Adam & Hawa

Adam & Hawa
Chapter XXVIII


__ADS_3

Adam menutup pintu mobilnya dengan keras. Sorot matanya menatap tajam wanita yang sedang bersama laki-laki berseragam sekolah di depannya. Tangannya mengepal kuat saat melihat Hawa tersenyum bersama lelaki lain.


Setelah melihat bocah tadi pergi, Adam berjalan dengan langkah lebar mendekati Hawa yang sedang memunggunginya.


"Bersenang-senang heh!" Bisik Adam di telinga Hawa.


"Astaghfirullah hal'adzim," HAWA terkejut saat tiba-tiba ada orang berbisik di telinganya. Hawa mengusap dadanya pelan untuk menenangkan laju jantungnya yang berdegup kencang.


Hawa berniat mengomeli orang yang telah mengejutkannya tapi terhenti. Matanya membeliak lebar saat menyadari orang yang ada di hadapannya kini adalah seorang Superstar.


Tangannya refleks menutup mulutnya saat tersadar ada Adam di depannya.


"Oppa?"


"Jadi, sekarang kamu sudah berpaling dari saya ke berondong tadi ,huh?" Hawa mengerutkan keningnya bingung. Tanpa sadar Hawa memiringkan kepalanya ke arah Adam.


"Kenapa diam?" tanya Adam.


"Maksud Oppa apa? berondong? Hawa nggak ngerti apa yang Oppa ucapkan?"


"Haahh, tadi kamu di antar siapa?"


"Randy."


"Siapa dia? Pacar kamu?"


Hawa tidak habis pikir, bagaimana bisa Adam mengira bahwa Randy pacarnya? Padahal Randy adalah adik kandungnya.


"Kenapa?"


"Selamat pagi Hawa," sapa Rian saat menemukan Hawa berdiri di depan pintu lobby. Rian melirik sebentar ke arah lelaki yang berada di samping hawa dengan bingung.


Ngapain nih orang pakai baju dan masker kaya gitu? Emang dia pikir dia artis apa? sampai berpakaian seperti itu.


Adam menatap tajam Rian dari balik kacamata hitamnya. Adam mencebikan bibirnya saat melihat ada orang yang mengintrupsi perbincangan nya dengan Hawa.


Hawa menatap Adam serta Rian secara bergantian. Dia merasa astmofir di sekitarnya terasa berbeda.


"Selamat pagi. Mas Rian baru sampai?"


"Iya nih. Kamu lagi ngobrol sama siapa Wa?"


"Ah,ini," Hawa melirik Adam dengan takut. Dia merasa tidak enak jika harus membuka identitasnya disini. Apalagi karyawan sudah mulai banyak berdatangan dan melihat Adam dengan curiga.


Walaupun Adam sudah tanda tangan kontrak dengan perusahaannya,tapi tetap saja karyawan lain jarang melihat Adam bersliweran di kantor.

__ADS_1


Adam memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya dengan angkuh. Dia melihat hawa yang seperti bingung saat temannya menanyakan identitas dirinya. Adam juga tidak berniat untuk mengenalkan diri kepada laki-laki di depannya, bagi Adam itu tidak penting, yang penting sekarang dia butuh penjelasan tentang status bocah sekolah tadi dari Hawa. Dia tidak mau dibuat mati penasaran dengan status bocah tadi.


"Lebih baik kamu jawab pertanyaan saya yang tadi , sekarang!" Ucap Adam. Hawa menatap Adam tak berkedip. Ternyata Dia masih penasaran dengan adiknya ternyata.


Hawa menyeringai saat mendapatkan sebuah ide.


Hawa menatap Adam dengan berani "Dia pacar saya. Apa ada masalah?"


Rian serta Adam langsung terkejut mendengarnya. Dalam sekejap mulut mereka terkatup rapat tak bisa membalas pertanyaan Hawa.


Hawa yang melihat laki-laki di depannya terdiam langsung menyingkir untuk masuk ke dalam gedung kantornya. Dia tidak mau merusak paginya yang cerah, dengan urusan yang tidak penting.


"Hawa, tunggu!" Hawa menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memanggilnya. Senyumnya mereka saat menemukan Vivi adalah orangnya.


Vivi melambaikan tangan saat sahabat baiknya berdiri di depan pintu menunggunya. Vivi berjalan dengan cepat mendekati Hawa, tapi ekor matanya tidak sengaja menemukan dua laki-laki sedang berdiri terdiam di luar kantornya.


"Itu yang berdiri sama Rian siapa? Kok mereka kaya patung Pancoran gitu sih?" tanya Vivi saat melihat orang tadi belum juga beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri.


"Udah abaikan saja mereka. Yuk, masuk! Oh iya, besok malam Minggu kita nonton,yuk!"


"Oke, lo atur aja!"


"Good!"


"Gimana acara dinner lo sama Rian semalem?" tanya Vivi sambil memainkan ponselnya. Dia sedang membalas pesan dari orang tuanya.


"Tau nggak Vi?"


"Nggak!"


"Ish,jangan suka motong pembicaraan dong Vi!"


"Hem, maaf. Lanjutkan!" Hawa mencoba bersabar menghadapai temannya yang sangat menyebalkan.


"Semalem tuh, gue di traktir makan sama Rian di cafe AND. Tempatnya bagus banget, enak buat nongki. Besok kita kesono ,yuk! Di jamin lo bakalan suka." Beritahu hawa dengan wajah yang berbibar. Vivi merotasikan matanya saat melihat tingkah sahabatnya yang begitu memalukan,menurutnya. Maklum kelamaan jomblo begini nih, jadi dia nggak tau istilah di traktir cowo kalau mereka lagi ngedate.


Plak


"Loh, kenapa Lo mukul gue sih, Vi? Sakit tahu kepala gue! Ini udah di fitrahin tau." Bibir hawa mengerucut karena Vivi memukul kepalanya dengan cukup kencang. Bahkan orang di dalam lift sampai menatap Hawa kasihan.


"Ckckck, makanya pacaran!" Decak Vivi saat melihat temannya sibuk mengusap-usap bagian kepalanya yang tadi dia tabok.


Lagian siapa suruh dia bego. Kan,gue jadi gregetan pengin buang ke laut.


Ting

__ADS_1


Pintu lift terbuka, para karyawan serta Hawa dan Vivi mulai berjalan keluar dari lift berbentuk kotak besar itu. Hawa dan Vivi berjalan menuju ruangannya, Vivi yang merasa tidak bersalah tetap melanjutkan langkahnya tapi di tarik paksa oleh Hawa.


Sreet


"Tunggu! Lo nggak mau minta maaf gitu sama gue? Ini sakit beneran ,tau~" Rajuk Hawa kepada Vivi. Hawa menunjuk bagian kepalanya yang di gebug sama Vivi tadi.


"Fuuhhhhh" Vivi mengehela nafas. Vivi membalikan badannya ke arah hawa yang kini menatapnya berbinar. Saat posisi mereka sudah dekat, Vivi tersenyum manis. Sambil mengusap kepala Hawa dengan lembut, tiba-tiba Vivi berucap "Bo-do-a-mat."


Doeng


Hawa melongo melihat kepergian Vivi yang dengan santainya melenggang jauh darinya.


Ini mah definisi teman yang membagongkan. Bukanya khawatir malah tinggal pergi begitu saja.


...------------...


Pluk


Adam tersadar saat Bima menepuk pundaknya.


"Ngapain Lo malah kaya patung disini sih Dam? Iya, gue tau Lo itu ganteng dan pantes juga pajang di Musium sono. Tapi, ya enggak segitunya kali."


Adam mengabaikan ocehan dari manajernya, dia melangkahkan kakinya menuju gedung yang ada di depannya. Adam juga mengabaikan pandangan penasaran dari orang di sekitarnya, dia tetap berjalan dengan percaya diri.


Langkahnya terhenti saat melihat lift dalam keadaan tertutup rapat. Decakan jelas keluar dari bibirnya. Adam melihat ke sekitarnya, pandangannya tidak sengaja bertemu dengan laki-laki yang tadi di temuinya.


Rian menatap acuh orang yang tadi, dia juga malas untuk mencari tau karena dia memang tidak ada urusan dengan orang aneh tadi.


"Anda, siapa?" tanya Adam. Rian melihat kanan kirinya untuk mencari siapa tahu ada orang lain di sekitarnya. Saat merasa pertanyaan itu di tunjukkan padanya, barulah Rian menatap Adam.


"Anda nanya saya?" tunjuk Rian pada dirinya sendiri.


"Iya. Anda bisa lihat sendiri, hanya ada Saya dan Anda disini!" Rian mengangguk mengerti. Sesaat pandangannya melihat penampilan laki-laki di sampingnya, tapi kembali lagi menatap wajahnya. Dia belum tahu siapa lelaki di depannya.


"Kenalkan, saya Rian." Rian mengulurkan tangannya ke arah Adam.


"Ada hubungan apa anda dengan Hawa?" Rian mengepalkan tangannya saat Adam tak menyambut tangannya. Rahangnya mengetat saat mendengar nama wanita yang di sukai nya terucap dari bibir laki-laki sombong tersebut.


"Ciih! menurut saya itu bukan urusan Anda! Jadi, permisi." Rian yang sudah kadung marah akhirnya memilih menaiki tangga darurat saja. Dia tidak mau satu tempat dengan orang sombong tersebut. Nanti kalau tangannya melayang ke wajah songong itu bisa jadi kasus , dan Rian tidak mau di cap buruk oleh Hawa. Bisa infil nanti Hawa padanya.


Adam menatap dingin Rian yang berlalu meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaannya. Adam menyugar rambutnya ke belakang.


"Kenapa dengan orang-orang semua? Tadi gue udah nanya sama Hawa,tetapi, nggak di jawab. Nah, sekarang malah gue di tinggal pergi begitu saja sama cowok nggak jelas itu. Wah, Apes bener gue hari ini!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2