Adam & Hawa

Adam & Hawa
Chapter LII


__ADS_3

Adam dan Hawa kini sedang berada di sebuah rumah yang cukup megah. Pria itu membawa sang kekasih ke sini untuk memberikan surprise, hari jadi mereka yang pertama. Semacam anniversary buat hubungan mereka.


Sudah begitu banyak lika-liku yang mereka alami, dalam menjalani hubungan ini. Oleh karena itu, Adam yang sudah mempersiapkan semua ini, berharap sang kekasih akan menyukainya.


"Kita sebenarnya mau kemana sih, Oppa?" Hawa berusaha memegang lengan kekar Adam yang berada di sampingnya. Mata gadis itu memang sengaja ditutup dengan kain oleh pria itu. Supaya tidak mengintip, katanya.


"Pokoknya rahasia," Adam terkekeh, kemudian menghentikan langkah mereka di depan sebuah pintu kayu besar, "Oke, kita sudah sampai, Sayang. Setelah hitungan ketiga, kamu bisa membuka mata kamu yah sayang!" ucap pria itu sambil melepaskan ikatan kain di kepala sang kekasih.


"Kok, aku jadi deg-degan, yah. Oppa nggak lagi ngerjain aku kan sekarang?"


"Ada, deh."


"Oppa~, jangan seperti itu. Aku cubit nih yah!"


Adam tertawa mendengar suara sang kekasih yang merajuk, "aku hitung, yah. Sa-tu du-a ti- ... ga, buka mata kamu sayang!" titahnya lembut.

__ADS_1


Hawa mengerjapkan kedua matanya yang terasa silau saat membuka mata.


"Pelan-pelan saja!" ujar Adam pelan.


Hawa pun mulai memfokuskan netranya untuk melihat sebuah bangunan rumah berada di depan mereka. Dengan linglung hawa menolehkan ke arah sang kekasih, "Rumah siapa, Oppa?" tanya hawa tak mengerti.


Tangan hangat pria itu merengkuh tubuh sang kekasih dari arah belakang. Sedangkan si gadis yang masih bingung hanya diam, "Ini adalah rumah masa depan kita, apa kamu suka?" tanya lelaki itu di atas pundak sang kekasih.


Netra Hawa membola terkejut dan dia juga membekap mulutnya sendiri dengan tangan. Lalu ia menoleh ke arah sang kekasih, dengan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Bibir gadis itu bergetar, "A-pa ini tidak terla-lu berlebihan, Op-pa?" ujar hawa sambil merengkuh sang kekasih.


"Tidak ada yang berlebihan untuk seorang gadis cantik seperti dirimu, Sayang. Lagian aku juga sudah mempersiapkan ini selama setahun hubungan kita. Jadi, ini akan menjadi rumah kita dan anak-anak kita, apa kamu keberatan?" cicit Adam saat mengucapkan kalimat terakhir.


kaki gadis itu melangkah mundur, kemudian mengambil tangan sang kekasih dan digenggamnya lembut, "Oppa~," rajuknya.


"Hawa Citra Febriyanti, bersediakah kamu menerima aku menjadi pendamping hidupmu. Dan menjadi idola yang sesungguhnya untuk kamu dan calon anak-anak kita nanti?" Adam berlutut di depan sang kekasih. Sedangkan Hawa yang sudah tidak sanggup menahan air matanya, langsung menangis bahagia.

__ADS_1


"Apa kamu mau menerima lamaran ku, Sayang?" tanya Adam sekali lagi.


Hawa kemudian menggigit bibir menahan Isak tangis. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya gadis itu mengangguk dengan senyum merekah di bibir, "Iya, Oppa. Aku mau," jawab gadis itu malu-malu.


Adam yang mendengar itu langsung tersenyum lebar. Kemudian membawa tubuh gadis itu kedalam rengkuhannya. Diputarnya tubuh mereka hingga membaut hawa terkikis geli.


"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu." Teriak Adam di depan halaman rumah masa depan mereka dengan bahagia.


Tak dia sangka, akhirnya Hawa menerima lamaran dia. Setelah sekian kali dia melamar sang kekasih, dan selalu berakhir penolakan. Lalu saat sang kekasih menerima lamarannya kali ini, Adam sangat bahagia hingga tak mau melepaskan rengkuhan si gadis.


Hawa juga merasa bahagia, bisa menerima Adam sebagai calon suaminya. Dia sudah berpikir lama dan bertanya kepada kedua orangtuanya untuk masalah ini. Kemudian jawaban ini lah yang dia dapatkan setelah sholat istikharah.


*Semoga kau adalah jodoh yang memang Tuhan takdirkan untukku.


Aku janji akan membuatmu bahagia untuk selamanya, Sayang*!

__ADS_1


End


__ADS_2