
Adam menatap kosong, hamparan pemandangan kota malam ini lewat jendela apartemen nya. Dia memikirkan kembali kejadian tadi di rumah sang kekasih.
Flashback
"Kalau aku ingin melamar kamu, apa kamu bersedia?" tanya lelaki itu.
Hawa terdiam cukup lama, kemudian menatap netra sang kekasih.
"Maaf, Oppa! Aku belum siap," cicitnya.
"Kenapa?"
"*Aku hanya belum siap saja, Oppa. Namun sebelum itu, apakah aku boleh bertanya?"
"Apa itu?"
"Kenapa Oppa mau menjadikan aku sebagai calon istri? Padahal ada banyak wanita yang lebih dari aku*,"
"Karena aku yakin kalau kamu adalah wanita yang ditakdirkan, untukku."
"Tapi aku hanya seorang biasa, Oppa?"
"Aku tidak peduli! Mau kamu anak Menteri, anak Presiden, anak Mafia, anak Petani, atau apa, aku juga tidak peduli. Kamu tahu kenapa?" racau lelaki itu.
"Karena di hatiku cuma ada kamu seorang. Aku mencintaimu tulus dari dalam hatiku. Kamu adalah wanita yang sudah mengajariku tentang artinya cinta, kesetiaan, pengorbanan, dan ketulusan," imbuhnya
Gadis itu menunduk, merasa bersalah. Ia meremas kedua tangannya, bingung harus berkata apa.
Hawa jelas melihat kesungguhan di setiap kata sang kekasih. Namun kembali ke dirinya sendiri, dia merasa belum sanggup untuk menjalani ke jenjang yang lebih serius.
Dia meraih tangan sang kekasih.
"Maaf, Oppa! Maaf," lirih gadis itu dengan berlinang air mata.
Hawa tidak bermaksud menyakiti hati pujaan hatinya. Karena dia pun, merasakan hal yang sama. Tidak perlu diragukan kembali, rasa cinta dia kepada sang kekasih.
Adam melepaskan rengkuhan tangan hawa, di lengannya. Kemudian dia berdiri, dan pergi meninggalkan rumah gadis itu dengan kecewa.
Flashback off
__ADS_1
Tetes demi tetes air keluar dari netra indah lelaki itu. Tangannya mengepal kuat, menahan buncahan emosi yang mulai mendera hati. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, dia begitu mencintai wanita itu.
"AKH ...," teriaknya keras.
Dia memukul-mukul dad*nya sendiri, lalu membuang semua barang-barang yang ada di meja dan juga membanting vas bunga.
Suara benda pecah beradu dengan teriakan sang pemilik apartemen, bersatu menjadi satu kesatuan yang sangat memilukan. Tangan lelaki itu mencengkeram kuat pecahan dari vas bunga itu, hingga membuat darah mengalir dari balik telapak tangannya.
Tak dia hiraukan rasa sakit itu, karena ia begitu merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
Entah sampai kapan ia harus berperang dengan dirinya sendiri.
"Gue nggak bisa kayak gini, gue harus minta penjelasan dari Hawa. Gue bisa mati kalau tidak hidup bersama dia," racau lelaki itu. Kemudian menelepon sang kekasih.
Tak di pedulikan waktu yang menunjukkan pukul dua dini hari, dia juga tahu pasti sang kekasih sudah terlelap dalam mimpi. Sudah lebih dari tiga kali Adam menghubungi nomor ponsel Hawa, tapi belum diangkat juga.
Setelah beberapa lama akhirnya Hawa mengangkat panggilannya.
["Assalamualaikum,"]
Suara serak setelah bangun tidur terdengar jelas dari seberang sana, membuat hati Adam semakin ngilu.
'Bagaimana bisa dia tertidur lelap setelah membuatnya kecewa seperti ini?' jeritnya dalam hati.
["Ada apa Oppa?"]. ["Kenapa Oppa nelfon jam segini? Apa kamu tidak bisa tidur?"]
"Ciih! Apa tidurmu nyenyak?" sindirnya.
Ada jeda beberapa menit, hingga suara seseorang di sana kembali terdengar.
["A-pa Oppa marah?"]
"Apa kamu peduli jika aku marah atau tidak denganmu?" ketusnya.
-------
Sementara itu, Hawa yang baru saja bangun tidur, terpekur. Apalagi mendengar suara sang kekasih yang cukup aneh malam ini. Lalu dia melihat jam yang masih menunjukkan dini hari.
"Tentu aku peduli. Karena kamu adalah kekasihku." Jawab Hawa.
Terdengar decakan dari seberang telepon.
Hawa kemudian teringat tentang kejadian tadi malam, sebelum Adam pulang. Hatinya mencelos, saat ingat sang kekasih yang langsung pergi meninggalkan rumah tanpa berpamitan.
__ADS_1
["Haah ... lebih baik kamu tidur! Maaf sudah mengganggu tidurmu."]
Hawa menjauhkan ponsel dari telinga, dan memandang nanar ponselnya. Tanpa menunggu jawaban dari dia, sang kekasih sudah mematikan sambungan telepon.
"Sepertinya Oppa masih marah denganku. Terus ... aku harus gimana? Aku memang belum siap jika harus berumahtangga untuk waktu dekat ini. Namun ... jika aku hanya diam saja, aku takut Oppa tidak mau memaafkanku," monolognya sendiri.
Hawa kemudian menggigit kuku jari tangannya dengan cemas. Dia berkali-kali melihat ke arah jam dinding, rasanya dia ingin pergi menyusul ke apartemen sang kekasih.
Seperti mendapatkan ide brilian. Gadis itu langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Setelah itu ia mengganti piyama, dengan celana jeans, dan kaos lengan panjang, di padukan dengan sweater berwarna toska
Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi, dan ada gadis yang sedang mengindik-indik keluar dari rumahnya. Gadis itu sedang mendorong motor ke arah jalan yang cukup jauh dari rumah. Kemudian melajukan motor itu membelah jalanan dini hari yang begitu lengang.
Tidak ada ketakutan dalam diri gadis itu, padahal ini adalah jam-jam orang tidur dan para begal beraksi. Justru tekadnya begitu kuat untuk mendatangi sang idola. Dia ingin menyelesaikan masalah ini Sampai tuntas.
Setelah sampai di basemen apartemen sang kekasih. Hawa memarkirkan motornya bergabung dengan motor yang lain. Gadis itu bergegas menekan angka sepuluh, dimana apartemen Adam berada.
Besi kotak itu berhenti tepat di lantai sepuluh, dia melihat koridor yang sangat sepi. Bagaimana mana tidak sunyi, secara ini adalah waktu untuk orang tidur dan dia malah berada di sini.
Memang dia adalah gadis yang gila.
Hawa menekan bel apartemen sang kekasih, tetapi hingga beberapa waktu tak terdengar sahutan dari dalam. Hawa tidak menyerah, dia lalu menekan password, yang dia ingat.
Bunyi pintu terbuka, membuat senyum hawa mengembang. Gadis itu masuk ke dalam apartemen Adam, dan terperangah.
"Apa-apaan ini? Apa apartemen Oppa habis kemalingan?" ujar Hawa sambil berjalan menjinjit, menghindar dari serpihan kaca yang bertebaran di lantai.
Walau sudah berhati-hati, kaki gadis itu tidak sengaja tergores oleh pecahan kaca yang masih menancap di meja.
Rintihan keluar dari bibir gadis itu. Lukanya cukup dalam, tapi dia abaikan.
Hawa berjalan ke arah kamar lelaki itu. Ia coba mengetuknya terlebih dahulu, tapi tidak ada sahutan. Hawa mulai khawatir, kemudian dia langsung membuka pintu itu dengan paksa.
Netranya membulat, saat dia menikam ada banyak darah berceceran di kamar itu. Dengan tergesa, gadis itu mendorong pintu kamar mandi sang kekasih.
"Aakh ...," teriak gadis itu.
TBC
Apa yang membuat Hawa berteriak? Hayo tebak?
Jangan lupa like, komen, vote, dan juga kasih hadiah buat karya ini.
Sambil menunggu bab ini up, kalian bisa mengunjungi novel temanku. Yuk kepoin
__ADS_1