
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
***
Bio melangkah menyusuri pesisir pantai dengan telapak kaki yang telanjang tanpa alasnya.
Dia ingin menyusul teman-temannya yang bermain di pantai. Entahlah Bio tidak tahu mereka memainkan apa. Yang jelas macam-macam mainan air.
Netranya menangkap sosok bongsor. Tubuh dengan kaos putih dan celana kain selutut. Siapa lagi kalau buka Dejun. Obyek kenakalannya. Cepat-cepat ia berlari mengejar Dejun dan menyamai langkahnya.
"Dejun." Panggilnya dengan nada yang dibuat-buat imut. Dejun hanya meliriknya sekilas dan terus berjalan.
"Sombong."
"Siapa?"
"Dejun."
"Aku kenapa?"
"Judes, sombong, cuek, jutek, kayak ganteng-ganteng aja."
"Kan emang ganteng."
"Kata siapa?"
"Kamulah."
"Jutek, jangan jutek-jutek sama aku lah."
"Kamu itu ngeselin."
"Tapi cantik."
"Kata siapa?"
"Kamulah."
"Kapan?"
"Tadi."
"Jun, tungguin. Jadi cowok blingsatan amat sih."
"Cepetan."
"Kamu bisa renang?"
"Kenapa? mau ikut?"
"Iiih bukan."
"Dejun! Tunggu ah."
"Lelet."
"Kamu aja jalannya kayak rollercoaster."
"Mana ada."
"Tuh kan di tinggal lagi. Nggak romantis ah."
"Emang kamu siapa? Bukan pacar aku juga."
"Aku pundung pokoknya."
"Biarin."
"Dejun."
"Lah apalagi sih?"
"Capek ya ngomong sama kamu, tanya sekali jawabannya juga sekali."
"Terus aku harus gimana Stephanie?"
"Tanya balik kek."
"Kan udah."
"Kapan?"
"Barusan."
__ADS_1
"Barusan apa?"
"Barusan nanya kamu."
"Nanya apa?"
"Stephanie."
"Iya Dejun."
"Kamu jadi cewek bawel ya?!."
"Karena Dejun."
"Dih."
"Kok dih sih?"
"Banyak tanya ah. Kapan kita nyampenya kalau kamu banyak tanya gini?"
"Emang mau kemana?"
"Ke Wuhan."
"Ngapain?"
"Giveaway kamu ke virus Corona."
"Jahat ... "
"Emang kamu aku apain?"
"Jahat ish. Tungguin ah."
"Hih, ini anak orang banyak amat mulutnya."
"Hihi. Jun capek."
"Istirahat."
"Aah! Serius pundung ah."
Bio berjalan mendahului Dejun dengan langkah panjang dan langkah yang di hentak-hentakan. Dejun hanya memandangi punggung gadis itu dengan tertawa geli. Namun langsung berubah garang setelah gadis itu menoleh kearahnya.
"Stephanie."
"Stephanie."
"Yaudah."
Bio hanya memandangnya dengan kilatan kesalnya.
"Makanya kalau orang ngomong tuh di liat, di respon." Bio menunggu Dejun agar menyamakan langkah mereka.
"Kan udah."
"Udah apa?"
"Udah respon."
"Respon apa?"
"Respon kamu."
"Dejun!"
"Apa sih?"
"Liat aku!"
"Nggak."
"Dejun."
"Nggak Stephanie."
"Kenapa?"
"Banyak orang."
"Hah?!"
"Kamu lupa?" Dejun menundukkan kepalanya pada gadis ini. "Yang di ruang musik?" Bisiknya.
"Ah?!Β Iiiiih ... Udah ah, ngeselin." Bio memukul baju Dejun bertubi-tubi. Lalu berlari meninggalkan pria ini dengan tangannya menutupi wajah cantiknya, karena malu. Dejun melihat tingkahnya yang berubah tiba-tiba ini hanya tertawa, pelan.
__ADS_1
***
Dilapangan ternyata terjadi kecelakaan. Khususnya perlombaan surfing. Beberapa orang siswa ternyata tenggelam dan terbawa ombak pantai. Ternyata hari ini ombak tidak bersahabat baik.
Namun syukurlah para Guru dan tim renang cepat melakukan tindakan. Sehingga tidak ada yang hilang terbawa ombak.
Bio berlarian melihat satu-persatu korban yang tadi lepas tenggelam. Di lihatnya salah satu temannya Lusi menangis dengan di tenangkan Ardi.
"Kenapa nangis?"
"Winda Bi." Tangis Lusi memeluk Bio. Bio membalas pelukan Lusi dan mengusap air mata yang mengalir di pipi Lusi lembut.
"Winda kita kenapa?"
"Tadi tenggelam. Sekarang pingsan." Adu Lusi masih menangis.
"Ar, bisa minta tolong beliin minuman nggak?" Pinta Bio pada Ardi, Setelah menerima lembaran uang dari Bio, Ardi langsung pergi.
Dan setelah memenangkan Lusi dan memastikan keadaan Winda, Lusi pergi kembali ke hotel bersama beberapa orang temannya. Setelah tenang dan di beri air.
Dan Bio melihat lagi, sepertinya ada yang tenggelam lagi. Buru-buru ia pergi melihat kesana, siapa tahu ada yang ia bisa bantu. Dia melihat gadis yang pingsan itu dari jarak tiga puluh meter. Dia mengenal gadis itu.
"Loh itukan Chelsea Caroline temen kpopers ku." Gumamnya, ia hendak melangkah lebih dekat namun ia urungkan. Ada Winwin di sana.
Ia tahu pasti laki-laki itu ingin menolong gadis yang kecelakaan ini. Winwin memang tidak bisa melihat orang kesusahan.
Bio memandang wajah khawatir semua orang di dekat gadis itu tatapan sendu. Terutama Winwin.
"Cepat kasi CPR."
"Ayo cepat."
Beberapa diantaranya ada yang menekan dada gadis itu. Namun telinganya panas saat mendengar "Winston, cepat kasi CPR."
Hatinya bagai diremas dengan kuat, jantungnya seakan berhenti berdetak. Tatapannya sendu dan kosong. Ia hanya berdiri tegak bak manekin hidup. Sebentar lagi ia akan menyaksikan pemandangan itu dari jarak sepuluh meter. Kakinya mungkin benar-benar tidak akan kuat lagi menyangga tubuhnya.
Melihat Winwin memangkas jarak antara gadis itu di depannya.
Bio benar-benar merasa hancur. Namun ia tidak mampu bergeming. Hanya air mata kesedihan yang lolos membasahi pipi mulusnya.
Melihat Winwin memberikan CPR pada gadis lain. Di sela-sela isakannya ia memandang kosong pemandangan menyedihkan hatinya ini jarinya menyentuh bibir. Merasakan betapa ia tidak rela melihat Winwin menempelkan bibirnya pada gadis lain, terlebih sekarang ini di depan matanya sendiri.
Sebuah tangan kekar menutupi matanya dan menghalangi pemandangan menyedihkan itu.
"Aku udah liat Jun, percuma kamu tutup." Isaknya.
Dejun mengerti bagaimana perasaan gadis ini. Karena ia pun merasakan hal yang sama. Disana Carol dan Winwin.
Namun Dejun telah mengikhlaskan semuanya pada saat Carol menolaknya beberapa minggu lalu.
"Jangan dilihat, kamu nggak sekuat itu. Kita pindah tempat ya?" Dejun merangkul Bio dan membawanya menjauh dari pemandangan menyakitkan itu.
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
*Bagai disayat dengan ujung ilalang
Tertiup angin lalu tersiram air laut
Pedih
Perih
Bukan lukanya
Namun bekasnya
Mampukan mata ini mengisyaratkan?
Mampukan hatiku bertahan?
Padahal takdir jelas menolak
Kenyataan*
π₯**πΉ Actually Only You πΉπ₯
Ttd Author
#Miss_Lyr97
π¦**
***
__ADS_1