
***
🥀🌹 Actually Only You 🌹🥀
***
Happy reading 📖
"Oh ... Kamu udah makan dan minum obat belum Bi?"
"Bio? Minum obat? Bio minum obat dan mau di suntik masih nafas gini, aku nazar manjat menara Eiffel sambil selfie deh." Ejek Jeffrey sambil mengunyah buah pir yang awalnya ia kupas untuk Bio. Bio memutar bola mata malas, sdangkan Zahra hanya tertawa renyah.
Winwin sudah berada di Koridor rumah sakit bersama dengan Dejun, Tony, Deki, Winda, Lusi, dan Ardi. Karena memang Lusi dan Winda ingin mengajak Winwin juga. Atas usul Winda Winwin, Tony, dan Deki menjemput ke sekolah mereka.
Sepanjang jalan koridor Ardi dan Lusi sibuk bertengkar masalah sepele. Saling dorong, saling melontarkan ejekan dan saling hina.
Winwin mengintip melalui kaca pintu ruangan memastikan mereka tidak salah masuk ruangan. Dan setelah yakin mereka masuk.
"Hai Bang Jeffrey." Sapa Winda dan Lusi bersamaan.
"Hai kalian. Pulang sekolah langsung pada kesini?" sapa dan tanya Jeffrey ramah dengan senyuman khas miliknya.
"Mama ada kesini nggak tadi?" tanya Winwin yang langsung mengambil alih remote TV ruangan VIP ini. Sedangkan yang lainnya bersalaman, memberikan bingkisan lalu duduk di sofa.
"Iya. Udah makan?" tanya Jeffrey. "Ni semua udah pada makan belum?" lanjutnya sambil memasukkan potongan pir.
"Kak malah diabisin pir nya ih." Komentar Bio dengan ekspresi dingin. Jeffrey memasang tampang tanpa dosa andalannya.
"Bang ada nasi nggak?" tanya Lusi gusar kakinya ia tendang-tendangkan ke udara pelan.
"Loh laper Sister itu cari aja makanan di lemari itu," Jeffrey menunjuk lemari makanan yang di sediakan rumah sakit. "Tadi Emaknya Winwin bawa nasi buanyak, lauknya pilih aja, Winwin kamu belum makan juga kan ajak mereka makan berengan loh Bio juga belum makan itu kalo kalian makan rame-rame pasti enak."
Lusi dan Winda beranjak menuju lemari yang di maksud Jeffrey. Dilihatnya beberapa tupperware berukuran besar berjejer rapi serta beberapa susu kotak rasa coklat dan strawberry.
__ADS_1
"Bang ini piring cuma dua biji gimana kita makannya?" tanya Winda mengacungkan dua lembar piring plastik berwarna hijau.
"Ya kan ini rumah sakit sayang, bukan rumah sendiri. Ini barang-barang Abang aja segini banyak abang bawa kesini nggak muat." Jawab Jeffrey tidak enak hati. Anak-anak ini pasti lelah dan kelaparan, benar saja tadi kamar ini hampir penuh dengan barang bawaan Jeffrey.
Ada laptop, bantal, guling, kasur lipat, tas pakaian, sunlight, peralatan mandi, serta sebuah galon air minum. Dan beberapa barang perintilan lainnya. Untung saja dia mengikuti saran Winwin untuk pindah kamar yang luas yaitu kamar VIP.
"Yaudah Jeff- salah satu sepupu jauh ku ada yang tugas disini, aku coba pinjemin piring rumah sakit aja deh. Kasian mereka nanti kirain php." Zahra langsung beranjak keluar dan di angguki Jeffrey saja tanpa banyak bicara.
"Malu-maluin Bang," komentar Tony jarinya sibuk menghitung human didalam ruangan ini. "Kita bersepuluh eh sebelas ... Sepuluh. Ha kita bersepuluh gini masa iya makan genduman pake dua piring."
"Kak Jeff- kan nomaden, jadi dia makan pake dedaunan biasanya." Celetuk Bio.
Mendengar celetukan Bio Winwin terbatuk pelan, terasa tersindir mengingat kelakuan absurdnya pagi tadi.
"Ember."
"Pecah."
"Masih sanggup ngomel kamu Dek."
"Ni anak hari ini kesurupan jin mana dah?! Lupa kali tadi subuh sampe salah telpon orang, mana badannya berat pula. Untung aja adek sendiri, anak orang ku lelang di pasar sore kamu." Ketus Jeffrey kesal. Sebenarnya Jeffrey tidak terlalu jengkel, dia hanya bercanda saja sengaja membuat adiknya malu di depan teman-temannya, dengan cara ini pasti Bio akan menjaga image lagi.
Bio membuka mulutnya hendaklah menjawab, tapi ia urungkan karena ini di depan teman-temannya. Dia tidak ingin mempermalukan kakaknya dengan bersikap tidak sopan.
Sambil menunggu Zahra mereka berbincang-bincang sambil menikmati roti dan cemilan. Mereka semua tampak akrab dengan Jeffrey.
Tony, Deki, Winda, dan Lusi mereka sudah mengenal Jeffrey sejak lama. Bahkan sewaktu masih SMP mereka adalah satu squad sebelum Bio dan Winwin pacaran. Maka dari itu mereka sudah akrab.
"Kenapa diem aja sih? Oh ya Jedun ngobrol lah sama kita." Kata Jeffrey dengan aura kebapakan.
Dejun hanya mengangguk pelan dan tersenyum.
"Dejun Bang Jeff, bukan Jedun," protes Lusi yang masih memeluk sebuah piring.
__ADS_1
"Hilih sama aja, orangnya aja nggak marah," jawab Jeffrey enteng tanpa dosa.
"Anak orang bikin nama Emak Bapaknya pake selametan, plus pake ayam ingkung dan ketan kuning Bang." Komentar Deki sambil melepaskan topinya dan meletakkan topinya pada sofa.
"Iya-iya Dejun, tapi inget hanya Bang Jeffrey seorang yang paling tampan." Kata Jeffrey dan mendapatkan sebuah jitakan dari Winwin, dan lemparan buah anggur dari Bio.
Zahra sudah datang dengan beberapa buah piring, serta dia membawa beberapa botol sedang air mineral agar mereka nyaman berbagi minuman. Ya karena gelas di rumah sakit ruangan ini berang persediaan terbatas.
Mereka makan bersama, menikmati makanan yang dibawa Mama Winwin tadi pagi. Deki, Lusi dan Ardi makan tanpa suara yang ribut telah selesai duluan karena lahapnya mereka makan. Maklum pulang sekolah dan kecapean butuh energi dan suplay makanan ekstra.
Bio merasa senang bisa makan beramai-ramai seperti sekarang ini. Menurutnya ini moment yang harus di abadikan, serta momen berharga. Dia sempat memotret mereka menggunakan ponsel Jeffrey.
Tidak lupa drama antara Winwin dan Jeffrey, mereka bahkan makan saling menyuapi demi menggoda para teman-teman Bio. Ini pemandangan yang biasa bagi mereka. Beginilah Jeffrey, sifat periangnya membuat mereka nyaman dan cepat akrab. Walaupun sedikit gila tapi dia adalah seorang kakak yang bertanggungjawab.
Baru sekitar lima sendok Bio makan, ia merasakan mual di tenggorokannya. Namun berusaha sekuat mungkin tidak muntah karena mereka sedang makan, dia hanya menghentikan aktivitas makannya, dengan alasan kenyang dan tidak nafsu makan.
Isi perutnya terasa di aduk-aduk dengan sumpit, merasakan ususnya di bolak-balik paksa. Ia menahan cairan pahit ini supaya tidak keluar. Dia memakan anggur supaya reda rasa mualnya.
Tapi tetap saja tidak berhasil. Lusi dan Winda membereskan piring kotor dan sampah makanan mereka. Winda berniat akan mencuci piring kotor mereka menuju wastafel, Lusi menyapu sisa-sisa makanan yang tercecer di lantai kamar rumah sakit. Bio dengan tiba-tiba berlari menuju toilet dengan kecepatan tinggi melewati Lusi.
Hoek ... Hoek ... Hoek ...
Cairan pahit ini menyumpit keluar melalui mulut dan hidung. Tanpa sadar tangan Bio terluka karena selang infus yang tercabut paksa, meninggalkan goresan dan meneteskan darah.
Jeffrey ikut masuk ke toilet dan memijat tengkuk adiknya perlahan. Zahra buru-buru mengeluarkan minyak kayu putih untuk menghangatkan tengkuk, dada, dan perut Bio. Dan Winwin langsung pergi keluar memanggil dokter. Padahal tombol emergency ada di ruangan ini, namun saking paniknya ia memilih pergi keluar menuju ruangan dokter.
Yang lain memasang ekpresi takut dan panik. Ardi yang phobia darah merasakan pusing di kepalanya melihat ceceran darah di lantai porselin.
🥀🌹 Actually Only You 🌹🥀
Ttd Author
#Miss_Lyr97 🦇🦇
__ADS_1
***