Actually Only You

Actually Only You
Episode 42


__ADS_3

***


๐Ÿฅ€๐ŸŒน Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Carol POV


Ini sudah hari kedua aku di Bali. Tidak ada yang istimewa liat liburan wisata ini. Kurasa aku ini kesepian, walaupun terlihat sangat banyak teman-teman di sisiku.


Huh.


Mereka tidak benar-benar menyukai ku. Apalagi berteman setia dengan ku.


Karena aku harus berepot-repot mengeluarkan banyak uang. Setidaknya mentraktir mereka lipstik atau makanan.


Kurasa di dunia tidak ada yang benar-benar setia. Tidak ada yang benar-benar tulus, semuanya membutuhkan imbalan.


Orang tuaku yang tidak akur. Kehidupan remaja yang tidak bisa ku nikmati seutuhnya. Hanya topeng kebahagiaan yang bisa membuat ku terlihat di atas.


Aku tidak punya banyak stok air mata untuk menangis. Aku tidak sekokoh yang di lihat. Mungkin sekilas aku terlihat jahat dan sarkas.


Hanya untuk membentengi diri. Aku tidak ingin memperburuk diri sebenarnya, semoga aku tidak lupa dan selalu sadar akan itu.


Aku kembali mengingat apa yang membuat ku tenggelam semalam? Yang ku ingat adalah aku benci air. Dan aku takut sendiri, walaupun sampai saat ini hatiku kesepian.


Pak Sony mendaftarkan aku berpartisipasi mengikuti lomba volly. Ini memang bidang ku. Posisiku santar, dan terkadang aku bisa menjadi taoser terbaik di sekolah ku.


Tapi entah mengapa akhir-akhir ini aku membenci volly? Ah, mungkin karena mood ku sedang kacau-balau.


Aku ingin pergi kelapangan segera, karena setengah jam lagi giliran ku yang main, aku pergi dengan beberapa orang temanku.


Radius lima puluh meter, aku melihat temanku yang dari sekolah lain. Sebut saja Dejun.


Aku melihatnya berdiri dibawah terik matahari yang panas ini dengan seorang gadis, mungkin teman sekelasnya. Karena belum melihatnya terlalu jelas.


Penasaran aku cepat menghampiri dirinya dan berpisah dari teman-teman ku.


"Kemana Carol?" tanya Susan, karena aku langsung meninggalkan mereka bergitu saja.


"Nyamperin temen." Jawabku tampan melihat kearahnya, dan lanjut berlari.


"Dejun." Panggil ku setelah menghampirinya.


Oh ternyata yang bersama nya itu Stephanie. Iya aku kenal. Ku rasa kami mulai dekat juga.


"Chelsea?!" kagetnya. Dia mengeluarkan senyum kilatnya.

__ADS_1


"Haa?!ย  Chelsea? Carol, Dejun." Komentar gadis yang di sebelahnya langsung memeluk ku ringan.


Ku lihat Dejun memutar bola mata malas. Inilah kebisaan seorang Dejun.


"Apa kabar? Ku dengar kamu semalam tenggelam." Tanya gadis ini mempersilahkan ku di duduk di bangku mereka.


"Ah iya. Tapi udah nggak apa-apa kok." Dia menatap ku seperti tidak percaya, jadi aku coba menyakinkan dia. "Serius nggak apa-apa kok, ini buktinya." Lanjutku sambil mengulurkan tangan dan mencubit lengan kiriku.


"Syukurlah. Inikan laut, air walau hanya sejengkal bisa membunuh." Komentarnya lagi, sorot matanya terlihat sedih saat memandang lautan.


"Kemarin ombaknya memang besar, jadi wajar. Btw ini kalian ngapain?" tanyaku pada mereka berdua.


"Dihukum." Jawab gadis ini, dengan cengiran yang menampilkan kedua dimple nya.


"Hah kok bisa?!" Tanya ku menahan tawa. Ya karena mereka di hukum menjaga stan makanan ringan dan minuman.


"Kita keluar malam, karena nggak bawa ponsel dan jam eh malah udah jam dya belas ternyata. Yaudah di hukum gini sama guru pembimbing kami."


Ya gadis ini memang terlihat sangat ramah, dari caranya berbicara juga sangat sopan dan selalu memberikan tatapan lembut.


"Kalian keluar berdua?" selidiku. Gadis itu mengangguk. "Kalian pacaran?"


"NGGAK!!! " Jawab mereka serempak. Aku tertawa melihat reaksi mereka berdua. Apalagi ekpresi Dejun.


"Nggak usah heboh deh kalian berdua. Kayak orang takut ketahuan backstreet aja." Goda ku sambil menatap Dejun.


Aku tertawa lagi melihat reaksi dan jawabannya. Sedangkan gadis di sebelah lu terlihat masa bodo. Ku rasa Dejun saja yang menanggapi ini berlebihan.


"Stephanie, kamu pake kaos hitam panjang gini nggak panas emang?" komentar ku melihat gadis cantik ini.


Ya penampilannya terlihat boys. Dengan kaos hitam panjang, celana jeans dan topi senada. Untung saja dia mempunyai rambut panjang nan indah, jika tidak mungkin banyak yang mengira dia anak laki-laki.


"Panas sebenarnya, tapi aku cuma bawa pakaian warna hitam, ya semua serba hitam." Jawabnya sambil mengeluarkan senyum.


"Hitam kan nyerap panas tuh, aku mungkin udah kayak cacing kepanasan."


"Stephanie memang kayak cacing kepanasan, lebih tepatnya liar yang menggeliat di atas pasir." Sahut Dejun kesal, sedangkan gadis ini tetap saja masa bodo dengan komentar pedas Dejun.


"Kok kamu yang sewot sih Jun? Kamu kalah ganteng pasti." Goda ku lagi, dia mendengus kesal.


"Lagi PMS mungkin, oh iya, kamu minggu kemarin jadi ngisi sampul majalah mingguan ya, aku liat. Cantik banget emang, sampe aku nggak kenal, karena mirip orang barat." Tanya gadis ini dengan amat ramah.


"Dia emang orang barat, Papa nya orang Jerman. Jelaslah mirip orang barat."


Padahal aku ingin menjawab lain, malah Dejun menjawab ini. Dan membuat perut ku geli, ya aku tertawa.

__ADS_1


"Hahaha. Yaudah aku lewat dulu, soalnya bentar lagi giliran ku yang main."


Setelah pamitan dan membeli dua botol purple orange, akuย  pun pergi meninggalkan mereka.


Tidak sulit bagiku menemukan sosok Winston didalam keramaian ini. Aku menghampiri dan menyerahkan satu botol purple orange padanya.


"Makasih Carol," ucapnya lembut seperti biasa.


"Sama-sama. Kamu udah makan?" tanyaku padanya sambil menyerahkan tysu untuk mengelap keringatnya.


"Belum, mau makan bareng?" tanyanya lagi.


"Mau sih. Tapi kan abis ini aku tanding lawan SMA cakra." Sesalku menolak tawarannya.


Jujur saja aku sangat ingin makan bersamanya, tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi.


"Aku tunggu selesai kamu tanding," putusnya.


Entah mengapa laki-laki ini mampu mengacak-acak hatiku. Aku terlalu senang hingga reflek memeluknya, walaupun singkat.


Yang membuat ku bertambah senang adalah, dia tidak menolak dan menepis pelukanku. Seperti menyambut hari-hari ku untuknya.


Sepertinya aku harus meralat ucapan ku yang tadi, karena hari ini aku sedang berbahagia. Tapi tetap saja aku harus mengontrol semuanya, aku takut terjatuh setelah di lambung tinggi.


Ah, tapi kurasa Winston tidak akan pernah melakukan hal itu. Dia selalu baik pada siapun.


Aku sangat menyukainya, lihatlah senyuman manis ini! Mampu membuat wajahku di hinggapi serangga rasanya. Sudah ku pastikan wajahku tidak lagi putih.


Dia memberikan semangat padaku, saat aku bertanding main volly pantai bersama teman-teman ku melawan SMA Cakra.


Tentu saja aku sangat bersemangat, dan aku bermain dengan amat bagus. Bahkan pelatih memuji ku. Aku senang, aku bahagia.


Mungkin tinggal sedikit lagi langkahku. Terimakasih pada siapapun yang telah membuat senyumku mengembang hari ini.


Tidak sia-sia pengorbanan ku semalam.


***


๐Ÿฅ€๐ŸŒน Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


**Ttd Author


#Miss_Lyr97


๐Ÿฆ‡**

__ADS_1


***


Kuy vote plus comment nya๐Ÿ’š


__ADS_2