
***
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
Sekarang kita bertengkar
Dan saling membanting pintu
Membelakangi lalu kembali
Membesarkan segala kekurangan kita
Dan aku bertanya-tanya mengapa?
Bertanya-tanya untuk apa?
Mengapa kita terus kembali untuk kesekian kalinya?
waktu banyak kehilangan jejak kita
Di mana yang asli?
Tak terartikan, berputar keluar dari sentuhan
Hingga lupa bagaimana rasanya?
๐ฅ๐น Actually Onlyย You ๐น๐ฅ
***
Winwin langsung berhamburan ke tempat tidur Bio. Sedangkan Dejun menunggu diluar kamar. Merasa tidak nyaman masuk kedalam kamar perempuan yang ia baru kenal. Menurutnya tidak sopan. Bukan berarti Winwin tidak sopan, sebagai seorang pacar Winwin khawatir.
Bio masih menggigil dibawah selimut. Winwin langsung memeriksa suhu tubuh gadisnya dengan punggung tangannya, serta mengecup singkat kening gadis itu. Tidak peduli dengan adanya Jeffrey.
"Panggil ambulance Win," Seru Jeffrey panik sambil menilik seluruh tubuh adiknya.
"Nggak usah, aku bawa mobil."
Dejun bersyukur gadis itu ada di kamarnya. Ia sempat tertawa kecil karena sempat mengira gadis itu di culik, ia sebenarnya ingin ikut masuk kedalam untuk memastikan keadaan gadis itu, tapi ia cukup tahu diri.
Winwin keluar kamar dan menepuk bahu Dejun. Tanpa berbicara keduanya kompak turun ke lantai satu.
__ADS_1
"Kamu bawa motor kan?" Tanya Winwin ramah dengan senyuman bersahabat.
"Iya." Jawab Dejun pelan. Dia bingung.
"Kita mau kerumah sakit, aku minta bantuan kamu ikut kesana nggak keberatan kan?"
"Oh oke. Nggak masalah kok, aku seneng bisa bantu, lagian kita juga temen sekelas." Jawab Dejun canggung, dia bingung harus merespon seperti apa. Jika bersikap dingin seperti biasanya, rasanya kurang sopan mengingat situasi ini.
"Kamu boleh bawa motor kamu, ataupun bareng kita di mobil. Kalau kamu kamu mau ikut bareng pake mobil motor kamu parkirkan kedalam sini aja."
Dejun menimbang tawaran Winwin. Ingin rasanya ia ikut gabung pada mobil dan melihat keadaan teman sekelasnya ini. Tapi bagaimana nanti cara dia pulang kerumah? Jadi ia memutuskan untuk pergi bersama motornya.
Setelah selesai menyiapkan barang bawaan serta surat-surat yang mungkin di butuhkan rumah sakit Jeffrey, dan kedua pemuda ini melesat pergi membawa tubuh Bio yang tak berdaya. Tidak lupa Jeffrey membawa selimut, pakaian, bantal, guling, kk, ktp serta lainnya.
Bio sudah diatasi dokter, mereka masih menunggu di depan ruang IGD. Winwin tadi dan Dejun bertugas mengurus surat-surat yang dibutuhkan untuk keperluan rumah sakit. Jeffrey menunggu adiknya.
"Jeff-." Panggil Winwin.
"Hm? "
"Pindah ruangan VIP aja ya? Biar enak. Itu masa ruangan ngumpul jadi satu gitu kan gaenak. Belum lagi nanti teman-teman yang jenguk. Lagian kita nunguin nggak butuh ruang?"
"Ayah sama Bunda baru berangkat dua hari yang lalu. Nggak enak minta kiriman duit, lagian uang ku terlanjur kepake bayar semester, adanya ya ini."
"Baru aja semalam mesra-mesraan kita Mas, sekarang udah galak aja kamu, sakit hati adek mas."
Jeffrey melengos pergi. Dejun menatap ngeri pada kedua insan barusan. Bulu romanya berdiri dan ada tak karuan di hatinya setelah melihat pemandangan barusan.
"Hati-hati Dek, Mas ke ATM dulu. Awas nggak diurus beneran, nggak pindah kamar, nggak dapet jatah." Omel Winwin. "Eh Bro, aku tinggal bentar ya, karena Jeffrey ngurus data dan Bio lagi sendiri aku boleh pinjem motor kamu bentar nggak mau ke ATM, dan aku minta tolong, tolong jagain Bio ya."
Setelah menyerahkan kunci motor, Winwin pergi membawa kunci yang diberikan Dejun, dan Dejun langsung melangkah menuju ruang IGD tempat Bio di infus.
Dia masih hati-hati, takut tiba-tiba Jeffrey menerkam tubuhnya. Tiba-tiba ia bergidik membayangkan adegan barusan.
Cukup lama Winwin pergi. Ia membeli beberapa makanan ringan, air putih, air kaleng dan soda, tidak lupa membeli roti untuk sarapan mereka. Kali ini ia benar-benar rempong seperti emak-emak yang menyiapkan bekal anaknya.
Sesampainya di ruangan ia dikejutkan pemandangan yang menguras emosi dan hatinya tersentil. Dilihatnya tangan Dejun dipelukan Bio yang masih merapatkan matanya dan menggigil.
Ia melihat Jeffrey hanya menatap dan mengurut kaki adiknya. Dejun dan Bio sekilas seperti sepasang kekasih yang saling merindukan. Namun Winwin mencoba menegarkan imannya. Bio sakit. Batinnya menahan gejolak cemburu yang membuncah.
"Hei sarapan dulu." Katanya dengan senyuman ramah. Dejun menatapnya dengan tatapan seolah takut kehilangan.
__ADS_1
"Eh Dejun sarapan dulu ini ada roti." Tawar Jeffrey, Dejun tersenyum singkat. Winwin tahu mana mungkin anak itu bisa sarapan jika kedua tangannya dipeluk Bio dan satunya dipegang tepat dileher.
"Iya. Duluan aja. Masih megangin Stephanie, takutnya menggigil dan histeris kayak tadi lagi." Jawab Dejun sambil tersenyum.
Winwin melahap dan menelan rotinya paksa. Menahan dan melawan rasa sakit hati yang bergejolak hebat. Rasa nyelekit di jantung nya yang bisa saja tidak terkontrol dan marah-marah. Sekali lagi ia ingat Bio sakit, Bio nggak tau. Walaupun cemburunya kian membuncah ia lampiaskan pada roti yang tidak berdosa. Terasa mengunyah rasa cemburu itu sendiri.
๐ฅ๐นActually Only You ๐น๐ฅ
Apa hanya fikiran kita?
Benarkah telah kehilangan akal kita?
Satu-satunya alasanmu mempertahankanku malam ini
Karena kita takut akan kesepian?
Apakah kita perlu seseorang?
Hanya untuk merasakan seperti kita baik-baik saja?
Terkadang tahu bahwa rasa cemburu itu salah
Namun bisakah semuanya di cegah?
Itu bukan alasan untuk marah
Padahal kita tahu kita salah
Saling diam dan tak berbicara itu salah
Namun mengekspresikan dengan amarah itu yang paling salah
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
Ttd author
#Miss_Lyr97
๐ฆ๐ฆ๐ฆ
๐ฆ๐ฆ
__ADS_1
๐ฆ
****