Actually Only You

Actually Only You
Episode 02


__ADS_3

*


*


*


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


.


Mengungkapkan adalah yang terberat dari sebuah Hubungan


.


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


*


*


*


πŸ‰Β  Alvarenda Dejun πŸ‰


X


πŸ¦‡ Stephanie Leeusaebio πŸ¦‡


X


πŸ•Š Chelsea Charoline πŸ•Š


X


🐣 Winston Wyn 🐣


*


*


*


Sebagai Kakak satu-satunya Stephanie, Jeffrey merasa gundah gulana. Mengusap wajah dan menampar pipinya berkali-kali itulah yang ia lakukan.


Jeffrey dan Winwin mondar-mandir layaknya setrika di depan ruang IGD. Setelah menelpon kedua orang-tuanya Jeffrey pun masih tampak tidak bisa tenang.


Bahkan ia pun sampai lupa meninggalkan tas miliknya dirumah. Sedangkan Winwin masih setia dengan seragam sekolahnya.


"Jef- gimana sih adik-mu bisa pingsan?!!" Tanya seorang Ibu paruh baya. Di datang bersama seorang laki-laki terbilang tua sekitar 5-7 tahunan darinya.


Jefri yang tadinya melamun tersentak dan berdiri diikuti Winwin.


"Maaf tante, tadi dia selepas mengerjakan tugas tiba-tiba jatuh dan pingsan. Maafkan saya tante."


Winwin bersuara tampak takut-takut. Karena bisa dilihat ekpresi wanita itu memang sedang marah,Β  walaupun bukan pada dirinya. Namun Winwin tetap merasa bersalah.


Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan hatinya untuk saat ini.


"Adek kamu nggak makan?! Jef, kamu gimana sih adek kamu itu pasti telat makan...Β  Winwin, kamu kenapa nggak ganti pakaian aja dulu, nanti di cari sama mamamu gimana, besok masih sekolahkan?"

__ADS_1


"Bunda udah jangan ngomel, ini Rumah sakit loh. Malu diliatin orang." Pria paruh baya itu memegang bahu Bunda Jeffrey.


Jeffrey tahu Bundanya pasti sangat cemas, tidak terkecuali mereka.


"Gimana mau tenang sih, Ayah liat.. Jeffrey nggak perhatian sama adeknya, nggak bisa ngurus Adeknya dengan bener."


"Kan salah Bunda kenapa nggak masakin sayur, kok salah Jeffrey. Jeffrey juga capek kuliah seharian, pusing Bun."


Selesai berkata begitu Jeffrey pergi nyelonong begitu saja. Membuat Bundanya mendecak kesal.


Jeffrey merasa kesal terus merasa terpojok oleh ucapan Bundanya.


"Jeffrey! Jef! Mau kemana kamu ha?! Jeffrey! " Teriak Bunda Jeffrey kesal, yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Jefri sendiri.


Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruang IGD. Menemui keluarga Jeffrey yang sedari tadi menunggu di depan ruang.


Bunda merasa jantungnya berdebar, belum siap apa yang akan dikatakan dokter.Β  Semoga tidak buruk.


"Salah satu bisa keruangan saya?"


Awalnya Winwin ingin menawarkan diri, namun ia sadar masih ada orang tua dari kekasihnya. Jadi ia pun mengurungkan niatnya untuk ikut pergi ke ruang dokter.


Dia memilih menemani Bio pacarnya, didalam ruangan IGD yang terbaring lemas, dengan selang infus merekat menghiasi tangan kiri gadis itu.


Winwin menatap lekat wajah gadis yang didepannya. Perasaan sedih, kecewa, dan bersalah pada dirinya sendiri terus berputar mengisi relung hatinya.


Digenggamnya tangan pucat gadis ini. Dingin. Semoga genggaman ini cukup menghangatkan tangan gadis ini.


Cepatlah sadar Sayang. Hanya itu yang ia fikirkan.


"Bro, makan nih cemilan!" Jefri yang sejak kapan datang dan masuk ke ruangan menyuguhkan beberapa bungkus roti.


Berbeda dengan Jeffrey yang mengunyah Roti dengan sangat brutal.


"It's okay bro. Makasih ya udah mau jagain si Bio. Kalau nggak ada kamu Bio pingsan sendiri di rumah. Nggak kebayang omelan Bunda kayak gimana? aku.. "


"Iya Jeng, Jeffrey emang nggak perhatian sama Adeknya kan saya kesel."


Terdengar suara riuh di pintu masuk ruangan. Siapa lain? kalau bukan Bunda Jeffrey yang bertemu dengan Mama Winwin.


Walaupun di ruangan yang hanya terisi mereka berdua dipastikan sangat riuh renyah hanya karena 2 manusia ibu-ibu ini berkumpul.


Maklum emak-emak.


"Bunda ini rumah sakit, Bio masih tidur nanti kebangun." Tegur Jefri kesal sambil mengunyah kasar roti miliknya.


"Kalian semua dengerin ya, kata dokter di kerongkongan Bio di temukan sisa Chocolate, serta sisa dan aroma bumbu mie instan. Sudah dipastikan Bio makan coklat sama Mie instan. Itu bahaya tau nggak. Untung cepet di tangangi kalo nggak gimana sama Bio?Β  Winwin, Jefri, denger? "


Jeffrey mengikuti ucapan Bundanya dengan ekpresi wajah super absurd, hanya Winwin yang bisa melihatnya. Tenang saja.


"Denger Bunda ku yang tercantik... Siapa suruh nggak masak?"


"Jefri kamu!" Tunjuk Bundanya kesal.Β  "Huh punya anak bandel gini susah ya?!Coba liat Winwin tuh kalem, ayem, diem, nggak suka jawab kalo Emaknya ngomong. Ini nggak Bio nggak Jefri suka jawab kalo dikasih tau." Omelan tetap berlanjut.


"Iya Bunda."


"Bio itu tadi keracunan.Β  Karena zat apa tadi ah kata dokternya ha itu pokonya..Β  Zat mie instan bertemu zat coklat itu bahaya bisa menyebabkan kematian. Kalian udah tau gini beneran pilih makanan jangan asal. Bio juga biasanya nggak makan sembarangan. Huh.. "


"Iiih Bunda rempong jelasinnya. Berkelit dan berbelit-belit. Mamanya Winwin sama Papanya sampe speechless gitu."

__ADS_1


Menurut Jeffrey apa yang dikatakan Bundanya 50% benar,Β  50% nya lagi salah.Β  Bukankah itu hanya hoax belaka?


Tapi mustahil Bundanya berbohong, apalagi yang berbicara dengan Bundanya itu adalah Dokter spesialis.


"Aduh Jeng, maaf ya. Abis kalau nggak diomelin anak-anak ya tau lah kan?Β  Ini dimakan jeng, rotinya."


Ibu Winwin tersenyum sendu, melihat tubuh Bio yang tak berdaya. Mereka mengenal keluarga ini sudah puluhan tahun, jauh sebelum ketiga anak ini lahir. Ibu Winwin sangat dekat dengan Jeffrey maupun Bio. Karena memang Rumah mereka satu komplek dan hanya beda gang saja. Suasana menjadi hening sesaat.


"Eh Bro. Kamu pulang aja, ganti baju gih. Disini udah ada aku sama Bunda kok, Ayah juga." Jeffrey menepuk pelan bahu Sohibnya.


"Dia belum sadar, nanti kalau sadar Aku nggak ada bisa ngambek dong?"


"Alaah..Β  Takut sama bocah beginian. Ga mungkinlah, pulang aja udah malem besok sekolah kan?"


Winwin melirik jam tangannya sekilas lalu menghembuskan nafas berat. Menatap Ibunya.


Dia sangat bimbang untuk meninggalkan kekasihnya. Disisi lain dia pun mempunyai kewajiban untuk sekolah, bahkan sampai sekarang pakaiannya belum berganti.


"Mama ya terserah Kamu, tapikan Kamu besok masih harus kesekolah, iyakan?"


Setelah mempertimbangkan keputusan akhirnya Dia memutuskan untuk pulang saja.


"Yaudah aku pulang dulu ya Kak," Kata Winwin sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Iih jijik... kau ikutan manggil aku pake kakak. Biasanya ajalah..." Jeffrey bergidik mendengar ucapan Winwin yang menggodanya.


"Hahahaha.. Oke Kami pulang dulu ya, salam sama Bio. Om,Β  Tante Kami pulang dulu ya."


Setelah Winwin dan keluarganya pulang,Β  Jeffrey kembali terkena omelan maut Bundanya. Entah apa yang membuat Bundanya selalu menyalahkan Jeffrey.


Malam ini hanya Jefri seoranglah yang menemani Adiknya tidur dirumah sakit. Bertemankan sunyi senyap di ruangan dingin ini.


Bunda dan Ayahnya memutuskan kembali kerumah.


Agar tidak bosan, Jeffrey memainkan ponselnya sampai matanya mulai mengantuk.


Memainkan game secara random. Setelah memastikan bahwa Adiknya baik-baik saja. Ia memutuskan untuk pergi ke alam mimpi.


"Apasih Bunda nyalahin Aku mulu perasaan? Itu sah salah dia,Β  ini juga pake acara keracunan segala, kalau mati gimana?Β  Gapunya mainan dong Mas Jeffrey yang tampan seorang ini."


*******


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


Ttd Author


πŸ¦‡ #miss_lyr97 πŸ¦‡


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2