Actually Only You

Actually Only You
Episode 34


__ADS_3

***


๐Ÿฅ€๐ŸŒน Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Jeffrey tidak ingin bilang bahwa adiknya pergi ke Bali. Ia bisa di marahi habis-habisan. Sesekali ia ingin Bio merasakan dunia luar juga. Tidak semua tentang buku-buku yang membuat otak keriting.


"Eh ngelamun kau, Bray?" tegur Andre menepuk pundaknya.


Andre adalah teman sekelasnya di campus. Lebih tua dia tahun memang darinya, Jeffrey pun lumayan akrab.


"Nggak. Udah selesai tugas makalah mu?" tanyanya pada Andre.


"Ya gitulah bro, mata dan otakku rasanya ingin meloncat keluar dengan tugas bejibun ini." Keluh Andre.


"Di iket biar nggak loncat otaknya." Guyon Jeffrey dengan ekpresi songong khasnya.


"Hhahaha." Andre tergelak. "Kau ini ada-ada aja. Mana bisa lah."


"Lah emangnya otak bisa loncat hah?"


"Bisa-bisa aja Jeff, kalau stress. Kau mah beda, santuy ...ย  Nggak ada beban hidup ya?"


"Ada. Tapi ku titipin di Antartika."


"Inilah ku sukanya sama kau. Banyolan mu itu bikin stress orang hilang."


"Syukur bukan orang hilang."


"Yaampun Jeffrey. Kau ini konyol sumpah, ganteng-ganteng tengil. Untung udah punya pacar cantik, hidup mewah, motor keren, mau apa aja bisa dapet. Nggak kayak aku ...ย  Stress pokonya di posisi aku ni."ย ย 


"Iyalah orang ganteng mah bebas. Mau nggak stress?" tanya Jeffrey.


"Apa?"


"Kawin."


"Apasih kau ini. Hahaha. Kawin tanggungjawab besar Jeffrey. Kau tau?ย  Ponakan ku itu si Anita. Emak bapaknya kaya, punya duit banyak, eh anaknya di telantarkan cuma dikasih isi dompet aja. Sampe itu anak stress dan gila. Kau mau tau gila apa? Simpenan om-om."


"Oh. Stress ya?"


"Iya. Gara-gara bapaknya nyuruh di rangking satu terus. Kau mah enak ya. Aku udah lah pas-pasan, tampang juga pas-pasan, masalah terus tiap hari mikirkan tugas pun sampai stress rasanya."


"Jangan stress lah bro."


"Tugas banyak gini gimana nggak stress. Kau mah enak, pintar, tampan, tajir, apapun punya. Bersyukur kamu sempurna hidup dan keluarga mu."


Kau nggak tau gimana rasanya jadi aku Ndre, gimana rasanya selalu di salah-salahkan orang tua dan di beri tanggungjawab besar. Kau nggak tau aja fikiran dan perasaan aku. Kau juga nggak tau gimana rasanya kami di tuntut selalu menjadi yang sempurna. Kami juga stress.ย  Batin Jeffrey.ย 


Sedikitpun ia tidak pernah menunjukkan wajah sedih dan tampang kusutnya. Hingga semua orang menyangka hidupnya sempurna.

__ADS_1


Apapun yang di lihat orang dati luar tidak sama persis apa yang dialami nya. Ayah Jeffrey yang keras selalu menuntut nilai sempurna. Kedua anaknya, Bio, dan Jeffrey. Mereka di tuntut belajar dengan keras. Di tuntut menjadi sosok sempurna. Tidak pernah memberikan reaksi positif dengan ketercapaian anak-anaknya.


Mungkin ini salah Satunya yang membuat Jeffrey terlihat sedikit sinting. Dia menghibur dirinya sendiri yang lara, bukan menghibur orang lain.


Candaan yang ia lontarkan sekedar topeng yang menutupi kesedihan. Ada rasa sakit jika orang-orang memujinya.


Orang-orang hanya melihat hasil, tanpa melihat bagaimana perjuangan dan kerja keras. Hanya memberikan apresiasi jika kita mendapatkan thunder, tanpa ingin tahu betapa sakitnya kita mengejar semuanya. Semakin orang-orang tahu kompetensi kita maka semakin besar nilai juang dan nilai takut kita untuk melangkah. Mengapa?


Karena nantinya kita akan semakin di tuntut untuk menjadi lebih sempurna dari kesempurnaan yang ada. Semakin tinggi pencapaian maka semakin tinggi pula tuntutan. Jeffrey benci ini.


Tidak ada orang yang bisa mengerti dirinya, hanya dia yang bisa mengerti orang-orang. Terkadang kita harus menggunakan berbagai macam topeng demi terlihat sempurna. Senyum adalah topeng yang tepat menutupi kesengsaraan batinnya.


"Jangan stress bro nanti hipertensi, gila mau? Mending kita goyang dumang biar hati kita senang." Hiburnya pada Andre, lebih tepatnya menghibur hatinya sendiri.


***


Mereka sampai ke Bali sudah sangat malam, hingga mereka tidak bisa menyaksikan sunset.


Sesuai dengan kelompok dan guru pembimbing. Rata-rata kamar diisi dengan tujuh orang.


Mereka yang keletihan memilih langsung tidur dan beristirahat. Namun ada juga yang memilih pergi melihat pemandangan dari rooftop.


Bio lebih memilih memainkan ponselnya. Ada banyak notifikasi di ponselnya.


Namun ada satu pesan yang ia sematkan, isinya sudah amat banyak namun tidak pernah ia buka. Nama itu telah berubah menjadiย  "Actually Only You๐Ÿฃ"


Ragu-ragu ia buka. Ratusan pesannya ia baca satu-satu, terkadang ia tersenyum, terkadang menatap dengan sendu isi pesan itu.


"*Akhirnya kamu baca pesanku."


"Apakabar?"


"Yang sehat, jangan sakit."


"Tidur yang nyenyak."


"Jangan bergadang ๐Ÿฆ‡. "


"Jangan sedih."


"Bi,"


"Nggak ada niatan buat balas pesan ku?"


"Seenggaknya kita bisa sahabatan kayak kita masih kecil dulu."


"Nggak boleh memutuskan tali silaturahmi."


"Kita temenan ya?"

__ADS_1


"Nggak minta lebih kok aku ๐Ÿฃ"


"Yaudah selamat tidur Bi, mimpi indah๐ŸŒน๐Ÿ’š"


"Good night."


"๐Ÿ’š ๐ŸŒ™โฐ๐Ÿ’ค๐Ÿ’ค ๐Ÿฃ*"


Bio tertawa kecil melihat dan membaca pesan beruntun dari Winwin. Ingin sekali ia membalas pesan ini, bisanya mereka akan saling telponan hingga larut malam.


Bio tidak bisa melakukan itu. Ini demi Winwin. Demi keluarganya juga. Sekuat mungkin ia menahan rindu yang merana ini. Ingin rasanya ia berhamburan memeluk tubuh jangkung itu. Ingin rasanya pula ia bercerita panjang kali lebar seperti biasanya.


Semuanya ia urungkan. Karena ia tahu ponselnya di sadap sang pelaku. Maka itu ia tidak pernah benar-benar menggunakan ponselnya.


Ia benar-benar tidak berani dengan ponselnya sendiri. Ia amat di selimuti rasa takut dan cemas.


Bio hanya memeluk ponselnya di dada hingga ia terlelap.


***


๐Ÿฅ€๐ŸŒน Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


*Bagai disayat dengan ujung ilalang


Tertiup angin lalu tersiram air laut


Pedih


Perih


Bukan lukanya


Namun bekasnya


Mampukan mata ini mengisyaratkan?


Mampukan hatiku bertahan?


Padahal takdir jelas menolak


Kenyataan*


๐Ÿฅ€๐ŸŒน **Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Ttd Author


#Miss_Lyr97**


๐Ÿฆ‡

__ADS_1


***


Berikan cinta pada karya Author ๐Ÿ’š๐Ÿฆ‡


__ADS_2