
***
π₯πΉActually Only You πΉπ₯
Cemburu semakin membuncah
Resah semakin membuat wajahku memerah
Akankah aku tabah tanpa amarah?
π£ Winston Wyn π£
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
***
Happy Readingπ
***
Sepertinya hari ini aku beruntung. Aku baru saja keluar kelas tapi ternyata dia sudah berada di depan kelasku sedang bertugas mendisiplinkan siswa, lebih tepatnya adik-adik kelas.
Dia menyadari keberadaanku, mengangguk dan tersenyum manis. Semanis gula merah.
Aku menghampirinya. "Hai." Sapaku ramah dan dengan suara kubuat semanis mungkin. Dia mengangkat kedua alisnya tinggi.
"Wah Ketos sibuk nih?" tanya Aren jail. Winwin mengeluarkan cengiran khasnya, membuat ia tampak lebih manis berkali-kali lipat.
"Winston gausah senyum!" seru Susan judes aku menatap Susan dengan tatapan menuntut jawaban atas ketidak sopananya. "Kalo Winston senyum kita bertiga bisa salto gulang-guling sampe lantai bawah."
Susan mengalihkan pandangan, tidak ingin melihat senyum Winston yang semakin merekah Indah.
"Terus maunya aku kayak gimana Susan? " tanya Winwin lembut, Susan masih tidak ingin melihat kearahnya.
"Gausah ganteng-ganteng bisakan? Tau nggak sih, banyak anak perawan orang oleng liat kamu tuh." Kata Susan sambil mendorong tubuhku untuk semakin mendekatkan jarak kami.
Aroma vanila di mix dengan madu menyeruak mengganggu konsentrasi ku karena telah lolos masuk kedalam indra ku. Cocok dengan penampilan dan image cute yang terkonsep nyata di depan ku ini.
"Hihihi ...Β Itu kancing seragam Aren," tegurnya sambil menunjukkan kearah kerah Aren yang memang sengaja Aren buka dua kancing. Reflek aku melihat kancing seragam ku, ternyata aman dan rapi tidak seperti biasanya. Sssst.
"Idih Winston liat ya ..." goda Aren nakal menyunggingkan senyuman evil. "Tau Aren mah, Winston cowok normal."
Winston mengerjapkan kelopak matanya dua kali, aku merasa hilang muka akibat ulah kedua temanku.
"Kan tugasku emang memperhatikan kerapian dan kedisiplinan kalian. Bukan berarti aku mes*m, aneh kalian ini."
Ia menjawab dengan santai dan tenang. Di tangan kirinya ada sebuah penggaris dengan panjang 35cm. Yang ku yakini sebagai media perantara kekesalannya untuk mendisiplinkan anak-anak yang di temui tidak sesuai peraturan.
Winston memang mempunyai penampilan yang rapi, bersih, dan stylish. Julukan seorang Ketua OSIS memang sangat cocok dengan kepribadian dan penampilan dirinya.
Aku mengambil alih tepat di hadapannya. Berusaha menjejerkan barisan ku padanya.
"Cie cie cieee ..." ejek Susan nakal. Karena melihat ku yang tepat di hadapannya. Aku akan memberikan kotak makan yang telah ku isi dengan nasi goreng.
Aku hanya menjeling singkat pada keusilan seorang Susan. Dia melihat ku bingung.
"Apasih San?!Β Winston, ini buat kamu. Di makan ya, aku bikin tadi pagi buat kamu nasi goreng merah. Semoga kamu suka."
"Wah ..." Dia langsung membuka tutup kotak makan yang ku suguhkan. Pipiku memanas serasa ada udara aneh yang merayap di sekitar wajahku. "Keliatannya enak. Kalian udah makan?"
"Susan belum." Jawab Susan cepat, aku pun dengan kilat menendang tulang keringnya, tapi sayang aku hanya menendang angin karena Susan dengan cepat mengelak dan berpindah tempat.
__ADS_1
"Yauda yuk kita makan bareng." Ajak Winston sambil tersenyum manis. Oh Tuhan Ibunya mengidam apa sewaktu hamil dulu? Aku terpesona dengan senyuman manis miliknya, tapi kesal karena dia mengajak kedua krucil ini.
Aku langsung memasang wajah jutek.
"Eh gausah Winston kita duluan aja deh, Susan boong kok. Kamu makan aja sama Carol, dia belum makan dari semalam. Bye."
Aren menggeret lengan Susan cepat menjauh dan meninggalkan aku. Awalnya aku ingin ikut mereka tapi buru-buru Winston menghentikan ku dengan menghadang langkahku. Aku senang bercampur malu.
Dia menaikan alisnya, dan melengkungkan sebuah senyuman nan indah. Dia menunduk tepat di depan wajahku.
"Mari makan bersama. Kamu dari semalam belum makan." Ajaknya dengan suara rendah yang pasti hanya kami berdua saja yang tahu.
Aku sedikit risih dengan tatapan teman kelas dan para adik kelasku yang melihat situasi ini. Cepat-cepat menarik lengan kirinya yang masih menggenggam penggaris, membawanya jauh dari kelasku.
Dia mengikuti langkahku tanpa banyak bicara. Aku hanya bisa merasakan lengan hangatnya tanpa bisa melihat bagaimana ekpresi dia di belakang ku. Diam-diam aku tersenyum, aku bahagia bisa menggandeng lengannya.
Suatu saat nanti aku bisa lebih dari ini Winston, pikirku.
"Kita mau kemana Caroline?" tanyanya bingung, aku langsung berbalik. Tapi ternyata tindakan ku yang tiba-tiba membuat jarak kami terpotong, hanya kisaran duapuluh sentimeter. Deg. Hampir saja aku meraung kesenangan.
Perlahan-lahan aku mengangkat wajahku yang tersipu, dia mundur selangkah sambil mengedarkan pandangan meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang melihat adegan barusan.
"Sorry mendadak. Kita ke pohon akasia aja ya, kan ada tempat duduk dan disitu teduh," kataku. Dia mengangguk pelan dan tersenyum manis lagi.
"Oke."
Disekolah ku di dekat pagar depan ada deretan bangku dan pohon akasia. Satu bangku panjang disisi kiri dan kanannya ada pohon ini, oh ya bangku panjang di sekolah kami di design dengan atap dan seng metal dengan ukuran 1.5x2 meter, dan ada saudaranya.
Biasanya disini dijadikan tempat nongkrong dan tempat ngerumpi anak-anak. Atau ada yang bermain gitar sekedar bernyanyi dan kumpul saja. Jarak antara kursi satu dan kursi lainya hanya sekitar dua meter, dan dua buah pohon akasia.
Disini sangat sejuk dan nyaman. Biasanya juga ini dijadikan anak-anak tempat pacaran. Tidak pacaran yang aneh-aneh, hanya sekedar berbincang dan ngobrol ringan, tertawa bersama,Β dan melepas penat. Dan disini selalu saja ramai.
Kami memilih tempat yang tidak terlalu ramai.
"Ah!" hampir saja aku menjerit lebay. Aku baru ingat, bahwa di situ di kotak tempat bekal hanya ada satu sendok saja. Aku membulatkan mataku menatapnya tegang, dia malah mendekatkan wajahnya padaku dengan tatapan bingung dan bertanya.
Ah bodoh. Belum tentu dia mengajak ku beneran makan bersama nasi goreng di kotak bekal yang sama iyakan? Aku terlalu geer ternyata.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, yaudah kamu duduk."
"Harum. Pasti enak, jago masak kamu ya. " Komentarnya sambil membuka kotak bekal. Aku duduk tepat di sebelah kiri tubuhnya hingga aku masih bisa menghirup aroma vanila madu parfumnya.
"Inimah masakan rumah biasa. Kamu suka kan?"
"Sukalah semua yang kamu bikin aku suka, enak-enak soalnya," jawabnya antusias. "Yah sendoknya cuma satu."
Aku meringis canggung dan dia terlihat bingung. Ternyata benar dia ingin mengajakku makan bersama di kotak bekal yang sama pula. Tidak mimpikan aku? Ini nyatakan? Bukan ilusi yang menipu netraku kan? Serasa ada serangga yang merayap di seluruh wajah dan tengkukku, karena tegang.
Dia melihat-lihat kesana kemari dan berdiri, ku fikir ia akan pergi meninggalkan ku untuk mencari pinjaman sendok. Konyol sekali ceritaku hati ini.
"Kamu makan aja Winston, aku kan cuma nemenin kamu." Kataku lembut. Sebenarnya jika diizinkan bermimpi aku sangat ingin momen berlangsung nyata. Tidak gagal. Tapi aku sedikit tahu diri.
"Kamu dari semalam belum makan. Jadi kita makan barengan sama nasi goreng buatanmu." Ucapnya mantap sambil menuju ke pohon akasia di samping tempat duduk kami. Aku hanya melihat aktivitas anehnya.
Dia memetik beberapa tangki daun akasia dan membawanya kembali ke bangku panjang yang ku duduki.
"Haa ...Β Aku makan pake ini," dia menunjukkan daun akasia yang berukuran selebar dua jari dengan panjang sekitar 17cm. "Dan kamu cepat makan pake sendoknya."
Sebentar. Sebentar. Aku keheranan melihat dan mendengarkan ide konyolnya ini. Bagaimana mungkin dia bisa makan dengan sendok yang ia buat dari sebuah daun akasia yang kaku ini? Membayangkan dia menyuap dengan daun ini rasanya aku seperti menonton drama kolosal saja.
__ADS_1
"Kok pake daun sih?" protes ku cepat saat dia mengacungkan beberapa helai dedaunan yang melindungi bangku kami dari sinar mentari.
"Sendoknya cuma satu nggak mungkin kita gantian kan?" tanyanya sambil tertawa geli. "Dan nggak mungkin kita makan suap-suapan pake satu sendok."
Benar katanya tidak mungkin kami makan dengan cara suap-suapan seperti sepasang kekasih. Itu konyol. Tapi ku yakin suatu saat nanti aku pasti bisa seperti itu bersama mu Winston.
"Lagian nanti diliatin juga. Ah ayolah makan."
Lanjutnya sambil menyendok nasi dengan sendok apa primitif yang ia buat dari daun akasia. Aku mengikuti kegiatannya dengan menyuap nasi menggunakan sendok asli. Ini pengalaman konyol sepanjang sejarah ku.
Tapi aku tidak keberatan dengan sikap dan tingkah lucunya ini. Aku menyukainya. Aku bahagia hari ini. Sangat.
Setidaknya aku melupakan segala beban dan masalah hidup pribadi ku. Melihat senyum danΒ perilakunya aku berfikir positif tidak semua lelaki itu bejat seperti Papaku. Kau mematahkan presepsi itu Winston.
Aku sangat menyukaimu. Mencintaimu. Inilah kamu dengan sejuta kejutan, menularkan keceriaan dan kebahagiaan ku pada setiap orang yang kau jumpai. Membuat kami para kaum hawa haus akan di perhatikan oleh dirimu yang mungkin saja jauh dari jangkauan kami.
Sifat ramah-tamah mu pada setiap orang orang di sekeliling mu. Perilaku humble yang kau tunjukkan pada lingkungan membuat semua orang nyaman saat sedang bersamamu. Dengan teman saja kau seromantis ini, bagaimana dengan kekasih mu?
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
*Aku sangat menyukaimu
Mencintai mu
Menginginkan mu
Untuk menjadi milikku
Namun sayangnya kau bukan milikku.
Aku hanya berdoa
Suatu saat nanti
Kau melihat dan juga menginginkan ku
Untuk mendampingimu*
π Chelsea Caroline π
***
π₯πΉ Actually Only You πΉπ₯
Ttd Author
π¦π¦π¦Β Β #Miss_Lyr97Β Β π¦π¦π¦
π¦π¦π¦π¦
π¦π¦π¦
π¦
π¦π¦π¦π¦
***
π
**Siapa nih yang sifatnya kayak Winwin? ramah humble sama semua orang, ha? siapa? tolong type yang suka bikin baper ciwi-ciwi lestarikan π€£
__ADS_1
Sejauh ini para Readers paling favorit sifat dari karakter siapa hayo??
Author kepo nihπ**