Actually Only You

Actually Only You
Episode 37


__ADS_3

***


🥀🌹 Actually Only You 🌹🥀


***


.


Dejun meniliki detail penampilan gadis ini. Disisi kiri topi itu terpampang sebuah pin hitam kuning bertuliskan  I'm Certified  NCTEZEN NCT, NEO ZONE. Disini kanannya juga ada sebuah bordiran berwarna putih dengan pinggiran merah istri Sah Xiaojun, Selingkuhan Sicheng, masa depan Jaehyun yang tertunda.


Di dadanya juga bertuliskan I'm NCTZEN, SIJEUNI, WAYZENI. Istri sah Oppa yang tertunda, Masa depan Onichan yang tersisihkan, Istri kesekiannya GEGE-gege Tamvan. Yang membuat Dejun paling geli dan tidak bisa menahan tawanya adalah tulisan bordir di dada kanan gadis ini yang di tulis kecil seperti pintu nama yaitu S3 Jurusan Halu Internasional.


"Apasih ngangetin tau nggak?!" sergah Bio kesal, namun volume suaranya diperkecil.


Bio melihat gelagat aneh Dejun yang memandangi dirinya dari atas hingga bawah merasa kikuk jadinya.


"Apaan gausah ketawa ya."


"S3 Jurusan halu Internasional? Ternyata selain bawel dan cerewet kamu juga lucu ya?" kata Dejun tertawa remeh.


"Udah ah liatinnya." Protes Bio dengan wajah memerah yang menyebar hingga ke daun telinga.


"Mau nyolong apa sih?" tanya Dejun frontal.


Dejun melihat kearah yang sedari tadi Bio intip. Melihat Winwin dan teman-temannya tertawa dan berbahagia. Mereka menuju ke dalam restoran, dan Dejun mengerti maksud ini.


"Emang ya, cewek itu pandai dalam hal men-stalker?"


"Ssssttt, nanti ketauan." Bio membungkam mulut Dejun yang suaranya sengaja ia nyaringkan. Bio sedari tadi sengaja bolak-balik, kesana-kemari pergi hanya untuk mengintai Winwin dari jauh.


Hatinya selalu berkobar panas setiap melihat interaksi Winwin dengan teman perempuannya. Sebenarnya ini memang kebiasaan Winwin dari dahulu kala. Namun Bio baru bisa merasakan sakit ini setelah akhir-akhir ini terlebih setelah mereka putus.


Dulu Bio hanya bersikap biasa saja, jika Winwin berinteraksi dengan teman perempuannya. Menurutnya menjadi pacar itu harus pengertian, tidak boleh overthinking dan overprotective. Itu yang selalu tercatat didalam kamusnya.


Sejak jam sepuluh tadi matanya selalu saja di suguhkan pemandangan yang tidak mengenakan mata. Selalu sukses membuatnya bar-bar didalam hati.


Terkadang melihat Winwin tersenyum, disentuh, perhatian pada lawan jenis orang itu membuat mata Bio memanas. Untung saja dia tidak membawa ketapel/panahan. Kalau tidak entah itu Winwin atau si perempuan yang akan menjadi sasaran penahannya.


"Jun," katanya serius dengan nada ala-ala tokoh antagonis di film action.


"Apa?"


"Ikuti aku."


"Kemana? Ogah ah."


"Ikut aku pup," katanya lagi menatap Dejun dengan horor. Akhirnya setelah dipaksa oleh Bio Dejun mengalah dan juga mengikuti kerjaan konyol ini.


Ingin rasanya Dejun menjitak kening Bio. Namun ia tidak akan bisa, karena gadis ini baru saja mencak-mencak tidak jelas. Membuat Dejun gemas sekalian risau.


Mereka ikut masuk ke restoran mewah dimana Winwin dan teman-temannya tadi masuk. Mereka berdua memilih tempat duduk dengan meja rendah, agar nyaman duduk bersila.


Bio mendaratkan bokongnya pada lantai papan di atas dek itu. Memilih menghadap kearah Winwin dengan sengaja. Dan Dejun duduk bersila didepannya.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka berdua.


"Iiih Winwin kiyut deh, gemesin." Puji Rani dengan tatapan penuh puja.


"Itu cemong Win," kata Megan menunjuk kearah sudut bibir Winwin.


"Sebelah mana?" tanya Winwin bingung dengan nada bicara lemah lembut. Yang membuat Bio semakin kebakaran hatinya.


"Sini aku elapin."


Berani kau elap, dan nyenggol Winwin ku bacok kau! Batin Bio penuh amarah memuncak jiwanya.


"Oi." Dejun menampar lengan Bio, Bio terperanjat dari konsentrasinya.


"Apasih?!" ketusnya.


"Pesan apa?!" tanya Dejun ogah-ogahan.


Dia melirik lagi kearah Winwin. Dan berhasil. Melihat tangan Megan mengelap bibir Winwin berkali-kali dengan ibu jari. Dan Winwin?  Bukannya menepis ataupun mengelak malah ia tersenyum manis.


"Saya pesan Ayam geprek level 200, soto ayam satu porsi, sate ayam tanpa lontong kasi sambel merah dan cabe rawit, bakso ranjau isi pentol semua harga tertinggi, nasi lalap dua porsi paha semua, pake ayam panggang, sambelnya banyakin nanti saya bayar, empek-empek isi telurnya dia porsi pakai ekstra pedas level dewa, sambel matah nya juga tiga mangkok penuh, sambel ayam suwirnya jangan pake cabe hijau, pake cabe rawit merah semua. Dan saya pesan sambal sp88 dia botol." Ucapnya berapi-api dengan nada tempo yang sesingkat-singkatnya.


Lalu memberikan buku menu pada pelayan. Untung lah pelayan ini sangat cerdas hingga ia bisa mengingat semua pesanan Bio dan mencatatnya.


Dejun saja lupa apa saja yang gadis ini bicarakan barusan.

__ADS_1


"Untuk siapa? Banyak amat pesannya?" tanya Dejun dengan binar netra yang memandang takjub.


"Aku."


Dejun hanya menggelengkan kepala. Setelah mencatat semua pesanan Bio, pelayan itu bertanya kembali.


"Minumnya apa mbak?"


"Es Teh empat, jus alpukat satu, jus cabe rawit satu." 


"Maaf Mba, juss cabenya nggak tersedia disini."


Bio dengan songong mengeluarkan lembaran kertas berwarn merah dan biru. Ia memberikan beberapa lembar pada pelayan itu.


"Ini tips buat kakak. Saya nggak mau tau harus ada semua, juss cabenya nambah satu. Kalau nggak ada juss cabenya saya bakar restoran ini beserta isi-isinya."


Pelayan itu tercekat sejenak. Dan mengangguk patuh.


"Mba tapi ini kebanyakan."


"Iya bacot situ yang kebanyakan."


Dejun memalingkan wajah mendengar perdebatan sengit antara Bio dan pelayan malang barusan. Baru tahu dia jika seorang Stephanie ini bisa bar-bar juga saat termakan api cemburu.


"Yakin?"


"Apa?"


"Pesanan kamu sebanyak itu yakin mampu abisin?"


"Yakinlah."


"Lucu."


"Diem." Dejun langsung diam mendengar perintah tak terbantahkan ini. "Kalau Dejun ngomong nanti aku nggak bisa denger apa yang mereka omongin." Lanjutnya masih dengan ekspresi bar-bar.


Jika biasanya Dejun yang bersikap cuek, datar, judes, jutek, maka saat ini yang terjadi malah sebaliknya.


Winwin melihat kearah pintu keluar disana ada Bio bersama Dejun. Dia menghela nafas samar. Kelihatannya Bio sedang ngambekan dengan Dejun, dilihat dari ekspresi BT nya.


Winwin merasa apa usahanya membuat Bio cemburu itu gagal? 


Apakah Bio benar-benar tidak berbohong dengan alasan perpisahan mereka?


Pertanyaan ini mengitari setiap inci otaknya. Ada rasa memanas di dadanya.


Pandangan Winwin sekarang fokus pada gadis yang sibuk marah-marah pada pria yang di depannya. Sedangkan pria itu terlihat menggodanya dan sesekali tertawa. Di sambut dengan tatapan horror nya.


"Win, menurut kamu aku gimana?" tanya Rani dengan nada manja. Membuat Bio mencebik kesal memasukkan pentol kedalam mulutnya dan mengunyahnya kasar.


"Cantik. Kamu cantik Ran,"


Telinga dan wajah Bio semakin merah padam. Bibirnya merah dan membengkak karena makanan pedas.


"Makasih. Panggil sayang boleh?" ujar Rani lagi.


"Boleh. Nggak ada yang larang. Rani boleh panggil aku apa aja sesuka hati Rani."


"Dih. Rani doang. Megan sesekali gombalin dong." Rengek Megan yang sedari tadi disamping Winwin bergelayut manja.


"Juss ini mambar ya." Kata Winwin yang berkomentar dengan rasa juss wortel pesanannya.


"Masa?" tanya Megan lagi.


"Coba aja."


"Nggak gini."


"Ya maksud aku gitu hidupku tanpa Megan, rasanya hambar."


"Iii Winwin ...  Gemesin."


Megan dan Rani tidak henti bergelayut manja, dan menggoda Winwin dan sebaliknya. Terkadang mereka mencubit pipi Winwin gemas.


Saling bertatapan mesra. Sebenarnya tatapan ramah, hanya saja menurut Bio itu tatapan mesra, karena terlanjur tersulut rasa cemburu.


"NYENYENYE ... NYENYENYE ...  NYENYENYE ... " Bio memajukan bibir bawahnya yang merah karena pedas sambil mengejek dan menirukan Winwin berbicara.


"Ada yang cemburu ternyata." Ejek Dejun.

__ADS_1


"Awas Jun. Jangan halangi pandangan ku."


"Apa?"


"Minggir! Aku nggak liat."


"Liat apa sih Stephanie?" tanya Dejun pura-pura tidak tahu. Dejun sengaja menghalangi pandangan Bio, menutupi dengan tubuh bongsor nya. Dia amat kasian melihat Bio yang tersiksa cemburu dengan memakan makanan extrem ini.


"Liat Dajjal lagi godain Jin Iffrit."


"Pemandangan kayak gitu nggak baik buat kesehatan jantung."


"Bodo."


"Makanan mu juga,"


"Gausah sok perhatian."


"Dih. Aku nggak perhatian, cuma males aja harus gendong kamu kalau sakit perut nanti. Kamu kan merepotkan. Udah gitu berat lagi. Badan aja yang kecil, isi nya batu mekanik kali tuh perut."


"Diem Jun, aku nggak denger."


"Eh Stephan--"


Bio menusuk bulatan bakso yang paling besar dan menyuapkanya pada Dejun.


"****!! Gila!! Inimah bukan pedes lagi, tapi racun." Komentar Dejun yang merasa lidahnya kepanasan. Dejun memang menyukai makanan pedas, tapi kali ini menurutnya bukan pedas lagi.


Dia merasa takjub dengan kekebalan Bio yang hampir menghabiskan semua makanannya, dengan level pedas diatas rata-rata. Belum lagi meminum juss cabe. Ditambah sambal sp88. Entah bagaimana gadis itu masih terlihat biasa saja. Hanya deru nafas yang tidak beraturan saja yang terdengar.


Sebenarnya Bio merasa ingin pingsan karena kepedasan, hanya saja rasa cemburu mengalahkan rasa pedas ini.


"----- kamu tau nggak----"


"----- bahagia itu, ketika aku dan kamu menjadi kita-----"


"-----panpun kamu mau aku bisa----"


Telinga Bio semakin terasa kebas, apalagi dengan ocehan Dejun yang tidak jelas ini membuat konsentrasinya untuk menguping kadar kabur. Entah sejak kapan Dejun menjadi cerewet dan banyak bicara? Padahal biasanya Dejun sangat irit mengeluarkan kosakata.


"Aw!" pekik Bio menahan perutnya. Ia merasa uluk hatinya perih. Dia baru ingat dari semalam dia belum makan. Dan ini mungkin ini reaksi perutnya mendapatkan konsumsi secara berlebihan dan tidak sehat.


Dia membayar Bill tagihan makannya dan Dejun. Awalnya Dejun yang ingin membayar semua makanan, tapi mendapat tatapan horror dari Bio dia memilih mengalah.


Peluh keringat keluar membasahi seluruh permukaan wajah mulusnya. Bahkan baju kaosnya pun ikutan basah karena di banjiri keringat. Dari keringat panas+dingin, keringat cemburu, keringat kepedasan, keringat segala keringat pokoknya.


"Aw adididih...  Huh!" Keluhan sambil memegang perutnya. Selain itu ia merasakan kekenyangan berlebihan, hingga membuat nafasnya sesak.


*


Author: Dasar Oon kamu Bi.


Bio: Ngerti rasa cemburu kan Thor?


Author: iyadah. Dasar lebay 🤣


Bio: Salah dirimu, ngapain diriku dibikin karakter kayak begini 😒


*


"Tuh kan, apa ku bilang. Batu sih." Komentar Dejun sambil memapah tubuh Bio.


Pruuuttt ....


Dejun mencium aroma tidak sedaap nan busuk masuk menyeruak di rongga hidungnya. Dan mendengar suara familiar yang khas barusan. Hampir saja Dejun mendorong tubuh Bio yang lemah tak berdaya ini. Tapi ia masih ingat akan mengendalikan emosinya.


***


🥀🌹 Actually Only You 🌹🥀


***


#Miss_Lyr97


🦇


***


Para readers pasti sudah mengerti bagaimana cara menghargai sebuah karya 💚💚

__ADS_1


__ADS_2