
["Selamat pagi matahariku?"] ucap seseorang dari seberang telepon.
Hawa tersenyum mendengarnya. Ia bangun dari tidurnya, dan duduk menyila di atas ranjang.
"Selamat pagi," jawabnya serak.
["Duh, yang baru bangun tidur? Seksi sekali suaranya," ] goda Adam.
"Nggak usah ngadi-ngadi yah, Oppa. Nanti kalau aku terbang gimana? Lagian mana ada seksi, seksian suara Oppa," kilah hawa sambil merona malu.
["Kkkk. Kesayanganku, lagi ngapain?"]
"Baru selesai sholat, terus tadi lagi nonton MV nya Oppa. Oppa udah sholat, lom?" tanya hawa sambil melihat ke arah jam dinding, yang menunjukkan pukul 05.15 WIB.
["Sudah dong. Masa calon iman belum sholat, malu sama calon makmum. Kkkk,"]
Hawa memegang pipinya yang semakin panas karena malu.
"Oppa, berhenti," Rajuk Hawa.
["Ckck. Manis banget deh pacar aku. Jadi pengin cepet-cepet di halalin."] decak Adam.
"Emang berani?" goda Hawa.
["Beranilah! Mau sekarang pun, aku siap!"] Tegas Adam.
Hawa memilih berbaring kembali. Saking tidak bisa menahan debar jantungnya yang bertalu, ia sampai menggigiti sarung gulingnya sendiri.
"Bisa nggak, Oppa diam dulu?"
["Kenapa?"] tanya Adam tak mengerti.
"Oppa sudah membuatku seperti ingin pingsan karena mendengar ucapan, Oppa," ungkap Hawa jujur.
["Kkkk, jadi pengin lihat muka kamu sekarang, deh. Ganti vidio call, yah sayang?"]
"Nggak." Sentak Hawa kaget.
"Maksud, aku, ini, ehm ... aku belum mandi. Lagian ini masih pagi. Jadi nggak benak sama orang lain," kilah Hawa.
Tanpa sadar ia menggigiti kukunya sendiri. Ia tidak mungkin muncul dengan wajah baru bangun tidurnya, bisa ilfill nanti Adam padanya.
"WOI, masih subuh, jangan berisik!" Teriak adiknya, Randy.
Ia juga mendengar, Randy menggedor pintu kamarnya cukup keras. Hingga membuat Hawa terkejut.
"Sebentar yah, Oppa." Ucap Hawa.
Ia meletakan ponselnya di atas ranjang. Lalu berjalan untuk ke arah pintu kamar.
Ia membuka pintunya dengan cepat, sehingga membuat tangan Randy mengambang di udara.
"Apaan?" sergah Hawa.
Randy langsung mundur saat melihat wajah kakaknya yang tidak bersahabat.
"Lo pagi-pagi ngobrol sama siapa?" tanya Randy.
"Urusan lo apa?"
__ADS_1
"Sumpah, yah, gue udah nyoba nanya baik-baik sama lo. Tapi, lo nya malah kaya gitu, dasar Nenek Lampir," cecar Randy sambil berlalu pergi dari hadapan Hawa.
"Biarin, yang penting gue cantik. Dari pada situ, masih kecil tampang udah kayak kakek-kakek." Olok hawa.
Randy yang berniat membuka pintu, membatalkannya. Ia melangkah mendekati sang kakak, lalu menarik kepala Hawa untuk dikepit di bawah ketiaknya.
"Biar pingsan sekalian," kata Randy sambil tertawa.
"Ah! Ibu, tolong, Hawa! Ini Randy ngepitin Kakak, Bu." Hawa mengadu sambil berusaha melepaskan diri dari ketiak Randy yang berbau asam.
"Sumpah, bau banget ketek, lo! Lepasin, nggak? Gue bakalan aduin lo sama Ayah, biar Ayah nggak ngijinin lo buat ikut study tour.!" Ancam Hawa.
Randy tidak memperdulikan kakaknya yang meronta-ronta minta dilepaskan, ia malah semakin mendekatkan wajah kakaknya di ketiaknya.
...----------...
Sementara di tempat lain, alias apartemen Adam. Ia tertawa dengan cukup keras saat mendengar suara ribut-ribut dari telepon nya. Ia sengaja tidak mematikannya karena ia masih ingin berbicara dengan pacarnya.
Suara hawa yang menjerit-jerit minta tolong, masih menjadi backsound di kamarnya. Ia sengaja memencet tombol speaker di ponselnya.
Sementara menunggu Hawa yang masih gelud sama adiknya, Adam berolahraga di kamarnya.
Dia berjalan di atas treadmill dengan santai. Tak lupa ia tetap mendengarkan suara Hawa beserta keluarganya.
Adam terkikik geli, saat lagi-lagi adik Hawa mengusili kakaknya.
"Jadi kangen sama adik gue. Tuh bocah juga kurangajar, nggak pernah ngabarin kakaknya. Dia ngubungin gue cuma buat minta duit doang. Emang adik yang menyebalkan," gerutu Adam sambil berlari di atas treadmill.
Sudah lebih dari 10 menit, tetapi pertikaian antara kakak dan adik itu masih belu usai juga. Membuat Adam menjadi kelaparan sendiri. Ia berjalan ke luar kamar menuju dapur untuk mengambil air minum di kulkas.
Maklum anak bujang tinggal sendirian, yah begini jadinya. Pagi-pagi nggak ada yang masakin.
"Yang penting ada makanan, lah, dari pada nggak sama sekali." Ucap Adam pada dirinya sendiri.
Ia menuangkan oatmeal ke dalam mangkok, lalu ditambahkan dengan susu. Ia mengaduknya kemudian.
Setelah selesai, ia berniat mengambil ponselnya terlebih dahulu yang tertinggal di kamar.
Saat menginjakkan kakinya di kamar, ternyata suara ribut-ribut tadi sudah berubah menjadi hening. Ia melihat panggilannya masih terhubung dengannya.
Adam menempelkan ponsel ke telinganya.
"Hallo," sapa Adam ragu.
["Oppa,"] jawab hawa kemudian.
Adam yang mendengar suara hawa langsung tersenyum.
"Udah selesai?" tanya Adam lembut, sambil berjalan ke ruang makan.
Adam duduk di kursinya dan bersiap menyendok sarapannya, tetapi urung di lakukan.
["Maaf, yah, Oppa. Tadi ada gangguan sedikit, ehm ... maksudnya cukup lama. Hehehe,"] sesal Hawa.
Adam tersenyum kecil.
"Nggak ada yang perlu di maafkan, sayang. Kamu udah makan, belum?" tanya Adam.
["Belum. Ini aku mau bantu, ibu masak,"]
__ADS_1
"Kapan-kapan, kamu masakin buat aku, mau nggak?" tanya Adam ragu.
["Emang Oppa mau, masakan aku?"]
"Ya jelas mau, lah," rajuk Adam.
Adam yang mendengar hawa terkekeh menjadi ikut tersenyum.
Emang segampang itu membuat Moodnya kembali. Cukup melihat orang terkasih bahagia, ia akan ikut bahagia.
["Iya, kapan-kapan aku masakin buat, Oppa. Oppa ada jadwal nggak, hari ini?"] tanya hawa.
"Nanti siang. Kenapa?"
["Dimana?"]
"Cie, yang mulai posesif ?" goda Adam.
["Apaan sih, Oppa. Kan, aku cuma nanya. Emang nggak boleh?"] elak Hawa.
Adam terkekeh geli.
"Boleh, dong! Kalau perlu, nanti aku minta Bima buat ngasih tahu jadwal aku selama sebulan ini sama kamu, bagaimana?" cetus Adam.
Hawa menggelengkan kepalanya di sana.
["Nggak perlu, Oppa. Lagian, aku juga sibuk kerja. Kalaupun ada waktu luang cuma hari libur, saja."] Terang Hawa.
"Apa kamu menikmati pekerjaan kamu, sayang?" Tanya Adam tiba-tiba.
Membuat lawan bicaranya terdiam cukup lama. Mungkin dia sedang berpikir, apa maksud pertanyaan pacarnya?
Setelah menunggu beberapa menit, suara hawa kembali terdengar.
["Apa, Oppa keberatan dengan pekerjaan ku?"] tanya hawa hati-hati.
Adam langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, sayang. Aku sangat mendukung semua kegiatan kamu. Asal itu baik buat kamu dan hubungan kita, aku tidak keberatan, sayang," jawab Adam jujur.
Ia ingin hawa nyaman bersamanya.
Lagian, ia juga tidak bisa selalu ada untuk kekasihnya. Ia sadar hubungan antara fans dan idolanya, cukup rawan. Apalagi kalau fans lain mendengar, bahwa ketua fansclub mereka berpacaran dengan idolanya.
Bisa terjadi perang dunia ke III, nanti.
Dan, ia sangat menghindari itu.
Hawa sudah menjadi dunianya. Semenjak mengenalnya, ia merasa dunianya berpusat hanya padanya.
Ia tidak ingin, bersama perempuan lain selain Hawa. Karena ia sangat mencintai gadis itu.
"I love you, Hawa."
TBC
Yuk, kepoin novel dari Mak Reni. Di jamin seru,loh!
__ADS_1