Adam & Hawa

Adam & Hawa
chapter XXXIX


__ADS_3

Bima langsung menoleh saat sang artis meminta mereka untuk ke Showroom mobil, sekarang juga.


"Lo mau ngapain kesana? Bukannya lo udah punya mobil sendiri. Jangan bilang lo mau beliin pacar Lo?" tuduh Bima.


Adam memutar bola matanya.


"Gue kalau beliin dia mobil sekarang, nanti yang ada pacar gue kabur." Selorohnya.


Ia sangat yakin, sang kekasih akan menolak. Hawa itu bukan tipe cewe, yang suka morotin pacarnya. Lagian kalau pun iya, ia tidak masalah. Karena bagi Adam, Hawa adalah segala-galanya.


"Terus, buat siapa?" tanya Bima bingung.


"Buat gue. Soalnya gue pengin bisa jemput hawa, tanpa sepengetahuan fans atau paparazi."


Bima mengangguk mengerti.


"Oke, gue setuju. Tapi kalau bisa, Lo beli mobil yang sejuta umat. Biar, nggak ada yang curiga." Usul Bima.


"Tapi tenang aja, gue bakalan ganti semua interior mobil Lo seperti mobil yang Lo punya di rumah. Bagaimana?" imbuhnya.


Adam menyeringai.


"Oke. Gue setuju. Kalau bisa gue mau, itu mobil besok lusa udah ada di apartemen gue!".


"Siap. Lo tinggal terima beres, tapi nggak gratis yah?"


"Iya, iya, nanti gue kasih bonus buat lo. Yang penting itu mobil besok lusa udah rapih, karena mau gue pake."


"Yes. Kita berangkat sekarang. Bonus, I'am coming." Ujar sang manajer bersemangat.


Adam tersenyum kecil. Ia lalu mengambil ponsel, dan bermain game favoritnya. Sudah seharian ini ia tidak bermain game, karena sibuk bekerja.


Untuk sesaat, keadaan dalam mobil itu sunyi sepi. Karena sang supir dan si penumpang, sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Bima yang sibuk menyetir sambil tertawa bahagia, karena akan mendapatkan bonus dari si bos. Sedangkan Adam, sibuk dengan dunia gamenya.


Mobil melaju kencang, melewati jalan raya yang cukup lengang. Entah kemana semua kendaraan, sehingga jalanan terlihat sepi. Atau ada kecelakaan di jalan lain, sampai membaut kemacetan di tempat lain?


Tidak ada yang tahu.


Adam menghela nafas lelah. "Bang, masih lama? Laper, nih?" rengeknya.


Bima melihat Adam lewat kaca spion di depan. "lima menit lagi sampai. Lo kalau laper, itu ada makanan dari pihak perusahaan buat kita. Lo makan saja dulu!" Ujar Bima sambil kembali fokus dengan setirnya.


Tanpa berniat membalas, Adam langsung mencari kotak makan itu di jok belakang. Matanya berbinar terang, saat melihat isi di dalam kotak.


"Tumben, enak Bang. Biasanya juga, kalau nggak nasi ayam, ya, nasi goreng." Sindirnya.


Bima berdecak. " Itu gue yang minta. Gue juga bosen, kalau di kasih itu-itu mulu. Makanya kemarin gue request sama mereka, dan Alhamdulillah di acc. Bilang makasih sama gue, tuh!"

__ADS_1


"Iya-iya, makasih Abang Bima yang ganteng. Nggak nyesel gue, punya manajer kayak Lo." Timpalnya , sambil memberikan dua jempolnya untuk sang manajer.


Bima terkekeh geli.


"Lo, lanjut makan aja dulu. Gue mau turun, nanti kalau Lo udah selesai bisa nyusul ke dalam. Oke!" Ujar Bima.


Mobil mereka sudah berhenti di sebuah Showroom mobil , yang cukup terkenal di daerah sini.


"Oke. Tapi lo aja yang urus semua. Gue mau di sini aja. Nggak apa-apa, kan Bang?" tanyanya.


Bima mengangguk. "Lo mau tipe yang terbaru atau gimana?"


"Yang terbaru. Habis itu lo kirim dulu fotonya ke gue, Gue nggak mau inden, kelamaan."


"Ya udah, nih gue ambil ATM lo buat bayar. Jangan kemana-mana, mengerti!" Peringat sang manajer.


" Iya. Udah sana buruan, keburu tutup nanti!"


Bima hanya menggelengkan kepala, lalu ia pergi meninggalkan si artis di mobil. Ia masuk ke dalam showroom, dan langsung di layani oleh karyawan di sana.


...--------...



Sebuah mobil keluaran terbaru terparkir indah, di depan sebuah gedung berlantai lima. Banyak karyawan yang melihat penasaran.


Mungkin bagi orang yang kaya raya, membeli mobil ini seperti sedang membeli ice cream. Berbeda lagi jika yang melihatnya , para kamu menengah ke bawah. Mobil ini sudah Wow, bagi mereka.


Vivi, Ryan, Dodo, dan juga Hawa yang baru saja keluar dari pintu loby kantor terheran, melihat pemandangan mobil Xpander terparkir indah di depan gedung.


Mereka saling melihat satu sama lain, kemudian mengangkat bahu tidak peduli.


Hawa berniat melangkah pergi, tetapi terhenti karena ponselnya bergetar. Matanya membola terkejut, saat melihat isi pesan dari sang pengirim.


Matanya menatap kembali mobil di depan, lalu menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Kenapa, lo?" senggol vivi.


"Em, sepertinya gue nggak jadi ikut sama kalian, deh. Soalnya ...," matanya mengedar bingung, mencari alasan.


"Soalnya kenapa? Kalau ngomong, tuh di lanjutin. Jangan setengah-setengah, deh!"


"Iya. Kenapa, Hawa?" tanya Ryan lembut.


Hawa menatap temannya, bingung.


"Itu ... sebenarnya, gue ada urusan. Iya, gue ada urusan sama temen gue mendadak. Jadi maaf yah, nggak bisa ikut ngumpul sama kalian semua." Kilah Hawa.

__ADS_1


Vivi, Ryan, dan Dodo langsung menatap hawa kecewa. Padahal mereka sudah merencanakan acara ini ,dari tadi pagi. Terutama Ryan, ia sudah berharap akan bisa pergi dengan hawa tetapi ia harus menelan rasa kecewa itu.


"Ya, udah nggak apa-apa. Besok juga masih ada hari lagi. Kamu santai saja, Hawa. Nggak usah merasa bersalah seperti itu. Kkkk." Ucap Ryan menenangkan Hawa yang merasa bersalah.


"Kalau bukan temen, udah gue kubur lo hidup-hidup. Cih," decih Vivi.


Dodo yang tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menyunggingkan senyum. Ia menepuk pundak hawa, lalu berlalu dari hadapan si teman.


Bibirnya berkedut samar, saat melihat Vivi berjalan sambil mengacungkan jari tengah pada dia. Setelah tidak melihat punggung mereka lagi, ia berjalan dengan sungkan ke arah mobil itu terpakir.


Ia membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalam dan menutupnya kembali.


Matanya menatap sinis ke arah sang pengemudi.


"Hei, kenapa seperti itu? Bukankah, seharusnya kamu menyambutku dengan senyum indahmu." Goda sang kekasih, tidak lain tidak bukan Adam Alditri.


Iya. Mobil yang terparkir di depan gedung kantor Hawa, adalah milik sang kekasih. Adam sengaja menjemput sang kekasih ke kantor, katanya sekalian test Drive.


Hawa membuang muka. "Kenapa tidak mengabariku terlebih dahulu? Coba kalau tadi aku udah pergi, kan, Oppa jadi kasihan." Jawab hawa sambil mengerucutkan bibirnya.


Adam tersenyum. Ia langsung mengusap rambut hawa, yang kali ini sedang di ikat. Dengan usil, ia menarik ikat rambut sang kekasih, hingga membuat rambut gadis itu tergerai indah.


"Kamu cantik sekali, sayang." Jujur Adam. Tangannya mengusap rambut halus gadis itu dengan penuh sayang.


Gadis itu langsung merona malu. Sudah ia katakan, kalau ia masih belum terbiasa dengan sikap romantis dari sang kekasih.


"Bohong." Elaknya.


"Buat apa saya berbohong, kalau kenyataannya emang kamu masih cantik. Apa perlu saya turun, dan meminta pendapat orang lain agar kamu percaya padaku." Usul sang kekasih.


"Iya-iya percaya. Makasih." Senyum manis ia berikan kepada sang idola.


"Gemes banget, sih, pacar aku."


"Stop, Oppa! lebih baik kita jalan, dan tolong antarkan aku pulan sekarang juga. Aku sudah lapar, please!"


"Oke. Anything for you, sayang." Jawab sang kekasih. "Let's go, ke rumah calon mertua, berangkat." Imbuhnya.


"Apa?"


TBC


Jangan lupa like, komen, and favorit yah.


Yuk mampir ke karya temanku di sini. Ceritanya keren loh.


__ADS_1


"


__ADS_2