Actually Only You

Actually Only You
Episode 40


__ADS_3

***


๐Ÿฅ€๐ŸŒน Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Happy Reading ๐Ÿ“–


***


"Dejun?"


"Kamu suka ya banget namaku berulang-ulang?"


"Karena aku bingung."


"Bingung kenapa?"


"Bingung mau ngomong apa sama kamu. Cuma itu yang bikin aku di respon."


"Ternyata mencari topik sesusah itu ya?"


"Ya. Kamu tahu sendiri kan?ย  Gimana susahnya mencari topik sampai kita di respon? Gimana susahnya mempertahankan rasa malu? Aku rasa kamu tahu itu, Jun."


"Iya. Aku tahu."


"Dan kamu juga harus tau Stephanie, bagaimana susahnya merespon agar kita nggak salah bicara. Bagaimana susahnya kita menjawab pertanyaan yang kita sendiri nggak tau jawabannya. Bagaimana susahnya kita perasaan lawan bicara agar tidak tersinggung. Bagaimana susahnya kita--"


"Ssssshh ..." Bio meletakkan telunjuk kurusnya pada bibir Dejun, Dejun menghentikan ucapannya menggenggam jemari itu. "Iya. Sekarang aku tau."


Dejun langsung melepaskan jemari itu dari genggamannya dan mengalihkan pandangannya. Kemanapun, melihat apapun asal bukan menatap iris gadis di sebelahnya ini.


Kini hening kembali. Hanya suara deru ombak yang mereka dengar. Rasanya mereka kehabisan topik untuk berbincang-bincang. Walaupun mereka tidak pernah berbincang serius. Yang terjadi selalu saja perdebatan.


"Dejun."


"Hm?"


"Gitar kamu mana?"


"Di bangku kita duduk tadi."


"Oh."


"Kamu mau nyanyi lagi?"


"Nggak usah. Capek bolak-balik mah. Kita nyanyi tanpa gitar aja, bisakan?"


"Aku kurang bisa nyesuain tempo."


"Kan kita nyanyi bareng. Wayv-face to face bisa?" tanya Bio dan hanya di jawab dengan anggukan kepala dari Dejun.


*Ni bu shi yi ge ren zhe dian wo bao zheng


Ba sheng yin fang qing yi dian


Shuang jiao zou jin yi dian


Zhi dao yu ni mian dui mian


Er duo ting zi xi yi dian


Yong bao cheng xin yi dian


Mei meng pei ni qu shi xian*


"Kamu fasih bahasa China?"


"Nggak sih. Cuma ngapalin lirik lagu aja. Soalnya kan Winwin juga Orang China, Nenek, Kakek, Mama, Papa nya orang China, tapi udah puluhan tahun di Indonesia. Jadi kadang diajarin sama dia." Jelas Bio spontan.


Ia sudah merasakan kehangatan sikap Dejun. Dejun tidak lagi sejahat dulu. Hanya saja cara bicaranya masih tetap sama.


"Dejun."


"Iya."


"Dejun."

__ADS_1


"Iya Stephanie apa?"ย 


"Tatap aku sebentar aja."


"Nggak."


"Iiih. Kamu ya."


"Apa?"


"Ck. Males."


"Kamu nggak ngerti ya? Pernah dengar tentang cinta bisa datang dari tatapan kan?"


"Cinta pandang pertama?"


"Bukan."


"Terus."


"Susah jelasinnya."


"Tinggal jelasin aja loh Jun."


"Gini."


"Gimana?"


"Bentar. Aku masih merangkum kata-katanya dulu."


"Berapa jilid sih?"


"Jadi gini, melalui pandangan kita bisa merubuhkan lawan. Melalui pandangan kita bisa mengorek informasi lawan. Melalui pandangan kita bisa mengerti tanpa harus berkata, dalam diam misalnya. Melalui pandangan ada naluri yang terkadang dengan spontan kita rasakan tanpa adanya rencana. Contohnya Ciuman. Ciuman bisanya nggak direncanakan, hanya dari pandangan mata lalu naluri menginterupsi kerja sel otak lalu menyalurkan pada indera, merespon dan ha intinya begitulah terjadinya ciuman. Kedua dengan menatap mata lawan kita bisa jatuh cinta, terlebih lawan jenis. Kamu faham?"


Otak Bio cukup tanggap dengan penjelasan ringkas Dejun. Benar yang dikatakan Dejun, walaupun Dejun tidak menjelaskan secara detail dan rinci, respon otaknya cukup bagus sehingga bisa mengingat semua ucapan Dejun.


Namun berbeda dengan Dejun. Jantung serasa di pacu amat cepat. Sehingga nafasnya menjadi sulit di atur. Tangannya dingin, wajahnya memanas. Tubuhnya menahan getaran yang di perintah oleh otaknya.


Entah rasa apa ini? Dejun sendiri bingung mengartikan respon otak dan tubuhnya.


"Kamu mudah jatuh cinta?" tanya Bio frontal.


Bio menunggu lanjutan kalimat dari Dejun. Menurutnya Dejun type orang yang susah mengungkapkan apa yang ia fikirkan.


"Bucin." Singkatnya, menghembuskan nafas frustasi.


"Kau dong kamu bucinin." Goda Bio pada Dejun, Dejun mendecak kesal menatapnya dengan tatapan mematikan.


"Kamu sendiri?" tanya Dejun.


"Aku?" Dejun mengangguk mendapatkan pertanyaan balik dari Bio. "Aku nggak tau. Aku type seperti apa. Aku juga nggak bisa bedain rasa sayang, dan cinta. Semuanya terasa sama. Untuk teman-temanku, orang tuaku, pacar ... Eh mantan ku, kakaku. Semuanya dalam takaran yang sama. Jadi aku bingung." Ungkap Bio jujur.


"Nggak boleh gitulah!"


"Ya kan emang gitu."


"Nggak bisa!"


"Buktinya aku bisa."


"Stephanie. Kamu nggak boleh gitu. Teman, keluarga, pacar, mereka punya takaran porsi masing-masing. Ingat itu. Mereka orang yang berbeda, mereka memperhatikan kamu juga dengan cara berbeda, teman, keluarga, dan pacar jangan pernah kamu samakan mareka. Dengar ...ย  Teman. Mereka adalah orang-orang yang mengisi waktu luang, tempat berbagi informasi, dan sesekali dijadikan sandaran. Keluarga, kakak, adik, ayah, ibu, mereka adalah orang-orang yang menyayangimu tanpa batas. Orang-orang yang bisa membuat kamu seperti sekarang. Orang-orang yang memotivasi, orang-orang terpenting dalam hidup mereka layak mendapatkan tempat dan sesuatu yang lebih. Pertama keluarga ingat itu. Terus pacar. Ini mungkin sangat sulit untuk dijelaskan, tapi pacar juga harus punya takaran yang berbeda, lebih sedikit dari pada keluarga, dan harus mendapatkan tempat lebih dari sekedar teman. Namun disini pacar yang seperti apa dulu.ย  Nah seperti kamu dengan Winwin mu itu...ย  Dia layak mendapatkan tempat lebih dari teman-teman mu. Namun sedikit kurangi porsinya dari orang-orang terpenting dalam hidupmu yaitu keluarga. Family is number one."


Penjelasan Dejun panjang kali lebar kali tinggi kali volume kali siku-siku. Penjelasan panjangnya ini mampu membuatnya ngos-ngosan.


"Ngerti?!" Lanjutnya lagi setelah berhasil mengatur dan menetralkan nafasnya. Sedangkan Bio menatapnya dengan amat takjub.


"Oke. Faham. Jadi ... intinya kamu takut jatuh cinta, iyakan?"ย 


"Hm."


"Yakin? Hanya dengan kamu natap aku selama sepuluh detik kamu langsung jatuh cinta sama aku?"


"Jangan pancing aku Stephanie."


"Yes aja gapapa. Kamu nggak mungkin jatuh cinta sama aku kan? Kamu kan nggak suka sama aku. Coba aja sepuluh detik aja."

__ADS_1


"Nanti aku khilaf."


"Berarti kamu naksir aku udah lama." Ucap Bio cuek memainkan pasir.


Dejun merasakan harga dirinya runtuh mendengar suara Bio yang mengatakan dia menyukai gadis ini. Dejun tidak terima. Namun jika Iya bagaimana? Dejun sudah kerapkali beradu pandang dengan gadis di sebelahnya ini.


"Oke aku terima tantangan mu. Jangan salahkan aku kalau aku lupa. Limabelas detik."


Bio mengeluarkan senyum kemenangan.


Bio memeluk kedua lututnya yang dibalut dengan celana katun. Dengan menggunakan kaos hitam lengan pendek, memamerkan siku danย  lengan putih mulusnya. Dejun hanya menggunakan kemeja polos berwarna navi dengan setelan jeans hitam.


Sudah sepuluh detik mereka berpandangan. Tatapan tajam Dejun sebenarnya sudah tidak mampu Bio lawan, namun Bio dengan gengsi dan ego yang tinggi masih menahannya. Ia menyunggingkan senyuman yang beberapa kali ia tahan-tahan.


Membuat Dejun gemas dan tidak tahan untuk tidak menciumnya. Nalurinya sebagai seorang laki-laki menuntunnya memangkas jarak keduanya. Bio merasakan nafas Dejun yang hangat menerpa kulit wajahnya. Begitupun Dejun. Bio sebisa mungkin menahan nafas dan debaran didadanya.


Warna merah menjalar hingga kedaun telinganya. Dejun pun merasakan hal yang sama. Ia mencoba menahan agar tidak kelepasan kendali.


Bio mengulum bibirnya sendiri membuat Dejun semakin terpancing. Ingin rasanya Dejun menggigit bibir ranum itu dengan gemas.


Dejun merengkuh tengkuk Bio perlahan-lahan, semakin menipiskan jarak mereka berdua.


"Menyerah atau ku p*rk**a disini?" bisiknya sensual di telinga Bio.


Bio langsung sadar dan mengerjapkan matanya berulang kali. Kata-kata Dejun benar-benar frontal dan membuat dirinya malu, walaupun ia mengerti ini hanyalah sebuah ejekan.


"Cepat berdiri kita pulang."


"I-iya." Bio gugup dan mulai berdiri, karena Dejun sudah berdiri tegak mengulurkan tangannya.


"Gausah gugup. Aku cukup berfikir jernih untuk melakukan hal bodoh itu. Makanya jangan pancing aku."


"Iiis..." Bio menyambut uluran itu dan berdiri tegak di sebelah Dejun.


"Takut gitu nantang."


"Nggak ah."


"Nggak apanya? Jangan sesekali mancing ikan deh. Aku ini laki-laki kamu itu perempuan, apalagi ini tempat sepi. Untung kamu sama aku, coba anak yang lain?? Abis kamu tadi dari awal."


"Apanya sih Jun?"


"Kamunya."


"Ya aku kenapa?ย  Dejun?"


"Menguji kesabaran, menguji iman, menguji nafsu lawan jenis."


"Hah, bukan gitu maksudnya, iiih."


"Tanpa kamu sadari. Apalagi kamu sambil senyam-senyum gitu. Aku ini masih normal Stephanie ...ย  Aku punya nafsu juga. Nggak semua laki-laki bisa nahan nafsunya, ngerti?!"


Dejun meraih gitarnya yang masih tergeletak di bangku pinggir pantai tadi.


"Apalagi tadi disini dingin."


"Maksudnya?"


"Magnet. Positif dan negatif, kamu kan jurusan IPA."


"Saling tarik-menarik."


"Tuh tau. Dinginkan?"


"Lah itu dia. Steven ku juga kedinginan."


"Hah apa Jun?" Bio bertanya menginginkan Dejun mengulangi perkataannya yang ambigu. "Iiih tunggu! Kebiasaan ninggalin cewek."


****


๐Ÿฅ€๐ŸŒน **Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Ttd Author


#Miss_Lyr97

__ADS_1


๐Ÿฆ‡**


***


__ADS_2