
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
Happy Readingπ
***
Belum selesai ia bertanya, sebuah tangan terulur kedepan melewati lehernya. Mencubit dua buah karet gelang untuk mengikat kangkung, bukan, karet untuk mengikat nasi bungkus tepatnya.
Bio hampir tertawa terbahak-bahak melihat karet gelang ini. Dia tahu siapa orang itu, Dejun. Tapi mengapa harus karet gelang kunciran kangkung? Apa dia berniat untuk memberikan karet ini pada Bio, agar Bio menguncir rambut panjang yang sekarang tinggal sebatas bahu? Jika ia, maka karet gelang sangat menyiksa.
"Dejun."
" ... "
"Dejun."
" ... "
"Jawab Dejun."
"Katanya mau iket rambut, ini ambil! Tanganku pegal." Jawab Dejun kesal.
Bio meraih karet gelang itu dan melepaskan topinya. Dia langsung menghadap ke belakang, dimana Dejun berdiri dengan sebuah sweater di tangannya yang ia gunakan untuk berteduh.
"Makasih, kamu ngapain di belakang ku? Berdiri, diem gitu?"
"Ck. Bawel ah. Cepat menghadap sana!" Suruh Dejun sambil memutar bahu Bio, agar gadis ini menghadap ke arah laut lagi.
"Oh, kamu mau payungin aku pake sweater kamu itu?" tanya Bio yang menurut menghadap ke arah laut, sambil menguncir rambutnya dengan karet gelang dari Dejun tadi.
Tidak ada jawaban dari Dejun.
"Dejun."
"Udah madep sana! Katanya panas!" Memutar kepala gadis dengan kedua tangannya lagi.
"Leher ku sakit kamu putar-putar."
"Makanya diem! Syukur-syukur aku mau bagi-bagi peneduhan buat kamu."
"Galak amat Jun, nggak ikhlas nggak apa-apa kok. Dari tadi juga aku kepanasan."
" ... "
"Yaudah, kamu duduk di kursi sini. Jangan berdiri megangin sweeter kayak kalong gitu, panas."
"Ku seret ke laut kamu, ya?!"
"NYENYENYE." Ejek Bio ikut-ikutan kesal. Memang Dejun mampu menularkan badmood pada siapun rupanya.
"Mau ice cream?" tanya Dejun, Bio yang merasa Dejun bertanya padanya langsung menolehkan kepalanya ke belakang, dimana Dejun berdiri menghalangi panas.
"Di bilang ga usah liat kebelakang, kok!" Dejun kembali memutar kepala gadis ini tanpa rasa manusiawi.
"Cuma mau mastiin di belakang ku ini manusia atau Jin!" kesal Bio.
"Mau nggak?!" tanya Dejun ketus.
"Mau."
"Rasa apa?!"
"Lemah lembut dikit sih Jun! Coklat, kalau ada coklat kacang."
"Tunggu sini, jangan kemana-mana! Ini buat kamu neduh."
Setelah Dejun berkata seperti itu, ia melemparkan sweeternya pada Bio. Gadis ini mendengus kesal, karena merasakan sakit di pipinya yang terkena sabetan resleting sweeter Dejun.
"Dasar manusia purba!!! Sakit tau nggak?!!"
Percuma saja dia mengumpat, Dejun sudah tidak mendengarkan suaranya.
Setelah beberapa menit, Dejun pun datang dengan membawa dua buah ice cream cornetto. Dan langsung menyuguhkan ice cream cornetto chocolate pada Bio. Bio menyambut ice cream itu dengan senyuman terharu yang di buat-buat. Semakin membuat Dejun ilfeel.
"Makasih."
"Suka?" tanya Dejun langsung merebut kembali sweeter miliknya yang sedang bertengger di kepala Bio. Bio menahan diri agar tidak mengumpat.
__ADS_1
"Rese emang ya,Β tercipta dari rollercoaster ya kamu ini?!" tanya nya kesal pada Dejun, tanpa menjawab pertanyaan yang Dejun lontarkan tadi. Dejun dengan wajah tanpa dosanya kembali berdiri di belakangnya. Menghalangi panas matahari.
"Suka nggak?" tanyanya lagi.
"Suka!" jawab Bio dengan nada malas-malasan.
"Kalau suka, sekalian makan bungkusnya."
Bio kembali mengeram, menahan emosi. Cukup cuaca hari ini saja yang panas, jangan hati. Sabar.
Sunyi.
Mereka cukup lama berdiam diri tanpa berbicara satu sama lain. Apalagi anak-anak murid yang berlalu lalang mengambil snack dan minuman dingin.
Bio semakin merasa jengah dan bosan. Ia memutuskan mengganggu Dejun yang sedang berdiam diri memandang lautan. Hebat saja menurut Bio, laki-laki ini mampu berdiam diri tanpa bicara berjam-jam. Mungkin jelmaan manekin. Iya bisa jadi kan para Reader's?
"Dejun."
"Hm."
"Bosen."
"Apa urusan ku?!"
"Ajak aku ngobrol."
"Ini udah."
"Aku duduk di bangku kamu ya?" izin Bio memelas.
"Hm." Setelah mendapatkan izin dari Dejun Bio pun beranjak pindah ke kursi Dejun. Baru saja ia akan mendaratkan bokongnya pada kursi, Dejun mendorong jidatnya.
"Apasih? Katanya tadi boleh?"
"Ya. Tapi jangan mepet-mepet."
"Aku belum duduk padahal."
"Aku ngasi tau."
"Takut amat sih. Nggak bakal alergi Jun."
"Tau. Tapi kamu lagi kunciran, jadi jauh-jauh dari aku."
"Iya."
"Ini. Pake sweater ini, dan pake topinya." Kata Dejun sambil menyerahkan sweater pada Bio.
"Udah."
"Oke."
"Oke apaan si?"
"Aku nggak suka liat leher kamu."
"Kenapa?"
"Mengganggu."
"Mengganggu dari mananya coba?"
"Penglihatan ku."
"Loh kok bisa?!"
"Banyak dakinya."
"Hah?!!!"
Bio langsung meraba lehernya dan merasa insecure. Dejun berhasil melambung nya dengan cara memberikan sweeter, namun beberapa detik kemudian dia di hempaskan. Entah dari pagi sudah berapa kali Bio di buat kesal. Dejun sangat pandai membuat orang nyaman, namun di cara yang bersamaan dia akan membuat orang itu merasa di banting. Itu yang sedang di rasakan Bio saat ini.
"Aku becanda Stephanie."
"Tau."
"Marah?"
"Nggaklah yaw."
__ADS_1
"Syukurlah."
"Kenapa? Emang kamu fikir aku kamu yang kerjanya marah-marah?"
"Kapan aku marah?"
"Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari malah, ya sepanjang hari."
"Aku nggak pernah marah."
Bio melihat kearah Dejun dengan tatapan mengintimidasi. Dejun membalas tatapannya, hanya sekilas. Lalu Dejun lebih memilih memandang ujung sepatunya dan pasir.
"Aku nggak pernah sama kamu."
"Yakin?"
"Iyalah."
"Tuh kan. Itu aja judes lagi."
"Perasaan kamu aja."
"Masa sih? Menurut ku kamu itu pemarah, judes, cuek, dingin, irit ngomong, tapi ..." Bio menggantungkan kalimatnya, Dejun melirik sekilas. "Tapi kamu kalau di lihat-lihat perhatian, Jangan-jangan kamu naksir aku Jun?!"
"Bukannya kamu yang naksir aku?"
Bio mematung hanya dengan mendengar kalimat sederhana ini. Benarkah dia menyukai Dejun? Menyukai dalam arti apa?
"Gausah di fikirkan. Kamu nggak laper? Ini udah jam duabelas, waktunya makan siang. Mau makan dimana?" tanya Dejun.Β
"Aku belum lapar."
"Kamu dari pagi belum makan, Stephanie."
"Kan aku udah makan ini." Bio mengacungkan gelas yang berisi es batu yang telah mencair tadi pada Dejun.
"Kenyang? Makan es batu?"
"Kenyang. Emang kamu laper? Kamu sendiri mau makan apa?"
"Makan batu!"
"Dejun!"
"Apaan sih?!"
"Yang bener jawab tuh."
"Udah."
"Tendang aku ke Merkurius aja, Jun." Bio kesal dan beralih ke bangkunya sendiri.
"Sinilah. Minta tendang tapi kabur." Ejek Dejun dengan tatapan mengejek.
Bio benar-benar kesal. Dejun selalu saja mempermainkan perasaan nya. Selalu daja berhasil membuat moodnya anjlok, dan terjun bebas. Namun selalu saja mereka bersama dalam beberapa waktu, seperti telah di atur dengan sempurna.
*
Author : Yaiyalah, kan di atur sama gue. Gue kan author π
Readers :Β Eksis amat sih jadi Author! Muncul bae perasaan dah. π
Author :Β Suka-suka Author lah, Author kan maha benar π
Readers :Β ( Nimpuk Author pake β½π‘πͺπ£π«βπ©βπ βπ¨π§β)
*
π₯πΉ **Actually Only You πΉπ₯
Ttd Author
#Miss_Lyr97
π¦**
***
**Entah apa yang merasuki sayaπ€£
__ADS_1
Kok malah masih mbulet sama si Bio x Dejun πΉ
Kuy vote plus comment nyaπ**