
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
*Bukan salahmu
Dan juga bukan salahku
Salahkan saja pada takdir
Bukan keinginan hasrat ku
Bukan hasratku yang ingin mengakhiri
Tapi takdir yang memaksa*
π₯πΉ Actually Only YouΒ πΉπ₯
***
"Kata Winwin," lirihnya dengan mata yang berkabut menahan kristal bening yang siap meluncur deras membasahi pipi.
"Oh pacarmu." Komentar Dejun acuh.
"Ex- " Bio tidak melanjutkan ucapannya, kristal bening yang ia tahan kini meluncur deras membasahi pipi mulusnya. Matanya merah serta hidungnya.
"Aku cuma cari hiburan hiks," isaknya. "Kalo cepet pulang kerumah nantinya aku keinget terus, akutuh jahat hiks."
Dejun mulai melunak dan merangkul bahu gadis ini untuk menenangkan.
"Alasan aku nggak masuk akal." Bio mengelap kasar air mata di pipi nya.
"Kenapa?" tanya Dejun dengan nada lembut, suaranya mampu menyejukkan hati.
"Ini juga demi keselamatan dia, keluarga ku, kakaku juga."
Dejun mengeratkan rangkulannya, dan menyelipkan surai gadis ini ke sela telinganya. Dia tidak tega jika harus berhadapan dengan gadis yang sedang menangis.
__ADS_1
"Nggak kebayang sakit hatinya dia. Padahal aku hiks."
"Ssssttt ...Β Jangan nangis, maaf ya."
"Gara-gara aku semua jadi korban. Bukan salah dia, ini salah takdir Jun, hiks."
"Iya-iya," Dejun membelai lembut puncak kepala gadis yang menangis di pelukannya ini.
"Sabar, penyayang, lemah lembut, perhatian, peduli, baik, nggak kayak kamu hiks."
Dejun mendelik kesal mendengar kata-kata terakhir, untung saja gadis ini sedang bergalau ria, jika tidak mungkin akan ia ceramahi habis-habisan.
Srooot.
Srooot.
Gadis itu mengeluarkan tysu dan menyisihkan ingusnya lalu membuang tysu itu asal. Bisa kita lihat ekspresi jijik seorang dejun.
"Aku nggak mau pulang, aku mau disini aja dulu." Lanjutnya membaringkan tubuh kurusnya pada pentas seni yang mereka gunakan tempat duduk sedari tadi.
Gadis itu meneletangkan tubuhnya menghadap ke atas langit-langit ruang musik ini. Dengan sesegukan menahan tangisnya yang ia pecahkan tadi.
Tanpa sadar ia tersenyum melihat wajah merah gadis ini. Ia bisa merasakan gejolak emosi gadis di sampingnya ini. Beginilah rasanya di tolak beberapa waktu lalu.
Dejun membelai lembut kening Bio yang basah karena keringat. Menepikan surai yang menutupi sebagian wajah gadis ini. Gadis ini nampak cantik disaat tertidur seperti menurutnya.
"Cantik." Pujinya sambil terus menatap lekat wajah gadis yang tertidur pulas ini. Entah sejak kapan ia terlelap.
Sebagai seorang lelaki nalurinya berkata bahwa memang benar gadis ini cantik. Wajah tenang nya saat ini terlihat berkali-kali lebih cantik daripada saat mengomel.
"Huh."
Dejun ingin beranjak menjauhkan tubuhnya dari gadis ini. Ini bahaya. Sebagai seorang laki-laki situasi seperti ini sangat berbahaya. Dia tidak ingin kehilangan kendali. Maka dari itu ia bersikap cuek pada gadis ini.
Namun siapa sangka?
Gadis ini justru terus-terusan menguji kesabarannya. Hingga pertahanannya runtuh.
__ADS_1
Belum sempat Dejun bangun, gadis itu melingkarkan tangannya pada dada laki-laki ini. Membuat Dejun susah payah mengatur nafasnya.
Mengapa jarak keduanya semakin menipis?
"Hm." Suara parau Bio. Dejun melihat kesisi kirinya, wajah polos Bio amat dekat dengan wajahnya, membuat ia menahan nafas sekali lagi.
Tanpa sadar, tangan kanannya mengelus lembut pipi mulus Bio. Ini nalurinya sebagai seorang lelaki.
Bio menatapnya intens, entah di sengaja atau hanya belum sepenuhnya sadar dari tidurnya. Begitupun Dejun, pertahanan dirinya benar-benar runtuh di permainan gadis ini.
Bio tersenyum tulus untuknya. Nafas keduanya beradu.
"Sudah ku bilang bahaya."
Dejun semakin menipiskan jarak bibir keduanya,Β Bio hanya memejamkan matanya pasrah saat bibir Dejun menyentuh permukaan bibir tipisnya. Menikmati sensasi yang terciptakan ketika bibir mereka saling bertabrakan. Dengan ritme degup jantung yang bertempo 1/1, keduanya hanyut dalam dunianya.
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
*Berhenti menyalahkan godaan
Naluri menuntut segalanya
Hingga benteng pertahanan
Runtuh seketika*
π₯πΉ **Actually Only You πΉπ₯
Ttd Author
#Miss_Lyr97
π¦**
***
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan kalian para Readers kuπ¦π