Actually Only You

Actually Only You
Episode 04


__ADS_3

*


*


*


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


.


Mengungkapkan adalah yang terberat dari sebuah Hubungan


.


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


*


*


*


πŸ‰Β  Alvarenda Dejun πŸ‰


X


πŸ¦‡ Stephanie Leeusaebio πŸ¦‡


X


πŸ•Š Chelsea Charoline πŸ•Š


X


🐣 Winston Wyn 🐣


Aku memang hoby ngemil. Sambil aku mendengarkan lagu aku melihat siluet laki-laki masuk kelas. Dia awalnya tampak ragu. Karena di kelas hanya ada aku dan dia. Dejun namanya.


Dia duduk di bangkunya. Aku sedikit canggung. Aku kemudian berbalik badan kearah bangkunya. Tidak enak rasanya jika aku tidak ramah-tamah dengan siswa baru. Sekolah kami bisa di cap sekolah yang Ber-ettitude buruk.


Selain itu aku pun penasaran dengan apa yang ia lakukan dibangku miliknya. Wajahnya tampan, tegas dengan alis lurus dan tebal. Aku yakin pasti banyak dari teman-temanku yang menyukainya.


"Mau coklat?" tawarku.


Dia tersenyum kilat lalu mengangguk pelan, mungkin menolak. Dia kembali diam dan tidak memperdulikan keberadaan ku. Karena tak kunjung memperdulikan Coklat yang ku suguhkan. Aku mencoba memberanikan diri lagi untuk bertanya.


"Aku mempunyai banyak coklat, kalau kamu mau ambillah ini." Aku menyuguhkan beberapa bungkusan coklat.


"Terimakasih." Jawabnya singkat sambil mengambil satu dari empat coklat yang ku tawarkan padanya.


Dia enggan menatapku. Berusaha menjaga jarak dan pandangan matanya dariku. Aku sedikit heran saja. Anak ini amat kaku, dan judes. Seakan-akan membangun benteng pertahanan diri dan mencoba mengatakan jangan dekati aku, dari gestur tubuh dan sikapnya.


Mengapa tiba-tiba seformal ini?


"Jika kau butuh bantuan aku bisa membantu mu." Ucapku masih berusaha ramah. Menampilkan kedua dimple di pipi kiri-kanan ku. Bisa dibilang aku tersenyum manis saat ini. Maaf bukan maksud ku menggoda anak baru, aku hanya ingin beramah-tamah saja pada semua orang.


Dia menatap ku sekilas, lalu membuka coklat yang kuberikan tadi. Syukurlah ia membuka coklatnya, kukira tadi ia akan menyimpannya, atau tidak akan membuangnya ke tong sampah yang di dekat pintu masuk kelas.


"Aku serius, tidak perlu canggung dan seformal ini tidak apakan?" Tanya ku lagi memastikan, masih menggunakan bahasa seformal mungkin.


Bukannya menjawab anak itu malah mematahkan danΒ  menyuapkan coklat yang ia buka tadi padaku lalu beranjak pergi. Apa-apaan ini? Dia berusaha menyumpal mulutku dengan coklat? Huh baiklah aku tidak lagi bicara.


Aku menghela nafas. Mungkin aku ini menyeramkan? Sampai anak itu ketakutan dan pergi. Aku mengetuk-ngetukan jariku pada mejaku pelan.


Anak itu masuk ke kelas lagi. Menatap ku dengan senyuman miring, yang entah apa maksudnya. Ku rasakan pipiku menghangat melihat senyumannya. Lebih tepatnya ia menunjukkan smirk mematikan untuk ku.

__ADS_1


Kuakui dia sangat tampan. Bahunya lebar cocok untuk bersandar di situ, dibahu dan dada bidangnya. Pasti sangat nyaman saat bersandar di pundaknya.


Dadanya bidang, pasti hangat jika aku di dekapnya.


Yatuhan!!


Mikir apa barusan aku?!


Aku menjitak kepalaku beberapa kali. Agar bayangan aneh itu segera sirna. Tapi sekali lagi aku melihat dia tersenyum. Bukan tersenyum manis seperti anak ayamku.


Senyumannya sangat cool, membuat mataku sempat terkunci beberapa detik saat menatap maniknya. Ternyata dia juga mempunyai mata yang indah, serta mempunyai tatapan yang mematikan.


Deg!


Jantungku rasanya ingin melompat keluar dari tempatnya sekarang juga. Mungkin dia sadar aku yang sedari tadi menatapnya. Lantas menatap balik ke arah ku dengan tatapan tajam.


Aku buru-buru membuang muka. Lalu berpura-pura mengeluarkan buku matematika dan mencoret-coret asal.


********


Lagi-lagi aku tidak bisa menjemput gadisku. Aku disibukkan dengan kegiatan sekolah untuk bulan depan.


Aku baru keluar gerbang sekolah pukul 17:20 sore ini sudah mendekati magrib bukan? Tiba-tiba ada sebuah tangan mungil menepuk pundakku.


"Carol?! " Aku sedikit terkejut dengan kehadirannya.


"Nebeng boleh? Takut pulang sendiri jam segini ... " Katanya sambil tersenyum manis menunjukkan puppy eyes-nya.


Ku lihat sekeliling sekolah ini memang sangat sudah sepi, tak baik juga aku menolak dan menyuruhnya pulang begitu saja bukan? Aku sedikit tidak tega membiarkan dia pulang sendiri dalam keadaan seperti ini.


"Ayo naik! " Suruhku singkat sambil memberikan helm yang biasa dipakai Bio. Kurasa di pinjam gadis ini bukan masalah besar.


Disepanjang jalan aku hanya diam, namun gadis ini lumayan berisik dan cerewet, tidak seperti Bio yang sedikit kalem.


Dia tidak berhenti bertanya tentang keseharianku, tentang keluarga ku selalu ada saja topik yang ia bicarakan. Bahkan terkadang memberikan pertanyaan tentang berbagai privasi ku. Aku pun menjawab seadanya dan sekenanya saja.


"Sendiri."


"Winwin hobby-nya apa? "


"Musik."


"Winwin suka makan apa? "


"Apapun yang bisa dimakan, Caro."


Jujur sebenarnya aku sudah cukup malas menjawab pertanyaannya sedari tadi. Tapi sebagai lelaki tidak mungkin aku mengabaikan orang yang sudah berepot-repot bertanya padaku. Hanya saja aku jadi tidak bisa terlalu fokus dengan jalanan.


Apa ini?


Jaraknya sedikit intim dengan ku. Bio saja tidak pernah sedekat ini jika berboncengan dengan ku. ini terlalu dekat, ia menempelkan tubuhnya di belakang sana, walaupun jarak kami masih dibatasi dengan helaian benang di pakaian.


"Winwin cita-citanya mau jadi apa? "


"Parfumer."


"Wah pantes Winwin harum. Carol suka cowok harum kayak Winwin sumpah."


Ah wawancara jenis apa ini?!Β  Aku sudah mulai risih dengan ocehannya. Maaf, bukan risih juga. Tapi aku sangat lelah juga menjawab pertanyaannya sedari tadi.


"Winwin suka wangi parfum cewek kayak apa?Β  Kayak wanginya Carol suka nggak?" tanyanya lagi semakin ngawur.


"Nggak Keciuman." Jawabku cepat.


Bodoh!

__ADS_1


Ngomong apa barusan aku?!


Aku hanya menjawab cepat tanpa memikirkan apa pun.


Gadis ini mengulurkan tangannya kedepan agar aku bisa mencium aroma parfum dilengannya. Ya mengulurkan tangannya dari celah leher ku.


Paksaaanya berhasil, lalu dengan pasrah aku menurutinya, mencium aroma pergelangan tangan mulusnya.


Sontak sepasang netraku menangkap sosok yang sangat ku kenal hingga membuat ku mengerem motorku mendadak.


Bio dan Jeffrey!


Barusan aku berlimpasan dengan mereka. Bahkan Bio mematahkan arah pandangan lehernya melihat kearah ku.


Sorot matanya tampak sangat datar seketika memergoki ku. Aku melihatnya sampai bayangan mereka hilang. Apa dia melihat ku dengan jelas?


Sungguh ini bukan mauku. Pasti Bio akan salah faham nantinya. Dia pasti akan lebih percaya dengan apa yang ia lihat, dari apa yang aku katakan nantinya. Walaupun kenyataannya aku yang salah, tapi tidak sepenuhnya salahku.


Aku yakin Jeffrey tadi tidak melihat ku. Karena jika dia melihatku pasti dia akan berbelok memutar arah dan berhenti memotong jalan ku.


Aku memukul stang motorku yang tak berdosa. Aku marah pada diriku sendiri. Betapa bodoh dan cerobohnya aku ini.


Fikiran ku kembali kacau. Ini sangat membuat Ku frustasi. Aku tidak ingin Bio salah faham ataupun cemburu.


Maaf Bi, aku salah, batinku. aku memaki diriku sendiri dalam hati. Berusaha menampik apa yang yang ku lihat barusan itu salah. Carol hanya diam tidak mengerti mengapa aku menghentikan motorku mendadak. Seharusnya gadis ini jangan terlalu agresif seperti ini. Tapi aku bahkan tidak bisa mengutarakan pendapat ku sendiri, memperpanjang masalah jika dia akhirnya tersinggung.


S*al.


********


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


*


*


Sorot mata itu mematikan.


Menusuk dasar jantungku.


Hingga nafasku tercekat.


Maaf telah membuatmu terluka.


*


*


🐣 Winston Wyn 🐣


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


Permulaan konflik.


Ttd Author


πŸ¦‡ #miss_lyr97 πŸ¦‡


*


*


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2