Actually Only You

Actually Only You
Episode 19


__ADS_3

*


*


*


*


***


*


🥀🌹 Actually Only You 🌹🥀


*Sekarang kita bertengkar


Dan saling membanting pintu


Membelakangi lalu kembali


Membesarkan segala kekurangan kita


Dan aku bertanya-tanya mengapa?


Bertanya-tanya untuk apa?


Mengapa kita terus kembali untuk kesekian kalinya?


waktu banyak kehilangan jejak kita


Di mana yang asli?


Tak terartikan, berputar keluar dari sentuhan


Hingga lupa bagaimana rasanya*?


🥀🌹 Actually Only  You 🌹🥀


***


.


"Ia aku kesana sekarang ya, Sayang. Jangan tutup. Lima menit aku sampe tunggu ya Bby bentar."


Winwin segera mengenakan sweater dan meraih topinya. Dan ia segera menuju ruang kerja Papanya untuk mengambil kunci mobil. Dan tidak lupa ia mengirim pesan singkat pada kedua orang tuanya.


Sebenarnya rumah Winwin dan keluarga Eusebio tidak begitu jauh. Mereka tinggal di satu komplek yang sama, hanya berbeda gang. Bahkan jika kepepet Bio, Winwin maupun Jeffrey biasa melintas lewat jalan belakang, jalan pintas tapi harus melalui belakang dan comberan perumahan komplek.


Maka itu pagar palang komplek dari rumah Winwin dan Bio tidak ada yang melintang. Karena mereka masih satu jalur yang sama. Tidak butuh waktu lama Winwin sampai didepan pintu pagar rumah kekasihnya.


Ia melambatkan laju mobilnya untuk menepi di depan rumah kekasihnya. Netranya menangkap sosok asing dengan celana kain berbahan katun dan memasang sweater berwarna biru dongker dengan motor berwarna senada dengan sweaternya berdiri bingung didepan gerbang pagar rumah kekasihnya.


Ada kilatan rasa benci. Namun ia segera membuangnya jauh-jauh, sekarang Bio sakit itu fikirnya. Ia segera turun dari mobilnya dan mendobrak gerbang, memukulnya dengan batu sehingga menimbulkan suara bising dini hari.


"Stephanie diculik." Suara Dejun masih menggoyang-goyangkan pagar besi.


"Hah?!!" Winwin terlonjak kaget mendengar pria bertubuh tegap di depannya mengatakan bahwa kekasihnya di culik. "Nggak mungkin!" Jawab Winwin risih.


"Tadi aku tiba-tiba di telpon, dan dia ngomong nggak jelas. Apalagi kalo bukan diculik?" Tanya Dejun heran. "Aku kesini mau ngasih tau keluarganya, soalnya aku nggak tau tempatnya Stephanie di culik," Lanjutnya dengan ekpresi serius.


"O-oke." Jawab Winwin seadanya. "Jeffrey buka pintu pagar! Kalo nggak kita manjat nih!" Seru Winwin nyaring. Dia tidak peduli jika para tetangga di kompleks sini terbangun semua. Masa bodo, fikirnya.

__ADS_1


Klang ...


Srang ...


Jreng ....


Jeffrey merasa risih dengan suara berisik  yang mengusik mimpi indahnya. Ia bangun dengan darah yang membara dalam jiwanya. Bersumpah akan menghajar siapapun yang berani memancing keributan di depan rumahnya. Ia segera turun tangga menuju lantai satu dengan penuh emosi.


Segala sumpah serapah dan caci maki ia kumandangkan didalam hati. Tidak lupa ia menyairkan umpatan kata kasar, ia bersumpah akan memukul dan mengumpat didepan wajah orang yang mengusik tengah malam.


Ia membuka pintu utama dan melihat dua orang siluet tengah turun selepas memanjat pagar rumahnya. Ia menutup kembali pintu utama. Merasakan lututnya lemah tak berdaya karena takut.


Para begal/rampok akan menghabisi nyawanya dan adiknya. Ia memutuskan untuk menutup dan mengunci pintu utama.


Tok ... Tok ... Tok ...


Dar ... Dor ...  Dar ....


Bunyi pintu digedar-gedor.


"Jeffrey! Buka pintu Jeffrey!" Teriak suara berisik dari luar.


Jeffrey mengerutkan dahi heran. Mana ada rampok menggedor pintu dan teriak. Dan suara teriakan itu mirip suara sahabatnya, WINWIN. Jeffrey cepat menggelengkan kepala.


"Jeffrey! Ini Winwin! Cepat buka pintu! Woi! Dobrak nih!" Ancamannya.


Jeffrey menempelkan pipi pada pintu jati  dingin bercat putih. Memastikan itu benar suara sahabatnya atau bukan. Dia tidak ingin mati sia-sia. Usianya masih sangat muda. Konyol sekali jika nanti malaikat bertanya apa sebab kematian mu Jeffrey? Tidak mungkin dia menjawab karena dibunuh begal dan rampok yang menyusup kerumah? Tanya dan jawabannya sendiri.


Author::   Mas Jeffrey, begalnya cantik kayak Author Kalong mau ya?


Jeffrey:: shut up and go away.


Author::  Aku jadi author kok nelangsa terus ya?


Dengan sekuat tenaga dan segenap keberanian Jeffrey terpaksa membuka pintu. Dengan cara berjongkok, antisipasi jika bekal itu membawa golok atau pistol setidaknya ia bisa melumpuhkan mereka dengan cara menarik kaki mereka dan memutarnya serta melemparkan mereka. Itu fikirnya.


Ceklek.


Setelah pintu terbuka Winwin dan Dejun langsung masuk nyelonong. Winwin terkejut karena mereka hampir saja terjatuh jamaah karena menabrak tubuh bongsor Jeffrey. Sedangkan Jeffrey hanya menunduk diam menggigil ketakutan.


"Jef- kau kenapa? " Panggil Winwin membangunkan tubuh sahabat bongsornya.


"Fuh! Ternyata kau ..." Jawab Jeffrey lemas dan mengurut dada lega. "Kenapa kau tengah malam kerumah orang ha?! " Sembur Jeffrey. "Kau nggak mikir ini ngeganggu tetangga, ini jam orang istirahat, ini bukan jam remaja keluyuran! Ini juga siapa kamu? Wah kalian berani ya!"


Jeffrey mengomel sambil menghujani Winwin pukulan. Dejun yang sedari tadi diam pun ikut terkena hujan lebat pukulan Jeffrey.


"Tapi Bio di culik!" Protes Dejun tak suka dengan perlakuan yang ia terima. Sedangkan Winwin hanya tertawa membalas pukulan Jeffrey.


"HAH?!! " Pekiknya nyaring, rasa kantuknya kali ini benar-benar hilang seutuhnya. "Jadi benaran ada begal?!"


Winwin menoleh ke Dejun dengan pandangan tak mengerti. Karena sedari tadi Dejun hanya bilang akan membantu mencari penculik lah, Bio dalam bahaya lah. Winwin pun sempat meragukan apa yang ia dengar sendiri di rumah tadi. Mendengar Bio mengaduh kesakitan.


Jeffrey segera berlari ke atas, melihat keduanya diam saja didepan pintu utama ia berbalik lagi dan menggeret kedua lawannya menaiki tangga keatas.


"Ngapain bengong? Ayo kita liat kekamarnya!" Keduanya hanya pasrah mengikuti nasib leher mereka yang di jepit ketiak Jeffrey paksa.


"Bi." Panggilnya. Ia mencoba berkali-kali membuka pintu, nampaknya pintu terkunci dari dalam sana. Jeffrey berancang-ancang akan mendobrak, percobaan pertama gagal, kedua sama gagalnya, sehingga percobaan yang ketiga akhirnya berhasil.


"Periksa seluruh ruangan." Ia memberikan aba-aba pada kedua pemuda dibelakangnya. Seolah-olah seperti seorang inspektur kepolisian yang mengarahkan anak buahnya.


Winwin langsung berhamburan ke tempat tidur Bio. Sedangkan Dejun menunggu diluar kamar. Merasa tidak nyaman masuk kedalam kamar perempuan yang ia baru kenal. Menurutnya tidak sopan. Bukan berarti Winwin tidak sopan, sebagai seorang pacar Winwin khawatir.

__ADS_1


Bio masih menggigil dibawah selimut. Winwin langsung memeriksa suhu tubuh gadisnya dengan punggung tangannya, serta mengecup singkat kening gadis itu. Tidak peduli dengan adanya Jeffrey.


"Panggil ambulance Win," Seru Jeffrey panik sambil menilik seluruh tubuh adiknya.


"Nggak usah, aku bawa mobil."


Dejun bersyukur gadis itu ada di kamarnya. Ia sempat tertawa kecil karena sempat mengira gadis itu di culik, ia sebenarnya ingin ikut masuk kedalam untuk memastikan keadaan gadis itu, tapi ia cukup tahu diri.


🥀🌹Actually Only You 🌹🥀


Apa hanya fikiran kita?


Benarkah telah kehilangan akal kita?


Satu-satunya alasanmu mempertahankanku malam ini


Karena kita takut akan kesepian?


Apakah kita perlu seseorang?


Hanya untuk merasakan seperti kita baik-baik saja?


Terkadang tahu bahwa rasa cemburu itu salah


Namun bisakah semuanya di cegah?


Itu bukan alasan untuk marah


Padahal kita tahu kita salah


Saling diam dan tak berbicara itu salah


Namun mengekspresikan dengan amarah itu yang paling salah


🥀🌹 Actually Only You 🌹🥀


Ttd author


#Miss_Lyr97


🦇🦇🦇


🦇🦇


🦇


*


*


*


*


**


****


**


*

__ADS_1


*


__ADS_2