Adam & Hawa

Adam & Hawa
Diam-diam Cinta Xl


__ADS_3

Seminggu setelah dirinya di ijinkan untuk tidak bekerja dan beristirahat dirumah, kini hawa sudah mulai kembali bekerja lagi. Setelah di rawat di rumah sakit selama tiga hari ,dan itupun karena paksaan hawa bisa keluar dari rumah sakit. Sebenarnya Adam memintanya untuk beristirahat di rumah sakit selama seminggu,tapi hawa menolaknya.


Ya kali dia pikir gue nggak mikirin buat balikin duit dia buat bayar biaya menginapnya di rumah sakit. Apalagi dia pesen kamar yang VIP, bisa habis semua tabungan dirinya buat bayar biaya rumah sakit selama seminggu.


Setelah kejadian kemarin hawa belum bertemu dengan Adam lagi karena jadwal Adam yang cukup sibuk Minggu kemarin. Adam hanya berpesan kepadanya untuk menjaga diri baik-baik supaya tidak terjadi kejadian seperti kemarin lagi. Lalu masalah motornya, kini sudah bisa di pakai lagi karena sudah di perbaiki oleh bengkel kepercayaan Adam.


Berita baiknya lagi, Adam yang membiayai semua perbaikan motor dirinya serta Andres. Kurang baik apa coba idolanya . Hawa jadi merasa tidak enak karena kecerobohan dirinya, malah Adam yang harus membiayai semuanya. Dari biaya rumah sakit hingga biaya perbaikan motor mereka pun Adam yang menanggungnya.


Apalagi Adam menolak tawaran nya untuk di kembalikan lagi uangnya, dia akan marah dan merasa bersalah jika hawa mengembalikan uangnya kembali. Orang tua hawa sangat berterimakasih kepada Adam, mereka benar-benar terkejut saat mereka di kabari bahwa anaknya mengalami kecelakaan setelah seharian anaknya tidak bisa di hubungi. Dan alangkah terkejutnya lagi bahwa yang menolong anaknya adalah sosok idola anaknya sendiri.


Hawa benar-benar merasa malu karena orang tuanya membeberkan semua rahasianya yang begitu mengidolakan Adam Alditri. Bahkan tak segan-segan ibunya meminta tanda tangan Adam di saat anaknya sedang terbaring di rumah sakit.


Adam sendiri tidak merasa terganggu dengan tingkah laku dari orang tua hawa, mungkin hawa sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu dari fans nya hingga membuatnya begitu santai. Berbeda dengan hawa yang langsung menutupi wajahnya dengan jaket entah punya siapa yang tergeletak di samping kasurnya.


Adam juga menyambut dengan baik kedua orang tua hawa, dia mendengarkan dengan antusias saat orang tua hawa menceritakan keseharian anaknya dan juga pekerjaan anaknya. Sesekali Adam melihat kearah ranjang yang hanya tempati, dia tersenyum manis saat pandangan mereka bertemu. Kemudian hawa yang merasa salah tingkah di berikan senyuman manis oleh Adam langsung memalingkan wajahnya malu ke arah jendela yang berada di kamar rumah sakit.


Kembali lagi saat ini, hawa sedang menghadap ke atasannya ,yaitu pak Rohmat. Tangan dan kakinya sudah bisa di ajak kerja sama jadi dia siap di tempatkan di lapangan lagi. Hawa pikir lebih baik dia kerja di luar dari pada di depan komputer, kepalanya akan pusing jika harus berlama-lama menatap komputer.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang?"


"Alhamdulillah sudah sehat pak."


"Baguslah kalau begitu. Dan untuk masalah kamera dan ponselmu bagaimana?"


"Untuk kamera saya sudah membeli kembali pak, tapi untuk ponsel untuk sementara waktu saya memakai ponsel ibu saya. "


"Kamu benar sudah bisa bekerja di lapangan lagi? Saya tidak mau yah orang berfikir kalau saya adalah atasan yang kejam karena membiarkan anak buahnya yang baru saja sembuh sudah bekerja di luar kembali."

__ADS_1


"Saya sudah sehat kok pak jadi bapak tidak perlu khawatir tentang kondisi saya."


"Baguslah kalau seperti itu. Kali ini saya akan memberikan tugas yang ringan, yaitu kamu meneruskan tentang pengintaian kamu tentang Artis Aurora. Kamu sebelum kecelakaan bukannya sudah mendapatkan beritanya bukan? Jadi kamu tinggal lanjutkan saja. Saya akan beri kamu waktu hingga besok. Mengerti?"


"Baik pak,akan saya kerjakan. Kalau begitu saya permisi."


Hawa berjalan keluar ruangan dengan perasaan yang campur aduk. Padahal selama seminggu ini dia sudah menghapus bayang-bayang pasangan kekasih itu dari pikirannya.


"Kanapa pak Rohmat itu nggak menyerah juga sih sama Aurora? kirain setelah gue sakit kemarin dia lupa sama tugas gue, tapi kenapa harus dengan Oppa ? apa tidak ada wanita lain selain Aurora sih Oppa?" Gerutu Aurora . Dia kini sedang berjalan kearah kubikelnya yang terletak di lantai 3. Setelah menekan tombol lift turun, hawa berdiri sambil menatap pantulan dirinya yang ada di depannya.


Ting


Hawa memasuki lift yang sedang kosong, dia menyandarkan tubuhnya ke dinding yang terbuat dari kaca itu setelah menekan angka 3 dimana ruangannya berada. Ruangan pak Rohmat memang berada di lantai 6 maka dari itu hawa tidak mungkin menggunakan tangga untuk menuju ruangannya.


*Gila aja gue harus menyia-nyiakan fasilitas kantor yang memang di peruntukan untuk karyawannya.


Hawa keluar dari lift yang berbentuk kubus itu menuju kubikelnya, saat dirinya berjalan hawa melintasi kubikel Vivi temannya. Dia langsung menghampirinya sebentar untuk bertanya kabar saja. Selama seminggu dirinya cuti ,Vivi 2 kali menjenguknya di rumah sakit dan juga di rumahnya. Karena masalah kerjaan yang sibuk membuat Vivi jarang menjenguknya.l, saat itu pun Vivi menyempatkan di tengah kesibukannya mengejar deadline.


"Hai mba bro..! Gimana kabar Lo? Kayaknya sih udah baikan."


"Nanya sendiri jawab sendiri. Emang sinting loh yah?"


"Kayaknya Lo kemarin waktu di CT scan , Dokter lupa meriksa otak Lo deh wa?"


"maksud Lo?"


"Siapa tau otak Lo kemaren kegeser gara-gara kebentur aspal?"

__ADS_1


"Bangsul Lo emang. Temen nggak ada akhlak. Sini Lo ! Awas Lo yah kalau besok Lo sakit gue nggak bakalan jengukin Lo !"


"Yeh..nih anak satu malah doain gue sakit lagi."


"Lagian Lo kalau ngomong suka bener sih."


Hawa dan Vivi saling menertawakan diri mereka sendiri, mereka berpelukan seperti Teletubbies yang sudah lama tidak berjumpa. Pemandangan yang seperti itu sudah biasa bagi mereka yang bekerja di lantai 3, justru mereka sangat menyukai pemandangan itu.


Karena hawa dan Vivi memang primadona di lantai 3, jadi mereka sangat berharap bisa berinteraksi dengan mereka berdua. Sementara hawa yang sering kerja di luar membuat mereka sangat merindukan kehadiran hawa di ruangan 3 ini. Dalam sebulan hawa akan bisa tidak menyambangi lantai 3 karena bekerja di luar, jadi para lelaki di lantai 3 sangat senang saat hawa berada di ruangan, karena itu seperti sebuah angin segar di antara kepenatan mereka bekerja.


"Hai hawa? Maaf yah kemarin belum sempet jenguk kamu. Ini saya sudah siapkan makanan buat kamu dan ini juga ada beberapa pemberian dari karyawan lain. Semoga kamu suka yah?" Ucap Rian mewakili semua karyawan yang ada di lantai tiga, sementara karyawan lain yang berjumlah kurang dari 20 kini sedang berdiri mengerubungi dirinya di kubikel Vivi.


Hawa langsung tersenyum manis kepada mereka semua, hawa juga mengambil kue yang di berikan oleh Rian.


Rian adalah seniornya di kantor. Umurnya yang baru menginjak usia 27 tahun tapi masih lajang serta tampangnya yang sangat tampan. kulitnya yang sawo matang makin membuatnya di gilai karyawan di kantor, dan baru kali ini hawa bisa berinteraksi dengan seniornya ini.


Vivi menyenggol lengan hawa untuk memintanya mengucapkan sepatah dua kata sebagai ucapan terima kasih atas pemberian dari karyawan yang lain.


"Makasih buat kalian semua, saya sangat berterimakasih kepada kalian atas perhatiannya. Dan Alhamdulillah berkat doa kalian semua saya sudah bisa bekerja kembali dengan kalian semua."


Para karyawan yang di dominasi oleh kaum lelaki langsung bersemu wajahnya. Mereka sangat senang bisa melihat senyum manis hawa terpampang di hadapan mereka.


Rian menatap wajah hawa dengan senyum lega karena akhirnya dia bisa melihat lagi wajah gadis yang dia sukai, bukan rahasia lagi kalau hawa menjadi incaran banyak kaum lelaki yang masih jomblo di kantor. Selama Rian bekerja di kantor ini dia baru kali ini mengagumi seorang gadis yang begitu ceria serta ulet dalam bekerja seperti hawa. Dia juga tau kalau hawa sangat mengidolakan artis bernama Adam Alditri, karena pernah sesekali saat mereka makan di kantin Rian mendengar obrolan hawa tentang Adam disela-sela makan hawa dan Vivi.


Rian tidak mempermasalahkan tentang kecintaan hawa kepada lelaki bernama Adam, karena Rian pikir itu tidak berpengaruh di dunia nyata. Selama ini Rian selalu maju mundur dalam mendekati hawa, tapi kali ini dia akan berusaha semaksimal mungkin dalam mendekati gadis incarannya.


Aku *pasti akan mendapatkanmu hawa. karena kamu adalah gadis yang pantas bersanding denganku.

__ADS_1


TBC*


__ADS_2