Adam & Hawa

Adam & Hawa
chapter XLVI


__ADS_3

Acara meeting dadakan telah usai. Para karyawan serta Atasan mulai kembali turun ke lantai bawah.


"Lo mau langsung pulang atau kemana?" tanya Vivi. Mereka kini sedang berjalan bersama menuju parkiran.


"Gue ada urusan. Jadi gue duluan, yah! Bya semua, assalamualaikum." Pamit Hawa kepada rekan kerjanya.


Gadis itu tidak sadar kalau sedari tadi Devin melihat ke arahnya. Cowok itu begitu penasaran dengan sosok gadis ceria itu.


Dahinya mengernyit heran, saat melihat ada sebuah mobil yang menjemput gadis itu. Netranya mengikuti kemana mobil itu melaju, hingga tidak terlihat lagi olehnya.


"Pak Devin kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiran, Bapak?" tanya Pak Rahmat.


Devin hanya melihat sekilas ke arah Pak Rahmat, lalu menggeleng.


"Saya pergi dulu." Jawabnya dingin.


"Hati-hati di jalan, Pak."


Devin melangkah ke arah mobilnya berada. Ia heran dengan perasaannya sekarang. Bagaimana bisa gadis itu membuatnya penasaran seperti ini.


"Siapa sebenarnya gadis itu? Dan bagaimana bisa hanya dengan melihat gadis itu tersenyum, jantungku bisa berdetak seperti ini." Ujarnya pada diri sendiri.


"Ckckck." Decaknya.


 


Sementara itu, Adam dan Hawa kini sudah berada di rumah si gadis. Hawa sengaja membawa sang kekasih untuk menyambangi rumahnya kembali.


"Maaf yah, Oppa. Kita nggak jadi makan di luar, karena ini sudah malam. Lagian aku juga nggak mungkin membuat orang rumah khawatir dengan anak gadisnya ini," sesal gadis itu.


Adam mengusap rambut sang kekasih dengan lembut. "Iya nggak apa-apa. Justru aku malah senang bisa datang ke rumah kamu lagi." Jawabnya.


Wajahnya berubah murung kembali saat teringat kejadian tadi di apartemen kekasihnya. "Oppa tadi waktu aku pergi, pasti kelimpungan nyariin aku yah?" cicit gadis itu.


"Ya kamu pikir aja sendiri. Baru di tinggal ke dapur, tiba-tiba pacarnya sudah pergi. Mana main kabur lagi. Coba kalau kamu di posisi itu? Apa yang kamu rasakan?" jawab Adam rada jengkel.


Ia tadi sudah seperti orang gila yang mencari-cari keberadaan sang kekasih yang menghilang tiba-tiba. Ia sampai menghubungi Scurity di lantai bawah, lalu menanyakan gadisnya


Wajah gadis itu berubah menyesal. Ia sungguh lupa dengan sang kekasih, saking paniknya. "Iya, maaf Oppa. Tadi itu mendadak banget, Atasanku nyuruh karyawan lantai tiga buat dateng kembali ke kantor. Katanya ada urusan penting," timpal gadis itu sambil menunduk.


"Jangan bilang kamu mau tugas ke luar kota lagi, yah, sayang?" cecar Adam.


Bagaimana bisa pekerjaan sang kekasih lebih padat dari dirinya. Bahkan ia saja kalau sedang ada acara ke luar kota, paling lama 3 hari. Kalaupun liburan dia hanya satu Minggu saja, setelah nya ia pulang lagi.


Lah ini ...,

__ADS_1


"Si*lnya bukan. Kkkkk," umpat gadis itu, hingga membuat Adam bernafas lega.


"Terus ada apa?"


Bibir gadis itu langsung cemberut. Membuat Adam gemas dan ingin menciumnya. Namun itu hanya pikiran kotornya saja.


"Haah, ternyata pak Rahmat cuma mau pamitan ke Akita semua kalau dia bakalan pindah di luar kota. Dan tadi sekalian kenalan sama atasan baru." Jawabnya gadis itu.


Adam mulai was-was.


"Cewek apa cowok?"


"Cowok,"


"Masih muda atau udah tua?"


"Masih muda, kayaknya,"


"Ganteng nggak?"


"Lumayan."


Sekarang gantian, bibir Adam yang cemberut. Sedangkan sang pelaku malah tertawa geli.


Gadis itu membawa tangan sang kekasih, kemudian digenggamnya.


Seringai keluar dari bibir laki-laki itu. Ia tolehkan Wajahnya agar bisa menatap wajah sang kekasih. Kemudian tangannya yang menganggur, membelai pipi sang kekasih.


"Beruntung sekali aku mendapatkan cinta dari perempuan seperti kamu, sayang. Tolong! Jangan tinggalkan aku! Karena aku tidak bisa hidup tanpa kamu, sayang."


Hawa membiarkan dirinya tenggelam dalam buaian cinta dari sang pujaan hati. Kapan lagi ia bisa di cintai oleh seseorang seperti Adam Alditri.


"Bukankah seharusnya aku yang bicara seperti itu sama kamu? Kamu tahu sendiri, aku hanya seorang perempuan biasa yang beruntung bisa di cintai oleh kamu,"


"kamu tidak tahu saja, kalau saat kita berada jauh. Aku begitu ingin mendatangimu dan memelukmu seperti sekarang ini. Dan mengikat kamu di dalam kamar, agar aku bisa memandang wajahmu sepuas hatiku,"


"Ciih. Emang aku apaan sampai harus di ikat. Kamu pikir saya anj*ng yang bisa kamu pandangi setiap hari."


"Kalau kamu ingin, kita bisa menikah secepatnya?"


"Apa kamu sanggup hidup tanpa fans kamu?"


"Bagiku kamu sudah lebih dari cukup. Lagian kalau mereka memang bener-bener penggemar diriku, mereka pasti akan mendukung idolanya."


"Kamu tidak tahu bagaimana di posisi kami. Orang yang selama ini kami cintai dengan setulus hati, memilih bersanding dengan orang lain. Apa kamu akan ikhlas?" tanya hawa berapi-api.

__ADS_1


Adam yang melihatnya malah terperangah. Tawanya meluncur begitu saja. Ekspresi sang kekasih begitu menghiburnya.


"Ckckck, sudah-sudah. Lebih baik kita bahas yang lain saja. Orang tua kamu kemana? Dan Randy juga kemana? Biasanya dia sudah seperti satpam komplek yang hobinya keliling." Tanya laki-laki itu sambil mencari-cari keberadaan sang calon adik ipar.


Karena biasanya, jika ia bertandang kerumah snag kekasih. Randy sudah siap sedia buat jadi orang ketiga di antara mereka.


"Kkkkk. Ada-ada saja. Ayah sama Ibu kayaknya lagi di dalem, kalau Randy mungkin dia lagi nongki sama temen-temen nya." Tawa renyah gadis itu membuat senyum Adam juga ikut keluar.


Seakan sadar bahwa waktu sudah cukup larut, Adam memilih ijin untuk pulang kerumah. Ia tidak mau mengganggu istirahat sang kekasih. Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang ingin di utarakan kepada sang kekasih.


"Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama di sini, bareng kamu. Namun aku nggak enak sama orang tua kamu. Besok aku jemput yah, biar nanti pulangnya Bima suruh jemput kamu. Soalnya aku sore masih harus take di lokasi syuting." Ujarnya


"Iya, tapi nanti pulangnya aku bareng Vivi saja. Biarlah Bima menemani kamu di sana." Elak gadis itu.


Adam menatap wajah sang kekasih dengan mendamba.


"Belum juga pergi, aku sudah rindu padamu." Ucapnya.


"Kkkk, ada-ada saja, Oppa!"


"Beneran,"


"Iya-iya percaya."


"Bohong. Jelas terlihat si mata kamu!" Tuding Adam saat melihat wajah Hawa.


"Oppa please, deh!" Rajuknya manja.


Tangan Adam membawa punggung tangan sang kekasih, kemudian dikecupnya. "Sayang?" panggilnya.


"Hmm...,"


"Kalau aku berniat serius dengan kamu, apa kamu mau?"


"Maksudnya, apa?" tanya gadis itu bingung.


"Kalau aku ingin melamar kamu, apa kamu bersedia?"


Seperti ada suara petir menyambar. Wajah hawa berubah pias.


TBC


Akankah Hawa menerima lamaran sang kekasih? Yuk tunggu lanjutannya besok.


Jangan lupa like, komen, masukin ke favorit biar kalian tahu kapan novel ini update.

__ADS_1


Sambil menunggu novel ini up, kalian bisa mampir ke novel karya teman literasiku. Yuk kepoin!



__ADS_2