Actually Only You

Actually Only You
Episode 30


__ADS_3

***


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


*Bukan salahmu


Dan juga bukan salahku


Salahkan saja pada takdir


Bukan keinginan hasrat ku


Bukan hasratku yang ingin mengakhiri


Tapi takdir yang memaksa*


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only YouΒ  🌹πŸ₯€


***


Keadaan Bio juga tidak beda jauh dari Winwin. Dari segi penampilan Bio terbilang terlebih berantakan, dari memakai sepatu berwarna pink pushia, rambut yang potong secara tidak rapi, hingga menggunakan seragam sekolah yang tanpa menggunakan jas.


Bio hanya memakai celana training dan seragam saja, tanpa jas. Dan lengan bajunya ia singsingkan hingga sebatas siku, celana training yang ia singsingkan hanya sebelah hingga sebatas lutus, sebelah kirinya lagi ia singsingkan sebatas betis. Menggunakan kaos kaki dengan motif doraemon.


Kedua kelopak matanya bengkak akibat menangis semalaman, dengan lingkar coklat yang mengelilinginya. Hidung yang memerah karena flu, lecet akibat gesekan tysu. Rambutnya ia biarkan tergerai bebas. Poninya ia jepit keatas menampilkan dahi lebarnya yang selama ini ia sembunyikan. Rambut lurusnya ia potong zig-zag sebatas pundak.


"Bi, ini udah piring kelima kamu makan ya Allah." Komentar Lusi prihatin melihat kondisi Bio, yang sedari tadi semua menu kantin ia coba.


Bio tidak menjawab, hanya serigai seram yang ia tampilkan hingga membuat Lusi dan Winda terkadang bergidik.


"Ini sambel sp 88 nya Mbak Saroh kamu abisin semua." Winda mengalihkan satu botol sambal untuk ia sembunyikan.


"Kamu belum lama keluar rumah sakit loh, ya Allah." Lusi dan Winda tidak berhenti mengelus dada dan punggung temannya yang sedang dilanda asmara dan perkara.


Bio beranjak dan berdiri, lalu berlenggang lagi menuju meja Mba Saroh. Winda dan Lusi saling pandang pasrah.


"Mungkin makanan di perutnya bisa menguap kali ya Win?" tanya Lusi dengan nada lesu.


"Ho'oh. Biasanya juga makan satu piring kita yang abisin." Winda tidak kalah frustasi dari Lusi.


"Mbak Saroh, keredok satu porsi pake cabai rawit lima puluh biji, yang merah. Sekalian kasi satu ons juga gapapa."


Teman-teman yang berada di samping dan belakang Bio langsung bergidik ngeri mendengar pesanan extrem ini. Bahkan ada yang terperanjat dan menutup mulut saking syok nya.

__ADS_1


"Yakin pake cabe rawit segitu? Pedes loh ... Nanti sakit perut." Komentar Mba Saroh lembut, namun Mba Saroh keburu kicep dan terdiam setelah mendapat tatapan maut dari Bio. "Iya-iya Mba bikinin, hehe." Lanjut Mba Saroh tertawa canggung.


Bio menuju ke meja sebelah kiri Mba Saroh untuk mengambil beberapa gorengan dengan sebuah piring. Ada tahu, tempe, bakwan, pisang goreng, sosis. Namun setelah Bio hendak menjumput gorengan terakhir secara bersamaan sebuah tangan juga menjumput gorengan itu.


"Yah ... " Ardi menghela nafas. "Jangan diambil semua dong Bi, aku lapar banget." Ardi mendapat sebuah tatapan tajam dan serigai mengerikan dari Bio. "Eh yaudah deh ambil aja, aku ngga makan nggak apa-apa."


Bio langsung mengambil semua gorengan yang tersisa delapan biji itu dan memasukkan kedalam piringnya. Namun langsung menyuguhkan pada Ardi.


"Loh, jangan ngambek Bi, nggak apa-apa kok ambil aja." Kata Ardi tidak enak hati, namun Bio langsung meninggalkan dia tanpa menyahut.


Ardi yang merasa tidak enak hati itu mengekor di belakang Bio yang menuju bangku dimana ada Lusi dan Winda. Bio duduk dan langsung menyambar botol saus sp88 dan menegaknya. Winda menyipitkan matanya tersenyum canggung dengan tatapan anak-anak di kantin.


"Bi ini serius deh, aku minta tiga aja, gausah ngambek iih jelek."


"Winda dan Lusi serempak mendeliki Ardi, manusia suci tanpa dosa ini hanya menatap bertanya.


" Sorry, loh sambel kok diminum?" tanya Ardi dan mendapatkan sebuah cubitan keras di perutnya dari Lusi. "Omegat! Sakit Lus."


"Bisa diem!" ucap Bio dingin masih dengan serigai seramnya.


"Kenapa sih kalian horror banget.Β  -Aw! " kembali Ardi mendapat cubitan dari Lusi.


"Ssssttt. Diem aja, udah itu ambil aja. Nanti biar kita-kita yang bayar. Jangan banyak bacot." Bisik Lusi pelan-pelan pada Ardi.


"Bukan. Udah ini masalah ciwi-ciwi. Bio masih dalam serigala mode on."


Ardi yang mengerti langsung pergi menuju meja lainnya. Selama istirahat ini, total porsi yang Bio makan adalah sepuluh porsi dengan menu makanan yang berbeda. Bahkan meja tempat mereka makan menjadi lautan mangkok dan piring bersambal merah.


Lusi dan Winda pun merasa heran kemana perginya makanan yang di santap Bio? Mencairkah? Menguap kah? Menyublim kah? Kemana makanan sebanyak itu? Benar muat kah dinding perut Bio?


Bahkan wajah Bio menjadi merah padam, karena kepedasan. Terutama bibir dan kedua matanya. Bio sendiri padahal merasa kebas di arena telinga dan lidahnya. Merasakan rasa nyelekit panas dan pedas yang berhasil merajalela.


Winda lebih dulu pergi ke kelas. Sedangkan Lusi menemani Bio ke toilet untuk menghilangkan pedas. Bio membuka mulutnya menganga di depan kloset. Membuang cairan air liur yang membuatnya tersiksa kepedasan. Membiarkan cairan beracun ini mengalir keluar menuju kloset.


"Apa kita bilang Bi, kamu sih nyiksa diri sendiri."


Lusi cemas melihat kondisi memprihatinkan ini. Lusi mengelus tengkuk Bio perlahan, agar tenggorokan dan dadanya merasa enakan.


Lusi hanya heran, jika separuh gadis atau remaja lainnya galau, mungkin mereka akan curhat panjang lalu lebar sambil menangis. Namun Bio berbeda, sangat berbeda menurut Lusi. Bio yang terkenal kalem, periang, ceria ini berubah menjadi zombie menyeramkan menurutnya.


Peluh keringat keluar dari setiap pori-pori kulit gadis ini. Nafasnya yang memburu dan tidak beraturan membuat Lusi benar-benar khawatir.


"Dada kamu sakit ya Bi?"

__ADS_1


"Sakit ini nggak ada apa-apanya Lus, lebih sakitan usus, ginjal, hati, jantung, ku dari pada ini." Bio mengelap wajahnya dengan tysu, berkali-kali ia membasuh wajahnya.


"Tapi jangan nyiksa diri kamu sendiri dong," protes Lusi kesal.


Setelah selesai dengan aktivitas mereka keluar dari toilet, dan Bio bertabrakan dengan seorang anak laki-laki.


"Wah ngajak berantem," Seringainya.


Dejun memandangnya aneh, lalu tidak peduli dan masuk begitu saja kedalam toilet. Lusi hanya menepuk jidatnya pasrah.


Padahal sudah jelas salah mereka yang dengan sengaja menggunakan toilet laki-laki.


Bio benar-benar kehilangan kesadaran dan akal sehatnya sekarang. Sudah cukup ia menangis semalam, ditambah lagi dengan omelan Jeffrey.


Sebenarnya Jeffrey tidak mempermasalahkan hubungan mereka, toh wajar dalam hubungan ada putus nyambung atau masalah. Yang membuat Jeffrey kesal tindakan Bio. Jeffrey sudah seperti manekin dibuatnya.


Gigitan, pukulan, tamparan menghujani tubuh malang Jeffrey. Apalagi Bio ditambah tingkah anehnya sampai mencak-mencak seperti orang kurang seperempat otaknya. Biasanya Jeffrey yang bertindak seperti orang gila. Namun kini sifat dewasa adiknya berubah menjadi monster.


Berhari-hari Bio dilanda galau yang tidak biasa. Dia tidak bisa berpisah begitu saja dari Winwin. Winwin laki-laki yang baik, sempurna untuknya.


Yang membuatnya semakin galau adalah sikap Winwin yang tidak berubah samasekali. Dia tidak ingin bertemu dengan Winwin, tapi sebaliknya setiap hari dia selalu melihat Winwin dengan tampang tak berdosanya datang untuk menjemputnya.


***


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


*Berhenti menyalahkan godaan


Naluri menuntut segalanya


Hingga benteng pertahanan


Runtuh seketika*


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


Ttd Author


#Miss_Lyr97


πŸ¦‡


***

__ADS_1


__ADS_2