
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
Lalu Dejun segera sadar dari fikiran kotor di otaknya. Lalu mendorong wajah Bio kasar kesembarang arah.
"Apasih tiba-tiba kayak orang kerasukan?!" dengus gadis ini kesal.
***
Winwin dengan sengaja membuat masalah di sekolahnya. Tujuannya tidak lain tidak bukan untuk mundur dari jabatan yang dipikulnya.
Telinganya yang amat sensitif dengan sebuah nama, Stephanie Leeusaebio. Gadis yang selama ini mengisi waktu dan hari-harinya.
Tidak ada yang boleh menyukai Bio kecuali dia.
Namun dia adalah Winwin, Winston Wyn. Seorang pemuda dengan sejuta pesona, dengan sikap lemah-lembut yang mampu membuat hati siapa saja luluh padanya. Sejauh apapun dia bertindak pada akhirnya ia kembali menjadi sosok itu lagi.
Sosok yang penuh perhatian, dan senyuman manis.
"Kau yakin usaha kita berhasil?" tanya Winwin ragu pada Deki. Di punggung kirinya sebuah tas bergelayut manja.
"Yakinlah." Jawab Deki pasti, di iringi senyuman Tony.
"Apa yang buat kalian yakin?" tanya Winwin lagi sambil mendaratkan bokongnya pada kursi halte sekolah.
"Winda, Winda bilang dia udah berhasil bujuk Bio untuk ikut wisata ini. Jadi apalagi?" jawab Tony.
"Apa nanti dia nggak marah?"
"Hei Bro! Justru itu tujuannya." Seru Deki dengan semangat empat lima.
Winwin membuka mulutnya hendak menjawab, dengan kerutan di dahinya. Namun langsung disambar oleh Tony.
"Kalo Bio marah, otomatis dia cemburu. Kalo dia cemburu otomatis dia masih sayang kau. Kalau dia sayang otomatis dia mau di ajak balikan. Begono Kang Winston." Jelas Tony lagi. Winwin hanya manggut-manggut ragu.
Mereka melakukan tour wisata ke Bali. Rencananya mereka akan menginap disana selama kurang lebih empat harian. Beberapa sekolah mengikuti kegiatan ini, termasuk sekolah tempat Bio menimba ilmu.
Winwin tidak betah lama-lama tidak bertegur sapa dengan Bio. Bagian tersulit adalah ketika ia berusaha mengirim pesan whatsapp pada Bio namun tidak pernah ada balasan, padahal online.
Setiap pagi ia berusaha menjemput Bio, namun Bio telah dulu pergi kesekolah. Entah gadis itu pergi jam berapa? Subuh mungkin.
Setiap pulang sekolah Winwin mencoba menjemputnya namun lagi-lagi ia bisa menemukan Bio.
Kalaupun bertemu Bio selalu saja terlihat bersama Dejun. Tapi Winwin yakin itu hanya settingan yang sengaja Bio lakukan. Insting seorang Winwin sangat kuat. Dan mengatakan bahwa ada hal lain yang membuat kekasihnya ini seperti menjadi orang lain.
"Kita nanti pasti satu hotel tuh sama anak-anak sekolah lain, kita punya Winda dan Lusi yang bisa kita andalkan setiap detiknya." Sarkas Deki.
"Apa mereka nggak merasa terbebani, atau nggak kan merasa di manfaatkan gitu?"
"Lama-lama ku lelang pada virus Corona kau ya." Dengus Tony kesal. "Otak kau akhir-akhir ini udah kayak kabel putus yang kesetrum aja, nggak konek."
"Tapi bro--"
"Cemen amat sih kau ini sama cewek." Potong Deki. Dan sanggup membuat Winwin bungkam seribu bahasa.
***
Tidak tahu saja mereka, disisi lain Bio juga merasa tersiksa dengan situasi ini. Dia harus pergi pagi-pagi sekali dan pulang malam demi tidak bertemu Winwin. Melihat wajah Winwin membuat hati gadis ini menjerit-jerit hebat.
__ADS_1
"Seumur-umur aku belum pernah ke Bali." Ucap Bio sambil memasukkan bulat cilok tahu kedalam mulutnya.
"Ya Allah apalagi diriku ... Seumur-umur cuma liat di postingan instagram doang." Sahut Lusi mengiba, tangan kanannya memurus dada.
"Gausah se-dramatis itu juga bilang diriku-nya." Komentar Winda menoyor jidat Lusi.
"Astagfirullah, maafkan diriku yang semok ini. Emang nya kamu pernah ke Bali?" Singgung Lusi pada Winda yang mengunyah ciloknya.
"Pernah. Tapi dalam mimpi, hm. Hihi." Kikiknya pada Lusi.
"Tapi kata Kak Jeffrey Bali nggak seindah di fotonya deh, kan yang kita liat hasil jepretan pg." Sambung Bio.
"Oh iye, Bang Jeff- dulu pernah ke Bali." Lusi manggut-manggut.
"Oh. Nanti disana kalian mau apa?" tanya Winda pada kedua temannya.
"Kamu sendiri Wind?" Bio bertanya balik pada Winda.
Winda menaruh telunjuknya pada dagu, kerutan pada dahinya menunjukkan jika ia tengah berfikir.
"Berenang. Main apa aja yang bisa dimainin." Jawab Winda apa adanya.
"Ah aku mau puas-puas selfie, makan kerang rebus, jagung bakar, main volly, yang jelas aku mau nyoba kuliner disana." Ucap Lusi antusias. Winda kembali menoyor jidat Lusi.
"Kamu Bi?" tanya Winda dan Lusi bersamaan.
"Aku ...Β Hm ...Β aku mau ...Β Liatin kalian aja deh."
Lusi dan Winda menatap jengkel Bio.
***
"Iya Bunda."
"Jaga adekmu yang bener."
"He'em Bunda."
"Jangan lupa makan teratur."
"Iya Bunda."
"Jangan bikin masalah."
"Siap Bunda."
"Jangan keluyuran yang nggak jelas."
"Oke bunda."
"Tagihan listrik udah dibayar kan?"
"Udah Bunda."
"Awas kalau ada apa-apa."
"Iya Bunda nggak akan pernah."
"Udah itu aja pesan Bunda."
__ADS_1
Tut ...
Tut ...
Jeffrey hanya bisa menghembuskan nafas kasar saja setelah telponan Bunda berakhir.
Terkadang Jeffrey merasa hidup tidak adil pada dirinya. Dirinya terlalu memikul berat penderitaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Tidak ada waktu main-main untuknya. Tanggungjawab dirinya amat besar, apalagi menjaga dua nyawa, dirinya dan adiknya. Orang tuanya hanya benar-benar memberikan uang saja.
Mereka sering di tinggal berdua saja dirumah. Tanpa asisten rumah tangga, tanpa satpam. Satpam hanya menjaga malam saja.
Setiap paginya ia dan adiknya membagi tugas, menyapu dan mengepel lantai. Mencuci pakaian, dan memasak. Semua kerjaan rumah ia dan adiknya kerjakan sendiri berdua. Untunglah dia mempunyai adik yang pengertian dan mereka sangat kompak.
Mereka harus membagi tugas rumah dengan tugas pendidikan seadil-adilnya. Terkadang tubuh yang lelah dan perut yang lapar membuat mereka malas untuk beranjak. Tapi bagaimana lagi?
Terkadang Jeffrey amat kasihan dengan adiknya, yang harus bangun subuh untuk mengerjakan semua tugas rumah. Ya rumah seluas ini dengan dua lantai.
Terkadang ia amat lelah dan segera istirahat namun sadar jika adiknya belum sempat makan, kalah terkadang masih sibuk berkutat dengan tumpukan buku-buku.
Bukan keluarga dari tidak mampu. Hanya saja menurut Jeffrey orang tuanya amat perhitungan dan pelit. Jika saja di rumahnya ada asisten rumah tangga, pasti mereka tidak akan sakit-sakitan dan kelelahan.
Jeffrey tidak ingin bilang bahwa adiknya pergi ke Bali. Ia bisa di marahi habis-habisan. Sesekali ia ingin Bio merasakan dunia luar juga. Tidak semua tentang buku-buku yang membuat otak keriting.
"Eh ngelamun kau Bray?" tegur Andre menepuk pundaknya.
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
*Bagai disayat dengan ujung ilalang
Tertiup angin lalu tersiram air laut
Pedih
Perih
Bukan lukanya
Namun bekasnya
Mampukan mata ini mengisyaratkan?
Mampukan hatiku bertahan?
Padahal takdir jelas menolak
Kenyataan*
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
**Ttd Author
#Miss_Lyr97
π¦**
***
__ADS_1
Dukung terus Actually Only You ππ¦π»