
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
*Cinta dan kesetiaan
Mempunyai tolak ukur yang berbeda*
π₯πΉ Actually Only You π₯πΉ
****
"Kamu nantang kayaknya. Atau kamu suka kita main lagi?" tanyanya lagi dengan nada menjijikkan, dan mendekatkan wajahnya padaku.
Aku mengerjap dan menahan nafasku. Ingin rasanya ku cakar wajah tampannya ini.
"Ingat Steph, di sekolah kamu itu terkenal." Ia memantung rokoknya dengan korek gas dan menyelipkan di sela bibir tebalnya. "Mau makin terkenal?" lanjutnya sambil meniupkan asap rokoknya. Dasar bocah gendeng! Masih sekolah sudah berani merokok.
"Jahat kamu." Sarkas ku.
"Kamu yang bikin aku jahat Steph! Kamu baik sama aku, kamu perhatian dan peduli sama aku. Tapi kamu malah nerima Winston anak China itu ketimbang aku!"
"Kau sendiri taukan?! Aku sama Wins--"
"Aku sama Winston teman dari kecil, kami akrab dan tumbuh bersama. Semua rasa dan kisah bersama dengan dia adalah moment berharga." Katanya menirukan kalimat yang pernah ku lontarkan padanya. "Muak aku Steph dengerinnya!"
Aku menundukkan pandangan ku kebawah. Mengigit-gigit lidahku di dalam sana. Ini semua memang salahku. Aku yang bodoh, memang.
"Tapi ... Kalau Winston tau aku ragu kalo dia masih mau bertahan dengan sampah macam kau!"
Akupun menjadi meragukan kesetiaan Winwin. Benar. Aku sampah.
"Oke. Tapi foto dan video itu bakar!" Pintaku mulai melunak. Ekspresi wajahnya tetap saja congkak. Ia memainkan asap dari hisapan puntung rokoknya.
"Kalau aku nggak dapat, Winston harus nggak dapat juga."
Ia memantikkan korek apinya dan membakar lembaran kertas foto itu di depanku. Sedikit aku merasa lega. Tapi tetap saja aku berhutang janji pada iblis ini.
Kami lama sekali dalam diam. Aku hanya takut salah ambil tindakan dan mengulang kecerobohan dulu. Aku takut.
"Andai dari dulu Steph, aku nggak perlu repot-repot melakukan itu."
Aku memejamkan mataku. Tak sanggup rasanya mengingat momen keji itu. Aku memang terlalu lemah. Haha gadis bodoh.
"Lumayan. Aku nggak jadi pacarmu tapi bisa--"
"Aku pulang. Makasih tempat dan waktunya." Potong ku cepat dan beranjak dari tempat duduk ku.
Aku berbalik dan meninggalkannya, namun sampai di ambang pintu ia mencegat dan menarik lenganku keras.
Aku takut ia melakukan itu lagi. Bodohnya bayangan ini selalu menari-nari di otakku sejak pertama datang kesini.
"Rasanya amat nikmat bukan?" katanya dengan nada sensual yang sanggup membuat ku muntah di tempat kapan saja untung saja ku tahan.
Aku tidak memperdulikan ucapannya dan tetap berlalu pergi, ku lirik sekilas ia mengeluarkan smirk jahatnya. Tanda kemenangan.
__ADS_1
Aku pergi dari tempat terkutuk ini. Aku bersumpah dan berjanji ini terakhir kali aku berkunjung ke tempat jahanam ini.
Dengan perasaan yang kacau akibat terbanting-banting ini aku selalu saja merasa mual. Aku sebenarnya tidak ingin bertemu siapapun. Aku pulang dengan terburu-buru.
Sesampainya dikamarku aku tidak langsung berganti pakaian melainkan aku menuju wastafel kamar mandi ku. Untuk menumpahkan cairan pahit yang membuat wajah ku memanas tadi.
Paru-paru terasa amat sesak. Tenggorokan ku tercekat dan sulit sekali aku bernafas. Seberapa banyak udara yang kuhirup, hanya sebagian saja yang masuk. Aku menepuk-nepuk dada dan mencubit leherku sendiri dengan kuat.
Aku berharap apapun yang mengganjal dan menghalangi udara masuk kedalam paru-paru ku ini segera terpental keluar.
Aku sangat menyanyangi keluarga ku terutama kakak. Aku menyayangi semua teman-temanku, aku pun menyanyangi Winwin. Sepertinya aku terlahir dari bentukan gagal boomerang. Ya kloningan boomerang versi manusia.
Setelah aku selesai membersihkan tubuhku aku berniat memasak sesuatu untuk makan malam kakakku setelah pulang kuliah nanti.
Aku hanya memasakannya nasi goreng saja. Aku tahu masakan ku tidak seenak masakan kakakku. Sekeras apapun aku berusaha tetap saja hasilnya tidak enak. Padahal biasanya aku menakar semua bumbu tapi tetap saja rasanya biasa saja.
Beda dengan kakaku, terkadang ia masak seperti orang tidak punya niat. Asal-asalan, tapi rasanya dan kombinasi seluruh hasil karya kakak terbaik.
Jam tujuh malam aku akan pergi kerumah Winwin. Harus. Tapi apakah aku sanggup mengatakan semua didepannya?! Bagaimana nanti reaksinya? Aku benar-benar belum siap.
Aku harus menguatkan mental untuk menyatakan ini semua. Tapi tidak mungkin aku mengatakan ini semua dirumahnya bukan? Nanti bagaimana dengan reaksi orang tuanya? Yang aku harus bertemu dengannya saja dulu, baru memikirkan dimana tempatnya.
"Win ..." lirihku yang merasakan kaki tangan dan tubuhku gemeteran di depan pintu. Serasa berat untuk ku melangkah. Namun aku sudah bertekad.
Aku pergi berjalan kaki melewati gang terdekat rumah kami. Hah. Di depan ku ada anj*ng galak berjenis kelamin laki-laki. Milik Pak Herman. Bagaimana cara ku melewati anj*ng ini?
Baiklah, aku akan mengambil ancang-ancang untuk lari sekencang-kencangnya. Jantungku dag-dig-dug, bukan karena jatuh cinta tapi karena nafasku yang merasakan ketakutan dengan anj*ng galak ini. Aku sempat tersungkur sebentar tadi, namun cepat-cepat aku bangun dan sekarang aku sudah berada di rumah paling besar dan mewah milik Winwin. Aku sudah meminta izin pada Pak Danu satpam rumah ini.
Pak Danu sudah sangat mengenal ku. Jadi tidak susah aku meminta bertemu dengan Winwin. Aku menunggu didepan pintu utama dengan nafas yang ngos-ngosan sambil bercekak pinggang.
"Eh Bio ... Kenapa nggak minta jemput Winwin aja?" kata Mama Winwin mempersilahkan aku masuk.
"Nggak apa-apa Ma, sekalian Bio olahraga." Jawabku masih dengan nafas yang amat laju.
Mama Winwin mencubit pipiku ringan. Lalu mempersilahkan aku duduk di sofa, dia berniat memanggil Winwin, dan pergi keatas setelah menyuruh Kak Uci membuatkan ku minuman. Ya jujur saja aku memang haus.
"Kenapa nggak telpon Bi?"
Aku menengok kearah sumber suara, Winwin dan Mamanya. Winwin hanya memakai tshirt berwarna putih polos dengan bawahan celana jeans, rambutnya masih sangat rapi. Anak ini memang memegang teguh dan mengamalkan tentang kerapian.
"Lupa." Jawabku singkat.
"Kamu lari?" tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk dan Mama Winwin meninggalkan kami di ruang tengah sini. Minuman yang dibawakan Kak Uci ku habiskan dengan sekali tegak. Haus.
"Ke lapangan bola yuk." Ajakku setelah nafasku normal. Ya memang tidak ada basa-basi diantara kami.
"Bentar aku izin sama Mama dulu."
Aku mengangguk setuju. Dia pergi keatas, beberapa saat kemudian kembali lagi dengan mengenakan sebuah jaket berwarna hitam dan sebuah sweater di tangannya berwarna hitam juga. Lalu kami pergi keluar, kelapangan bola di kompleks kami.
Disini sepi, sengaja aku memilih tempat ini untuk membicarakan soal itu. Kami pergi hanya dengan berjalan kaki saja. Romantis bukan? Dia menyerahkan sebuah sweater yang tadi ia bawa itu untuk ku. Mungkin karena melihat penampilan ku yang hanya menggunakan pakaian berbahan katun ini.
Kami memilih ketengah lapangan. Duduk di atas rerumputan hijau yang membentang seluas lapangan bola ini. Dia duduk disisi kiriku.
"Win ... " Panggilku. Dia melihat kearahku dengan sebuah senyuman khas.
__ADS_1
"Tumben mau ngajak keluar malam-malam begini? Mendadak lagi." Katanya sambil mencabuti rumput dan melemparkannya ke udara.
"Kita putus aja ya?" ucapku tanpa melihat kearahnya. Aku menguatkan diri agar tidak menangis di depannya.
Dia membelalakan matanya, dan membuka mulutnya seakan ingin mengeluarkan aksi protes tapi ia urungkan dan memilih mencabut rumput kembali.
Kami masih saling diam dalam fikiran masing-masing. Aku masih ingin mengumpulkan nyawa untuk berbicara lagi. Berusaha menguatkan diri agar tidak salah berucap, kali ini aku harus berhasil.
"Kamu yakin?" katanya setelah sekian lama kami membisu.
"Yakin." Jawabku mantap tanpa melihat kearahnya lagi.
"Kamu kenapa lagi sih, hm? Kamu mau ng'prank aku lagi?" katanya sambil merangkul bahuku,. Hangat.
"Aku udah mikirin ini. Lebih baik kalo kita akhiri. Kita udah saling nggak cocok."
Dia menghembuskan nafas, memutar bola mata, berfikir. Lalu dia menghadap kearah ku sepenuhnya.
"Jangan becanda Bi," dia menangkup pipiku dengan kedua tangannya menatapku, namun aku membuang muka. "Aku punya salah sama kamu ya?" lanjutnya masih dengan nada dan suara lembut.
"Win! Bisa nggak sih kamu jangan pura-pura lagi! Aku benci Win, aku benci sandiwara tau nggak!" aku mulai tidak bisa mengontrol emosi yang mengompori hati ku. Ayolah Win marah.
"Bi, kamu kenapa lagi? Aku nggak ngerti sama kamu. Please jangan marah-marah ya."
"Jangan lemah lembut! Lebay tau nggak! Kamu itu cowok bukan sih?! Huh?! Huh?! "
Maafkan kekasaran ku Win.
"Bi, aku emang kayak gini. Aku juga nggak bisa marah dan bentak-bentak kamu. Apalagi kamu nggak salah."
"Pokoknya aku mau putus, titik."
"Bosan? Itu lagi alasan kamu?" tanyanya masih terlihat mengontrol nada bicaranya. Inilah Winwin, dia selalu mengutamakan kenyamanan orang-orang tanpa peduli bagaimana sakit persaannya sendiri. Aku mengangguk.
"Nggak masuk akal. Bukan alasan kamu untuk bisa seenaknya nyebut kata kayak gituan." Katanya beralih mencabuti rumput.
"WINWIN!" bentakku kasar. Dia menoleh dengan tatapan yang kecewa, namun masih mampu tersenyum, walaupun tipis.
Ini semakin membuat hatiku sakit. Tega sekali aku! Dasar gadis tidak tahu diri! Aku merutuki diriku sendiri.
"Apa Bi? Kalau cuma gara-gara bosan aku gamau. Paling juga seminggu kamu udah baikan. Udahlah gausah aneh-aneh."
Aku memukul pundaknya kesal. Bukan reaksi seperti ini yang ku ingin. Aku ingin dia marah-marah kecewa dan meninggalkan ku. Seperti layaknya laki-laki pada umumnya. Tapi dia terlalu lembut, terlalu baik dari yang terbaik. Apa boleh buat ini untuk kebaikan banyak orang.
"Pukul aja, asal kamu lega dan merasa enakan. Aku--"
"Bodoh!" aku mengulang kalimat itu sambil memukul tubuhnya kesal. Dia hanya diam terkadang dia tersenyum sendu.
Dia memeluk tubuhku pelan, dan erat. Bisa kurasakan detak jantungnya yang yang tidak normal iramanya. Aku tau dia juga menahan emosi karena ulahku.
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
Ttd Author
__ADS_1
#Miss_Lyr97
π¦