Adam & Hawa

Adam & Hawa
chapter XIX


__ADS_3

Hubungan Adam dan pacarnya di isukan retak karena ada kabar burung yang mengatakan bahwa sang lelaki kini sudah mempunyai wanita idaman lain. Dari pihak perempuan masih bungkam, Sedangkan dari pihak Adam sendiri juga belum ada konfirmasi apapun dari agensi mereka. Membuat masyarakat makin berspekulasi bahwa memang ada orang ketiga di antara mereka.


Braakk


Hawa melempar kembali ponselnya kedalam tas nya. Baru membuka Instagram dirinya sudah di suguhkan berita tentang Adam membuat dirinya menjadi malas. Sebenarnya beritanya bisa membuat hati para fans Adam menjadi bahagia, tapi tetap saja bagi Hawa itu tidak penting.


Masih jelas teringat saat ia dan idolanya,Adam Alditri. Bersenda gurau waktu itu di telepon. Entah kemana niatnya dahulu,yang ingin melupakan Adam dan membuka hatinya untuk laki-laki lain. Entah hilang kemana niatan itu.


Mungkin sudah terhapus dengan hanya melihat senyum di wajah Adam saat itu. Kini justru rasa cinta itu makin menggebu,dan semakin dalam.


Hawa menghela nafas panjang.


Sebenarnya ia niat apa tidak untuk melupakan Adam? Hawa pun tidak tahu jawabannya. Ketika dirinya mencoba melupakan rasa cinta itu,justru Adam malah mendekatinya. Jadi bagaimana bisa hawa melupakannya?


Hawa pasrah dengan takdir Allah, dia hanya akan mengikuti alur kemana takdir cintanya akan berlabuh.


Seperti saat ini , ia sedang janjian dengan manajer dan idolanya sendiri. Mereka akan bertemu di Restoran untuk membahas masalah kontrak kerja Adam dengan perusahaan nya.


Pasti kalian bingung kenapa hawa yang hanya seorang bawahan biasa bisa mewakili perusahaannya, Yang harusnya di kerjakan oleh seniornya atau manajer di tempat kerja hawa. Hawa sendiri pun juga bingung dibuatnya, bahkan tatapan tidak enak pun di dapat hawa dari para karyawan lain. Mungkin mereka berfikir hawa menjual tubuhnya hingga membuat dia terpilih untuk mewakili perusahaan untuk bertemu langsung dengan Adam.


Denger-denger ini adalah permintaan dari Adam sendiri sebagai syarat perpanjangan kontraknya sebagai model di majalah tempat kerja hawa. Jadi atasan hawa mau tidak mau harus mengalah dengan juniornya. Makin jadilah rumor jelek tentang hawa yang menjual diri kepada petinggi perusahaan menyebar luas. Hawa sendiri memilih tidak menanggapi dengan serius masalah rumor itu, yang penting bagi hawa dirinya tidak pernah melakukan hal seperti itu dengan lelaki manapun.


Kembali lagi ke Hawa, sekarang dirinya sudah merasa panas dingin, apalagi setelah membaca berita tentang hubungan Adam dengan pacarnya atau mantan pacarnya, perasaan hawa sudah ketar-ketir di buatnya.


Hawa menyalakan ponselnya untuk melihat jam berapa sekarang. Ternyata ia sudah menunggu sekitar 30 menit dan batang hidung Adam dan manajer nya belum juga kelihatan.


"Apa gue telfon aja yah?" hawa berbicara sendiri sambil melihat nomor kontak Adam yang masih disimpannya tanpa pernah berniat ia untuk menghubunginya terlebih dahulu.


Hawa bimbang, apakah ia harus menunggu lebih lama lagi atau balik ke kantor tanpa membawa hasil apapun? Tapi... setelah di ingat-ingat, tanda tangan kontrak ini sangat mempengaruhi kinerjanya nanti di perusahaan. Lagipula atasannya sudah berpesan untuk pulang dengan membawa tanda tangan kontrak dari Adam Alditri, jadi mau tidak mau hawa tetap duduk di kursinya menunggu kedatangan Adam.


Tanpa sadar hawa menggigiti kukunya sendiri.


Tok tok tok


Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk meja yang hawa tempati dan membuat kesadaran diri hawa kembali lagi. Saat melihat pelaku pengetukan mejanya, hawa langsung berdiri terburu-buru hingga membuat kursi yang di duduki nya terdorong dengan cukup kencang dan terjatuh.


Bruk


"Akh...maaf mas mba saya tidak sengaja. Sekali lagi saya minta maaf." Hawa menunduk meminta maaf kepada orang sekitar karena telah membuat kegaduhan. Apalagi di depannya sekarang berdiri seorang Adam alditri yang memakai masker dan juga topi ,tapi tetap hawa masih mengenalinya. Bagaimana tidak mengenalinya? Hawa sudah menjadi fans Adam bertahun-tahun jadi hawa sangat hafal postur tubuh dan wajah Adam bila mengenakan penyamarannya.

__ADS_1


Adam tersenyum kecil melihat kecerobohan hawa. Bahkan wajah malu-malu hawa begitu menggemaskan di mata Adam,dan membuat Adam ingin mencubit pipi hawa tapi ia tidak melakukan nya karena ia tidak mau membuat anak gadis orang berteriak kesakitan karena ulahnya.


"Bisakah kita memesan tempat yang lebih privat?" Tanya Adam membuat hawa langsung mengangguk cepat. Adam membiarkan hawa yang berjalan meninggalkannya ke bagian kasir. Ia melihat hawa dengan salah satu pelayan Restoran berbincang sebentar kemudian hawa menyuruhnya dengan isyarat tangan untuk mengikuti mereka.


Setelah mengucapkan terimakasih,Adam dan hawa memasuki sebuah ruangan di lantai atas Restoran yang memang ditujukan untuk pertemuan pribadi bagi orang-orang yang membutuhkan privasi. Bahkan tempat ini begitu luas jika di tempati hanya untuk dua orang saja.


Hawa berdiri canggung di depan pintu sedangkan Adam sendiri lebih memilih melepaskan penyamarannya dan duduk di sebuah sofa yang disediakan di tempat tersebut.


"Silahkan duduk hawa!! Nggak usah tegang begitu, saya tahu kamu pasti takut berduaan dengan saya kan?" canda Adam yang bisa melihat raut ketegangan di wajah hawa,dan itu makin terlihat manis di mata Adam.


"Bukan begitu Oppa,, Akh maksud saya tuan Adam-" Elak hawa, hawa merasa canggung karena harus berduaan saja dengan Adam di tempat sepi seperti sekarang.


"Panggil Oppa saja jika itu membuat kamu nyaman." Adam tidak suka jika hawa memanggilnya seperti itu, seakan akan mereka ini orang asing.


"Tidak bisa Tuan. Saya disini sedang bekerja untuk mewakili perusahaan jadi tidak mungkin saya memanggil anda dengan tidak sopan. Sekali lagi Maaf jika saya salah tuan?!" Hawa menunduk minta maaf.


"Kkkkk....Terserah kamu saja. Oh iya kamu mau pesan apa? biar saya panggilkan pelayan?" Adam menyerah dengan sifat keras kepala hawa ,hingga ia mengalah dan mengikuti saja kemauan gadis di depannya.


"Tidak usah tuan. Sebelumnya say mau tanya apakah manajer anda belum datang?" Tanya hawa.


"Manajer saya sedang ada pekerjaan lain,jadi dia tidak bisa datang." Terang Adam membuat kerutan di kening hawa terlihat jelas.


"Seperti itu. Kalau begitu Tuan ingin pesan apa biar saya pesankan?"


"Baiklah jika kamu memaksa. Tapi sepertinya anda sudah tahu apa yang saya suka dan tidak suka, bukan begitu nona Hawa?" Adam mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda hawa.


Blussh


Pipi hawa langsung merona malu dibuatnya.


"Please Oppa ..!! jangan kau buat aku pingsan disini.!!" Jerit hawa dalam hati.


Bisa banget emang Adam buat anak gadis orang di buat meleleh.


Setelah menormalkan detak jantungnya yang menggila. Hawa mengalihkan perhatiannya dengan mengetikan makanan dan minuman yang akan mereka pesan di sebuah tablet yang memang di sediakan Restoran ,agar para tamu tidak perlu capek-capek memanggil pelayan.


"Maaf tuan ....pesanan tuan akan di antar dalam 15 menit lagi. Dan maaf jika saya lancang, bagaimana jika kita membahas masalah kontrak tuan dengan perusahaan?" Setelah menaruh kembali tabletnya,hawa duduk dengan tegak menghadap Adam.


Adam sendiri masih duduk nyaman bersandar di sofa sambil menatap paras cantik Hawa yang tidak pernah bosan jika di pandang lama-lama.

__ADS_1


"Apa kamu tidak terlalu terburu-buru hawa? Bahkan kamu tidak menanyakan kabar saya terlebih dahulu atau basa-basi dahulu dengan saya?" Tatapan mata Adam yang begitu lurus menatap mata hawa membuat bulu kuduk hawa meremang. Bahkan ditatap seperti itu hawa merasa menjadi kecil, Adam menatapnya seperti sedang menelanj*ngi nya.


"Ehm..ehm.." Hawa berdehem untuk menutupi kegugupannya dan ia juga berkali-kali merubah posisi duduknya karena merasa tidak nyaman. Beruntung dirinya memakai celana panjang hingga membuatnya leluasa dalam duduk.


"Hawa.."


"Iya Oppa. Akh maksud saya---"


"Panggil Oppa saja hawa. Anggap saja kita tidak sedang membahas masalah pekerjaan. Bagaimana kabarmu?"


"Saya baik. Op-pa bagaimana?"


"Tentu saya baik. Apalagi setelah bertemu denganmu, saya merasa lebih baik lagi."


bluush


Rona merah menghiasi kedua pipi hawa. Perkataan Adam sungguh membuat hati hawa berdesir hangat.


Setelah menunggu 15 menit akhirnya makanan mereka di antar juga. Selama menunggu, Adam tidak merasa bosan sama sekali. Justru Adam menggunakan kesempatan ini untuk menatap hawa sampai puas.


Hawa sadar selama menunggu Adam tidak pernah melepaskan pandangan matanya darinya, tapi hawa berusaha menutupi nya dengan berpura-pura membaca Map yang berisi kontrak kerja Adam dengan perusahaan nya.


Kalau boleh jujur hawa ingin sekali kabur dari sini, tapi dalam hati kecilnya enggan. Dia ingin egois , ingin bersama Adam lebih lama lagi. Karena kapan lagi dirinya bisa satu ruangan dengan idolanya lagi.


Setelah menghabiskan makan siang mereka, Adam meminta map yang ada di samping hawa dan kemudian membacanya sebentar lalu menandatangi nya langsung. Hawa sendiri tidak terlalu perduli dengan itu, yang penting sekarang hawa sudah bisa menghabiskan waktu berdua dengan idolanya.


"Terimakasih buat hari ini Tuan. Semoga kerja sama kita bisa berjalan dengan lancar. Kalau begitu saya permisi Tuan. Selamat siang." Ucap hawa.


"Saya antar. Dan tidak ada penolakan "


"Tapi saya bawa kendaraan sendiri tuan." Hawa berusaha menolak karena dia bawa motor sendiri. Lagian mana mungkin dirinya bisa di antar oleh seorang artis terkenal , nanti yang ada timbul gosip yang tidak tidak.


"Kamu naik apa kesini?" Tanya Adam mengalah.


"Naik motor." Jawab hawa jujur.


"Ckckck... Ok saya ikutin kamu dari belakang." Adam berdecak saat mendengar jawaban hawa.


"Baiklah." Akhirnya hawa mengalah dari pada mereka harus terkurung lebih lama lagi di dalam ruangan ini. Nanti yang ada pertahanan hawa runtuh dan tidak memperbolehkan Adam pergi darinya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2