Actually Only You

Actually Only You
Episode 07


__ADS_3

*


*


*


*


*


*


๐Ÿฅ€๐ŸŒน Actually Only Youย  ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Satu hal


Yang membuat fikiran ku terganggu


"Cemburu."


๐Ÿฆ‡ย  Stephanie Leeusaebio ๐Ÿฆ‡


X


๐Ÿ‰ย  Alvarenda Dejun ๐Ÿ‰


X


๐Ÿ•Š Chelsea Charoline ๐Ÿ•Š


X


๐Ÿฃ Winston Wyn ๐Ÿฃ


**********


Aku tidak ingin makan. Aku tidak ingin apapun saat ini. Ntah sudah berapa lama aku hanya berbaring disini. Di tempat tidur.


Bahkan lampu rumah belum ku nyalakan satupun. Aku merasa malas untuk bergerak. Aku hanya berbaring saja.


Seragam sekolah pun Aku belum berganti..


Ku dengar suara Bunda dan Ayah masuk kerumah.


"Yaampun...ย  Ini Anak-anak belum pada pulang apa gimana? Lampu nggak di nyalain begini?"


Terserah Bunda-lah mau ngomel kek, marah kek.


"Dek.. Bunda tau Kamu udah pulang, turun sini.."


Suara Bunda membuat Ku semakin badmood.


"Anaknya tidur kali Bund. Capek."


Aku juga mendengar suara Ayah.


Aku tidak memperdulikan mereka lagi untuk saat ini. Aku bergegas mengganti pakaian tidur, tidak mandi. Hanya cuci muka saja.


Sudah Ku bilang Aku malas.


Ku rasa kakak Ku sudah datang. Aku menimbang-nimbang untuk menemuinya.


Aku harus melawan keraguan Ku untuk menemui kakak.


Pintunya tidak di tutup. Kakak Ku tidak ada di kamarnya. Tapi, bisa Ku dengar suara gemericik air di kamar mandi miliknya.


Aku memutuskan untuk masuk dan duduk di tempat tidur kakak Ku. Kebiasaan kakak jika habis pulang kuliah atau habis keluar dia akan mandi.


Membersihkan debu yang mengotori tubuhnya..


"Kenapa dek? "


Dia baru keluar dari kamar mandi langsung menanyai Ku.


"Iiiih itukan boxer Aku kak..!!! " Teriak Ku setengah nyaring.

__ADS_1


Karena kakak Ku memakai celana boxer milik Ku warna hitam. Kami sering membeli barang kembar,ย  dari piyama, boxer, hoodie, jam, topi, celana jeans dengan warna berbeda.


Karena memang aku sedikit tomboy. Tidak banyak hanya sedikit.


"Pinjem Dek." Jawabnya enteng.


"Punya Kakak kan ada."


"Alah.... boxer doang loh, Dek."


"Biarpun."


"Kamu juga itukan piyama Kakak."


"Masasih?! "


"Itu warna navi punya Kakak, Dek. Kamu yang warna hitam."


"Ini hitam Kak punya Ku."


"Navi Dek."


"Hitam kak."


"Okelah yang waras ngalah."


"Kakak... Aku nggak gila.. "


"Dasar kido."


"Kak, Kakak tuh cuma tua 10 bulan dari Aku, sebenarnya Aku panggil nama pun nggak masalah."


"Coba aja kalau berani yeeek..."


"STEVAN JEFFREY !!!!ย  ENYAHLAH KAU!!! "


Teriak Ku sekeras-kerasnya. Aku kesal Dia tidak mau mengalah.


"Apa sih Dek teriak-teriak?! Ayah sampe keselek biji salak tuh." Omel Bunda dari bawah.


Aku memutuskan keluar kamar kakak. Tapi kakak Ku justru menarik tangan Ku.


"Dek jangan ngambek ah. Kakak becanda."


"Bising! Semua laki-laki itu sama!"


Aku berusaha menepis tangan kakak. Bukan Jeffrey, namanya jika tidak usil. Sekarang dia menarik rambut Ku. Agar Aku tetap diam. Dia memeluk Ku gemas.


"Apasih kembaran beda sepuluh bulan Ku ini ha?ย  Mau tidur sama kakak apa gimana?"


Aku berusaha tenang dan menurut. Aku duduk di sebelah kakak Ku,ย  diatas kasurnya.


"Tidur sama kakak?" Tanyanya lagi, Aku menganggukkan kepala pelan.


"Kakak temenin tidur kekamar Ku ya." Pinta Ku memelas.


"Ayok!!" Kakak Ku langsung menarik selimut yang Ku duduki. Membuat Ku hampir saja terjungkal kebawah. Aku menatapnya malas lalu berdiri dan pergi ke kamar Ku.


"Ambilin! "


"Apa kak? " Tanya Ku sabar. Karena memang sedari tadi ada hal penting yang ingin Ku tanyakan.


"Kasur lipatnya sayang."


"Iiih jijik."


"Hahha.. Cepet ambilin Kakak kasur."


"Tidur sini aja. Kasur Ku luas kok, kayakย  biasanya aja."


"Enggak ah nanti kamu ngompol lagi."


Bugh!!


Aku melemparkan sebuah guling tepat ke wajahnya. Rasakan Stevan Jeffrey.

__ADS_1


"Itu tangannya kenapa? Pake perban segala?"


Aku menyingkap celana piyama Ku, niat Kuu untuk menunjukkan luka dilutut Ku.


"Pecicilan amat sih jadi perempuan, sampe kaki tangan luka-luka begitu Kamu."


"Lari tadi terus nyium aspal eh semen."


"Syukurin!ย  Mana Kakak liat.. Mau Kakak tambahin?"


"Kakak.."


"Manja."


"Kak.. pengen di puk-puk Kak."


"Tumbenan manja kamu Dek, udah tua padahal."


"Kakak.. "


"Iya-iya iih bawel."


Kakakku duduk bersandar di tempat tidur Ku. Memangku kepala Ku yang berbaring di pahanya.


Saat ini hanya kakak yang bisa membuatku tenang.


"Yang hati-hati kenapa sih jadi perempuan Dek. Nggak sayang apa sama badan sendiri? Sini tangannya."


Kakakku melihat luka di tangan Ku. Tapi bukan Jeffrey, namanya jika tidak menyiksa Adiknya dahulu. Dia memencet luka di tangan Kuu. Aku hanya meringis kesakitan dan Dia hanya tertawa Puas.


"Padahal udah besar masih aja mau tidur sama kakak. Mana minta puk-puk lagi."


"Nggak ikhlas pulang ke alam kuburan sana!" Usirku.


"Iya-iya... Ini punya Adek kok galak amat."


"Kak?"


Aku memanggilnya pelan. Dia hanya menganggukkan kepala sambil mengelus poni Ku. Agar aku cepat terlelap.


Ku kumpulkan keberanian untuk bertanya, pertanyaan yang sudah kupendam sedari tadi.


"Gimana sih tutorial minta putus?! " Tanya Ku pelan. Aku tahu pasti Kakak Ku akan sangat terkejut mendengar pertanyaan Ku.


"HAAHH?!!! "


*


๐Ÿฅ€๐ŸŒนActually Only You ๐ŸŒน๐Ÿฅ€


Apa hal yang tersulit dari sebuah hubungan?


Yaitu bertahan


Disaat kita kehilangan kepercayaan


๐Ÿฆ‡ Stephanie Leeusaebio ๐Ÿฆ‡


X


๐Ÿฃ Winston Wyn ๐Ÿฃ


Punya Kakak, Seperti Jeffrey itu idaman Author banget sumpah...


Ttd Author


๐Ÿ‰๐Ÿฃ ๐Ÿฆ‡ miss_lyr97 ๐Ÿฅ€๐ŸŒน๐Ÿ•Š


*


*


*


Maaf kalau chapter ini pendek. Dan terlalu pendek ๐Ÿ™ Karena saya mengetik satu episode di bagi tiga bagian. heheh๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2