Actually Only You

Actually Only You
Episode 39


__ADS_3

***


๐Ÿฅ€๐ŸŒน Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Sebuah kain bali melingkar menutupi sebagian besar tubuh Bio. Ia sempat kaget karena kain lembut ini menutup wajahnya. Di sibaknya kain yang menutupi wajahnya.


Lalu ia melihat Dejun duduk disamping kanannya dengan tangan kanan memegang sebuah kaleng minuman Cincau.


Pantas saja tadi tidak melihat Dejun. Ia fikir Dejun telah kembali ke hotel. Nyatanya Dejun membawakan kain selimut untuknya.


"Makasih Dejun." Ucapnya lembut memandang laki-laki judes ini yang tidak membalas tatapannya.


"Tipis tapi."


"Nggak apa-apa. Pasti kamu belinya buru-buru kan?"


"Masih ngambek?"


"Nggak lah. Mana pernah aku ngambek."


Dejun menyesap minumannya perlahan. Memandang jauh ke arah lautan.


Suara ombak menderu-deru. Angin malam dipantai menghantarkan rasa panas dan dingin yang menusuk sumsum tulang.


Bio tersenyum, melilitkan selimut yang dibelikan Dejun ini keseluruhan tubuhnya hingga hanya kepalanya saja yang terlihat.


"Nggak ada bintang ya Jun?" Bio menatap langit biru yang tersambung pada lautan. Langit cerah namun tanpa bintang, tanpa sinar rembulan pula.


"Jun, kamu emang punya kebiasaan ngobrol tanpa menatap mata lawan bicara ya?" tanya Bio yang masih menengadah keatas langit.


"Hm."


"Sama semua orang?"


"Nggak."


"Hm ...ย  Menurut psikolog nih ya, kita ngobrol tuh harus saling tatap. Dengan begitu kita bisa merasakan ketulusan, kebohongan, dan kejujuran lawan bicara."


"Aku tau."


"Terus kenapa kalau ngomong sering kayak orang bosan? Apalagi sama aku."


"Aku nggak bisa natap mata lawan jenis."

__ADS_1


"Loh kenapa?"


"Bahaya."


"Eh bentar deh," Bio menjeda kalimatnya untuk mengingat semua kejadian yang menimpa dirinya. "Waktu pertama kali kamu datang ke kelas kamu natap aku ...ย  Dan waktu kamu lempar bola basket ke kepala ku--"


"Aku nggak sengaja lempar." Potong Dejunย  cepat.


"Aku belum selesai, jangan potong dulu." Dejun memilih diam. "Waktu kamu gendong aku kamu natap aku, waktu aku kasih coklat, waktu aku--"


"Cuma sama kamu dan ... " Dejun menggantungkan kalimatnya, Bio menatap sebagian dari wajah Dejun.


Ya.


Bio sangat ingat sekali, sebenarnya Dejun telah sering beradu pandang dengan dirinya walaupun tanpa sengaja.


Dan Dejun peduli sekali padanya, selalu datang membantu walaupun tanpa bicara. Lalu apa yang membuat laki-laki dingin ini enggan menatap matanya?


"Dejun?"


"Hm ...?"


"Sama pacar kamu, kamu judes nggak?" tanya Bio polos, Dejun menatapnya beberapa detik lalu mengalihkan pandangannya lagi pada lautan malam.


"Kalau pacar kamu liat kita gini, Kira-kira marah nggak?"


Dejun menghela nafas berat, karena memang saat ini Dejun masih berstatus singel.


"Aku cuma punya mantan."


"Sayang nggak sama mantan kamu?"


"Nggak lah. Kalau masih sayang nggak mungkin jadi mantan." Jawab Dejun cepat dengan nada kesal.


Bio merasakan debar di jantungnya dipacu amat kencang. Merasakan sindiran halus Dejun ini di tujukan padanya.


Lalu ingatan tentang Winwin berputar di otaknya. Seakan memori ini telah lama tertanam dalam ingatannya. Sungguh Bio merindukan Winwin. Tapi apalah daya tangan tak mempu menggapai.


"Kamu bener. Seharusnya jika Sayang maka kita harus bersabar dan mampu bertahan." Suaranya terdengar bergetar menahan tangis yang siap pecah. Namun ia mampu menetralisir rasa sakit tersebut. Ia menguatkan hatinya, walaupun rapuh.


Mereka kembali sunyi. Sepertinya Dejun benar-benar seorang yang pendiam. Tidak akan berbicara tanpa di dahului.


Dejun tidak mengerti dan tidak bisa mencari topik yang pas untuk mengobrol. Walaupun sebenarnya ia ingin banyak mengobrol, namun responnya mampu mematikan dan menghentikan obrolan tersebut.

__ADS_1


Tidak menyukai basa-basi itulah Dejun.


"Mau pulang?" tanya Dejun yang akhirnya memecah kesunyian. Bio menatap netranya namun buru-buru ia memandang langit. Pura-pura tidak melihat bahwa Bio sedang menatapnya.


"Rasanya aku betah disini." Ucap Bio apa adanya. Menurut Bio disini amat tenang. Perasaan yang sedang tidak stabil seketika memudar ketika ia mendengar deru ombak air laut. Indah saja rasanya malam ini menatap langit yang tenang, dan menatap lautan yang sibuk mengeluarkan suara bisingnya.


Ya seperti Dejun dan Bio. Dejun ibarat langit yang tenang dan indah tanpa emosi. Sedangkan Bio di ibaratkan lautan, selalu bergemuruh dengan emosi yang tidak stabil dan terombang-ambing. Bukankah sangat indah saat langit dan lautan berdampingan? Bahkan lautan dan langit amat serasi jika dilihat. Walaupun terbentang jarak jutaan kilometer. Mereka tetap indah dan terlihat serasi saat berdampingan.


"Dejun?"


"Kamu suka ya banget namaku berulang-ulang?"


"Karena aku bingung."


"Bingung kenapa?"


"Bingung mau ngomong apa sama kamu. Cuma itu yang bikin aku di respon."


"Ternyata mencari topik sesusah itu ya?"


****


๐Ÿฅ€๐ŸŒน **Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Ttd Author


#Miss_Lyr97


๐Ÿฆ‡**


***


**Kalian tim mana nih?


Bio x Dejun


Bio x Winwin


Carol x Winwin


Carol x Dejun


Atau DEJUN X WINWIN ๐Ÿ’š๐Ÿคฃ

__ADS_1


Author mah team mana aja lah**.


__ADS_2