Actually Only You

Actually Only You
Episode 21


__ADS_3

***


πŸ₯€πŸŒΉActually Only You 🌹πŸ₯€


*Cemburu semakin membuncah


Resah semakin membuat wajahku memerah


Akankah aku tabah tanpa amarah*?


🐣 Winston Wyn 🐣


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


***


Happy ReadingπŸ“–


***


"Ah!Β  Udah jam setengah enam Guys, kalian nggak pulang?" Tanya Jeffrey sambil menyeruput minuman soda kalengan di tangan kirinya, tangan kanannya mengepal sobekan roti.


Dejun yang sedari tadi hanya diam, sibuk dengan fikirannya sendiri. Dia sendiri tidak tahu harus berbicara dan ngobrol apa pada kedua orang yang menemani orang sakit ini.


"Terus kau?" Balas Winwin yang fokus pada game di ponselnya.


"Nunggu disini lah. Emang mau ngapain lagi Ha? Godain Suster sama Pak satpam gitu?" Jawab Jeffrey sambil menonjok pelan bahu Winwin. Dengan masih ada kalengan di tangannya. Dejun menatap mereka risih bercampur takut.


"Hm. Kau bawa baju kan? Nanti biar aku bilang sama Mama ku, biar buatkan kalian makanan. Kau mau apa Jef? "


"Uh ...Β  Mas baik deh sama adek," kata Jeffrey gemas. "Adek mau tumisan sambel jantung hati Mas. "


"Diamlah kau! Kan mati!" Winwin menotokan ponselnya kekening Jeffrey kesal. "Kau kita buka praktek perdukunan di rumah sakit? Diam lah kau Jeffrey!Β  Ini rumah sakit."


"Kalo dirumah dan di tempat sepi boleh ya Mas? Adek kan bentar lagi kesyepiyaaan," Sekali lagi Winwin menjitak kening Jeffrey, karena kesal dengan tingkah lawak Jeffrey. Dejun semakin bergidik, dia hanya diam menyaksikan drama Korea Asia didepan matanya saat ini.


"Oh iya lupa, kamu nggak pulang?" Tanya Winwin pada Dejun yang hanya bengong.


Dejun mengerjap duakali. "Ah iya? "


"Namanya Dejun Mas,Β  panggil dia Dejun, sekali lagi Dejun." Jeffrey dengan menirukan nada dari karakter Dora dan dipadu dengan awalan karakter Siva.


"Rumah sakit, banyak yang sakit Beb, itu mulut sesekali bisa berenti ngoceh nggak?" Omel Winwin dengan ekspresi wajah yang di garang-garangkan. Tentu saja hanya disambut kekehan pelan dari makhluk astral seorang Jeffrey. "Kamu kalau mau pulang, ya pulang aja gpp. Aku juga bentar lagi mau pulang, kamu sekolah kan?" lanjutnya sambil tetap ramah. Dia melupakan rasa nyelekit 30 menit yang lalu.


"Iya. Karena aku teman sekelasnya, sekalian aku aja yang izinkan." Tawarnya sungkan-sungkan.


"Oh terimakasih banyak brother," Pilu Jeffrey sambil memeluk ramah tubuh Dejun dengan erat. Dejun membelalakan matanya dan jantung hatinya berdegup kencang. "Tau aja kamu Kangmas lagi sibuk, capek dan nggak sempat."


"I-iya Bang. Aku nanti biar buatkan suratnya untuk Stephanie. Abang nggak apakan di tinggal?" Jawab Dejun yang masih sesak dipeluk Jeffrey dengan tingkat kelebaian yang mencapai level naudzubillah.


Winwin yang melihat raut khawatir Dejun memalingkan wajah, merasa malu dengan tingkah sahabat satu ini. Ingin rasanya ia membuka lapak giveaway untuk seorang Jeffrey. Atau tidak meruqiah sahabat alaynya ini. Winwin meringis tertawa tidak enak, tapi Dejun mengira bahwa Winwin cemburu.


"Oke. Hati-hati di jalan." kata Jeffrey menepuk baju Dejun secara bersahabat. Dejun pamit dan pulang, diikuti arah pandangan Winwin.


"Eh kau!" Winwin menepuk lengan Jeffrey keras, sang empunya hanya meringis.


"Apasih?!"


"Dari perawat dokter semua kau goda, percuma biayanya nggak mungkin gratis." Gerutu Winwin kesal, tapi masih setia dengan ekpresi menahan senyum.


"Biar nggak tegang. Kau taukan?" Jawab Jeffrey dingin. Winwin yang mengerti hanya mengangguk pelan. "Eh btw anak itu tau darimana Bio sakit?"

__ADS_1


"Mungkin Bio salah telpon orang. Soalnya pas nelpon aku yang di panggil kau, kakaknya. Bukan namaku." Winwin menjeda dan tertawa sebentar. "Tapi aku hampir panik gara-gara itu anak bilang Bio di culik, sumpah." Lanjutnya sambil menggelengkan kepala.


"Padahal malamnya baik-baik aja. Cuma emang keliatan aneh sih, dikit. Kasian tu temennya di telpon tengah malam." Jeffrey terkekeh mengingtkan dia pada kejadian subuh tadi yang sempat mengira mereka rampok.


"Kalo ku liat sih, kayaknya anak itu nggak dekat sama Bio. Dari cara omongannya, dari sikapnya. Mungkin cuma sekedar temen kelas, tapi emang kasian sih." Komentar Winwin sambil mengancingkan resleting sweater.


"Thank you ya Bro. Nanti kalo mau kesini chat/call, takutnya udah pindah ruangan. "


"Sip. Oke pulang dulu ya, cewekku jaga yang bener jangan sampe cacat." Kata Winwin sambil menepuk pelan pundak Jeffrey dan berlalu pergi. Jeffrey hanya tertawa mendengar pesan sahabatnya. Baginya itu bukan pesan yang menyentuh, melainkan gombalan garing yang gagal produk. Sedikitpun aku tidak terharu dengan gombalannya. Haha. Batinnya.


🌹


***


Carol Pov


Ternyata mencari apartemen itu tidak semudah yang ku bayangkan. Apalagi mencari apartemen yang sesuai selera. Dari sepulang sekolah kemarin aku menyusuri kota mencari gedung tapi hasilnya nihil.


Terpaksa semalam aku kembali kerumah, syukurlah suasananya sepi. Tanpa makhluk hidup didalamnya kecuali aku.


Ah tidak.


Setelah aku kedapur ternyata masih ada asisten rumah kami. Dia tersenyum melihat ku kembali tengah malam. Semalam aku mulai packing semua pakaian ku. Tidak terkecuali.


Aku mengedarkan pandangan keseluruhan penjuru kamar. Mungkin aku akan merindukan kamar ini, suatu saat nanti.


Mulai hari ini aku akan membawa mobil sendiri, yang kebetulan memang umurku sudah delapan belas tahun. Akupun juga memiliki SIM, jadi tidak ada masalah jika aku mengendarai mobil tanpa supir pribadi ku.


Tapi, hari ini sepertinya aku masih membutuhkan kamar dari rumah ini sebelum aku benar-benar terusir dari sini.


Aku telah sampai ke kelas ku sendiri. Mengeluarkan sebuah kotak bekal berisi nasi goreng merah yang kubuat pagi tadi, masih hangat.


Aku mengedarkan pandangan keseluruhan penjuru kelas, ada beberapa anak berkumpul dan berpencar didalam kelas sini. Tapi aku cukup familiar dengan suara barusan, Aren, disebelahnya ada Susan juga.


"Uh ... Baby." Jawabku sambil tersenyum dan memeluk mereka berdua.


"Sekarang beda ya," Sindir Aren halus, aku tau dia mengomentari penampilan ku.


"Tau nih, sekarang jadi anak alim,Β  baik-baik dan cupu, haha." Komentar Susan, sambil meneliti rambutku.


"Bosen di curly terus, soalnya lagi nyobain lipstik warna terbaru juga." Kataku meletakkan kotak bekal diatas meja.


"Okedeh. Orang cantik mah bebas." Sahut Aren cuek. Aku tertawa kecil.


"Oh ya, udah dapet belum tempatnya?" Tanya Susan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri.


"Belum." Jawabku singkat dan frustasi. Bingung saja rasanya, perasaan pusat kota sudah ku kelilingi.


"Susan bantu yah?" tawarnya.


Aku tersenyum melihat wajah coklatnya antusias. "Boleh-boleh." Kataku menguncang lengan kurusnya. Memang jika dibandingkan dengan ku Susan lebih kecil. Tingginya mungkin hanya sekitar 145cm saja. Terlihat mungil dan lucu untuk batas gadis SMA.


"Oke, nanti kita cari ya. Pulang sekolah Susan sama Aren tunggu di kelas Susan." Jelasnya, ya memang kelas kami berbeda, Aren berada di kelas IPS 2, sedangkan aku dan Susan di kelas IPA.


"Btw ini untuk si Bujangan mu itu ya?" Celetuk Aren meneliti kotak bekal makanan yang terletak tapi diatas meja ku.


Hampir seluruh anak di sekolah ini tau aku menyukai Winston. Karena aku memang menujukan perhatian ku secara terang-terangan. Aku selalu seperti pada orang sekitar, jika menyukai sesuatu aku akan mengatakan secara lantang, dan jika aku membenci sesuatu maka akupun akan menujukan secara terang-terangan. Tidak ingin munafik.


"Iya, tapi kayaknya bentar lagi lonceng deh jadi nanti istirahat pertama aja baru anterin ini." Jawabku apa adanya.


"Ini hari sabtu Carol sayang, kita masuk jam delapan kan ada senam dan periksa kedisiplinan." Komentar Aren dengan nada naik-turun.

__ADS_1


Aku baru ingat ternyata ini hari sabtu. Cepat sekali hari-hari yang kulalui. Aku rasa belum lama aku menghabiskan satnight ku di tempat karaoke. Ah mungkin memang dunia ini sudah tua. Atau memang perasaan ku yang kurang menikmati setiap harinya hingga aku melupakan tiap-tiap detik waktunya yang berlalu. Ku rasa otakku saja yang sedang kacau, bukan dunianya.


"Eh iya mungkin aku lupa," cengirku.


"Mau Susan ama Aren anter nggak nih ke kelas Mas Wiston?" Tanya Susan tiba-tiba dengan suaranya yang medok khas Jawa.


"Winston San, bukan Wiston. Sembarangan panggil nama anak orang. Itu Emak sama Bapaknya bikin nama selametan pake ayam ingkung telor merah dan ketan kuning. Kamu malah ubah-ubah seenaknya." Susan hanya terkekeh mendengar penjelasan Aren yang sudah seperti emak-emak mengomel pada anaknya yang menghilangkan sebuah tupperware kesayangan.


"Boleh, yuk sekalian cuci mata." Ajak ku menggeret lengan mereka berdua. Mereka hanya tertawa.


Sepertinya hari ini aku beruntung. Aku baru saja keluar kelas tapi ternyata dia sudah berada di depan kelasku sedang bertugas mendisiplinkan siswa, lebih tepatnya adik-adik kelas.


Dia menyadari keberadaanku, mengangguk dan tersenyum manis. Semanis gula merah.


Aku menghampirinya. "Hai." Sapaku ramah dan dengan suara kubuat semanis mungkin. Dia mengangkat kedua alisnya tinggi.


"Wah Ketos sibuk nih?" tanya Aren jail. Winwin mengeluarkan cengiran khasnya, membuat ia tampak lebih manis berkali-kali lipat.


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


*Aku sangat menyukaimu


Mencintai mu


Menginginkan mu


Untuk menjadi milikku


Namun sayangnya kau bukan milikku.


Aku hanya berdoa


Suatu saat nanti


Kau melihat dan juga menginginkan ku


Untuk mendampingimu*


πŸ•Š Chelsea Caroline πŸ•Š


***


πŸ₯€πŸŒΉ Actually Only You 🌹πŸ₯€


Ttd Author


πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡Β Β  #Miss_Lyr97Β Β  πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡


πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡


πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡


πŸ¦‡


πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡


***


πŸ•Š


Berikan cinta dan dukungan kalian untuk author πŸ’š

__ADS_1


__ADS_2