Actually Only You

Actually Only You
Episode 31


__ADS_3

***


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


*Bukan salahmu


Dan juga bukan salahku


Salahkan saja pada takdir


Bukan keinginan hasrat ku


Bukan hasratku yang ingin mengakhiri


Tapi takdir yang memaksa*


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only YouΒ  🌹πŸ₯€


***


Berhari-hari Bio dilanda galau yang tidak biasa. Dia tidak bisa berpisah begitu saja dari Winwin. Winwin laki-laki yang baik, sempurna untuknya.


Yang membuatnya semakin galau adalah sikap Winwin yang tidak berubah samasekali. Dia tidak ingin bertemu dengan Winwin, tapi sebaliknya setiap hari dia selalu melihat Winwin dengan tampang tak berdosanya datang untuk menjemputnya.


Namun ada yang beda setelah hubungannya kandas. Dejun semakin dekat dengannya, walaupun masih dengan tampang judes dan cueknya. Bio dengan sengaja mendekati Dejun dengan tujuan membuat Winwin mundur mendekatinya. Ini cara satu-satunya.


Karena jika tidak, Bio akan ketahuan bohong dan menjadikan Dejun hanya sebagai kambing hitam.


"Dejun." Panggilnya pada Dejun yang sibuk dengan gitarnya.


Mereka sekarang ada di ruangan musik untuk kegiatan ekstrakurikuler. Dejun tidak menghiraukannya.


"Dejun."


Dejun masih sibuk meniliki gitarnya. Sebenarnya Dejun mendengar panggilan gadis ini, namun dia memilih mengabaikan gadis ini.


"Dejun."


Dejun mengangkat pandangannya, dia bisa merasakan nafas Bio menerobos pori-pori kulit wajahnya. Dengan tampang judesnya dia mendorong kening Bio dengan telunjuk pelan, agar menjauh dari wajahnya.


"Iih cuek amat sih." Sungut Bio menendang tulang kering Dejun. Mendapatkan tatapan horror dari sang empunya.


"Dejun."


"Apasih? Berisik." Dejun menghela nafas panjang melihat wajah Bio yang sudah seperti karpet lipat.


"Aku cantik kan?" tanya Bio yang duduk di samping Dejun.


"Hm ... "


"Kok hm?"


"Kamu maunya apa?" tanya Dejun malas, menurutnya sekarang gadis ini menjelma menjadi gadis yang amat cerewet. Sangat berbeda dari awal pertemuan mereka.


Sebenarnya bukan Bio yang berubah cerewet dan bawel. Hanya saja sekarang tampang aslinya sudah mulai kelihatan.


"Jawab kek."


"Kan udah."


"Mana?"


"Tadi."


"Jawab apa?" Dejun hanya diam menatapnya dengan pandangan sinis. Bio hanya mengedip-ngedipkan mata.


"Dejun?"


"Jun."


"Oii Dejun."


"Jedun."


"Alvarenda Dejun?"


"Lah diem."


"Aku cantik kan?"


"--yakin nggak naksir aku? --"


"Kenapa judes amat sih?"


"Yang lain loh banyak Jun yang naksir aku."


"Dejun."


"Naksir aku nggak?"

__ADS_1


"Iiih es batu kutub utara."


"Bener-bener manusia bukan sih?"


"Dejun liat aku."


"Cium nih." Dejun spontan menatapnya bingung, sedangkan yang ditatap memandang dengan wajah kusut seperti uang seribuan yang lecek.


"Apa kamu bilang?" tanya Dejun.


"Au ah gelap. Emang gitar lebih menarik dari pada aku." Ketua gadis ini menghentak-hentakan kakinya kesal.


"Siapa bilang?" tanya Dejun mulai tertarik dengan situasi ini. Menurutnya Bio benar-benar menantang.


"Monyet."


"Yaudah."


"Kok malah yaudah sih."


"Kamu maunya apa Stephanie?" tanya Dejun lagi, tangan kirinya ia tumpukan ke tempat ia duduk.


"Respon dong."


"Males."


"Kamu kenapa judes amat sih sama aku? Padahal sama anak-anak lainnya juga nggak terlalu judes gitu."


"Gatau."


"Kok gatau sih."


"Emang aku salah apa coba?" Bio melipat kedua tangannya di depan dada. "Liat aku kek."


"Nggak bisa Stephanie. Aku nggak bisa."


"Liat temen yang lain aja kamu biasa aja."


"Please."


Bio menatap Dejun kesal berkali lipat sekarang. Selain menyebalkan Dejun juga amat menguji kesabarannya. Bio hanya ingin saat ia berbicara ditatap.


Ya seperti kebiasaan Bio, yang selalu menatap lawan bicaranya. Menurutnya Dejun sama sekali tidak menghargai lawan bicara. Itu yang membuatnya kesal setengah mati.


"Kamu nggak pulang?" tanya Dejun akhirnya. "Ini udah jam empat sore lo. Dan disini cuma kita berdua."


"Nggak." Jawab Bio singkat, Dejun hanya mengangguk.


"Gini kan enak liatnya." Katanya tepat didepan wajah Dejun. "Kamu tuh kalau ngomong harus tatap mata orang yang ngajak kamu ngomong, biar kami yang ngomong sama kamu itu merasa dihargai."


"Jangan."


"Kenapa?" Bio masih menatap Dejun yang sekarang pandangannya ia alihkan pada pojok ruangan. Apapun yang ia lihat asal bukan iris gadis ini.


"Jangan tatap aku, kamu bisa jatuh cinta, nanti kamu naksir aku." Ucap Dejun pelan.


"Biarin. Emang kamu nggak naksir aku?"Β  tanya Bio dengan percaya diri matanya masih menatap netral Dejun.


"Nggak."


Bio menangkup wajah Dejun dengan hati-hati. Karena jantungnya saat ini tengah bekerja keras memompa darah.


"Dengerin aku, dan tatap aku sebentar." Titahnya, Dejun mengatur nafasnya yang sedaritadi ia tahan. Jantungnya tidak kalah berdetak lebih kencang juga. Tapi ia dengan cepat mengatasi kegugupan nya dengan ekspresi tenangnya. Lalu netra mereka saling beradu pandang. Jarak wajah keduanya amat tipis.


"Aku pastikan dalam kurang dari satu bulan kamu yang akan jatuh cinta sama aku."


Dejun mengeluarkan smirk meremehkan, dan mendorong kening Bio dengan telunjuk pelan sehingga kening itu menjauh dari wajahnya. Dan hanya terdengar decakan kesal dari Bio.


"Kamu nggak takut?" tanya Dejun.


"Nggak lah."


"Yakin?"


"Yakin, 100% yakin."


"Disini cuma kita berdua, yakin nggak takut?" tanya Dejun lagi.


"Takut kenapa?" otak Bio sedikit mulai konek dengan pertanyaan Dejun.


"Aku ngapa-ngapain kamu."


"Nggak lah, kamu kan nggak punya nafsu. Lagian kamu nggak suka sama aku, ngapain takut?"


"Tapi aku ini laki-laki."


"Mending itu gitar gunain untuk nyanyi kek," suruh Bio seraya menyerahkan gitar yang ia taruh tadi pada Dejun. Lalu ia duduk di sebelah Dejun lagi, di sisi kiri.


"Lagu apa?" tanya Dejun yang memilih mengalah.

__ADS_1


"Scared to be Lonely- Dualipa."


*It was great at the very start


Hands on each other


Couldn't stand to be far apart


Closer the better*


"Tinggiin dikit nada nya Jun."


*Now we're picking fights


And slamming doors


Magnifying all our flaws


And I wonder why


Wonder what for


Why we keep coming back for more*


"Iih ketinggian."


*Too much time, losing track of us


Where was the real?


Undefined, spiraling out of touch


Forgot how it feels*


"Datar amat sih, tenggorokan ku sakit."


*Is it just our bodies?


Are we both losing our minds?


Is the only reason you're holding me tonight


'Cause we're scared to be lonely*?


"Iih Dejun, terlalu menye nadanya, temponya 3/4 coba."


Dejun mulai merasakan panas di ubun-ubunnya, mungkin sekarang tanduk nya mulai muncul.


*Do we need somebody


Just to feel like we're alright?


Is the only reason you're holding me tonight


'Cause we're scared to be lonely*?


"Dejun --"


"Kamu ini bawel ya?!" Dejun kesal menatap Bio dengan amat kesal.


"Nyenyenye." Ejek Bio memajukan bibir bawahnya.


"Ngeselin juga."


"Tapi ngangenin."


"Kata siapa?! Ngeselin, nyebelin, bawel, cerewet," Dejun meletakkan gitar.


"Kata Winwin," lirihnya dengan mata yang berkabut menahan kristal bening yang siap meluncur deras membasahi pipi.


"Oh pacarmu." Komentar Dejun acuh.


***


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


*Berhenti menyalahkan godaan


Naluri menuntut segalanya


Hingga benteng pertahanan


Runtuh seketika*


πŸ₯€πŸŒΉ **Actually Only You 🌹πŸ₯€


Ttd Author


#Miss_Lyr97

__ADS_1


πŸ¦‡**


***


__ADS_2