
***
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
Sekarang kita bertengkar
Dan saling membanting pintu
Membelakangi lalu kembali
Membesarkan segala kekurangan kita
Dan aku bertanya-tanya mengapa?
Bertanya-tanya untuk apa?
Mengapa kita terus kembali untuk kesekian kalinya?
waktu banyak kehilangan jejak kita
Di mana yang asli?
Tak terartikan, berputar keluar dari sentuhan
Hingga lupa bagaimana rasanya?
๐ฅ๐น Actually Onlyย You ๐น๐ฅ
***
"Kamu berani bentak kakak, Bi?" tanya Jeffrey dingin. Pandangannya turun pada jemari yang ia letakan pada pangkuannya.
"Aku nggak abis fikir, kakak nanyanya frontal. Ya. Pertanyaannya amat frontal." Bio berdiri dari bibir ranjang menuju meja belajar. "Cuma gara-gara ngeliat Aku mual kakak menyimpulkan kalo aku hamil?" Lanjutnya berbalik melihat tubuh Jeffrey yang membeku pada bibir ranjang.
Jeffrey memijat kepalanya dengan kedua siku tangan yang ia tumpukan pada ujung pahanya. Bukan maksud ia untuk menyinggung perasaan adiknya, ia hanya ingin menanyakan kebenaran.
"Besok kita kedokter kak. Test perawan sekalian bawa Winwin." Bio meraih ponselnya yang sejak pulang sekolah tadi menganggur. Jeffrey hanya diam tak bergeming sedikitpun. Ia tau dia melukai perasaan adiknya dengan pertanyaan sensitif.
"Kakak cuma mau mastiin." Lirihnya. "Kakak nggak mau keluarga kita malu, juga nggak mau adik kakak di permainkan sama orang lain, walaupun itu---"
"Walaupun sahabat kakak sendiri!" Bio memotong kalimat Jeffrey dengan dingin dan penuh penekanan. "Kakak boleh keluar kak aku ngantuk, capek, besok pagi kita bisa bertemu terimakasih." Lanjutnya sambil berdiri didepan pintu kamar mempersilahkan Jeffrey keluar.
Jeffrey menurut. Ia segera bangkit dan keluar kamar tanpa melirik apalagi menoleh pada adiknya. Maafkan kakak, Bi. Batinnya. Bio sudah sering bertengkar dengan Jeffrey, tapi bertengkar yang seperti ini.
Bio menutup pintu dan segera pergi ke ranjang, segera merebahkan tubuhnya. Seluruh tubuhnya nampak terasa seluruh persendianya lepas dari tempatnya. Memandangi kontak yang siap ia tekan menu dial.
"Hallo, Baby."
"Hi, Bby. Sudah tidur?"
"Belum. Lagi apa?"
"Rindu."
"Kamu rindu?" Winwin terkekeh pelan sambil menelentangkan tubuhnya, lekungan senyum dari bibir tebalnya terukir indah. "Jangan rindu berat--"
"Kamu nggak akan kuat biar aku saja yang jadi Dilan, gitu?" Bio merasa sedikit terhibur dengan gombalan receh kekasihnya, melupakan sejenak rasa kesalnya barusan pada kakaknya.
"Apasih sayangku, hm?" Bio merasa geli terkadang mendengar nada pertanyaan Winwin yang aneh.
"Aku mau nyanyi boleh?"
"Boleh."
"*Now we're picking fights
And slamming doors
__ADS_1
Magnifying all our flaws
And I wonder why?
Wonder what for?
Why we keep coming back for more*."
Bio menghentikan suaranya. Merasa ia salah memilih lagu. Ini bukan lagu yang tepat. Baginya hari ini adalah hari terburuknya. Ia sempat ingin bertengkar dengan Winwin, malam ini ia berselisih dengan kakaknya. Mungkin lagu ini memang cocok bagi suasana hatinya, tapi sekarang ia sedang berbicara pada Winwin, kekasihnya.
Merasa suara diseberang sana senyap, Winwin mengambil alih melanjutkan lirik lagu tersebut. Baginya tak masalah. Ia tahu pasti kekasihnya merasa menyindir atau menyinggung perasaan hatinya. Tapi Winwin adalah laki-laki yang peka dan cepat tanggap.
"*Is it just our bodies?
Are we both losing our minds?
Is the only reason you're holding me tonight
'Cause we're scared to be lonely*?"
Bio tersenyum tipis mendengar suara kekasihnya dari seberang telepon sana. Lalu mereka melanjutkan dan bernyanyi bersama dengan volume kecil.
"Do we need somebody
Just to feel like we're alright?
Is the only reason you're holding me tonight
'Cause we're scared to be lonely?"
"Tidurlah Bby, aku akan menyanyikan satu lagu lagi buat kamu."
"Aku masih pengen ngobrol." Bantah Bio dengan suara lembut.
"Kasian matamu pasti lelah, otakmu yang seharian ini dipakai berfikir pasti ia menginginkan istirahat dulu, aku tahu tuan dan pemiliknya seorang wonder Woman, tapi tetap saja anggota tubuhnya butuh tenaga dan istirahat. Karena mungkin hari esok ada yang lebih menantang akan terjadi."
"Belajar dari mana kata-kata yang kayak gitu?"
"Iya-iya. Aku tidur, kamu juga langsung tidur Bby, goodnight Bby, sweet dream."
"Night. Selamat tidur peri cantik, semoga mimpi indah dan tidur mu nyenyak hingga pagi sayang. Tidurlah selamat malam. Lupakan aku sejenak hingga pagi menyambut cerita barumu. Wo Ai Ni."
Bip.
Pipi Bio menghangat mendengar kata penutup yang begitu panjang dan dramatis dari kekasihnya. Ia menggigit bibir dalamnya dan menutupi wajahnya hingga tenggelam dibalik selimut.
Winwin menutup ponsel dan meletakkan dinakas sebelah tempat tidur. Merenggangkan otot-otot yang seharian kelelahan dengan aktivitas butuh istirahat sejenak. Teringat dengan gombalan receh yang ia lontarkan barusan membuatnya bergidik ngeri dan menjitak kepalanya sendiri pelan.
"Memalukan." Gumamnya malu sendiri.
***
Pukul 03:30 dinihari.
Bio merasakan seluruh tubuhnya lemah, letih, lesu. Seluruh kulitnya terasa tertusuk-tusuk jarum. Nafasnya tersendat-sendat. Keringat membanjiri seluruh tubuh dan wajahnya. Kepalanya terasa berdenyut pusing dan sakit. Tubuhnya bergetar menggigil hebat.
Ia meraba-raba nakas berharap bisa segera menelpon kakaknya. Tubuhnya amat gemetar sehingga amat sulit baginya untuk menemukan ponsel yang terletak di nakasnya. Ia ingat, nomor ponsel kakaknya berada di urutan pertama.
Dengan nafas pendek-pendek ia berusaha memperjelas suaranya agar kakaknya bisa segera menghampiri ia dikamarnya.
wo yao ni Come back
Oh wo yan li zhi you ni suo you de wei yi (yuan yuan de)
ben xiang wo Come back
yuan lai mei you ni de mei yi tian dou shi e meng de ling yu (Everyday)
__ADS_1
Dejun sedikit terkejut melihat nama "Stephanie." Menelponnya tengah malam begini. Dengan ragu dan mata yang masih terkantuk-kantuk Dejun menjawab telpon dengan nada bertanya malas.
"Apa?" Jawabnya judes, sambil matanya masih terpejam.
"Khak ...ย Chep ... Phet khak ... Hm ... "
Dejun tidak bisa mendengarkan dengan jelas apa yang gadis ini sampaikan. Suaranya terbata-bata, lirih dan pelan.
"Apa Stephanie? Ini udah malam." Dengusnya kesal karena merasa jam tidurnya terganggu dengan suara teror yang konyol.
"Khak ... A-aku ... ghem ...ย mmhetteran khak ..."
"Stephanie kamu kenapa? Diculik?" Tanyanya mulai cemas dan segera duduk mendengarkan suara yang lirih ini dari seberang telepon.
"Hmmm ...ย S-saak ... kkhittt ..."
"Hah sakit? Kamu sakit kenapa? Diculik dimana? Hei kamu dengar suara aku kan? Cepet beri alamat aku akan cepet nolong kamu, hei Stephanie." Dejun beranjak meraih sweeter berwarna biru dongker yang tersangkut di balik pintu. Sambil fokus pada telepon genggam sambil terus mendengarkan suara teman sekelasnya.
"Khakk .... Hmmm .... Shakhitth ..."
"Sabar ya." Kata Dejun lembut. Ini pertama kalinya ia berbicara pada teman sekelasnya dengan nada lemah lembut, tidak judes seperti biasanya.
Sesampainya di luar rumah ia bingung ingin pergi kemana? Dimana dia diculik? Pikirnya ragu. Dia sudah menaiki motor besarnya. Namun dia bingung kemana dia akan pergi menolong temannya ini? Dia sudah keburu memutuskan sambungan telepon. Jika dia menelpon balik khawatir penculik itu mendengar dering ponsel temannya dan temannya akan disiksa semakin parah.
"Ah nggak-nggak.ย Mungkin aku harus kerumahnya dulu ngasi kabar ke keluarganya." Dejun menggelengkan kepalanya, agar bayangan siksaan yang barusan merayap masuk ke otaknya sirna.
Dejun memutuskan untuk pergi menuju rumah temennya, Bio. Dia ingin memberitahu bahwa Bio sedang di culik.
Dejun tau rumah Bio karena hari pertama ia pulang sekolah tidak sengaja pulang bersama gadis ini. Mengantarnya sampai kerumah. Jadi ia cukup mengandalkan ingatannya yang waktu itu saja.
***
๐ฅ๐นActually Only You ๐น๐ฅ
Apa hanya fikiran kita?
Benarkah telah kehilangan akal kita?
Satu-satunya alasanmu mempertahankanku malam ini
Karena kita takut akan kesepian?
Apakah kita perlu seseorang?
Hanya untuk merasakan seperti kita baik-baik saja?
Terkadang tahu bahwa rasa cemburu itu salah
Namun bisakah semuanya di cegah?
Itu bukan alasan untuk marah
Padahal kita tahu kita salah
Saling diam dan tak berbicara itu salah
Namun mengekspresikan dengan amarah itu yang paling salah
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
Ttd author
#Miss_Lyr97
๐ฆ๐ฆ๐ฆ
๐ฆ๐ฆ
__ADS_1
๐ฆ
****