Actually Only You

Actually Only You
Episode 08


__ADS_3

***


๐Ÿฅ€๐ŸŒนย  Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Terkadang


Aku merasa hubungan ini sangat hambar


๐Ÿฆ‡ Stephanie Leeusaebio ๐Ÿฆ‡


***


Dari semalam ponselnya tidak aktif. Whatsapp, Line, KakaoTalk semua tidak ada yang aktif. Sampai aku menelpon ke nomor telpon pribadi miliknya pun tidak aktif.


Dia memang cenderung jarang memegang ponsel, berbeda dengan diriku.


Tapi..


Ini sudah 2hari bukan?


Motorku memasuki halaman rumahnya yang bercat warna jingga hitam. Baru aku sampai Tante Sabrina Mama Bio terlihat diluar. Jadi aku memutuskan menemuinya dahulu, sebelum aku menemui Bio.


"Eh ada menantu Bunda yang ganteng... Bio udah berangkat tadi jam 6. Dianter sama Jef, katanya ada tugas pagi, nggak tau sih tugas apa?ย  Tante juga kaget.. Emang dia nggak kasi kabar sama kamu? "


"Nomornya nggak aktif Tante, jadi Winwin nggak tau."


"Eh iya..ย  Itu ponselnya itu rusak kerendam pas dia nyuci baju di giling mesin cuci 2 jam, tau sendiri dia kan ceroboh.. Kasian mantu tante.. "


Disengaja atau kebetulan aku tidak tahu.


Setelah mendengar penjelasan tante Sabrina, aku mohon pamit untuk berangkat sekolah.


Aku benar-benar tidak tenang. Setidaknya dia menghubungi lewat Jefri kan bisa.


Aku sedikit kesal. Apa mungkin ini karena kesibukan yang akhir-akhir ini?


Semoga hari ini aku bisa pulang cepat. Aku sudah rindu. Rindu akan candaan konyolnya.


Selama tiga tahun pacaran kami tidak pernah bertengkar barang sekalipun.


Hanya sesekali ngambek.


Kamu tidak pernah bertengkar hebat maupun berdebat. Karena kami sama-sama tidak menyukai hal seperti itu.


Dan memang secara kebetulan kami mempunyai selera dan sifat yang sama. Itu kata Jefri.


Biasanya, jika ada sesuatu yang kami kurang cocok satu sama lain. Kami saling mengalah.


Jarang sekali ku dengar ada yang seperti kami.


Aku memilih menuju ruang perpustakaan. Aku tidak ingin langsung ke kelas.


Ku ambil sebuah buku asal. Lalu memposisikan tubuhku duduk di kursi dan meja ujung perpustakaan.


Aku melihat isi galeri ponselku. Melihat foto terakhir kami ambil beberapa hari yang lalu di depan rumahnya.


"Imut."


Aku melihat-lihat foto yang lainnya lagi. Di foto dia memang jarang sekali tersenyum.


Tapi itu imut sekali. Aku tau akhir-akhir ini tidak punya banyak waktu untuknya.


"Loh kamu di perpus juga? Iih jodoh.. Baca apa itu? "


Aku buru-buru menutup layar ponselku,ย  dan memasukannya kedalam tas. Aku tidak suka ada orang yang terlalu ikut campur dalam hal privasi.


"Yah.. Aku lupa bawa nasi goreng buat kamu. Tapi aku bikin cake.ย  Coklat.ย  Kesukaan kamu."


Gadis ini menyuguhkan sebuah kotak berisikan cake.


Sejak kapan dia tahu aku menyukai cake coklat?


"Dimakan yah...ย  Aku bikin sendiri itu.. Udah cocok buat pacar loh aku ini."


"Terimakasih. Aku ke kelas dulu. Bye. " Aku mengambil kotak itu dan memasukkannya kedalam tas.


"Aku kok ditinggal sih? Kan sayang cantik-cantik di anggurin."


Aku tidak memperdulikan ucapannya. Aku hanya ingin cepat sampai ke kelas. Itu saja tidak lebih.

__ADS_1


Setelah menaruh buku yang tadi awalnya akan kubaca, tapi tidak jadi. Aku cepat-cepat melangkah lebar menyusuri koridor sekolah.


**********


.


Aku memilih berangkat pagi sekali hari ini. Berusaha menghindari. Dengan diantar kakakku tadi.


Jantung mataku semakin jelas. Walaupun semalam aku ditemani kakakku. Kami bukannya tidur melainkan bergadang. Kakakku tidur jam 3 subuh.


Karena aku memaksa dirinya untuk tidur. Awalnya dia tetap menemaniku sampai pagi.


Sedangkan aku benar-benar tidak tidur sampai sekarang. Membuat kepala pusing dan mengambang.


Semalam aku mencoba beberapa tips dari kakak untuk tidur tetap saja tidak berhasil.


Saat belajar pun aku kurang bisa berkonsentrasi dengan penuh. Suara yang ku dengar pun hanya samar-samar.


"Sis.. Nggak ke kantin?" Tanya Lusi padaku.


Aku hanya menggeleng pelan. Aku kehilangan nafsu makan beberapa hari ini.


Bukan karena masalah dengan Winwin, tapi memang akhir-akhir ini aku merasa tidak ada nafsu makan. Rasanya tubuhku menolak itu semua.


"Semangat dong bentar lagi NCT sama Wayv konser loh."


Mendengar kata Winda aku langsung melebarkan mataku semangat. Serasa ada suntikan tenaga mendengar kata-kata itu.


"Serius?" Tanyaku.


"Ia bentar lagi, tanggal 20 bulan ini katanya di tayang di Trans loh. Ikut WAR yuk."


"NCT Wayv keindonesiaan?! Ikut WAR dong.. Kapan-kapan?" Aku bersemangat.


"Nanti aku check deh. Jangan lupa ajak Bang Jef dia kan suka Sama Taeyong and Jaehyun NCT."


"Iya-iya aku ajak Kak Jefri,"


"Uuh..ย  Denger Wayv langsung ilang lemesnya.. Dasar Buceeeenn... "


Ingin rasanya aku terjun dari lantai tiga ini. Saking semangatnya aku.ย 


Melihat Dejun masuk ke kelas langsung saja ku bolak-balik tubuh anak itu. Dan ku cubiti pipinya. Saking gemasnya.


Dia sangat sinis sekali. Aku tidak peduli. Tetap saja aku membolak-balikan tubuh kekarnya.


"NCT sama Wayv keindonesiaan... Huaaaa aku ingin salto.. Jun Dejun.. "


"Yaudah salto sana."


"Aku mau jungkir-balik Jun.. Doakan aku nikah sama Dong si Cheng ataupun Jaehyun, ataupun siapapun.. "


"Dasar gadis gila!"


Serunya menepis tanganku. Tapi aku terlalu semangat. Sampai lupa dengan luka di lututku.


Tiba-tiba terasa nyeri. Aku duduk, tapi kakiku tidak bisa di luruskan. Sakit.


Aku menarik keatas celana sekolah ku. Sehingga betis dan lutut putihku terekspos.


Ku lihat, perban di lututku basah, berair. Sepertinya darah di lututku yang membasahi perban ini. Karena sekarang perban ini berwarna merah.


Lusi dan Winda sudah pergi kekantin. Aku meniup-niup kedua lututku dan membuka perban.


Perbannya lengket.


Aku harus hati-hati melepaskan perban ini. Aku membuka tas dan mengambil botol air minum. Kubuka dan ku tuangkan sedikit air ke telapak tangan. Lalu memercikkan air ini di atas perban.


Huh pedih. Rasanya seperti..? Aku tidak bisa menjelaskan rasa sakit ini.


Tapi aku terlalu tidak sabar membukanya pelan-pelan walaupun perih. Kuputuskan menarik paksa perban yang lengket di kulit putih ku ini


Sarrraaaakkk!!!!


"EEMMMAAAAAKKKKK!!!!! "


Teriakku nyaring. Aku memukul-mukul meja agar sakit ini berkurang. Aku berjingkrak kesakitan.


"Demi NCT, kutahan sakit ini."

__ADS_1


Lirihku beralih ke lututku sebelah kiri. Kupandang lekat lututku sebelah kiri ini. Rasanya tidak tega aku menyakiti lututku lagi. Cukup satu saja yang merasa sakit. Tapi itu tidak adil. Mereka kan sepasang jadi sakit dan senang harus bersama-sama.


Tapi jika tidak kubuka perbannya aku khawatir akan membusuk, dan aku akan kehilangan kakiku. Aku masih lengkap saja Winwin selingkuh. Apa lagi jika aku tidak punya kaki.


Tes..


Air mata ku jatuh menimpa lututku. Bukan sakit di lututku ini yang membuat ku menangis.


Tapi mengingat kejadian semalam. Ku tahan nafasku agar tak mengeluarkan suara isakan.


Melihat tempat duduk yang selama bertahun-tahun itu di duduki gadis lain. Posisiku sudah direbut. Aku tak bisa menahan gejolak api ini.


Tapi aku tidak ingin marah dengan orang yang selama ini menemaniku. Aku tidak ingin bertengkar. Aku hanya menunggu penjelasan.


Penjelasan tentang kejelasan maksud itu.


"Sini."


Aku mengusap wajahku kasar. Menghapus jejak air mata yang barusan mengalir.


Dejun.


Dia berjongkok didepan lututku. Membuka perlahan-lahan lilitan perban yang memerah ini.


Dia sangat telaten dan hati-hati. Setelah selesai tangisku pun pecah kembali. Ada rasa yang membludak di dalam sini. Dadaku rasanya sesak.


"Dejun.. "


"Kenapa masih sakit? " Tanyanya khawatir. Aku bukan menangis karena luka ini.


"Dejun... "


Lalu dia duduk dibangku sebelah ku tempat dimana Lusi duduk. Lalu merangkul pundakku.


Aku memeluk tubuhnya. Tidak peduli dia siapa?ย  Dia mau apa?ย  Dia dari mana?


Mungkin semalam untuk menangis di depan Kak Jefri aku terlalu sungkan, hingga memilih bertengkar saja dengan dia.


Aku menangis sejadi-jadinya sambil memeluk erat tubuh Dejun. Persetan dengan perselingkuhan Winwin. Sekarang aku berusaha tenang.


"Sakit banget ya?"


Aku merenggangkan pelukanku lalu menggeleng.


"Apa perlu dibawa ke rumah sakit aja?"


Aku menatapnya sambil sesegukan. Mengelap kasar air yang membasahi pipiku.


"Dejun.. " Panggil ku pelan.


"Hmmm..? "


"Makasih."


"Bawa kerumah sakit ya?" Buruknya sambil menyibak rambutku. Aku tidak berani lagi untuk menatapnya. Aku memilih menunduk, menghadap papan tulis.


"Nggak usah. Udah, bentar lagi lonceng kamu pindah, sana."


***********


"


๐Ÿฅ€๐ŸŒนย  Actually Only Youย  ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Seiring berjalannya sebuah hubungan


Aku mulai merasakannya


Tekanan


๐Ÿฃย  Winston Wynย  ๐Ÿฃ


X


๐Ÿฆ‡ย  Stephanie Leeusaebio ๐Ÿฆ‡


Ttd Author


๐Ÿฆ‡๐Ÿฃ๐Ÿ•Š๐ŸŒน๐Ÿฅ€#Miss_lyr97๐Ÿฅ€๐ŸŒน๐Ÿ•Š๐Ÿฃ๐Ÿฆ‡

__ADS_1


.


Para readers yang budiman, yuk dukung author ๐Ÿ’š


__ADS_2