
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
*Cinta dan kesetiaan
Mempunyai tolak ukur yang berbeda*
π₯πΉ Actually Only You π₯πΉ
****
Selama tiga hari Bio dirawat dirumah sakit, Winwin dengan setia menemani gadis ini. Menggantikan Jeffrey menjaga Bio.
Dia rela bolak-balik rumah sakit, bahkan ia pun menemani Jeffrey tidur di rumah sakit. Jeffrey merasa beruntung adiknya memliki kekasih yang setia menemaninya disaat sulit seperti ini. Namun terkadang dia pun khawatir dengan hubungan adik dan sahabatnya ini.
Menurut Dokter Bio terkena Malaria. Tapi entah kenapa Jeffrey merasa tidak yakin dengan diagnosa dokter. Terlebih Bio yang sering berbisik pada dokter. Jeffrey yakin Dokter dan adiknya memanipulasi hasil diagnosa.
Setelah keluar dari rumah sakit selama seminggu ini hari-hari Bio dan Winwin berjalan seperti biasanya. Ya seperti itu-itu saja, jalan ditempat. Pergi sekolah bersama, antar jemput, pulang. Begini setiap hari selama seminggu. Winwin tidak keberatan tiap hari seperti ini.
Hanya saja sikap Bio sedikit aneh belakangan ini. Dia seperti orang yang waspada saja pada sekitar, lebih sedikit berbicara akhir-akhir ini. Winwin sudah sering bertanya akan sikapnya, namun ia hanya menjawab tidak apa-apa.
Bio mengeluarkan ponsel dari saku jas almamaternya. Karena ia merasakan getaran dari ponselnya barusan. Nomor tidak dikenal.
Unknown
Hari ini.
Negoisasi.
Jln. KH. Agus Salim. Gang manggis tepat di belakang Victoria cafe.
SENDIRI.
Bio menatap tulisan ini dengan datar. Dia sudah mulai terbiasa dengan ini selama beberapa bulan ini. Dia sudah tidak lagi terkejut dan panik lagi seperti minggu-minggu sebelumnya.
Ia memutuskan untuk menghubungi Winwin dan Jeffrey. Terlebih dahulu Jeffrey yang ia hubungi, namun mungkin kakaknya ini sedang ada kelas, sehingga ia tidak bisa mengangkat telpon adiknya. Lalu Bio mengirim pesan suara "Kak, Bio ada tugas kerja kelompok. Pulang magrib mungkin."
Lalu ia beralih pada kontak Winwin, tidak butuh waktu lama Winwin mengangkat telpon.
"Udah pulang Bby? bentaran ya aku masih mau rapat."
"Nggak. Nggak usah jemput, aku pulang sendiri. Aku mau kerja kelompok dulu. Kamu pulang aja kalau udah selesai."
"Loh kok sendiri?"
"No comment. Okay?"
__ADS_1
"Nanti biar ku jemput kalo udah selesai kerja kelompoknya."
"Aku bisa pulang sendiri."
Bip.
Tanpa persetujuan Winwin, Bio langsung memutuskan sambungan telponnya. Winwin merasa Bio semakin berubah, tutur kata Bio tidak lagi halus seperti biasanya.
Bio pergi ke tempat yang dipesan oleh nomor misterius tadi menggunakan ojek online. Ia pastikan tidak ada temannya yang mengetahui arah dan tujuannya. Setelah berhenti di depan gang, Bio memutuskan untuk berjalan kaki saja untuk menuju tempat tujuannya.
***
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk sampai ditempat ini. Aku baru pertama kali kesini, Aku mengingat lagi nomor rumah yang akan ku tuju.
Oh ternyata rumah tingkat dia dengan pintu geser, pintu tuko berwarna biru. Cat rumahnya tidak terlalu terang, sepertinya ini bekas toko lama.
Aku mengirim pesan pada nomor itu, mengatakan bahwa aku sudah berada di depan rumah yang ia maksud.
Sreeeekk.
Pintu itu terbuka dengan cara bergeser. Tanpa banyak tanya dan bicara aku masuk kedalamnya.
Aku menemui laki-laki, umurnya mungkin sebaya dengan ku. Biar ku tebak pasti anak ini yang mengirim pesan itu.
"Mari ke lantai dua, dia udah nunggu."
Ternyata aku salah menebak, bukan anak ini ternyata. Lalu siapa pelaku teror ini? Siapa orang iseng ini? Orang yang berada di balik nomor-nomor yang tidak ku kenali ini?
Aku mengikuti langkah anak laki-laki ini dari belakang. Ternyata dibawah ini ruangan kosong, hanya ada beberapa alat, permadani, dan jejeran motor saja.
Aku telah sampai ke lantai atas. Anak ini membukakan pintunya hingga indraku bisa mencium aroma wangi lemon dari ruangan dalam sana.
Aku ikut melangkah masuk, oh ternyata disini ruangan ber-AC.
Tunggu!
Kurasa aku mengenali ruangan ini. Sepertinya aku pernah berada di sini. Letak sofa, rak buku dan sofa panjang tanpa penyandaran itu. Aku ingat aku pernah berada di ruangan ini.
Seketika nafasku sesak, wajahku memanas. Tubuhku bergetar menahan tangisan. Bayangan itu.
Bayangan ******* itu menari-nari di otakku seketika. Membuat konsentrasi ku buyar. Membuat isi perutku mual dan jengah rasanya. Pemandangan terkutuk. Aku mengatur nafas sesak ku ini. Menahan gejolak emosi yang siap menerkam siapapun yang akan kutemui. Aku berusaha menetralkan semuanya. Perasaan ku. Dan kembali tenang.
"Hai Steph, udah lama ya?" suara bariton ini aku kenal. Ya aku kenal.
Aku membalikkan tubuhku menghadap ke arah sumber suara. Ia menyunggingkan smirk nya, Smirk yang membuat ku ingat akan kejadian itu. Aku meneguk salivaku paksa. Dan menatapnya.
"Duduk." Katanya mempersilahkan ku, tangannya terulur menunjukkan kearah sofa.
__ADS_1
Aku menurutinya kesal. Dia lalu duduk tepat di depanku. Memandang ku dengan tatapan mata yang paling ku benci. Aku benci situasi ini.
"Apa?!" tanyaku tanpa basa-basi. Aku merasa terancam setiap kali bertemu dengan orang ini.
"Aku udah kasi kamu waktu loh Steph." Katanya dengan nada dingin yang di buat-buat. Siapapun yang mendengar ini kupastikan mual.
"Nggak bisa." Jawabku ketus tanpa menatapnya.
"Berarti kamu nggak sayang kakakmu dong?" aku menatapnya tajam. "Berarti kamu udah nggak peduli sama keluarga, dan image mu yah?" lanjutnya dengan gaya congkak.
"Berani kamu nyenggol keluarga ku, ku bunuh kau!" kataku bergetar, membayangkannya saja aku tidak sanggup.
"Tapi kamu masih pacaran tuh sama dia."
Aku terdiam. Laki-laki ini memang iblis. Umur segini saja dia sudah terlihat seperti ketua Mafia.
"Aku sama dia udah saling nyaman." Jawabku berusaha tenang. Tidak. Aku tidak cengeng.
"Makin mesra pula." Katanya dengan penuh penekan.
"Mau kau itu apa sih?!" tanyaku kasar.
"Wah Nona Leeusaebio ternyata benar. Suka main kasar."
"Diam!" kataku bergetar dan menatapnya tajam penuh benci dan amarah.
"Gampang Steph, aku tinggal sebarin foto-fotonya, aku juga punya videonya. Ehe." Ejeknya merendahkan ku.
Perilakunya sungguh tidak sesuai dengan wajah tampannya.
"Kamu boleh membenci ku, tapi ingat ini."
Ia mengacungkan beberapa lembar kertas foto, ya foto menjijikkan. Aku hanya diam, bingung. Aku sayang keluarga ku, aku sangat menyayangi kakak ku, dan pacarku.
"Kamu nantang kayaknya. Atau kamu suka kita main lagi?" tanyanya lagi dengan nada menjijikkan, dan mendekatkan wajahnya padaku.
Aku mengerjap dan menahan nafasku. Ingin rasanya ku cakar wajah tampannya ini.
"Ingat Steph, di sekolah kamu itu terkenal." Ia memantung rokoknya dengan korek gas dan menyelipkan di sela bibir tebalnya. "Mau makin terkenal?" lanjutnya sambil meniupkan asap rokoknya. Dasar bocah gendeng! Masih sekolah sudah berani merokok.
****Sampai disini bagaimana pada readers?
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯***
Ttd Author
#Miss_Lyr97
__ADS_1
π¦