Actually Only You

Actually Only You
Episode 41


__ADS_3

***


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


****


Pak Jay dan para guru pembimbing yang lain terlihat bingung dan mengumpulkan murid-murid. Mereka kehilangan dua murid yaitu Bio dan Dejun.


Winda sangat khawatir terlebih ponsel Bio tertinggal di nakas. Ia dan Lusi takut. Amat takut jika temannya ini di culik dan jual ke organ dalamnya.


Apalagi Bio, tidak merokok tidak minum alkohol. Pasti harga ginjal dan organ-organ miliknya amat mahal jika di jual.


Karena memang saat ini Indonesia tengah maraknya kasus penculikan, pembunuhan dan penjualan organ dalam. Black market sudah amat terkenal sekarang.


Bio dan Dejun muncul begitu saja di antara gerombolan murid-murid. Membuat pak Jay marah.


"Stephanie, Alvarenda! Darimana kalian berdua?!" tanya pak Jay menahan amarah. Mereka tidak ingin murid-muridnya hilang. Terlebih mereka pasangan pak Jay amat takut ini menjadi kasus, dan gunjingan singkatnya.


"Pantai, Pak. Emang kenapa?" tanya Bio polos, dia tidak sadar bahwa dia melakukan kesalahan.


"Kalian tau ini sudah jam berapa?!"


"Nggak. Saya nggak bawa ponsel Pak."


"Ini sudah jam duabelas lewat. Besok pagi kalian berdua temui saya, kita perlu bicara. Cepat masuk dan tidur sekarang!"


"Iya Pak." Jawab Bio patuh.


"Bisa jalan sendiri-sendiri kan? Tidak perlu bergandengan begitu kalian."


"Hah ...Β  Iiihhh!!"


Bio dan Dejun mengibaskan tangan mereka bedua jijik. Mereka sendiri tidak sadar sejak kapan mereka berpegangan tangan seperti itu.


"Jauh-jauh sana!" Dorong Dejun kasar sampai tubuh Bio terjengkang, dan meninggalkan gadis itu begitu saja. Bio pun mengumptinya didalam hati.


Baru aja baiknya, langsung berubah seketika kayak serigala. Batin gadis itu mengeratkan balutan selimutnya dan pergi mengekori Winda dan Lusi.


Para murid yang tadinya mencari mereka pun bubar masuk ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Bio melangkah perlahan, sengaja mendahulukan teman-temannya. Agar koridor hotel ini sepi.


Saat jemarinya hendak meraih handle pintu bahunya di tarik menuju lorong koridor yang sepi.


"Apasih?!' tanyanya kesal pada orang yang sembarangan menarik lengannya paksa ini.


Laki-laki ini menyandark tubuhnya pada dinding koridor.


"Maksud kamu apa?" tanya laki-laki itu lembut.


"W-winwin ..." Bio menundukkan pandangan, tidak tahan harus bertatap muka dengan pria di depannya ini.


"Kamu sengaja Bi?" lirihnya lagi.


"Kamu liat?" tanyanya dengan suara yang bergetar.


"Iya. Memang kamu berhasil bikin aku cemburu, tapi kamu gagal bikin aku benci."


"Maaf Win. Maaf."


"Aku cemburu Bi, aku nggak mau marah walaupun aku ingin marah, aku nggak mau kamu benci aku Bi."


Winwin memegang bahunya dengan sorotan kekecewaan yang amat mendalam. Sebenarnya Winwin sudah tidak tahan dari semalam.


"Aku tau aku salah. Aku tau ini semua di sebabkan kesalahan fahaman kita, gausah mencari alasan yang kamu sendiri nggak tau jawabnya Bi."


Kristal bening itu lolos dari kelopak mata Bio. Ia tidak sanggup lagi menahan rindunya. Tapi mereka tidak mungkin bisa bersatu kembali. Bio ingat semua ancaman itu padanya. Bio tidak ingin Winwin terluka karena dia. Keluarga yang ia cintai juga.


"Sama siapa lagi aku ngadu kalau ada masalah? Aku cuma deket sama kamu. Kamu tau rasanya terjepit kan? Aku kangen Bi."


"Win ...Β  Kita nggak bisa. Aku nggak bisa liat kamu. Aku mohon."


"Kenapa Bi?"


"Karena aku sayang kamu. Maka dari itu kita harus pisah."


"Jadi salah siapa? Siapa yang harus disalahkan dengan retaknya hubungan ini? Aku? Kamu? Nggak kan?"


"Win. Kamu sayang aku kan?" tanya Bio di sela isakannya.

__ADS_1


"Jangan nangis Bi, aku nggak suka. Kamu masih bisa peluk aku kalau kamu sedih."


"Winwin jawab aku!"


"Iya Bio,Β  aku sayang kamu." Ucap Winwin pelan, ia sangat terluka melihat air mata Bio. Baginya ini amat menyakitkan, ia tidak seharusnya menyakiti orang yang dia sayang.


Ia menangkup pipi Bio, dan menatapnya intens. Seakan-akan berkata Aku sayang kamu, kembali. Jangan tinggalkan aku.


"Kalau kamu sayang aku, ya kita emang harus pisah."


"Izinkan aku antar-jemput kamu lagi. Aku terima, setidaknya kita bisa bersahabat baik lagi." Ungkap Winwin sendu, berdiri tegak dan menjauhkan tangannya dari pipi Bio.


"Oke."


Bio langsung pergi meninggalkan Winwin di lorong itu sendiri. Tanpa menoleh lagi ia langsung masuk kedalam kamarnya.


"Bio. Kamu dimarahin Pak Jay?!" tanya Winda dan Lusi bersamaan.


****


πŸ₯€πŸŒΉ **Actually Only You 🌹πŸ₯€


Ttd Author


#Miss_Lyr97


πŸ¦‡**


***


**Kalian tim mana nih?


Bio x Dejun


Bio x Winwin


Carol x Winwin


Carol x Dejun

__ADS_1


Atau DEJUN X WINWIN πŸ’šπŸ€£


Author mah team mana aja lah**.


__ADS_2