
Tok tok tok
"Masuk!" Terdengar sahutan dari dalam ruangan. Adam dan Bima saling melirik kemudian Bima membuka pintu untuk mempersilahkan Artisnya masuk terlebih dahulu setelahnya baru dia sekaligus menutup pintunya.
Sementara sang pemilik ruangan tersenyum lebar saat menyambut kedatangan BA(Brand Ambassador) untuk perusahaannya. Sejak Adam menjadi BA di perusahaannya, pesanan untuk edisi majalah mereka bisa berkali-kali lipat membuatnya mengantongi lebih banyak keuntungan.
"Selamat pagi Adam,"
"Pagi."
"Silahkan, duduk! mau minum apa? Kopi atau teh?"
"Air putih saja."
"Baik, tunggu sebentar!" Pak Rahmat selaku pemilik ruangan pergi ke mejanya untuk menghubungi sekertaris nya. Dia juga menyuruh untuk membawakan cemilan untuk tamunya.
Pak Rahmat tersenyum saat melihat tamu istimewanya sedang berbincang dengan manajernya,Bima. Dia kembali ke tempat dimana Adam serta Bima menunggunya.
"Maaf, Pak? kalau boleh tahu ,ada keperluan apa hingga Anda menyuruh kami untuk datang kesini? Bukankah kami sudah menyelesaikan tugas kami saat itu?"
"Hehehe. Sebelumnya, saya minta maaf atas kelancangan saya meminta Tuan Adam untuk datang, ke perusahaan pagi-pagi seperti ini."
"Langsung, saja!"
"Baiklah,"
Tok tok tok
"Permisi ,Pak! Ini minuman yang bapak pesan tadi." Pak Rahmat,menatap datar sekertaris nya yang datang tiba-tiba, mengintrupsi pembicaraan penting dengan Tamu spesialnya.
"Lain kali, kalau saya belum mempersilahkan anda masuk, jangan main masuk saja!" Sekertaris yang bernama Ratna itu langsung menunduk, meminta maaf karena berlaku tidak sopan kepada atasannya.
"Saya minta maaf, Pak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Baik. Saya akan catat janji kamu! Sekarang kamu bisa pergi dari ruangan saya, karena saya sedang membahas masalah penting dengan Tamu saya."
"Baik, Pak. Sekali lagi saya minta maaf, dan permisi!" Adam dan bisa saling melirik satu sama lain, dengan kompaknya mereka menggedikan bahu tak perduli. Mereka kembali melihat ke arah Pak Rahmat yang meminta maaf karena harus melihat kejadian ini.
"No, problem. Lebih baik Anda lanjutkan saja perkataan Anda tadi!"
__ADS_1
"Terima kasih atas kebaikan tuan Adam. Begini, perusahaan kami sekarang sedang mengadakan kerja sama dengan beberapa perusahaan menengah ke bawah. Dan saya meminta anda untuk mau menjadi modelnya, apa Anda bersedia?"
"Berapa persen yang kami dapatkan?" tanya Bima. Dia tidak mau rugi kalau sampai baju yang di promosikan oleh Adam, kebanjiran orderan karena Adam bersedia menjadi modelnya.
Hei, kalian tidak perlu terkejut seperti itu. Karena apa yang di kenakan oleh Adam akan langsung viral. Bahkan, pernah ada seorang Fans yang memotret Adam sedang makan Ice cream di sebuah cafe di tengah kota. Setelah nya cafe itu kebanjiran orderan, bahkan sampai sekarang cafe itu menjadi tempat favorit bagi penggemar Adam.
Sang pemilik cafe sampai mengirimkan banyak makanan serta ice cream ke kantor agensi Adam. Emang seberpengaruh itu lah Adam.
"Untuk masalah itu,kalian tenang saja, kami sudah membahasnya dengan pihak mereka, dan mereka siap membayar Anda berapapun anda minta." Adam melirik Bima dari ekor matanya, dia melihat seringai kecil di bibir manajernya. Adam menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana, Dam? Lo mau nggak?" tanya Bima.
"Lo atur aja! Gue ikut kata Lo aja. Selama nggak bentrok sama jadwal gue, gue ikut aja!"
"Oke."
Pak Rahmat yang mendengar sang Artis mau menjadi modelnya,langsung bersorak di dalam hati. Dia juga mengepalkan tangannya kegirangan. Bayang-bayang bonus besar di depan mata mulai terlihat. Senyumnya makin melebar saat membayangkannya.
Tok tok tok
"Siapa?" tanya Pak Rahmat.
'Baru denger suaranya aja udah kaya gitu. Apalagi lihat orangnya langsung? ckckck'
Pak Rahmat meminta ijin kepada Adam dan di angguki olehnya.
"Masuk."
Ceklek
"Permi-," Hawa menghentikan ucapannya karena melihat keberadaan Adam di ruangan atasannya. Setelahnya, Hawa menunduk untuk menyapa Adam serta Bima.
Adam melengos, dia masih marah karena pertanyaan nya belum di jawab oleh Hawa. Bima yang menyadari gelagat aneh Adam, hanya bisa terkekeh geli. Tingkahnya benar-benar seperti anak kecil yang sedang ngambek.
"Ada apa , Hawa?" tanya pak Rahmat, menarik atensi Hawa karena salah fokus dengan keberadaan Adam di ruangan ini. Seakan sadar tujuannya ke mari, Hawa mendekat ke arah sofa single di mana atasannya duduk. Kebetulan sofa yang di duduki Adam berada di samping persis atasan Hawa, jadi membuat Adam bisa mencium bau parfum yang di kenakan Hawa.
'Manis, seperti orangnya.'
"Ini, laporan yang sudah saya janjikan kepada Bapak, kemarin." Hawa bisa merasakan bulu kuduknya merinding, saat tanpa sengaja lengan Adam menyenggol kakinya yang tertutupi celana bahannya.
__ADS_1
Sedangkan Adam yang menyadari gelagat tubuh gadis di sampingnya, menyeringai. Dia memang sengaja meletakkan lengannya di atas sandaran. Walaupun tidak terang-terangan memegang, tapi tetap saja lengannya bisa merasakan tubuh hawa yang menegang.
"Bagus. Kamu memang paling bisa saya andalkan, Hawa. Oh, iya, apa kamu tidak ingin minta tanda tangan Adam? Bukankah kamu adalah fans Adam?" tanya Pak Rahmat ,saat menyadari kalau karyawan kesayangannya juga adalah seorang penggemar berat dari Adam Alditri. Hawa juga sangat berjasa, karena bisa membuat perusahaan ini bisa bekerja sama dengan Artis terkenal seperti Adam.
Hawa menggigit bibirnya. Dia memandang atasannya dengan penuh peringatan, tapi, seolah tidak memahami arti tatapan hawa padanya. Justru, Pak Rahmat berdiri dan mendorong tubuh Hawa agar menghadap ke arah Adam.
"Ah, kamu pasti tidak membawa kertas, yah? Baiklah, tunggu sebentar! Saya akan ambilkan terlebih dahulu di meja." Saat melihat atasannya berlalu ke mejanya, bibir hawa mengerucut. Bima tertawa dengan pelan saat melihat hawa yang cemberut.
Hawa mendelik, melihat dirinya ditertawakan oleh Bima.
Bima makin mengulum bibirnya sendiri, menahan tawanya yang akan meledak jika saja dia tidak bisa menahannya.
"Nih, kertas dan bolpoin nya. Tuh, kurang baik apa coba, saya jadi atasan kamu , Hawa!"
"Lah, kalau bukan karena saya yang rajin mencari berita. Mana mungkin bapak bisa duduk di singgasana ini sekarang."
"Ya, tentu saja berkat kerja keras saya dong!" Dengan percaya diri, Pak Rahmat menepuk dadanya bangga. Hawa berlagak seolah mau muntah saat melihat atasannya begitu percaya diri.
"Tentu berkat kamu juga, Hawa. Karena kerja kerasmu yang selalu mengikuti semua perintahku, saya bisa berada disini."
"Hawa gitu, loh!" Dengan pongahnya hawa menepuk dadanya sendiri.
Adam ikut tersenyum saat yang melihat interaksi Hawa dengan atasannya. Dia juga ikut bangga dengan, kerja keras hawa selama ini.
"Udah-udah nggak usah bahas Maslah itu. Nih, buruan! Keburu Adam muak lihat wajah kamu. hahahaha."
'Sumpah, yah! Kalau bukan atasan udah aku tempeleng kepalanya.'
Dengan terpaksa hawa menerima kertas di hadapannya. Dia melirik takut-takut ke arah Adam. Dia tidak mungkin memberi tahu atasannya, kalau dia sudah kenal lama dengan Adam. Dari pada kelamaan, akhirnya, Hawa menyodorkan kertas sert pulpen di hadapan Adam.
"Permisi! Apa boleh saya minta tanda tangan Anda?"
Adam mendengus geli melihat tingkah Hawa yang seolah-olah tidak mengenalnya sama sekali. Dia menatap bola mata hawa yang berwarna kecoklatan dengan raut tak terbaca.
'Nih, orang kayaknya punya bakat jadi Artis. pinter banget aktingnya.'
TBC
Jangan lupa like ,♥️ dan ⭐ nya yah kak. Itu akan sangat membantu bagi saya.
__ADS_1