
Hawa segera berlari ke luar apartemen, setelah mendapat telepon dari kantor. Gadis itu Sampai lupa untuk pamit kepada sang kekasih, saking paniknya.
Sang atasan meminta ia untuk datang saat itu juga ke kantor. Entah ada hal mendesak apa, hingga membuat seluruh karyawan di lantai tiga untuk berkumpul.
"Si*l! Baru juga bisa ketemu sama pacar, tapi udah di suruh balik lagi aja. Awas saja kalau nggak penting! Gue bakar juga tuh kantor!" Umpat gadis itu.
Ia melihat ke arah kanan dan kiri, dan menemukan sebuah Taxi yang kosong. Kemudian ia melambai untuk meminta Taxi itu untuk berhenti. Setelah menepi, ia langsung masuk ke dalam dan menyebutkan alamat kantor dia berada.
Getar ponsel membuat Hawa mengalihkan pandangannya dari jendela. Ia melihat nomor sang kekasih tertera di layar.
Seakan baru sadar, gadis itu menepuk keningnya. Dengan buru-buru ia mengangkat panggilan dari Adam. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, tapi suara sang kekasih sudah terdengar lebih dulu.
Senyum lemah tersemat di bibir sang gadis.
"Maaf Oppa. Aku tidak berniat membuatmu khawatir, tapi ada panggilan dari kantor dan itu harus saat ini juga. Aku benar-benar minta maaf, Oppa," sesal gadis itu di telepon.
Ia menyandarkan punggungnya yang lelah di sandaran jok mobil Taxi itu. Ia masih mendengarkan perkataan sang kekasih yang meminta ia untuk berhati-hati dalam bekerja.
Hawa bisa mendengar nada kecewa dari suara sang kekasih di seberang sana. Jujur, ia pun masih merindukan Adam. Namun ia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
"Iya, Oppa. Aku janji bakalan kabarin Oppa kalau pekerjaan ku di sini sudah selesai."
["Nanti, aku jemput kamu, yah, sayang?"]
"Enggak usah. Lagian Oppa juga baru pulang syuting, pasti cape?"
["Aku lebih suka menunggu kamu di sana, lagian besok aku libur. Jadi nggak ada alasan buat kamu menolaknya, yah, sayang."]
"Baiklah, kalau Oppa memaksa. Nanti aku kasih tau kalau sudah selesai!"
Setelah berdebat terlebih dahulu, akhirnya Hawa mengalah. Ia hanya bisa berdoa, semoga urusan di kantor tidak memakan waktu banyak dan membuat sang kekasih bosan.
...---------...
Tiba di lantai tiga, hawa sudah melihat para karyawan lain yang sedang memasang wajah cemberut. Bagaimana tidak sebal, saat kita membayangkan akan bisa berleha-leha di atas kasur empuk. Namun, yang terjadi saat ini malah mereka harus kembali bekerja.
"Sebenarnya ada apaan, sih? Kenapa kita harus balik ke kantor lagi?"
"Gue juga nggak tahu."
"Menurut kalian, Pak Rahmat ngumpulin kita di sini buat bahas apaan?"
"Kalau gue tahu, nggak mungkin gue nanya sama lo, Bambang!"
__ADS_1
"Ya gue kan nggak cuma nanya sama lo doang. Di sini tuh banya orang, kenapa Lo jadi marah sama gue sih?"
"Ya gimana nggak marah! Gue lagi seneng-seneng nya bisa ketemu gebetan, tapi malah harus balik kesini lagi. Kan, Anj*Ng banget!"
"Hush, ngomongnya!"
"Persetan, gue.lagi gondok banget!"
"Ya sebenarnya bukan hanya lo doang yang marah, kita di sini juga pada marah.Tapi mau gimana lagi, kita hanya seorang budak dari perusahaan. Kalau kita tidak menuruti perintah mereka, yang ada siap aja lo di tendang dari sini."
"Ckckck," decak salah satu karyawan laki-laki.
Sementara itu, Hawa yang baru saja datang langsung mendekat ke arah Vivi. Ia langsung menyandarkan kepala ke bahu si teman.
"Baru nyampe lo?"
"Hmmm,"
Vivi langsung mendorong kepala sang sahabat. Ia menatap curiga gadis di sampingnya, ia mengendus bau wangi dari baju sang sahabat. Setahunya, Hawa tidak pernah menggunakan bau seperti ini.
Wangi ini identik dengan bau lelaki, membuat Vivi menatap tak percaya ke arah snag sahabat
"Lo habis ketemuan sama cowok lo, yah?" tuduh Vivi langsung.
Hawa hanya menyeringai.
"Pantesan, baju lo masih sama. Terus lo ketemu cowok lo pakai pakaian kerja itu?" Vivi menatap sang sahabat dengan pandangan menilai.
Decakan lolos dari bibir Vivi.
"Emang kenapa?"
"Ya ampun, Wa. Lo kalau bego tuh jangan di pelihara apa!" Sindir Vivi.
Hawa bersikap acuh tak acuh.
Saat Vivi akan mengomeli snag sahabat, tiba-tiba dari pintu masuklah pak Rahmat bersama dengan seorang pria berpakaian rapi.
Vivi menyenggol bahu si teman.
"Apaan?"
"Siapa cowok yang di bawa pak Rahmat itu?"
__ADS_1
"Nggak tahu," jawab gadis itu acuh.
Vivi langsung mencubit lengan si teman.
"Elo tuh, yah! Mentang-mentang udah punya cowok, lo jadi nyebelin kek gini. Tau gitu nggak gue ijinkan lo pacaran!" Sungut Vivi.
Hawa hanya tersenyum melihat sang sahabat merajuk seperti itu.
"Maaf, tapi gue emang nggak tahu itu cowok siapa. Jadi lo salah alamat kalau nanya sama gue."
"Terserah lo aja."
Perbincangan Vivi dan Hawa terintrupsi dengan pemberitahuan dari sang Manajer. Dia mengenalkan sosok lelaki di sampingnya dengan penuh bangga.
"Buat semuanya, terima kasih atas kedatangan kalian di sini. Pertama-tama, saya mengumpulkan kalian di sini untuk memberitahukan bahwa saya sudah tidak menjabat sebagai manajer lagi di sini." Ucap sang atasan membuat para karyawan bingung..
Kalau sang Atasan pergi, berarti siapa yang akan menggantikannya?
Sebelum para karyawan lain berpikiran lebih jauh lagi, Pak Rahmat sudah lebih dulu berbicara kembali.
"Kalian tidak perlu khawatir, setelah saya pergi kalian akan di pimpin langsung oleh lelaki yang sangat cerdas dan dan tentu saja lebih tampan dari saya."
Hawa hanya mendengarkan tanpa mau berkata apa-apa. Sejujurnya ia sedih Pak Rahmat pergi dari sini, tapi mau gimana lagi. Ia hanya berdoa semoga atasan barunya nanti tidak rese melebihi sang Atasan dulu.
Sementara lelaki tampan itu, menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya dengan pandangan menilai. Saat itu matanya menyoroti gadis muda yang masih mengenakan pakaian kantor itu dengan diam.
Ada suatu gelenyar aneh di hatinya saat melihat sang gadis mengabaikan keberadaan dirinya. Padahal karyawan perempuan yang lain, sudah seperti cacing kepanasan melihatnya.
"Baiklah kita langsung saja. Perkenalkan ini adalah Pak Devin Anggoro. Beliau ini adalah manajer baru kalian." Beritahu pak Rahmat, membuat para karyawan lain langsung bertepuk tangan sebagai sambutan dari mereka.
Devin Anggoro langsung membukuk sebentar kemudian netranya mengedar kembali.
Hawa tersenyum sopan saat mata sang atasan baru, tidak sengaja bertubrukan dengan mata dia.
Melihat senyum tulus terulas di bibir gadis itu membuat detak jantung Devan seketika berdetak kencang.
"Ada apa ini? Kenapa jantungku seperi ini?" batin lelaki itu.
Sedangkan Hawa langsung memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain.
TBC
Jangan lupa like komen dan masukin ke list favorit kalian yah teman-teman.
__ADS_1
kali ini saya bawa novel karya dari teman literasiku. Karya nya sangat bagus. Yuk kepoin langsung.