
๐ฅ๐นActually Only You๐น๐ฅ
*Cinta itu bukan hanya sekedar saling memiliki
Cinta itu bukan hanya sekedar saling menikmati waktu bersama
Cinta itu bukan hanya kau dan aku yang sekarang menjadi kita
Cinta itu bukan hanya tiap hari bersama
Cinta juga butuh kepercayaan
Cinta juga butuh kejujuran
Cinta juga butuh kesetiaan
Cinta juga butuh kasih sayang
Tapi cinta juga butuh pengakuan
Cinta itu hanya sekedar namun berasa*
๐ฃ Winston Wyn ๐ฃ
x
๐ฆ Stephanie Leeusaebio ๐ฆ
Sepasang remaja yang tadinya mengendarai sepeda motor kini telah sampai di depan pintu gerbang sekolah.
Remaja perempuan berambut panjang, lurus, berponi tipis turun dari motor tersebut dengan sumringah.
"Ah.. Thank you Baby chicken," Gadis itu mengulurkan helm yang sebelumnya ia pakai, sambil membenahi poni yang sekarang acak-acakan karena helm.
"Hm.. Hari ini aku ada banyak kegiatan, mungkin akan jemput kamu telat."
Gadis itu memutar bola matanya, menyipitkan mata sebelah kirinya.
"Oke, aku pulang biar pake buss aja, Fighting!" Ujarnya ceria sambil mengangkat satu tangannya.
Remaja laki-laki itu tak bisa menahan senyum manisnya. Setelah mengantarkan kekasihnya ia pun menyalakan mesin motornya lalu pergi.
***********
Winston Wyn, seorang remaja putra dengan sejuta pesona. Dengan senyuman manis yang mampu membuat siapa pun yang memandangnya akan terpesona.
Winston Wyn yang akrab di panggil Winwin, memarkirkan sepeda motornya. Sejenak ia merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal.
Setelah mengunci dan menaruh helm ia beranjak pergi menuju ruang kelas yang sudah tampak ramai dengan para remaja.
Winwin meletakkan tasnya diatas meja, lalu duduk sejenak. Seperti biasa di kolong mejanya terdapat macam-macam coklat, bunga, serta kotak bekal.
Winwin seringkali mendapatkan ini hampir setiap paginya. Winwin mengambil sebuah coklat kacang, dan membuka bungkusnya.
Memasukkan coklat tersebut hingga ia bisa merasakan coklat itu meleleh di dalam sana. Winwin memang seorang penggemar coklat. Hadiah yang di berikan para fansnya selalu ia makan, walaupun ia tidak suka. Dia selalu menghargai pemberian seseorang.
"Woii.. Bagi dong... Pagi-pagi udh makan coklat aja," Seru temannya yang baru saja datang, bernama Tony.
Winwin tersenyum lalu menyuguhkan beberapa bungkus coklat miliknya tadi.
"Eh Bro! Tadi dicariin sama Pak Waldy, mungkin nanti bakalan ada rapat deh," Dengan mulut penuh coklat Tony membuka obrolan.
"Iya, kau nggak ikutan?" Tanya Winwin sambil membereskan kulit bungkus coklat yang berserakan di atas bangkunya akibat Tony.
"Kalau nggak ikut pun pasti si Bio bakal nyuruh aku ikutan." Dengus Tony.
"Yaudahlah ikutan aja,"
"Iya. Padahal kita udah kelas tiga kan ya? Harusnya fokuskan ke materi untuk ujian aja kenapa? Heran.. Kau udah kelas tiga pun masih di paksa untuk menjabat jadi ketua OSIS."
Tony menggelengkan kepalanya, Winwin hanya tersenyum simpul.
Ya. Winwin adalah seorang ketua OSIS di sekolah ini. Walaupun memang sudah menduduki bangku kelas 3Sma. Banyak murid yang ingin Winwin kembali menjadi ketua OSIS, termasuk Para Guru.
*******
"Biiiiooooo!!!!! Ada hot news loh!! " Teriak seorang gadis bertubuh gempal.
Sambil ia berlari masuk kedalam kantin. Mendekati seorang gadis berambut panjang yang bernama Bio. Gadis yang bernama lengkap Stephanie Leeusaebio.
"What Baby? " Tanya Bio tertawa renyah melihat tampang Lusi temannya yang barusan berlarian.
"Ada anak baru, Cowok. Ganteeeeeng.. Katanya sih dia etnik China sama kayak Winwin gitu, ganteng Bi, sumpah!"
"Ya terus apa hubungannya sama aku Say...? "
"Gapapa cuma kasi tau aja, minta minuman kamu dong, haus... "
Bio menyodorkan Ice chocolate miliknya ke arah Lusi. Lusi dengan segera meminum habis ice chocolate itu.
Mereka beranjak dari tempat duduk setelah selesai membayar makanan yang dimaksud oleh Bio tadi. Mereka pergi menuju ruang kelas.
"Eh Sis.. Winwin nanti jemput nggak?"
"Nggak kayaknya dia sibuk, mau rapat. Kenawhy? "
"Mall yuk aku yang traktir deh,"
"Nggak janji deh, kan banyak tugas juga, em... Lusi btw kamu tau darimana ada anak baru? "
"Tadi anaknya nanya sama aku. Terus aku anterin deh ke ruang guru, tapi lupa nanya namanya.. Huhuhu.. "
"Murid baru kok telat ya? Yuk ah cepet ke kelas."
Bio dan Lusi berjalan cepat menuju ruang kelas. Karena 7 menit lagi lonceng masuk. Mereka tidak ingin di cap sebagai murid pemalas yang sering telat masuk kelas.
*******
Benar saja, apa yang telah dikatakan Lusi tadi. Pak Jay masuk kelas tidak sendirian. Pak Jay masuk dengan seorang murid laki-laki yang asing bagi penduduk murid kelas 12 IPA 1 ini.
"Baik anak-anak, kita kedatangan seorang murid baru. Dia pindahan dari sekolah internasional Dejun mari perkenalkan namamu." Pak Jay mempersilahkan Murid baru itu.
Lusi nampak sangat exited. Lusi yang memang duduk sebangku dengan Bio tidak berhenti menyikut tubuh Bio dari awal murid itu masuk.
"Ehem.. Perkenalkan nama saya Alvarenda Dejun, Mohon kerja samanya."
"Udah? Gitu aja perkenalannya?" Tanya Pak Jay.
"Iya." Anak itu mengangguk pelan.
"Ada yang ingin di tanyakan? " Tanya Pak Jay pada murid.
"Saya Pak saya pak! " Lusi dengan cepat mengangkat tangan sambil tersenyum bahagia.
"Iya Lusi silakan."
"Masih jomblo nggak? Nanya ID LineKakaoWeChat sama nomor Whatsapp dong."
Bio yang mendengar ocehan tidak jelas temannya ini tak bisa menahan tawanya. Ada rasa menggelitik di hatinya. Namun anak baru itu menatap malas Lusi.
"Aneh-aneh kamu ini. Itu tanyakan saja nanti secara face to face. Dejun kamu boleh duduk di bangku kosong sebelah Ardi,"
Dejun hanya diam karena di kelas ada beberapa bangku kosong, mungkin itu bangku anak yang lagi absen.
"Maaf Pak, saya nggak kenal yang namanya Ardi itu yang mana?"
"Oh itu bangku yang di belakang Stephanie Leeusaebio anak yang memakai seragam lengan panjang."
Dejun mengikuti arah yang di tunjukkan oleh Pak Jay. Memang di kelas ini hanya satu murid saja yang menggunakan seragam lengan panjang.
Dejun meletakkan tasnya diatas meja. Lusi dengan cepat menghadap kebelakang. Menandatangani Wajah Dejun yang masih sibuk mengeluarkan buku dan alat tulis.
"Eh anak baru kenalin aku Lusi, lengkapnya Lusi Afriani. Ini temen aku namanya Bio Bintang kelas loh. Aku yang tadi nganterin kamu ke ruang guru ituloh."
Dejun mengangguk pelan mendengar ocehan Lusi, serta menjabat tangan Lusi Afriani yang sedari tadi terulur.
"Papan tulis di depan Buk. Maaf buku saya jangan di tindihin gini." Omel Ardi kesal.
Lusi memonyongkan bibirnya lalu menghadap papan tulis.
*******
Hari ini aku harus pulang sendiri. Karena Winwin tidak menjemput ku. Sebenarnya aku sedih, tapi aku tidak boleh overprotective.
Aku berjalan malas menuju halte bus, sambil melempar dan menendangi beberapa batu kerikil.
Awalnya Lusi ingin mengajak untuk pergi ke mall, tapi aku memilih pulang.
Sekarang pukul 14:45, matahari yang berpapasan dengan kulit ku sangat panas. Membuat beberapa tetes keringat ku jatuh berceceran.
__ADS_1
Aku naik dan duduk di dalam buss sambil memandang ke arah kaca. Kurasa bagian tempat duduk sisi kiriku di tempati seseorang.
Aku tidak terlalu memperdulikan orang itu saat dia meminta izin untuk duduk aku hanya mengangguk tanpa melihat kearahnya.
Sreeeet
Krekak
Tak...
Nafas ku terjeda beberapa detik. Ku rasakan sakit bagian dadaku. Seorang yang duduk di bangku depan meluruskan sandaran tempat duduknya hingga full membuat ku sulit bergerak hingga bernafas.
Aku memejamkan mata, menahan sesak dan rasa sakit yang menjepit dadaku. Bisa ku dengar suara seorang lelaki di sebelah ku menegur orang yang tidak tahu diri ini.
Orang yang tidak tahu diri, berbuat seenaknya hingga merugikan orang di sekitar. Perlahan aku membuka mataku.
"Maaf Bu, anda terlalu full teman saya tercekik terkena sandaran tempat duduk ibu." Ucapnya lembut.
"Oh maaf, saya kira tidak ada orang." Jawab orang yang di depan ku.
Tidak ada orang?
Hello!
Anda fikir ini tempat apa?!
Bisa-bisanya dia berfikir seperti itu. Sangat merugikan orang lain.
Ku rasakan sempit di dadaku berkurang dan aku sudah bisa menggerakkan tubuhku.
Ku lirik sekilas laki-laki yang di samping ku. Sepertinya aku pernah melihat sosok ini. Tapi dimana?
Aku membenarkan posisi duduk ku sambil memasukkan buku catatan yang sedari tadi ku pegang namun tidak ku baca.
"Terimakasih," Ucap ku singkat pada orang disampingku tadi.
Dia hanya mengangguk. Aku kembali memandang keluar jendela. Melihat kendaraan bermotor yang berlalu lalang.
***********
Aku menghempaskan tubuhku kasar ke kasur ku yang beralaskan seprai bermotif Doraemon.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku mengecek beberapa notifikasi di ponselku.
Tidak ada yang menarik maupun yang penting.
Kemudian ku taruh tas dan seragam lalu berganti Pakaian.
Rumah ku sepi. Aku pergi keluar menuju dapur mencari apapun di meja makan, siapa tahu ada makanan yang bisa mengisi perut lapar ku ini.
Ah.
Lagi-lagi ini...
Pasti ini permintaan Kak Jefri. Siapa lain kalau bukan dia. Dia kan pecinta Daging for life.
Aku mendengus kesal. Kenapa Bunda tidak memasak sayuran untuk ku?
Karena jujur aku kurang suka dengan daging. Ini membuat ku letih mengunyah.
Aku kembali menuju kamar dengan langkah malas. Malas sekali.
Aku lapar. Ingin makan keluar, tapi panas. Aku meraih ponselku dan mencari nama Kakak ku, yaitu Kak Jefri.
"Apa Dek? "
"Kakak pulang jam berapa? "
"Malam. Kenapa emang? "
"Laper."
"Kakak kelas malam Dek malam baru pulang. Emang Bunda nggak masak? "
"Masalahnya itu! Bunda masakin daging aku gamau."
"Pesan Grab kan bisa."
"Males ah nanti nggak di kasi sambel, malah saos."
"Hih cerewet! Minta tolong beliin Winwin kan bisa. Biasanya juga gimana? "
"Ya terus gimana? Kamu makan apa? Di suruh delivery juga nggak mau kan?! "
"Kakak kok ngegass sih ah! "
Tut...
Tut...
Tut...
Aku memutuskan sambungan telfon.
Aku kesal!
Kakak ku sama sekali tidak peka. Bunda juga harusnya dia masak sayur. Atau nggak belanja sayur kek gimana kek buat aku kan.
Biar aku bisa memasaknya. Ini apa? Warung dan toko sangat jauh dari komplek rumah ku.
Berjalan di bawah terik matahari dan hembusan debu, inilah akhir keputusan ku.
Ingin rasanya aku menangis. Aku yang sedang sangat lelah karena belajar berjam-jam di sekolah, aku yang sedang kelaparan karena kehabisan energi.
Aku memutuskan pergi ke jalan besar untuk mencari makanan.
Sebenarnya hanya butuh perjalanan sekitar 15 menit untuk sampai ke pinggir jalan besar. Namun, di karenakan mood dan energi ku tengah buruk-buruknya, aku menghabiskan waktu hampir 50 menit untuk bolak-balik.
Dalam hatiku mengutuk kakakku yang tidak peka itu.
Terlintas fikiran ku untuk ingin berubah menjadi superhero agar cepat sampai ke rumah.
Ingin sekali rasanya aku menghilang dari dunia.
Aku membeli Mie, dan beberapa telur serta seikat daun sawi. Aku hanya ingin memasak yang praktis saja karena perut ku benar lapar.
Radius sekitar 15 meter dari rumah aku bisa mendengar suara sebuah motor. Lalu berhenti tepat di sampingKu.
"Bio.. Kamu dari mana? "
Winwin, aku memandang malas kearahnya. Mengapa dia harus bertanya seperti itu. Sudah jelas aku membawa Kantong berisi sayur yang mencuat keluar. Masih kah dia tega bertanya seperti ini padaku yang lemah ini?
"Ayo cepat naik," Suruhnya. Aku tidak menjawab apapun, hanya aku menuruti apa yang dia katakan.
Walaupun memang jarak rumah ku tinggal beberapa meter lagi. Aku tidak ingin menolak.
Aku pun tidak ingin menjawab pertanyaan Winwin. Ini akan membuat energi mu habis.
Aku membuka pintu rumah ku.
Sekilas pandangan ku gelap. Mungkin efek dari cahaya terang nan panas tadi tiba-tiba saja terkena cahaya ruangan rumah yang kurang dominan terangnya.
Aku menyuruh Winwin masuk. Awalnya dia ragu karena di rumah tidak ada siapa-siapa.
Tapi aku menelpon Bunda dan meminta izin agar Winwin menemani ku untuk sementara waktu.
Winwin duduk di ruang tengah sedangkan aku pergi kedapur untuk memasak Mie instan yang ku beli tadi.
Setelah matang aku membawa dua mangkok Mie dengan campuran telur matasapi dan campuran daun sawi.
Aku menyuguhkan satu mangkoknya untuk Winwin.
"Tumben sekali makan mie instan? " Tanyanya sambil mengaduk-aduk Mie dengan garpu.
"Bunda masak daging. Mungkin Bunda beli sayur. Terpaksa karena aku lapar."
"Kan bisa telpon aku, biar ku belikan Japchae."
"Awalnya iya mau telpon kamu. Tapi kamu kan lagi sibuk."
"Ah aku.. Uhuk uhuk.. Uhuk.. Air air... "
Belum selesai ia menjawab pertanyaan ku dia terbatuk karena tertelan cabai bulat yang kemasukan tadi. Aku rasa tadi semua cabai sudah kemasukan kedalam mangkuk milikku. Ternyata masih ada satu yang tersisa. Nasibmu lah itu Win.
Aku bergegas kedapur mengambil air putih untuk minum. Karena tadi aku lupa membawa air putih ke ruang tengah.
Winwin yang notabene kurang suka makanan pedas tentu saja sekarang akan pingsan karena memakan cabai bulat.
Sebenarnya aku ingin tertawa. Hhahhahahaha.
__ADS_1
"Ini." Aku menyodorkan gelas air putih.
Kulihat telinganya, wajahnya, matanya, Bibirnya memerah.
Oh Tuhan imud sekali anak ayam ku.
Dia menghembuskan nafas kasar secara berulang. Serta mengurut pelipis dan menjambak rambutnya.
Ntah apa yang dia rasakan sampai rela menjambak rambutnya seperti itu.
"Ini Mie nya dihabisin nggak? Kalo nggak biar aku abisin?" Tawarku.
"Biar aku habiskan." Jawabnya sambil mulai mengunyah makanannya lagi.
"Serius? Mampu nggak? Kalau masih kepedasan jangan di paksain." Omelku.
Dia menatap kosong kearah mangkuknya lalu menatap ku. Tingkahnya membuat ku sangat gemas.
Beruntung dia terlahir sebagai manusia. Jika sebagai anak ayam mungkin sudah ku uyak-uyek.
Aku mengambil mangkuk miliknya dan menyalin semua isi mangkuk itu ke dalam mangkukku.
Setelah makan, aku pergi kekamar mengambil beberapa buku dan alat tulisku.
"Banyak tugas? " Tanyanya.
"Iya.. Kamu kalau mau pulang ganti baju pulang aja dulu gapapa kok. Nanti baru ke sini lagi."
"Aku temani sampai Kak Jefri pulang." Jawabnya sambil memainkan ponselnya.
Baiklah. Akupun lanjut mengerjakan tugasku. Dia tiduran di sofa, sedangkan aku duduk di bawah meja.
**********
Seorang gadis bertubuh kurang tinggi keluar dari sebuah sanggar tari modern.
Bersama teman-temannya dia duduk di cafe depan sanggar tari modern tersebut.
"Carol, jadi gimana tuh cowok? " Tanya seorang gadis berambut bob.
"Punya pacar." Dengusnya kesal.
"Yah. Woles sista, sebelum jamur kuning melengkung sista masih punya kesempatan."
"Iya sih. Tapi rumornya pacarnya cantik, udah gitu udah pacaran 3tahun girls.. "
Jawabnya frustasi sambil mengaduk-aduk jus mangga miliknya.
"Kamu cantik kok. Bule pirang, putih semua orang pasti naksir iih."
"Iya Carol kan seorang idola modelling gituloh.. "
Gadis cantik itu tersenyum mendengar komentar-komentar dari teman-temannya.
Gadis ini bernama Chelsea Caroline park. Seorang gadis keturunan german. Dengan mata belok bulat khas miliknya. Dan rambut pirang bergelombang menambah kesan bule yang kental di wajahnya.
Dengan dagu yang sedikit berbelah, hidung mancung.
"Gimana cara dapetin dia ya girls? " Tanyanya pada teman-temannya.
"Tenang Susan punya berbagai taktik untuk melumpuhkan cowok yang udah punya pacar kok tenang. Pasti dapet asal Carol sabar dan percaya sama Susan hehhehe. "
"Asalkan Carol bayarin SPP kita tiap bulan kali hahhaha.. " Timpal yang lainnya.
Keempat gadis itu tak hentinya tertawa.
*********
......
Aku merenggangkan otot jemari ku. Menutup dan mengemasi buku milikku. Tanpa memperdulikan Winwin yang sibuk dengan ponselnya.
Selama belajar aku menikmati beberapa bungkus coklat yang di Winwin tadi.
***
Bio sibuk mengemasi buku. Awalnya tadi aku ingin membantunya mengerjakan tugas, tapi dia melarang dengan alasan ingin mandiri.
Aku selalu membawa coklat yang Kuperoleh dari sekolah tiap hari. Aku akan memberikan yang sesuai selera gadis ini.
Karena tidak semua coklat dia suka.
Setelah memakan Mie instan, lanjut mengerjakan tugas. Kami menunggu Kak Jefri datang.
Aku memang biasa bermain kesini, tapi biasanya ada kak Jefri. Jadi sekarang aku merasa canggung karena hanya tinggal berdua di rumah ini.
Biasanya kami banyak bercanda sekarang hanya diam dengan urusan masing-masing.
Brak!!
Buku yang di bawa Bio terlepas berhamburan. Tubuhnya ambruk di dekat tangga menuju kamarnya.
Aku segera menghampiri tubuhnya yang tak sadarkan diri di dekat tangga.
Aku panik menggendongnya dan menidurkan tubuhnya di sofa. Segera aku mencari nomor Kak Jefri di ponselku.
Ku pandang wajah pucatnya yang kini tergeletak lemas.
Aku takut. Biasanya dia tidak mudah sakit. Dan jika memang dia sakit, dia akan memberitahu kami.
Tapi dari tadi dia tidak berkata apapun mengenai keadaannya, aku pun lupa menanyakan hal itu padanya.
"Halo brother in low. "
"Jeff, cepat pulang kak! Bio pingsan! "
"What?! Pingsan kenapa? Aku 15 menit lagi sampai, cepat telpon ambulance! "
"Cepat Jeff!"
Jeffrey memutuskan sambungan telfon. Bisa ku dengar suara paniknya.
Kulihat jam 19:25. Aku segera menghubungi ambulance. Sambil menunggu ambulance dan Jeffrey.
Aku berusaha membangunkannya. Aku takut dia kenapa-kenapa.
Aku hanya bisaa mondar-mandir tidak jelas, sambil sesekali mengelap keringat yang memenuhi wajahnya cantiknya.
Aku pun takut di tuduh macam-macam dengan anak gadis orang. Jujur aku tidak ingin hal buruk menimpa kami.
Ku dengar Jefri datang dengan disusul suara ambulance.
"Bagaimana bisa?! "
"Entahlah, saat dia ingin membawa buku-buku ke atas tiba-tiba dia ambruk." Jelasku ketakutan.
"Untung kau ada disini, mari."
Aku mengangkat tubuh pucat ini kedalam ambulance.
Aku meninggalkan motorku di rumahnya. Sepanjang perjalanan aku berdoa tiada hentinya.
Jefri memilih naik motor untuk menghindari macet. Dia tidak ikut bersama kami di ambulance.
Aku sempat menelpon ibu dan Ayahku. Karena mungkin aku tidak pulang dulu kerumah. Orang tua kami sudah sama-sama tahu hubungan kami, jadi ini tidak terlalu masalah.
Orang tua ku sempat khawatir dan berjanji akan menyusul ke rumah sakit jika sudah selesai pekerjaannya.
Aku dan Jefri tidak bisa masuk ruangan, kami menunggu di luar ruangan IGD.
Mengapa bisa terjadi hal seperti ini?
Apa yang harus aku lakukan?
Ini salahku. Aku pantas disalahkan.
Oh Tuhan tolong jaga gadisku.
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
Tidak ada yang bisa ku lakukan terkecuali hanya berdoa untuk nya..
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
***Ttd Author
๐ฆ#Miss_lyr97๐ฆ
@miss_lyr97***
__ADS_1