Actually Only You

Actually Only You
Episode 47


__ADS_3

***


๐Ÿฅ€๐ŸŒน Actually Only You๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Happy Reading๐Ÿ“–


***


"Makasih, YAAA!!!" kardus kerucut berisikan makanan milik Bio tumpah berserakan keatas pasir. Karena kecerobohannya sendirilah ini bisa terjadi.


"Udah-udah, ini punya aku."


Dejun membantu membersihkan bangku dan celana Bio yang kotor. Bio berjingkrak supaya debu bumbu itu bersih dari celananya.


"Emangnya kamu suka makanan pedes juga?" tanya Bio yang menjumput makanan.


"Hm."


"Terus ini kenapa belinya banyak gini?"


Dejun melirik tajam kearah Bio. Sedangkan yang dilirik hanya terkekeh palan, "maksud ku ini kebanyakan, aku nggak bisa ngabisin ini semua."


"Siapa bilang aku beli untuk kamu? Aku tadi cuma minta pegangin, minta bawain."


Bio mengerti Dejun mengelak, jadi ia tidak terkejut dengan perkataan tajam Dejun.


"Dejun."


"Hm."


"Kamu bilang kan kamu punya mantan."


"Terus?"


"Berapa banyak?"


"Banyak, yang jelas nggak kayak kamu!"


"Dih, punya banyak mantan banyak-banyak ngapain coba?"


"Punya mantan cuma satu ngapain coba?"


"Aku kan setia."


"Setia hidungmu."


"Iyalah, gini ya Jun, kalo kamu punya banyak mantan itu harus malu."


"Ngapain malu? Kan nyari yang cocok."


"Kesannya gampangan, masa iya abis satu belum lama sama satunya lagi. Iya kalo pacarannya sehat, kalo nggak?"


"Cinta itu butuh seleksi."


"Cinta itu butuh bukti juga, Jun."


"Oke."

__ADS_1


"Kalo kamu punya banyak mantan, kenapa sekarang milih single?"


"Bosan."


"Kamu pembosan? Gimana jadinya kalau kamu jadi aku, haha."


"Aku juga nggak mau jadi kamu."


"Iiih!!! Okelah aku ngalah. Lagian apa untungnya coba jadi play kayak gitu?"


"Sensasi berbeda-beda."


"Hah?!! O-oke, mungkin maksud kamu setiap cewek beda-beda, emang sih. Hehe."


Merasa canggung dengan jawaban Dejun Bio menyeruput susu kotaknya hingga habis. Sebenarnya ia ingin bertanya lebih dalam lagi, namun ia tidak mau terus-menerus mendengar jawaban ambigu dari Dejun lagi.


Cukup. Jantungnya tidak kuat untuk tidak berdetak kencang jika mendapatkan jawaban menohok dari laki-laki di sebelahnya ini.


"Bukan."


Bio mengerutkan dahinya bingung, lalu menatap Dejun menuntut jawaban. Otaknya mulai tidak begitu berfungsi untuk menyaring kata-kata Dejun.


"Ciumannya."


Bio menegak minuman kaleng dengan buru-buru karena tegang. Melirik Dejun kesal. Entah mengapa Dejun selalu saja berhasil mengacak-acak hati dan fikiran nya,


Kata-kata yang amat singkat, namun penuh penekanan serta terlalu frontal. Membuat lawan bicara mati kutu dan tidak bisa menjawab lagi ucapannya. Mungkin sengaja ia lakukan.


Tapi Bio, gadis ini tidak betah jika harus berdiam diri. Setidaknya ada bahan buat obrolan. Tidak masalah berdiam diri jika ia hanya sendirian.


Awan gelap menyelimuti pantai serta lautan nya. Camar berciap seakan tidak ingin malam ini sunyi. Deru ombak yang menabrak karang dan tepian pantai seakan tidak ingin malam ini di lalui dengan kesunyian pula.


Apa yang membuat seorang Dejun nyaman berdiam? Tidak nyamankah ia dengan indra pendengaran miliknya? Atau ia hanya ingin mendengarkan nyanyian deru ombak di lautan sana? Atau menyimak kemeresak dedaunan? Atau tidak ingin sama sekali mendengar getaran vibra dari bibir gadis di sebelahnya?


Bio menggigit-gigit dalam bibirnya. Tidak mengerti lagi bagaimana ia memecahkan kesunyian ini? Menyerukan nama Dejun lagi kah? Merajuk agar mengalihkan perhatian laki-laki inikah? Bernyanyi dengan suaranya yang khas kah? Atau harus ikut larut berpuasa? Bicara misalnya?


Ia tahu, Dejun berkata demikian agar dirinya diam. Tidak banyak bicara. Namun sendiri membenci kesunyian. Tidak banyak yang bisa ia lakukan, kecuali memandang pantulan perak rembulan di hamparan air laut yang terbentang tidak Damai.


"Kamu inginkan aku terus merespon pertanyaan mu kan?" tanya Dejun setelah beberapa belas detik mereka terdiam.


Melihat gadis disebelah dirinya yang menunjukkan gelagat tidak nyaman berdiam. Bukan berarti ia tega untuk terus-menerus mendiamkan gadis ini.


Walaupun menyebalkan, ia sangat ingin mendengar pertanyaan konyol dari gadis ini.


"Hihi, kalau emang kamu nggak nyaman nggak apa-apa, sorry." Jawabnya tertawa canggung, seraya meniupkan nafasnya ke udara agar menetralisir rasa canggungnya.


"Siapa bilang?"


"Eh? nggak apa-apa hm."


Dejun menatapnya tajam, ia merespon dengan kedipan mata. Dejun mencoba mendalami arti tatapan ini, rasa gugup. Sorot mata gadis ini menandakan bahwa ia salah tingkah, seru nafasnya bisa terdengar jelas diantara deru ombak serta rengsekan dedaunan.


Dejun mengangkat alisnya, sebuah pertanyaan melalui isyarat mata seolah berkata mengapa kau sangat tegang?ย 


"Kamu bilang, kamu nggak suka di tatap. Kenapa natap aku kayak gitu?" tanya gadis ini heran.


Hanya suara deheman yang ia dengar sebagai jawaban.

__ADS_1


"Kamu nggak pake make-up?"


"Ah?! Nggak." Jawab gadis ini cepat.


"Nggak pernah?" tanya Dejun lagi, ia menatap wajah polos ini dari samping.


Wajah gadis ini tampak indah disaat memandang lautan yang membentang ini. Surai-nya yang bermain kesana-kemari, berayun diterpa angin laut malam. Menampilkan kemilau cahaya dari kulit putih bersihnya yang amat cerah.


"Pernahlah, aku kan cewek. Gaada cewek yang nggak pernah dandan sama sekali dalam seumur hidup, kecuali kalau umurnya ... Hm ... Cuma memang aku nggak suka dandan untuk hari-hari." Jelasnya lagi, setelah berfikir sejenak.


Kembali ia menatap Dejun lembut. Senyum tipis yang ia tampilkan tidak membuat dimple kembar di sisi pipinya terlihat, tersembunyi karena gelap.


"Lipstik pun?" selidik Dejun lagi, pandangannya turun kearah bawah, bibir.


"Aku lebih senang terlihat alami."


"Tapi merawat diri itu perlu."


"Hah?!!" gadis ini terkejut mendengar ucapan lawan bicaranya barusan. Apa maksudnya?


"Kamu jorok. Perempuan maupun laki-laki wajib memakai make-up ataupun skincare untuk merawat diri. Bukan untuk tampil cantik, ataupun tampan. Tapi sebagai wujud kita menghargai diri kita sendiri. Kalau kamu malas merawat diri walaupun cantik, itu semua percuma. Indah itu tuntutan."


Gadis ini mendelik. Merasa tidak terima dengan ucapan yang di lontarkan Dejun.


"Terus aku ini menurut kamu nggak baik dalam merawat diri, gitu?" tanyanya. Wajahnya masih menampilkan raut kekesalan.


"Aku cuma berpendapat. Karena kamu terlalu pucat untuk seukuran seorang gadis. Setidaknya kalo kamu memakai lipstik atau bedak, laki-laki nggak akan berani ... " Dejun tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Dia sengaja menggoda gadis ini.


Gadis ini menghembuskan nafas, "Kami natural bukan berarti kami nggak bisa merawat diri."


"Terus apa? Natural itu tidak bisa di banggakan. Bukan tolak ukur cantik juga. Sudah ku bilang, indah itu tuntutan. Bukan untuk orang lain, untuk diri sendiri. Mengapa banyak gadis yang berlomba-lomba irit hanya untuk mengeluarkan uang yang itu sendiri sebagai keperluan sekunder nya?"


"Oh ...ย  Bukannya kita diharuskan mendahulukan hak dan kewajiban? Mana yang lebih dulu hak atau kewajiban? Jelas orang-orang berlomba-lomba mendapatkan hak nya, lalu melakukan kewajibannya kan? Tapi kalau bisa berdampingan mungkin lebih bagus, mungkin menurut kamu begitu, iyakan?"


Dejun tertarik dengan pembicaraan ini. Dan beringsut mendekat, memangkas jaraknya sejengkal dari gadis ini. Sebenarnya ia tidak sungguh-sungguh dengan kalimatnya. Namun ia berhasil mengacak-acak emosi gadis ini.


"Siapa yang bilang?" tanyanya dengan suara rendah. Ia berhasil lagi membuat kesal gadis ini.


"Begini, dalam hidup kita punya banyak pilihan. Ada kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan tubuh insan, itu yang terpenting. Manusia cenderung mempunyai banyak keinginan, sehingga membuat kebutuhan ini tertutup dan samar. Sebagai bayang-bayang keinginan, hingga berlomba-lomba mendapatkan kesempurnaan demi mendapatkan sebuah pujian? Cantik? Tampan? Pintar? Manusia cenderung menginginkan hasil yang sempurna ketimbang memperhatikan jerih payah serta kemampuan individu nya."


Gadis ini terlihat frustasi. "Kamu menarik," goda Dejun lagi.


"Itulah manusia," gadis ini mendengus kesal. "Mereka memandang aku hanya karena aku cantik, aku pintar, aku terkenal, aku beruang. Cover memang lebih menarik daripada isi. Ini udah menjadi hukum pemasaran. Tuntutan sempurna membuat individu semakin tertekan."


"Berarti kamu selama ini tertekan?" selidik Dejun.


***


๐Ÿฅ€๐ŸŒน Actually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


*Inner Beauty


****


**Ttd Author


#Miss_Lyr97

__ADS_1


๐Ÿฆ‡***


Teruntuk readers ku tercinta, berikan dukungan kalian terus pada Author ๐Ÿ’š


__ADS_2