Adam & Hawa

Adam & Hawa
Chapter XXVI


__ADS_3

"Kemarin habis dari mana neng?"


"Hah?"


"Nggak usah pura-pura bego deh. Lo kemarin habis kemana? Dan sama siapa?"


"Oh kemarin itu temen gue."


"Bohong."


"Terserah apa kata lo. Gue sekarang mau laporan dulu sama Pak Rahmat, jadi bye.!"


Hawa pergi meninggalkan Vivi ke ruangan pak Rahmat yang ada di lantai atas. Hari ini Hawa sudah masuk kembali ke kantor setelah mengambil cuti kemarin. Sesampainya di depan ruangan Pak Rahmat, Hawa mengetuk pintu kaca yang ada di depannya.


Tok tok tok


"Masuk!" setelah mendengar jawaban dari orang yang berada di dalam, Hawa mendorong pintunya. Pandangannya langsung bertemu pandang dengan sang pemilik ruangan. Pak Rahmat menyunggingkan senyum ramah saat melihat karyawan teladan nya sudah datang ke kantor.


"Silahkan duduk Hawa."


"Baik Pak. Terimakasih."


"Bagaimana kerjaan kamu? Apa sudah beres semua?"


"Sudah Pak. Semuanya sudah saya rangkum di Map ini."


"Good! Kamu memang paling bisa membuat saya senang."


"Terima kasih atas pujiannya Pak. Kalau begitu saya ijin keluar Pak, soalnya ada yang harus saya kerjakan."


"Silahkan Hawa."


Hawa undur diri dari ruangan pak Rahmat. Dia berjalan menuruni tangga menuju ruangannya berada. Saat Hawa akan membuka pintu ruangannya tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.


"Hawa." Hawa menolehkan kepalanya dan melihat siluet laki-laki berpenampilan rapih sedang mendekatinnya. Hawa menurunkan tangannya dari handle pintu dan menunggu kedatangannya.


Senyum terukir indah di wajah laki-laki yang bernama Rian. Dia mempercepat langkahnya agar cepat sampai di dekat hawa. Rian melambaikan tangan dan di balas hawa dengan canggung.


"Hai hawa. Bagaimana kabar kamu sekarang? Wah sudah sebulan lebih kita nggak ketemu, dan akhirnya kita bisa bertemu kembali sekarang."


"Hai juga Mas. Kabar saya baik. Mas gimna kabarnya?"

__ADS_1


"Kabarku juga baik. Apalagi setelah melihat kamu berada di kantor ini lagi."


Hawa tersenyum kecil melihat Rian yang kini seperti sedang gugup di depannya. Hawa melihat ke dalam ruangan yang sudah di penuhi oleh karyawan lain yang sedang bekerja lalu dia menatap kembali ke arah Rian.


"Mas Rian sepertinya saya harus kembali ke meja saya karena masih ada laporan yang belum saya kerjakan. Tidak apa-apa kan Mas?"


"Tentu Hawa, Silahkan! Oh iya Hawa, Apa nanti pulang kerja kamu ada waktu?"


"Sepertinya ada mas Rian. Ada apa yah?"


"Nggak. Gini sebenarnya saya pengin ngajak kamu buat makan di luar, apa kamu bisa?"


Hawa berpikir sejenak. Apa tidak masalah dirinya menerima ajakan dari Rian? Hawa memandang Rian yang kini sedang menunggu jawaban darinya.


"Baiklah Mas saya setuju."


"Yes! Makasih yah Hawa. Nanti saya tungguin kamu di loby yah. Kalau begitu selamat bekerja yah Hawa, dan saya ucapkan selamat datang kembali. Sampai jumpa nanti sore yah Hawa.!"


Hawa ikut melambaikan tangan saat melihat Rian masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan. Dia melihat betapa bahagianya Rian saat dirinya menerima ajakan makan di luar nanti. Hawa mengangkat bahunya tak mengerti.


Hawa memilih mengabaikan perasaan Rian dan masuk ke dalam ruangan menuju mejanya berada. Hawa mendudukkan dirinya di kursi dan mulai fokus membuat laporan yang belum dia selesaikan.


Sementara Rian yang berada tidak jauh dari kubikel hawa kini melirik sebentar ke arah hawa yang sudah mulai fokus dengan komputer di depannya. Rian tersenyum bahagia karena telah bisa mengajak hawa untuk makan diluar. Hatinya sudah was-was takut Hawa menolak ajakannya. Tapi ternyata Hawa tidak menolaknya sama sekali, membuat perasaannya begitu membuncah.


"Sialan lo. Sudah kerja-kerja saja, nggak usah ngurusin gue!"


"Emang susah ngomong sama orang kaya elo."


"Siapa yang nyuruh lo ngomong sama gue!"


"Hah, terserah Anda saja."


Rian mengabaikan teman satu ruangannya dan kembali melihat ke arah meja hawa, senyumnya kembali terukir saat melihat Hawa tidak terganggu dengan keributan yang ada di sekitarnya. Hawa memang orangnya secuek itu jika sedang fokus bekerja.


...-------...


Jam sudah menunjukan pukul 5 sore, waktunya Hawa dan karyawan lain untuk pulang kerumah masing-masing. Sama hal nya dengan karyawan lain, Hawa juga merasa lelah dengan pekerjaan nya hari ini. Dirinya memang paling lemah jika harus bekerja di depan komputer seharian. Makanya Hawa paling bersemangat jika harus bekerja diluar. Walaupun lelah tapi seenggaknya dia bisa melihat pemandangan lain selain komputer serta perangkat yang lain.


Hawa menghampiri Vivi yang kini sedang menunggunya di depan, tadi Hawa sudah memberi tau kalau dia akan pergi makan dengan Rian.


Kalian tau apa tanggapan Vivi?

__ADS_1


Yap dia langsung menyetujuinya. Kata Vivi , Hawa harus mau membuka matanya lebar-lebar. Karena hidupnya tidak harus berputar tentang Adam saja, banyak lelaki yang pantas buat mendapatkan hati Hawa. Bukan karena Adam lelaki brengs*k, tapi lebih ke kenyataan saja. Adam itu Artis ,lalu Hawa itu hanya rakyat jelata yang mengidolakan Adam.


Setelah mendapatkan ceramah panjang kali lebar waktu makan siang tadi oleh Vivi, kini hawa sedang berjalan bersama Vivi menuju lantai bawah. Tepatnya loby kantor yang terletak di lantai bawah.


^^^Ting^^^


Hawa dan Vivi berjalan keluar dari lift menuju seseorang yang kini sedang menunggu kedatangan Hawa. Senyum jahil Vivi berikan saat melihat siluet Rian yang kini sedang berdiri di samping Satpam yang sedang berjaga.


"Cie cie yang udah di tungguin sama si doi.!"


"Apaan sih Vi? Lo nggak usah lebay gitu deh. Awas loh yah lo ngomong macem-macem nanti!" Peringat hawa yang hanya di anggap angin lalu oleh Vivi. Justru Vivi kini sedang menyeringai menatap Rian yang tersenyum lebar saat metalnya melihat kedatangan hawa dan Vivi.


"Hai? Jadikan sekarang?" Ucap Rian saat hawa sudah berada di depannya.


"Segitu cintanya Sampai gue disini nggak di sapa sama lo An?"


"Bukan gitu Vi! Gue tadi cuma nanya sama Hawa kok." Rian salah tingkah saat melihat Vivi menggodanya.


"Vivi! Jangan gitu dong!"


"Iya-iya maaf. Gitu aja ngambek. Awas nanti susuknya luntur kalau marah-marah loh!"


"Bodo amat. Yuk Mas! Berangkat sekarang saja. Takut nanti kemaleman."


"Terus gue di tinggal gitu?" Vivi memandang Hawa serta Rian dengan memelas. Rian yang melihatnya jadi serba salah, sedangkan Hawa hanya memutarkan kedua bola matanya melihat tingkah Vivi yang seperti itu. Dia tau kalau Vivi hanya sedang menggodanya saja.


"Ayo mas sekarang saja. Abaikan saja Vivi! Dia emang orangnya suka begitu. Vi gue pergi dulu yah! Bye-bye."


"Untung Temen kalau bukan udah gue buang Lo ke rawa-rawa." Ujar Vivi ambil memukul punggung Hawa. Hawa hanya mengangkat bahu acuh.


Rian hanya menggaruk belakang kepalanya melihat hawa dan Vivi yang sedang ribut. Rian melihat hawa yang sudah berjalan di depannya dengan canggung. Rian menatap Vivi yang kini sedang menyumpah serapahi Hawa.


"Maaf Vi. Gue duluan!"


"Hati-hati Lo bawa temen gue tuh! Nanti lecet gue gibeng Lo yah!"


"Iya tenang saja. Temen Lo gue balikin lagi tanpa ada yang lecet kok."


"Bagus. Oke have fun buat kalian."


TBC

__ADS_1


Semoga kalian suka yah dengan ceritaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak yah. Salam dari Adam dan Hawa.


🥰🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2