Actually Only You

Actually Only You
Episode 43


__ADS_3

***


๐Ÿฅ€๐ŸŒน Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


***


Karena semalam mereka melanggar aturan yang di buat para guru, akhirnya mereka berdua mendapatkan hukuman.


Hukuman menjaga stan makanan ringan dan minuman dingin. Ya, tanpa tenda dan tempat peneduh.


Karena saat di tanya oleh Pak Jay, Bio sebagai gadis yang dengan mood berubah-ubah ini dengan jujur bilang pada Pak Jay tentang semuanya. Membuat Dejun mengeluarkan tanduk, asap mengepul di kepalanya.


Wajah Bio di banjiri keringat, bahkan warna kulitnya tidak lagi putih. Kulitnya menjelma menjadi warna kepiting rebus.


"Dejun."


"Apa lagi sih?!"


"Ngobrol kek."


"Panas."


"Ya Allah. Maka itu ngobrol biar ga bosen."


"Ngobrol aja sendiri."


"Aku waras,"


" ... "


"Dejun."

__ADS_1


" ... "


"Jun, iiih! "


" ... "


"Jun, pinjem gelang mu." Bio mengelap keringatnya dengan amat lesu, menatap melas kearah pergelangan Dejun, lalu beralih menatap orangnya.


" ... "


"Topi ku nggak ada tempat nyangkutin rambutnya loh." Keluh Bio lagi, dia berharap Dejun mau meminjamkan gelangnya untuk mengikat rambut panjang nya. Ya walaupun tidak sepanjang dulu.


Bio lupa membawa gelang, karet untuk mengikat rambutnya. Setidaknya ia berharap ada satu jepit yang bisa menyelamatkan rambutnya, agar dia tidak lagi merasa kepanasan seperti ini.


Bio mendaratkan bokongnya pada kursi panjang itu lagi. Dejun benar-benar mengabaikan dirinya.


Disini hanya ada mereka berdua saja, murid-murid lainnya di sibukkan kegiatan kelompok dan kegiatan individu. Karena mereka berdua melanggar peraturan, semua jadwal mereka hari ini di kosongkan. Dan beralih profesi menjadi penjaga stan minuman.


Tentu saja ini mengundang lebih banyak pertanyaan negatif, dan mengundang lebih banyak negatif thinking. Itu yang membuat Dejun marah. Namun Bio sedikitpun tidak tahu apa salahnya pada Dejun.


"Jadi rindu anak ayam ku, hm," gumamnya pelan.


Gadis ini memutuskan untuk mengambil es batu, dan memasukkannya ke dalam gelas mika. Mengunyahnya, seperti mengunyah cemilan.


"Berasa di syurga ... " katanya.


Ia membuka topinya dan mengipas-ngipasi wajahnya yang memerah, beberapa detik kemudian menaruh beberapa es batu tersebut ke dalam mangkuk topi, lalu memasukannya.


Ia sedikit bergidik, merasakan sensasi dingin es yang mencair di kepalanya. Karena cuacanya amatlah panas, dia merasa sedikit pusing dengan benturan rasa panas dingin di kulit kepalanya.


Krukup

__ADS_1


Krup...ย  krup... Krup


Suara es batu tersebut yang ia kunyah.


Netranya beradu pandang dengan bayangan gelap di atas pasir, bayangan itu seperti tepat berada di belakangnya. Ia memutuskan untuk menolehkan kepalanya ke arah belakang, namun kepalanya dengan paksa di tolehakan lagi kearah laut. Ia juga mencoba metode batu untuk mengetahui siapa di belakangnya ini, yaitu dengan cara mendongak kan kepalanya, lagi-lagi tangan itu menyuruhnya fokus melihat kearah depan.


Tiba-tiba Bio merasa takut. Takut akan stalker itu berani datang ke tempat liburan wisatanya. Takut akan berbuat macam-macam dengan lebih berani lagi. Ia pun meneguk salivanya, tegang.


"Jangan macem-macem, di sini rame." Suaranya takut-takut.


"Apalagi salahku? Jangan terus mengancam ku, apalagi di tempat ramai." Orang di belakangnya masih tetap diam.


"Kamu ini siapa sih? Re--"


Belum selesai ia bertanya, sebuah tangan terulur kedepan melewati lehernya. Mencubit dua buah karet gelang untuk mengikat kangkung, bukan, karet untuk mengikat nasi bungkus tepatnya.


Bio hampir tertawa terbahak-bahak melihat karet gelang ini. Dia tahu siapa orang itu, Dejun. Tapi mengapa harus karet gelang kunciran kangkung? Apa dia berniat untuk memberikan karet ini pada Bio, agar Bio menguncir rambut panjang yang sekarang tinggal sebatas bahu? Jika ia, maka karet gelang sangat menyiksa.


๐Ÿฅ€๐ŸŒน **Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Ttd Author


#Miss_Lyr97


๐Ÿฆ‡**


***


Entah **apa yang merasuki saya๐Ÿคฃ


Kok malah masih mbulet sama si Bio x Dejun ๐ŸŒน

__ADS_1


Kuy vote plus comment nya๐Ÿ’š**


__ADS_2