
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
*Meninggalkan mu bukan karena aku tak bisa
Tapi sejujurnya
Aku tak biasa*
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
***
Terimakasih untuk tigabelas tahunnya Win. π₯
***
Winwin menaiki tangga menuju kamarnya dengan gontai. Dengan langkah amat lambat.
Lalu membuka pintu kamarnya yang kedap suara. Membanting pintunya kasal. Tentu saja Papa dan Mama Winwin tidak dengar jika mereka sudah berada didalam kamar. Apalagi sekarang pukul sebelas malam.
Winwin menarik ujung sprei dan menggulatnya. Memecahkan beberapa botol parfum koleksinya. Menendang lemari serta mengobrak-abrik seluruh isi kamarnya.
Hanya ini yang bisa lakukan untuk meluapkan segenap emosi yang tertahan tadi.
BRRRAAKKGH!
PRANGGG!!!
Winwin meninju kaca lemarinya. Luka dan perih di tangannya ini tidak seberapa sakit daripada kata-kata putus tadi.
Bila matanya memerah, wajahnya merah padam. Membuat urat-urat lehernya nampak begitu jelas di kulit putih bersih miliknya.
Tangannya masih mengepal. Diraihnya sebuah bingkai foto berisikan foto dirinya dan sang mantan. Winwin merasa hancur, ia pun dengan penuh emosi membanting bingkai foto tersebut.
Lalu berjongkok dan memungut foto tersebut dan membersihkannya dari serpihan kaca.
"Mana mungkin aku bisa marah sama kamu Bi."
Winwin meremat foto tersebut sehingga lucek bentuknya. Di genggamnya dengan tangan yang terluka tadi. Darah di tangannya masih menetes, merembes membasahi foto itu.
Lalu ia beranjak ke tempat tidurnya. Menyandarkan tubuh jangkungnya ketepian tempat tidur. Di purusnya foto itu, menampilkan sosok yang amat dicintainya. Bagi Winwin ini adalah ujian.
"Percuma ya Bi, Sayang tapi kalau nggak jodoh." Katanya sambil memandangi foto yang bentuknya telah rusak itu.
Winwin tidak bisa terlelap walau hanya limabelas menit pun. Dia benar-benar terjaga hingga fajar menyingsing.
Selama berjam-jam ia terjaga ia tidak hentinya mengecek ponselnya. Berharap sang mantan mengiriminya pesan, bahwa yang tadi itu hanya bercanda. Tapi pupus. Usahanya tidak membuahkan hasil.
Winwin pergi sekolah dengan keadaan kantun mata yang menghitam, tubuh yang kekurangan energinya. Bahkan sepanjang koridor ia menampakkan wajahnya yang garang, tidak seperti biasa. Gadis-gadis yang menegurnya ia acuhkan. Ia benar-benar tidak peduli dengan sekitar lagi.
Senyum sejuknya seketika hilang menjelma menjadi aura dingin. Merespon adik-adik kelasnya hanya dengan memutar bola mata malas. Senyum cerahnya benar-benar hilang ditelan sang kabut.
"Stephanie yang menang lomba miss SMA itu kan?"
"Ia anak jurusan IPA, katanya sih bidangnya dokter."
"Siapa yang nggak kenal. Udah cantik, baik pula."
"Boleh tu di deketin."
"Iyalah, anaknya pun nggak pilih-pilih. Pasti asyik tuh di ajak--"
Brak!!
__ADS_1
Bug
Bug
Bug
Telinga Winwin panas, mendengar nama yang sedang menjadi topik dua orang di sampingnya ini. Telinganya amat sensitif mendengar nama itu. Dia tahu yang di maksud adalah Bio. Maka itu dia menghantam kedua anak itu dengan wajah dinginnya.
Memang banyak yang belum tahu di sekolahnya maupun sekolah Bio. Banyak yang menyangka Bio adalah sepupunya. Karena mereka benar-benar tidak terlihat seperti orang yang sedang berpacaran pada umumnya.
Anak-anak disekolah Winwin banyak yang mengira Winwin berpacaran dengan Carol. Karena mereka sangat lengket.
"Wanjeng! Apa sih?!" Kata anak itu terkejut dan menahan sakit.
"Dateng-dateng main bogem aja. Sehat nggak sih?!" Kata yang satunya. Masih merasakan cenat-cenut di sudut bibirnya.
"Sekali lagi ku dengar kalian sebut nama itu, dan ngomong macam-macam ku sobek mulut kalian." Ucapnya dingin dan berlalu pergi meninggalkan kedua orang yang masih terduduk di sudut koridor.
Anak-anak yang melihat kejadian memilih diam dan mundur. Apalagi yang melihat tampang Winwin yang tidak bersahabat seperti biasanya membuat mereka enggan ikut campur.
Winwin duduk di bangkunya dengan ekspresi wajah masam. Siapapun yang menyapanya dia abaikan. Mood-nya benar-benar anjlok.
Dulu rasanya bangga jika ada yang menggunjingkan nama Stephanie Leeusaebio. Rasa bangga dan syukurnya mempunyai kekasih yang di kagumi banyak orang. Bahkan dulu ia sengaja memancing perbincangkan dengan menyebut nama itu, dan berpura-pura baru mengenal nama itu.
Tapi kini rasanya berbeda sekali setelah semalam bertengkar dengan kekasihnya itu. Baginya siapapun yang mengagumi Bio itu adalah ancaman untuknya.
Winwin menjadi merasa tidak percaya diri. Merasa dirinya kurang dan amat payah.
"Hei Bro. Kenapa?" Tanya Deki menepuk bahunya pelan.
Winwin menepuk bangku kosong disebelahnya, bangku Tony. Deki menurut dan mendaratkan bokongnya pada kursi disebelah Winwin. Dia merasa keadaan Winwin kacau. Ia prihatin melihat keadaan tidak biasa Winwin ini.
"Masalah apa nih? Orang tua?"Β Winwin menggeleng.
"Beasiswa mu nggak lolos?" Winwin menggeleng-geleng lagi, malas.
"Berantem nih?" Winwin mengangguk pelan. Deki melirik tangan temannya yang mengepal. Tangannya luka, tanpa di plaster dan di perban. "Itu tangan?" lanjutnya bertanya lagi, memastikan.
"Nonjok kaca lemari." Jawab Winwin dengan nada rendah, suaranya samar hampir tidak bisa di dengar Deki.
"Tenangin dulu, setelah itu kita cari tempat buat mu curhat." Deki menepuk punggung temannya, Winwin hanya mengangguk. Dia tidak ingin bertanya, bukan tidak peduli. Hanya saja ia takut Winwin hilang kendali dan malah mengamuk di kelas.
Memang Winwin tidak menampakkan wajah sedihnya, namun wajah garangnya sangat mempengaruhi mood di kelasnya. Aura hangatnya berubah menjadi suram, dan mencekam. Deki dan Tony faham benar pasti ini masalah besar.
Winwin biasa bertengkar maupun saling merajuk dengan Bio, tapi dia tidak seperti ini menurut mereka ini pertama kalinya Winwin seperti ini setelah lima tahun berteman.
Mereka yang menjaga mood Winwin banyak mengusir gadis-gadis yang biasanya ingin bertemu Winwin, termasuk Carol. Menurut Tony Carol adalah kutu. Sedangkan menurut Deki Carol adalah singa betina.
Mereka memilih arena panahan, karena lapangan ini sudah pasti sepi. Mereka memilih tangga untuk tempat duduk mereka. Duduk di sisi kiri-kanan Winwin.
Winwin menceritakan rentetan cerita dia semalam, menceritakan dari awal hingga akhir dengan detail. Sampai bagaimana ia mengamuk dan meninju kaca lemari.
Deki dan Tony tidak ingin menyela, mereka benar-benar mendengarkan apapun keluhan temannya yang sedang galau ini. Terkadang mereka bereaksi kaget, muram, sedih, hingga hanya manggut-manggut.
"Yakin Bio minta putus cuma gara-gara cowok itu?" selidik Deki.
"Cowok yang manasih yang di maksud tuh?" tanya Tony masih belum faham dengan nama yang di sebut Winwin.
"Inget manusia yang di rumah sakit beberapa hari lalu?" tanya Winwin ketus.
Tony membulatkan matanya dan menganga lebar. "I-itu? Si-si Alva kan?"
"Hm." Jawab Winwin singkat dan mengusap wajah dengan sangat kasar.
"Terus kau mau gimana? Perlu kita hajar si Alva?" tanya Deki, tangannya masih di pundak temannya.
__ADS_1
"Jangan kotori tangan kalian." Jawab Winwin malas.
"Berarti ini alasan dia pindah? Huh." Tanya Tony dengan nada sinis. "Nggak abis fikir aja, pantes waktu itu ... " Tony tidak melanjutkan ucapannya.
"Padahal udah kita baikin waktu di rumah sakit untuk nggak ngehajar, karena ada orang sakit. Kebetulan ada Jeffrey." Deki menggelengkan kepala kesal.
"Aku nggak mau pura-pura ngerti perasaan kau Win, jelas kita berdua nggak ngerti gimana sakit hatinya kau. Apalagi masalahnya itu sama Alva." Tony berdiri membenarkan pakaian seragamnya. "Gila emang itu anak."
"Jadi sekarang kau mau gimana?" Tanya Deki hati-hati.
"Hajar ajalah. Aku aja yang hajar itu bocah."
"Gausah Ton, aku juga bingung mau gimana, mau apa? Aku tau Bio, biasanya kalo di bujuk dikit dia juga pasti langsung luluh. Maka itu aku pun kurang yakin kalo gara-gara anak itu. Walaupun waktu itu ..." Winwin tidak melanjutkan kalimatnya. Dia berdiri lalu mengacak-acak rambut lurusnya.
"Ya untungnya saat ini berhadapan dengan kau, kalo dengan aku ya waktu gedor pagar itu ku langsung ku hajar." Kali ini Tony semakin marah melihat sikap Winwin yang masih tidak mau mengambil tindakan. Tony kesal luar biasa dengan kesabaran Winwin diatas rata-rata.
Deki pun begitu. Padahal Winwin selalu bersikap baik pada anak itu. Selalu berusaha ramah dan bersahabat lagi dengan anak itu. Tapi tetap saja Winwin lagi-lagi dibuat sakit hatinya.
"Jeffrey tau?" tanya Deki lagi. Ya Deki tidak akan berhenti bertanya, dia hanya ingin memastikan.
"Mungkin," Winwin mengangkat bahunya. "Dia kan abangnya, pasti Bio cerita lah." Lanjutnya dengan senyuman di manis-maniskan. Deki tau senyuman ini agar dia terlihat tegar, walaupun memang sedang goyah.
"Kita kan masih ada Winda dan Lusi," ucap Tony menjentikkan jari.
Winwin meliriknya sekilas lalu beralih menatap ujung sepatunya, tangannya ia sembunyikan di saku celana seragamnya .
"Oh iya Bro. Suruh mereka berdua aja liatin Bio sama Alva, gimana, ya nggak?" Deki berbinar.
"Kalo emang mereka deket artinya emang bener kan, terus tinggal tanya aja siapa yang duluan deketin." Senyuman licik Tony mengembang.
"Tapi kalo mereka nggak deket?" tanya Winwin dingin.
"Artinya ada sesuatu sama Bio. Sesuatu ..." Deki berusaha mencerna dan menguraikan kata-kata barusan.
"Ya kita selidiki lah. Dan kau Bro lebih baik kau panas-panasi Si Bio." Usul Tony dengan smirk jahatnya. Bukan terlihat jahat ekpresinya dengan smirk malah terlihat songong.
"Nanti dia cemburu."
"******! Baguslah. Artinya masih ada kesempatan buat kau lagi." Tony meninju pelan bahu Winwin.
"Caranya?" tanya Winwin masih kurang faham dengan ide-ide kedua temannya.
"Gampang. Kau nurut aja ama kita." Jawab Deki dan Tony bersamaan, lalu mereka menjentikkan jari dan bertepuk tangan.
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
*Selagi masih bisa ku kejar
Aku takkan lengah
Akan ku pastikan
Kita kembali*
π₯**πΉ Actually Only YouΒ πΉπ₯
Ttd Author
#Miss_Lyr97**
π¦
Hai Readers tercinta...
vote dan comment kalian adalah motivasi saya. π¦π
__ADS_1