
**"
๐ฅ๐น Actually Only Youย ๐น๐ฅ
Satu hal
Yang membuat fikiran ku terganggu
"Cemburu."
๐ฆย Stephanie Leeusaebio ๐ฆ
X
๐ย Alvarenda Dejun ๐
X
๐ Chelsea Charoline ๐
X
๐ฃ Winston Wyn ๐ฃ
***
Dari semalam fikiran ku kacau. Sangat kacau. Benar kacau. Sungguh.
Dari semalam aku mematikan ponsel ku. Aku tidak berani untuk sekedar mengecek notifikasi. Apapun itu.
Benar atau tidak?
Kurasa aku benar-benar akan gila sekarang. Bahkan aku tidak berani bertanya dan sekedar basa-basi untuk menghubunginya.
Aku hanya meminum susu. Roti denganย selai kacang, itupun hanya ku sentuh sedikit. Bahkan aku tidak berniat untuk benar menelannya.
Mood ku hancur. Fikiran ku juga. Aku menatap menu sarapan dengan amat malas.
"Dek?"
"Hhhnngg!! "
Aku sedikit terperanjat mendengar suara Kakak. ku rasa tadi dia masih dikamarnya.
"Sakit?" Tanyanya sambil merebut roti di tangan ku.
"Kak anter aku, ya hari ini? " Mohon ku tanpa menatap Kakak.
"Tumben?ย Winwin kemana?" Tanyanya lagi, membuatku harus menahan nafas sejenak.
"Sekali-kali Kakak anter kenapa? Nggak Dosa kok."
Aku tidak ingin kakak ku tahu apa yang sedang ku fikirkan. Aku tidak ingin prasangka ku membuat orang di sekitar ku tidak nyaman.
"Suara motor Winwin kayaknya, ya kan?ย ajak sarapan Dek!"
Aku menurut dan melangkah keluar. Kulihat dia, berdiri di dekat pintu. Aku harus menyembunyikan ini. Siapa tahu aku hanya salah lihat kemarin.
Aku menghembuskan nafas berat. Semoga dia tidak marah pada ku yang mematikan ponsel.
"Sarapan yuk.. Kakak nunggu di dalem." Ajak ku sambil tersenyum dan menarik tangannya.
Dia menurut, tapi bisa aku rasakan gerakannya canggung.
Bodohnya aku. Dari suara yang aku keluarkan sungguh tidak seperti biasanya. Aku sendiri sedikit canggung.
Kami sarapan tanpa banyak bicara. Sesekali Kakak mengajaknya berbicara.
Namun aku tidak.
Aku masih memikirkan bayangan kemarin. Aku kenal betul itu motor miliknya.
Aku melihat dia bersama seorang perempuan, cantik. Bahkan seingat Ku dia juga menatap kearah ku.
Aku tidak mungkin salah lihatkan?ย Tapi tidak mungkin Winwin begitu. Ini membuat kantung mata ku melingkar mengelilingi kelopak mataku, karena kurang tidur semalam.
Karena aku semalam sulit untuk tidur.
Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Karena aku terlalu sibuk dengan fikiran ku sendiri. Membuat ku menjadi sedikit pendiam.
Saat aku akan naik dia menatap ku sekilas namun cepat ku alihkan pandangan.
Aku terlalu canggung.
Aku yakin itu bukan dia.
Tapi aku yakin itu dia.
"Kenapa diam saja?" Suaranya membuyarkan lamunan ku.
Ku lingkarkan tangan ku ke tubuhnya. Aku memejamkan mata ku. Dalam hati aku tidak ingin itu benar terjadi.
Dia sedikit terkejut dengan tingkah ku. Aku tidak bisa berkata apapun untuk saat ini. Aku ingin bertanya dan memastikan, tapi aku takut.
Sampai motor kami berhenti di depan gerbang sekolah pun, aku masih belum melepaskan pelukan ku.
Aku terlalu takut untuk melepaskannya. Aku takut.
Dia menyentuh tangan ku. Aku tahu dia mungkin risih dengan pandangan anak-anak yang lalu-lalang.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian baru aku merasa sedikit lega. Aku pun turun dari tempat ku.
"Apa semalam kau tidur nyenyak?" Tanyaku.
"Kurasa harusnya itu pertanyaan dari ku untuk-mu. bahaimana? " Tanyanya balik dan mencubit pipi ku.
Aku dengan cepat mengalihkan topik.
"Hmm..ย Coklat?" Pinta ku, mengadahkan tangan kearahnya.
Dia lalu membuka tasnya dan memberikan beberapa coklat untuk ku. Aku tersenyum.
Percayalah aku tersenyum.
Sangat mudah membuat moodku bagus, memang.
"Aku akan melihat mu masuk kedalam masuk sana!" Suruhnya.
"Iiiihh kenapa jadi formal.." Kesal ku menghentakkan kaki pelan.
"Siapa yang mulai?"
"Yaudah aku masuk dulu, hati-hati di jalan Baby chicken. Jangan lupa bahagia."
Aku melambaikan tanganku mengakhiri.
**********
Winwin Pov
Kudapati lagi beberapa bungkus coklat dan kotak bekal, lengkap beserta dengan suratnya.
Aku membuka dan membaca satu-persatu surat yang ada. Surat dengan sampul beraneka ragam, manis dan lucu.
Hai kak aku penggemarmu, coklatnya dimakan yah..
Kak aku suka kamu, kalau kamu suka nanti temuin aku di perpus yah.
Sekali-kali suratnya di bales dong. Kapan kita bisa pacaran?
Aku akan selalu menunggu mu.
Aku tersenyum kecil membaca surat-surat dari mereka.ย Apa mereka tidak tahu bahwa aku telah memiliki kekasih?
Berbicara soal kekasih.
Aku masih belum bisa jujur persoalan kemarin. Aku masih terlalu takut untuk membahasnya.
Walaupun dia bersikap seperti biasanya, bisa kurasakan perbedaannya.
Huh...
"Hai Winston. Ini untuk mu."
Seorang gadis tiba-tiba menyodorkan sebuah kotak bekal.
Lagi dan lagi.
Membuatku sedikit terkejut dari lamunan ku. Aku melihat wajah cerianya.ย Dengan suara yang khas membuat ku cepat mengenali suara itu.
"Terimakasih."
Aku meraih kotak itu. Kulihat dia tersenyum. Masih berdiri.
"Carol, duduk di samping Kamu boleh?" Tanyanya lembut, sedikit manja.
Aku melebarkan mataku. Bagaimana bisa dia seberani ini?
Dimana Tony?
Kuharap Tony ataupun Deki cepat datang ke kelas dan mencegah gadis ini. Aku memang tidak tega melihatnya berdiri begitu. Tapi bukan berarti dia seenaknya boleh duduk disamping Ku.
"Boleh nggak? Malah bengong. Capek nih berdiri terus."
Akupun mengangguk pasrah. Terpaksa. Sebagai seorang lelaki tidak mungkin aku membiarkan seorang perempuan seperti ini. Walaupun aku tidak mungkin bisa mau.
Ini semakin membuat ku merasa bersalah padanya.
"Weh Bro, bagi dong makanannya."
Temanku Deki, akhirnya datang dan merebut kotak bekal itu. Toh aku tidak mempersalahkan hal itu.
"Eh Deki apaan sih?!ย Itu bukan buat Deki tau, itu buat Winston."
"Punya Winwin, ya punya aku juga."
"Mana bisa. Sini balikin. Aku masak bukan buat Deki ah."
"Apaan sih nih betina. Minta dikit ajaloh, masa gaboleh."
"Gaboleh. Deki beli aja. Aku bikin buat Winston bukan buat Deki, faham? "
"Pelit."
"Biarin."
"Winwin aja ga masalah ini dimakan siapapun. Iya kan Win?"ย ย
Aku memilih keluar kelas, daripada mendengar suara ribut dari mereka. Aku meniggalkan mereka berdua begitu saja.
__ADS_1
************
Kelas kami mengadakan kerja kelompok. Aku kebagian kelompok dengan beberapa orang teman kelas Ku.
Aku tidak begitu mengenal mereka. Aku hanya ikut-ikutan saja.
"Nanti yang jadi moderator Bio aja ya, Aku yang tukang tulis."
"Bio jadi juru kunci aja, biar pas ada yang tanya Bio yang jawab, ya Bio?"
Aku hanya mendengarkan ocehan dan perdebatan mereka. Toh mereka tidak ada yang mengajak Ku berbicara juga.
"Terus yang gambar siapa?ย Disini nggak ada yang bisa gambar."
"Oh iya Dejun bisa gambar nggak?"
Aku memandang mereka satu-persatu. Dan mengangguk pelan. Dan mengambil kertas karton yang tergeletak di meja.
Deg!
Tangan Ku bukan menangkap karton yang akan Ku ambil. Melainkan memegang tangan seorang gadis yang menatap ku tak mengerti.
"Maaf." Ujarnya pelan.
"Heem.."
Aku langsung berbalik untuk sedikit menjauh.
"Dejun." Panggilnya.
"Apa?"
"Kamu nggak perlu mengasingkan diri, kumpul aja yuk." Katanya.
Aku melihat sekilas kearah anak-anak, lalu menurutinya.
Kuakui. Gadis ini pintar. Cara Dia menjelaskan pada kami. Cara dia memberikan arahan pada kami. Terlihat sekali Dia memang berkualitas.
Tapi Aku kurang terlalu menyukai sikapnya yang sok akrab dengan siapapun ini. Terlalu gampang bergaul. Bahkan cepat sok akrab dengan orang asing seperti ku.
"Dejun." Panggilnya untuk sekian kali hari ini.
Aku melihatnya sekilas. Ia menyuguhkan permen. Ya Aku tau, bukan hanya padaku. Tapi Aku tidak menyukai gadis yang seperti ini.
"Ambil."
Dia meletakkan permen itu keatas meja Ku. Aku hanya memutar bola mata malas.
"Udahlah Bio, orang itu dingin, mentang-mentang ganteng."
What?!ย
Apa itu?!
Mereka bilang Aku dingin?
Dasar hanya menilai orang dari luarnya saja. Aku bukan orang yang dingin. Aku hanya bicara seperlunya saja. Sudah.
"Maafkan mereka, cuma becanda kok." Timpalnya.
Aku tak mengerti dengan gadis ini. Mengapa dia berusaha akrab dan berbicara yang tidak penting seperti ini?
*********
*
*
*
*
*
*
๐ฅ๐นActually Only You ๐น๐ฅ
Apa hal yang tersulit dari sebuah hubungan?
Yaitu bertahan
Disaat kita kehilangan kepercayaan
๐ฆ Stephanie Leeusaebio ๐ฆ
X
๐ฃ Winston Wyn ๐ฃ
Ttd Author
๐๐ฃ ๐ฆ miss_lyr97 ๐ฅ๐น๐
*
*
*
__ADS_1
Bagi yang masih bingung, cerita ini di buat dengan beberapa sudut pandang. Dari sudut pandang Author, dan para tokoh, tergantung situasi dan kondisi ceritanya.