedalam mobil.
"Harus ku bawa kemana wanita ini, apa iya harus ku bawa ke penthouse nya Boss."
Dengan hati bimbang Jack terpaksa membawa wanita itu bersama nya menuju penthouse Dominic. Tanpa dia sadari di balik pohon tidak jauh dari nya ada seseorang yang tengah mengawasi dan melaporkan kejadian itu pada seseorang
"Nona di bawa pemuda yang menabraknya Tuan ."
"Ikuti mereka, aku tidak ingin putriku kenapa napa!"
"Baik Tuan." Orang berperawakan tinggi hitam besar itu pun mengakhiri panggilan telpon nya. Dia segera mengikuti Jack dan wanita yang dia bawa.
**SIAPA KAH WANITA ITU.....APAKAH DIA??????
__ADS_1
STAY CUN TERUS MAKANYA YA
BABAYYYYYY**......