
***
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
*Meninggalkan bukan karena keinginan
Namun
Inilah pilihan
Terkadang aku pun merasa di permainkan
Oleh perasaan dan sejuta alasan*
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
***
"Aaarrrhg!" pekiknya setelah aku menggigit lengannya kuat. "Kamu kenapa? Ada masalah cerita, ya? Jangan kayak gini. Aku sedih."
Aku juga bakal sedih kalo bakal putus dari kamu Win. Batinku.
"Masalah itu ada dikamu sendiri tau nggak?! Aku benci kamu! Pokoknya abis ini jauh-jauh dari aku!"
"Iya masalah itu apa? Kamu ngomong yang jelas. Aku bingung kamu tiba-tiba marah nggak jelas dan bilang tiba-tiba mau kayak gitu. Perasaan aku nggak bikin salah seminggu ini, kan?"
"Kamu ini nggak peka ya?!ย Kesalahan sendiri aja kamu nggak tau. Laki-laki jenis apasih kamu?!"
"Bi udah! Aku capek! Ayo aku antar kamu pulang." Katanya yang mulai terpancing emosi. Kini ia tidak lagi mau menatapku. Sakit sebenarnya. Tapi ini lebih baik.
"Mulai besok jangan jemput aku! Aku udah punya yang lebih baik dari kamu." Kataku dingin.
"What?! Tega kamu Bi! Jangan-jangan--"
"Iya. Dia orangnya. Jauh lebih baik dari kamu yang jelas." Mataku mulai berkabut tanganku punย semakin gemetar.
"Nggak. Pasti kamu bercanda. Udahlah Bi, gausah cari gara-gara. Males aku."
"Kamu tuh ya?! Bener-bener."
"Apalagi? Oke aku salah. Puas?!"
"Pura-pura nggak tau kamu? Mengandalkan wajah polosmu, kamu seenaknya berbuat sesuka hatimu. Kamu bohongin aku ini-itu, mengandalkan senyuman mu kamu berbuat seenaknya. Jangan kamu fikir aku nggak tau Win. Aku tau semuanya. Tau gimana kelakuan mu di luar!" ucap ku dingin dan menatapnya tajam.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana ku. Mencari file-file yang akan ku tunjukkan padanya. Dan aku menunjukkan sebuah foto dia bersama seorang gadis, di atas motor. Posisinya sangat dekat.
"Ini!" dia menatap foto itu dengan seksama.
__ADS_1
"Aku gatau kalo kamu cemburu Bi. Selama ini kamu diam," Lirihnya. "Tapi aku bisa jelasin semuanya."
"Nggak perlu."
"Kamu ini jadi cewek plin-plan ya." Dengusnya kesal.
"Aku juga nggak mau kayak gini Win. Aku nggak mau jadi cewek plin-plan. Kamu fikir enak? Nggak Win! Nggak enak plin-plan itu." Aku mulai meneteskan kristal bening, membua suaraku bergetar. "Kamu selalu bilang banyak tugas lah, inilah, itulah. Apapun alasannya aku benci di bohongin Win. Kamu fikir waktu dijalan itu, waktu magrib aku nggak liat?! Kalian mesra kayak gitu? Kamu selalu jaga jarak kan sama aku? Aku pacar kamu Win, kita kenal dari umur lima tahunan. Temenan udah belasan tahun, aturan kamu ngerti dan faham sama aku. Tapi apa?! Kamu sedikit pun nggak peka. Aku benci. Terus aku nggak suka sifat kamu yang sok polos. Aku fikir itu cuma untuk aku, nyatanya ... Kamu memperlakukan orang itu semuanya sama. SPECIAL!!! Dan aku ini? Nggak ada istimewanya Win." Jelasku panjang lebar.
"Karena selama ini kamu nggak cemburu. Dan kamu juga nggak pernah protes, kamu malah sering nyuguh-nyuguhin aku."
"Seharusnya kamu jangan mau! Kamu nggak mikir ya? Bisa jadi itu aku cuma ngetes kamu. Udahlah Win. Kita itu nggak pacaran. Lebih tepatnya kita cuma mentok sahabat aja. Kamu belum bisa kan?"
"Bi. Aku juga capek sama kamu yang sebentar baik, sebentar marah, sebentar mau ini, sebentar mau itu. Aku bingung!ย Aku susah ngimbangin sifat plin-plan kamu itu. Hari ini kamu bilang ini, tapi besoknya berubah lagi. Kamu fikir selama ini aku nggak stress apa sama sikap kamu yang kekanak-kanakan?"
"Yaudah maka dari itu kita putus aja."
"Aku nggak serendah itu Bi. Aku bisa baik sama semua orang tapi aku selalu setia buat kamu. Aku bisa aja keliatan merespon mereka dan bersikap baik pada mereka, tapi hati aku cuma buat aja Bi."
"Tapi aku nggak bisa setia."
"Aku kira kamu sayang dan setia sama hubungan ini Bi." Katanya dengan sorot mata dingin.
"Aku sayang sama kamu."
"Bohong!"
"Maaf." Dia berjongkok dan mengusap wajahnya kasar. Aku tau kata-kata ku keterlaluan.
"Jangan minta maaf! Aturan kamu harusnya marah! Jangan terus-menerus pura-pura." Sarkasku tajam.
"Gimana Bi? Aku emang kayak gini." Melihat tubuhnya yang bergetar dan matanya yang merah, aku tau dia marah.
"Ini yang bikin aku gasuka kamu. Maaf Win, aku pilih dia daripada kamu."
"Aku tau. Gausah di perjelas Bi, sakit. Ayo pulang. Aku antar." Dia beranjak berdiri tanpa melihat kearahku.
"Winston."
"Ayo."
Aku ikut berdiri tepat dihapannya. Dia meraih tengkuk ku dan membawanya kedalam pelukan. Mungkin ini pelukan terakhir kami. Selama kami menjalani sebuah hubungan sebagai sepasang kekasih, kami tidak pernah melakukan hal-hal aneh. Termasuk pelukan dan ciuman.
Winwin benar-benar menjaga ku dengan baik. Dia selalu menjaga jarak. Hanya akhir-akhir ini saja dia berani membawa ku kedalam pelukan.
Pelukan yang pastinya akan ku rindukan. Dia hanya baru duakali mengecup keningku, itupun singkat dan penuh rasa sayang. Dia tidak pernah menyentuh ku lebih dari sekedar mencubit pipi, dan mengacaukan poniku.
Aku benar-benar hilang kendali. Aku memeluknya erat sambil terisak, menangis. Detak jantung dengan tempo yang amat cepat ini menembus gendang telinga ku. Aku suka. Aroma tubuhnya yang khas juga aku suka.
__ADS_1
Rasanya kau tidak ingin melepaskan pelukannya. Aku ingin begini lebih lama.
Ia memelukku dengan penuh rasa sayang, dagunya ia letakan di pundakku. Ia menundukkan wajahnya. Mungkin hanya seperti ini kami bisa menyampaikan emosi masing-masing. Seakan-akan berkata jangan pernah pergi.
"Aku kecewa. Kecewa dengan hubungan ini. Kecewa dengan segala sesuatu yang merusak kesehatan hubungan ini. Kalau kamu udah baikan, pastikan lagi hatimu ya. Aku yakin nggak akan mudah untuk kita pisah gitu aja." Ucapnya sambil mengusap rambutku.
"Terimakasih tigabelas tahunnya." Kakaku dengan suara yang bergetar menahan sesak.
"Semoga dia nggak bikin kamu kecewa, ya, Bi. Semoga dia lebih baik dari aku. Jangan marah-marah."
Oh tuhan.
Rasanya sesak. Hatiku seperti di cubit kecil-kecil. Jantung ku terasa tertusuk-tusuk duri. Serasa diremat dengan kekuatan penuh mendengar nada bicaranya.
Separuh hatiku ingin ia terus berjuang, separuh hatiku ingin ia terus berucap kasar. Tapi ini Winwin. Dia tidak mungkin mengucapkan kata-kata dengan nada kasar. Tidak mungkin dia marah-marah. Dia hanya diam, menahan sesaknya sendiri.
Aku mundur. Memberikan senyum terbaik ku untuknya. Berusaha tegar menatap netranya yang indah ini. Ingin rasanya aku memeluknya erat sekali lagi. Mengecup bibir, kening dan pipinya.
Tahan Bio, tahan batinku. Aku pergi melangkah meninggalkan dia seorang diri di lapangan ini. Lapangan hijau dengan di tumbuhi rerumputan segar dan sehat. Ya tidak sesehat hati kami.
Aku tidak bisa melihat ekpresi dan tubuhnya lagi. Aku memilih berlari meninggalkan dia. Selamat tinggal My baby Chicken.
Lapangan gelap gulita ini mengekspresikan jalan kami hari ini, malam ini.
"Aaaaarrrrgghh!!! "
Aku bisa dengar teriakan ungkapan kecewaaanya. Sedikitpun aku tidak berani melihat kebelakang lagi. Cukup. Ini sudah sangat menyakiti perasaannya.
Terimakasih untuk tigabelas tahunnya Win. ๐ฅ
***
๐ฅ๐น Actually Only You ๐น๐ฅ
*Selagi masih bisa ku kejar
Aku takkan lengah
Akan ku pastikan
Kita kembali*
๐ฅ๐น Actually Only Youย ๐น๐ฅ
Ttd Author
#Miss_Lyr97
__ADS_1
๐ฆ