
***
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
*Raih Dan Genggam Jemariku
Lalu Bawalah Aku*
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
***
"Jangan takut untuk membuka diri Mu, Kami akan membantu mu." Kedua pasang jemari kekar merengkuh tubuh mungil ku.
"*Ada Kakak juga disini, Bio nggak harus dan terus-terusan mengandalkan Kita. Bio pasti bisa."
"Bagaimana jika Mereka berniat jahat? " Tanya Ku menatap manik Mereka berdua secara bergantian.
"Kami nggak akan tinggalkan Kamu Sendirian Bi, hanya saja Kamu harus bisa berbaur." Kata anak laki-laki jangkung ini mengelus surai Ku*.
"Kita semua sayang sama Kamu, Kamu percaya, ya?"
Kedua laki-laki ini memeluk tubuh-Ku hangat. Ini membuat Ku kembali tenang.
"Kakak akan selalu ada untuk Kamu, Bi."
Aku terlonjak, hingga kaki Ku terangkan ke atas lalu terhempas. Nafas Ku memburu hingga membuat Ku sedikit sulit mengatur udara di paru-paru.
Peluh keringat membanjiri pelipis, serta membasahi pakaian tidur Ku.
Ku lirik benda pipih padat di samping nakas Ku. Memperlihatkan case hitam merah bermotif mawar terbakar.
Ku raih benda pipih dan menekan tombol on/off. Memperlihatkan wallpaper dengan gambar dan tema Doraemon. Kulihat, pukul 03:30.
Aku mengusap wajahKu dengan selimut bermotif Doraemon Ku asal. Dengan ragu Aku melangkah menuju kenop pintu untuk membukanya.
Melangkah ragu menuju kamar yang tepat disamping pintu kamar milikku.
Tok.. Tok.. Tok..
Tok..
Aku menghentikan aktivitas Ku sejenak, lalu dengan ragu lagi Ku ketuk pintu ber-Cat baby blue, perlahan.
"Kak? " Panggil Ku, sembari menempelkan pipi kanan Ku ke sela-sela rongga pintu.
Senyap. Tidak ada sahutan, mungkin Kakak Ku sedang bermimpi indah di tidurnya. Lalu Aku memutuskan untuk pergi dan kembali menuju ruang kamar Ku.
Ceklek...
Suara pintu terbuka, Aku menjeda langkah dan melirik ke arahnya.
"Kenapa Dek? " Tanya Kak Jeffrey yang masih merapatkan kedua matanya.
"Boleh masuk?" Tanya Ku ragu.ย Aku berusaha mengatur volume suara Ku tidak terlalu nyaring, namun bisa terdengar jelas.
Kak Jeffrey mengangguk dan membuka pintu lebar, membiarkan tubuh-Ku memasuki arena kamar miliknya.
Kak Jeffrey kembali menutup pintu, dan berjalan gontai menuju springbed.ย
Aku duduk di tepian tempat tidurnya, membiarkan Dia sibuk dengan aktivitas membenarkan selimutnya.
"Ayo, buruan tidur." Katanya mengangkat kepala melihat kearah Ku yang mematung menatap tubuh kekarnya.
Aku memposisikan tubuh berbaring dan meletakkan kepala Ku ke bantal yang berada di sampingnya.
Kakak memiringkan tubuhnya menghadap kearah Ku, sembari menyelimuti tubuhku.
"Ada Kakak." Katanya sambil merengkuh bahu Ku ke dalam pelukannya. Aku menenggelamkan wajah Ku pada dada bidangnya dan berusaha tenang. Terkadang Kakak membelai lembut rambut Ku, sampai akhirnya Kami terlelap kembali.
**
*Author::ย Bang Jeff, Abang jadi Abangnya Author aja huhuhuuuu T~T
Jeffrey:::ย Jijay Gua ama Elu Thor,ย Author Somplak,ย Madesu pula๐๐
Author::ย Tolong azab Jeffrey,ย Ya Allah*...
**
Tidak seperti biasa.
Hari ini Aku di antar lagi oleh Jeffrey.ย Bukan Winwin tidak ingin menjemput Ku. Dia juga ikut mengantar Ku. Ini keinginan Kakak Ku sendiri memang.
Dua hari ini Dia mengantar Ku sampai ke kelas bahkan.ย Karena takut Aku kenapa-kenapa lagi seperti tempo hari.
Kakak Ku amat murka saat mengetahui tubuhku babak belur. Aku sempat absen kelas 3hari untuk rehat.
Kakakku sempat mengamuk dan memukul meja keramik ruang tengah saat melihat keadaan Ku waktu itu.
Hingga tangannya lebam dan terluka jari-jari bongsornya. Padahal Aku sudah mencoba menutupi semuanya.
Tapi Kakak tidak bisa di bohongi. Saat melihat kantung mataKu legam segera Dia melucuti pakaian Ku. Dan menyingkap bajuKu.
Sehingga memperlihatkan keindahan ukiran peta ungu legam yang menghiasi perut,ย punggung dan beberapa bagian tubuhku.
"Dek. Jam pelajaran terakhir langsung telfon Kakak. Kalo nggak telfon Winston. Ingat! " Katanya seraya memberikan sebuah kotak makanan. Serta menatap teman kelas Ku satu persatu.
"Iya Kak." JawabKu lembut. Lalu Kak Jef- meninggalkan ruang kelas Kami dan pergi.
Aku memandu punggungnya yang berlalu dengan senyuman teduh. Kakak memang sangat menyebalkan, tapi Dia sangat perhatian.
Apalagi Kami sering di tinggal berdua saja dirumah. Menjadikan Kami sangat dekat dan saling membutuhkan satu sama lain.
**
Winwin Side and Winwin POV
Aku memutuskan untuk bermain piano di ruang Musik. Walaupun hari ini tidak ada jadwal Bidang studi kesenian.
Sejak sejam ini Aku selalu salah memainkan note, hingga membuatku frustasi karena akhir-akhir ini konsentrasi Ku benar-benar terganggu.
Lalu Aku memutuskan untuk merebahkan tubuhku di meja, menatap langit-langit berwarna putih.
Menghirup udara sebanyak-banyaknya di ruangan yang bernuansa biru muda ini. Aku mengusap wajahku perlahan sambil mengingat semua kejadian demi kejadian selama beberapa bulan ini.
"Sorry, Bi." GumamKu sambil menatap lurus keatas.
Author:: Nape Lu Bang?ย Mikirin Gue ya..?
**
Dejun POV
Hari ini setelah pulang sekolah aku pergi ke Zoo.ย Bersama seorang gadis cantik yang selama ini diam-diam Aku menyukainya.
__ADS_1
Dengan mengenakan blus polos berwarna navi dengan renda sedikit simple dan mengenakan celana jeans. Membuatnya terlihat seperti wanita Asia dewasa.
"Kamu nggak haus?" tanyaku.
"Emang Kamu haus? Yaudah Kita warung itu aja dulu." Tunjuknya kesalah satu warung.
Kami tidak hanya memesan Pop ice,ย Kami juga memesan beberapa sosis bakar sebagai camilan.
Karena jujur saja sedari tadi Kami hanya mengitari kebun binatang ini tanpa membawa cemilan dan minuman. Aku sebagai seorang lelaki merasa malu dan gagal.
"Chelsea, nanti malam sibuk?" Tanyaku memberanikan diri.
"Enggak. Emang kenapa?"
"Mau nonton?"
"Nonton? Film apa?"
"Terserah Kamu aja mau film apa? "
"Aku mau film romance?ย "
"Boleh."
Lega sekali rasanya Dia tidak menolak tawaran Ku. Melihat senyuman cerahnya ingin sekali memandang senyum itu setiap hari.
Setelah mengantarnya pulang ke rumah, Aku langsung pulang. Mempersiapkan segalanya dengan matang.
Dia tidak menolak Ku jemput dengan menggunakan sepeda motor. Bahkan Dia sangat menyukai hal itu.
Setelah pukul 7:30 Aku menjemputnya ke rumah.
Dia mengenakan blus bewarna cream dengan bawahan jeans berwarna biru. Lalu menggeraikan rambut panjang blondenya dengan bebas.
Kami memilih film romantis berjudul Actually Only You. Film ini sangat Kami rekomendasikan untuk para remaja, ceritanya ringan dan banyak sekali konflik yang terjadi pada lingkungan sekitar Kita. Ah, sudahlah Aku tak ingin spoiler lebih banyak lagi.
Setelah menonton film romantis yang berdurasi 2jam ini Kami memutuskan berkeliaran barang sebentar di sekitaran Mall.
Kami memilih bangku kosong di cafe yang berada dalam Mall ini. Seorang pelayan datang menghampiri dengan membawa buku menu.
"Kamu pesan apa Chelsea?"
Chelsea meraih daftar menu dan membacanya dari awal hingga akhir.
"Vanilla latte, desert em.... Aku mau Pie ini. Lalu... Kamu burger atau pizza?"
"Aku Americano, Cheese Burger."
"Baiklah, Aku juga Cheese Burger."
"Dejun? Carol?" Sebuah suara menyentuh gendang telinga ku. Suara ini nampak tak asing lagi bagiku. Aku dan Chelsea serempak melihat kearah sumber suara.
"Ah.. Kamu? Sama Siapa kesini?" Tanya Carol yang langsung beranjak dan memeluk tubuh kurus itu. Mereka memang pernah bertemu sebelumnya di sebuah konser musik.
"Sama Mereka.." Tunjuk gadis itu pada 2 orang pria dan disana juga ada seorang wanita.
"Nge-date?"
"No." Gadis itu menyilangkan tangannya.
"Oh iya, itu Kakak Kamu itu ya.." Tanya Chelsea, gadis itu hanya mengangguk sembari menampilkan dua dimple di kedua sisi pipinya karena tersenyum.
"Kalian?"
"Abis nonton film bareng, biasa."
Kami hanya menatap lenggang punggung gadis itu menjauh dari meja Kami menuju meja Mereka.
"Kamu kok nggak ramah sih sama temen kelasmu?" Tanya Chelsea menampar pelan lenganku yang sedari tadi Ku lipat di atas meja.
"Kan nggak ngajak ngomong sama Aku." Jawabku enteng.
"Nggak boleh gitu. Senyum kek, nyapa kek, basa-basi kek Jun." Omelnya.
"Iya-iya nanti Aku basa-basi. Basa-basi apa?"
"Apaan kek. Nanya gitu."
"Sejak kapan Kalian akrab?" Tanyaku penasaran..
"Oh, waktu itu Aku nolongin Dia pas hujan-hujan, terus kita tukeran nomor telfon, terus sering chat, telfonan, dan akrab deh."
"Pasti gibah." Dia tak menjawab hanya tatapan horor yang bisa Aku lihat. Aku terkekeh pelan sambil mengaduk Americano Ku yang baru saja di letakan oleh pelayan.
Setelah selesai menikmati hidangan Kami pun beranjak pergi, untuk pulang ke rumah. Aku mengantarkan Dirinya sampai depan kerumah. Menatap lenggang punggung gadis itu hingga ia menghilang dari balik pintu rumah nya.
Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Menghirup aroma khas kamarku yang berwarna hijau mendominasi.
Membayangkan senyum cerahnya tadi. Ah ternyata Aku belum bisa di bilang sebagai seorang lelaki. Aku mengusap wajahku kasar.
Sungguh Aku terlalu gugup untuk menyatakannya. Akan Ku coba di lain waktu. Menunggu waktu dan mencari moment yang tepat.
Melihat Dia tersenyum saja Aku hampir tidak bisa berkata apa-apa. Argh! Apa-apaan ini? Aku merasa gagal menjadi seorang lelaki.
Aku beranjak kearah cermin. Menarik lengan T-shirt Ku hingga memperlihatkan lengan kekarKu.
"Malu sama badan Dejun.. " Aku mendengus merutuki kebodohanku.
Jadilah seorang lelaki yang gentleman Dejun. Jangan mempermalukan dirimu sendiri. Huh! Aku kembali Menghempaskan tubuhku kasar ke tempat tidur.
********
Carol POV
"Oke-oke! Aku yang keluar atau Kamu yang keluar dari rumah ini, huh?! "
Baru saja Aku masuk kedalam rumah melalui pintu utama, lagi-lagi suara ini. Sambutan yang amat meriah bukan?
"Mah.. Pah... Carol pulang.. "
Aku dengan cuek melewati dua manusia ini begitu saja. Tanpa menghiraukan Mereka, yang penting Aku sudah menyapa Mereka.
"Aku bosan Mas, Kamu itu tau apa? Kamu cuma kerja cari uang aja. Kamu juga jarang pulang kan?"
"Kamu tau apa tentang Ku hah?! Mengurus anak saja Kamu tidak becus. Sekarang juga jawab Aku yang keluar dari rumah ini atau Kamu?"
"Mas! Maksud Kamu apa?!"
"Kita cerai! Aku akan menikah dengannya dan Kamu juga bisa dengan bebas bertemu dengan lelaki itu kan?!"
"Oke. Aku yang akan pergi! Kamu bisa ambil Carol dan Aku bawa Crish dan Cira! Puas?! "
Aku menutup pintu kamarku,ย berharap bisa meredam suara itu. Aku menekuk tubuh dan memeluk kedua lututku bersandar di belakang pintu.
Semua ini memang tidak asing lagi bagiku, tapi tetap saja Aku sangat tidak suka dengan suasana dan suara semacam ini.
__ADS_1
Hampir setiap hari Aku menikmati hidup seperti ini. Hampir setiap hari juga Aku pura-pura tidak peduli dengan hal ini.
Papaku seorang lelaki tempramental, sedangkan Mamaku seorang sosialita.
Aku tak tahu siapa yang benar salah diantara mereka?
Mereka sama-sama selingkuh. Sama-sama sibuk. Sama-sama egois. Sama-sama keras kepala, tidak ada yang mau mengalah. Sama-sama saling menyalahkan.
Mereka saling menuntut kesetiaan dan kesempurnaan. Tapi....
Entahlah.
Aku harus sedih, senang, atau bagaimana?
Aku mempunyai seorang Kakak laki-laki bernama Cristian Aldo dan Adik perempuan bernama Cira Owen. Kami tidak dekat.
Dirumah ini Kalian adalah orang asing yang saling tinggal dalam satu atap. Tanpa kasih sayang, tanpa tegur sapa.
Semuanya hanyalah pencitraan belaka. Di depan orang Kami sangat dekat dan akrab. Padahal...
Kami saling memunggungi satu sama lain. Haha. Keluarga macam apa ini?
Aku mempunyai seorang Kakak tapi benar-benar hanya tahu siluet dan namanya saja. Begitu juga adikku.
Apakah keluarga Kami satu-satunya yang unik dan aneh dan ada di dunia ini?
Aku memang hidup bergelimang harta. Namun semua ini benar-benar hidup dengan uang.
Aku tidak peduli! Setidaknya Aku masih memiliki banyak uang. Mereka bercerai? Itu tidak terlalu buruk. Ya memang tidak buruk. Terserah Mereka. Hidup Mereka.
Percayalah Aku hanya berusaha untuk tegar. Dalam hati kecilku tidak ingin keluarga Ku seperti ini. Sesekali Aku ingin pelukan hangat.
Oh ya Aku sering mendapatkan ini, walaupun sekedar pencitraan. Mah...ย Pah...
Sebenarnya Kalian Sayang Kami nggak sih?!
Carol harusnya Kamu bertanya pada dirimu sendiri. Kamu ini sayang keluarga Mu tidak?
Kepalaku rasanya ada sesuatu yang meletup-letup didalamnya. Hingga Kurasakan ternyata Aku semalaman tidur di lantai, tepatnya di belakang pintu. Aku hanya tersenyum miris lalu beranjak mandi untuk pergi ke sekolah.
Ya. Salah satu tempat untuk menenangkan hati. Salah satu tempat untuk melupakan semuanya adalah sekolah.
Kulihat rumah amat berantakan, mungkin karena ulah kedua manusia itu. Buru-buru Aku melangkahkan kakiku untuk menuruni tangga lantai dua ini.
Aku bedoa dan berharap dalam hati, Aku tidak bertemu dengan salah satu diantara Mereka berdua.
Aku amat tergesa-gesa untuk mencapai pintu utama hingga Kurasakan sebuah tangan kekar menarik pundak Ku.
"Papah?" Sapaku dengan senyuman cerah, senyum palsu.
"Bisa Kita bicara sebentar? Duduk!" Perintahnya mutlak. Terpaksa dengan hati berat Aku menurut saja apa yang ia perintahkan tadi.
"Papa sudah tranfer uang ke rekening Kamu. Carilah sebuah apartemen, sementara ini Kamu tinggal di apartemen."
"Iya Pah.. Nanti pulang sekolah Carol akan survei. Carol berangkat dulu." Pamitku pada Papah.
Aku tak ingin mendengar jawabannya. Aku dengan secepat mungkin keluar dari rumah untuk menuju kesekolah. Toh Aku pun sudah terusir bukan?!!
Baiklah itu tidak buruk, Kuharap ini jalan terbaik walau harus terusir dari rumah Mu sendiri Carol.
Aku tak ingin tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Aku pun tidak ingin tahu apa tujuan ini?
Karena semua itu percuma. Tenanglah Carol, setidaknya Kau masih punya uang bukan? Walaupun memang benar kebahagiaan tidak bisa di beli dengan uang.
Ah, setidaknya dengan punya banyak uang Aku tidak terlalu sengsara walaupun hati dan fikiranku menolak. Tetap saja Aku ini seorang gadis rapuh yang pura-pura tengah bahagia.
Semalam Aku lupa membeli bahan makanan. Jadi tadi pagi Aku tidak bisa membuat sekotak makanan untuk Winston.
Aku meminta supir Ku berhenti di sebuah toko cake. Sesekali membelikan Dia jajanan diluar tidak apa-apa kan? Kurasa ini tidak berdosa.
Aku memilih cake lapis surabaya, Aku pernah dengar bahwa Winston menyukai cake ini. Lain kali Aku akan membuatkannya cake lapis surabaya. Pasti Dia menyukainya.
Setelah menyelesaikan transaksi Aku segera kembali ke mobil Ku dan melanjutkan perjalanan ke sekolah Ku.
Aku melangkah dengan amat semangat untuk pergi ke kelas favorit Ku. Kelas Winston. Karena Dia salah satu penyemangat Ku untuk bertahan.
Tidak peduli dengan bagaimana dengan perasaan laki-laki itu. Aku tidak menuntut balasan apa pun atas apa yang Ku perbuat untuknya.
Tidak mengharapkan sebuah imbalan rasa juga, cukup menerima apapun yang Aku berikan padanya pun itu sudah lebih dari cukup. Bersyukur selama ini responnya tidak negatif, walaupun memang iya Dia baik pada semua orang.
Setidaknya Dia tidak mengabaikan Ku. Itu saja.
Ah Dia sedang mengobrol dengan beberapa anak gadis seperti biasa Dia memang amat ramah-tamah pada Siapapun.
Aku sedikit menjaga jarak dari Mereka membiarkan Dia dengan leluasa berbicara pada para lawan bicaranya. Menatap tengkuknya saja sudah membuat pipi Ku menegang karena malu.
Tubuhnya menjulang tinggi, kelopak mata kecil nan sipit, hidung mancung serta bibir yang sedikit tebal ini sungguh sangat indah.
Dia selalu mengeluarkan cengiran khas yang bisa membuat para gadis pingsan di tempat. Bukan cengiran aneh, cengiranya amat indah. Memperlihatkan deretan gigi putih dengan tapi tertata.
Memiliki sikap yang lembut, baik pada Kami perempuan maupun sesama pria. Tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar.
***
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
*Sedikitpun tak pernah Kubayangkan
Sembilu yang melintas
mampu menyayat hatiku
๐ฅ๐นย **Actually Only You ๐น๐ฅ***
๐ฆ***Stephanie Leeusaebio๐ฆ
X
๐ย Alvarenda Dejun๐
X
๐ฃย Winston Wyn ๐ฃ
X
๐ Chelsea Caroline ๐***
Ttd
Author
๐ฆ๐ฆ #Miss_Lyr97 ๐ฆ๐ฆ
***
__ADS_1
Kalian tim mana nih?