Adam & Hawa

Adam & Hawa
chapter LI


__ADS_3

Hawa pergi menuju sebuah restoran yang berada di hotel berbintang lima. Tadi si atasan baru saja meminta dia untuk mendatanginya, tetapi yang dia cari tidak ada, "Apa tuh, atasan ngerjain gue yah?" gerutu gadis itu.


"Bakal gue tuntut tuh pak Devin, kalau sampai dia bohongi gue! Apa dia nggak tahu kalau ini tuh hari libur. Seenaknya saja dia nyuruh orang buat kerja!" Sepanjang perjalanan gadis itu menggerutu, hingga tidak sadar bahwa orang yang sedang di ghibaj ada di belakangnya.


Devin menepuk pundak karyawan barunya.


"Siapa, sih! Jangan main colak-colek, deh! Lagi pengin makan orang nih!" Hawa menyentak keras tangan yang berada di belakangnya.


Matanya membulat lebar, dan bibir gadis itu menganga, "Allahu Akbar. Maaf Pak Devin, saya kira bapak tadi orang usil. Saya benar-benar minta maaf, Pak, atas kesalahan saya," Hawa menunduk meminta maaf ke arah sang atasan.


Tangan gadis itu dia tepuk sendiri, setelah dengan lancang memukul tangan si Manajer.


'Mampus, deh, gue! Bisa di ceramahi tujuh hari tujuh malam kalau kayak gini." batin gadis itu.


Devin berdiri tegap, sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana, "Kenapa kamu telat?" tanyanya dingin.


'Ya kali dia pikir jarak rumah Adam ke sini itu tinggal ngesot. Sinting nih orang!'

__ADS_1


Hawa tersenyum sopan, lalu dia berkata, "Maaf Pak, tadi saya sedang di luar. Lalu jarak antara rumah temen saya kesini, cukup jauh. Jadi saya mem-," belum selesai gadis itu berbicara, lelaki itu sudah memotongnya duluan.


"Alasan!"


'Astagfirullah hal'adzim. Bunuh Manajer sendiri, dosa nggak sih? Pengin gue bakar hidup-hidup ,nih, manusia satu!' jerit hawa dalam hati.


Hawa menghela nafas lelah, sudah sedari tadi dia ingin menjambak rambut si atasan yang mulai gondrong. Bibir gadis itu berkedut seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi. Akhirnya setelah berdebat panjang dengan hatinya sendiri, senyum paksa keluar dari bibir mungil si karyawan.


Bapak ada keperluan apa datang kesini? Dan apa yang perlu saya bantu?" Suara gadis itu berusaha dilembutkan, supaya si Manajer baru tidak sadar kalau dia sedang marah.


"Tolong kamu bawa pulang mobil saya!"


"Haah?" Bibir gadis itu menganga lebar. Keningnya mengerut dalam. Antara kesal dan bingung, bersatu menjadi kesatuan yang membagongkan.


"Maksud Bapak nyuruh saya kesini hanya untuk membawa pulang mobil Bapak, begitu?" tanyanya sekali lagi, memastikan.


Devin mengangguk. kemudian melempar kunci mobilnya, lalu berlalu pergi dari hadapan Hawa yang sedang mengatupkan bibirnya.

__ADS_1


"Dasar Manajer gila, sinting, anj*Ng, brengsek," Segala umpatan sudah Hawa ucapkan di depan pintu masuk resto. Tak dia pedulikan orang-orang yang memandangnya aneh. Hati gadis itu sudah di penuhi dengan amarah yang siap membludak kapan saja.


Sementara itu, Devin yang masih berada tidak jauh dari tempat gadis itu, tersenyum. Ada sebuah kebahagiaan tersendiri saat dia bisa melihat Hawa marah dan mengumpatinya. Andai dia tahu lebih awal, bahwa ada gadis selucu hawa di sini. Mungkin dia akan pindah sedari dulu.


Suara gadis itu masih menggema, hingga dia masih bisa mendengarnya.


"Kamu lucu sekali, Hawa. Aku jadi ingin memilikimu seutuhnya. Namun sayang, aku tidak bisa. Karena kamu sangat berarti bagiku. Aku berharap kalau kita jodoh, kamu mau menerimaku apa adanya."


TBC


maaf pendek. 🙏🙏🙏🙏🙏🙏.


Jangn lupa like komen dan favorit. 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰.


Maaf juga Adam hari ini nggak muncul, karena dipinjam sama author. 🤣🤣🤣🤣


Mapir juga di karya terbaruku Destiny RiBay. Yuk kepoin.

__ADS_1


__ADS_2