Adam & Hawa

Adam & Hawa
chapter XXX


__ADS_3

...Saya tunggu di mobil, sekarang!...


Hawa melirik Adam sebentar, kemudian melipat kertas yang berisi tanda tangan plus memo kecil dari Adam. Bibirnya menipis menahan hasrat ingin berteriak, sesaat matanya mengedar keruangan atasannya untuk menghindar dari tatapan seseorang yang sedari tadi menatapnya intens. Tatapannya kembali bertemu dengan pemilik bola mata hitam pekat yang kini sedang menatapnya tertarik.


Hawa memalingkan wajahnya dan kini menatap atasannya.


"Kalau begitu, saya permisi Pak!"


"Baiklah, kembali ke mejamu. Dan jangan lupa ucapkan terima kasih kepada Tuan Adam, karena dia mau memberikan tanda tangan cuma-cuma sama kamu."


Hawa menggigit bibirnya ragu.


Haruskah aku melakukannya?


Adam mengulum bibir menahan tawa saat di lihatnya Hawa begitu canggung padanya.


"Emm, saya ucapkan terima kasih kepada Anda tuan. Dan, Saya doakan karirnya makin sukses."


"Aamiin."


"Kalau begitu, saya pamit dulu Pak. Masih banyak yang harus saya kerjakan, permisi."


"Silahkan."


Adam menatap punggung hawa dengan sendu, sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepadanya. Tapi, dia tidak mau membuat Hawa tidak nyaman berada di dekatnya. Apalagi ini adalah tempat umum.


Semoga saja dia mau menemaniku setelah ini.


Bima yang menyadari kegalauan Artisnya, memilih memecah keheningan dengan berdehem.


"Kalau sudah tidak ada yang perlu kita diskusikan, kami pamit dulu pak. Soalnya Adam masih ada jadwal yang harus dia kerjakan."


"Oh iya,iya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kunjungan nya. Sampai jumpa lagi."


"Sama-sama. Permisi!"


Adam dan Bima saling berjabat tangan sebentar dengan pak Rahmat, setelahnya mereka langsung turun ke lobby menggunakan lift. Bima menatap Adam yang sedari tadi diam saja, membuatnya menduga-duga kalau ada yang Adam sembunyikan darinya.


Ting


Lift terbuka, Adam dan Bima berjalan keluar melewati meja resepsionis yang hanya di huni oleh 2 orang karyawati. Lobby terlihat lengang, mungkin karena masih jam sibuk makanya tidak seramai tadi pagi. Bima mengerutkan keningnya memandang seseorang yang sedang berdiri di samping mobilnya, kemudian menoleh ke arah Adam yang masih belum sadar ada gadis yang sedang menunggunya.


Pantesan. Ternyata ini toh, maksud tulisan Adam. Dasar licik.


Bima tetap berjalan santai tanpa mau berkata apa-apa pada Adam. 'Biarlah, nanti juga sadar sendiri' pikir Bima.


Bima sengaja menyalakan alarm mobilnya agar gadis itu bisa masuk kedalam mobilnya. Kasihan jika melihatnya seperti anak hilang seperti itu. Tuh, kan, kurang baik apa coba Bima. Tapi tetep aja jomblo, kan ngenes banget jadinya.

__ADS_1


Tanpa rasa curiga, Adam membuka pintu bagian belakang dan matanya langsung membulat. Seakan tak percaya, Adam sampai menepuk-nepuk pipinya sendiri.


"Auch, sakit," rengek Adam. Gadis itu tersenyum geli melihatnya.


Kapan lagi bisa melihat idolanya bertingkah bodoh seperti ini.


"Kamu, kenapa bisa ada disini?" tanya Adam menunjuk gadis dengan setelan kantornya sedang duduk di kursi yang biasa dia duduki.


Gadis itu merotasikan kedua bola matanya, Dia langsung merogoh kantong celananya dan memperlihatkan kertas berisi tanda tangan serta memo kecil di dalamnya.


Adam yang baru sadar saat di tepuk pundaknya oleh Bima langsung salah tingkah. Dia menggaruk kepala bagian belakangnya, merasa bodoh dengan sikapnya.


"Lo mau masuk atau nggak?" tanya Bima.


Adam menatap manajernya kemudian beralih ke arah gadis yang di ketahui bernama Hawa kemudian beralih kembali ke arah manajernya.


Dia menimbang-nimbang, apa yang harus dia lakukan? Dia tidak mungkin main angkut anak orang saja. Yang ada nanti dia di gebukin sama atasan Hawa. Tapi kalau Adam yang minta dengan urusan pekerjaan kayaknya sih boleh. Tapi Adam tidak mau bertindak egois, jadi dia memilih tetap berada disini sebentar. Dia hanya akan menanyakan siapa cowok tadi pagi ,itu saja.


"Bang, minta waktu sebentar yah? soalnya ada yang mau saya bicarakan dengan hawa."


"Inget! jangan lama-lama! Soalnya lo masih ada jadwal pemotretan dia jam lagi.."


"Iya, gue janji bentar doang."


"Oke. Gue tunggu di pos satpam ,yah? nanti kalau udah selesai lo bisa telfon gue."


" Ada apa, Oppa?" tanya hawa langsung saat melihat Adam sudah menempati kursinya. Dia tidak mau berlama-lama hanya berdua saja dengan Adam. Takut nanti ada paparazi yang menangkap fotonya yang keluar dari mobil Adam. Dia paling tidak mau itu terjadi.


"Siapa laki-laki yang mengantarkan kamu tadi pagi?"


"Randy."


"Siapa dia?"


"Adik saya."


"Terus su-...tunggu? maksud kamu, tadi itu adik kamu? Anak dari ayah dan ibu kamu, gitu?" pertanyaan yang bodoh.


"Menurut Oppa?"


"Kamu nggak lagi bohong, kan?"


"Buat apa saya bohong. Lagian nggak ada untungnya buat saya, Oppa."


"Tapi, tadi, kamu...."


"Nggak ada tapi-tapian. Dia itu adik saya, namanya Randy dan dia masih sekolah." Terang hawa panjang lebar. Adam yang mendengarnya langsung tersenyum lebar. Bahkan hawa takut bibir Adam akan sobek saking lebarnya dia tertawa.

__ADS_1


"Ya ampun, Hawa. Aku tuh tadi udah berpikir yang tidak-tidak tentang kalian. Sial, gobl*k banget gue. Maaf, yah Hawa?"


"Iya, Oppa. Saya juga minta maaf karena tadi membohongi Oppa."


"Lo nggak salah! Gue yang salah disini." Senyum Adam masih belum luntur juga, membuat pipi hawa merona merah. Baru kali ini dia mendapati idolanya tersenyum seperti itu. Membuat kadar ketampanannya semakin bertambah.


"Oppa, jangan seperti itu!" Hawa menggigit bibirnya tanpa sadar, saat Adam malah sengaja mendekatkan wajah mereka. Hawa mendorong tubuhnya semakin kebelakang. Dia juga menahan nafas saat mencium bau wangi Adam yang begitu memabukkan.


"Maksud kamu?" tanya Adam lirih, kini jarak wajah mereka hanya sejengkal saja. Adam bahkan bisa leluasa meneliti setiap jengkal wajah Hawa yang begitu cantik, padahal riasan yang di gunakan ya sangat tipis. Entah kenapa, matanya berhenti tepat di atas bibir hawa yang begitu menggoda berwarna pink.


Adam menelan ludahnya gugup saat menyadari gadis di hadapannya tetap diam, tak bergerak, membuat matanya kembali menatap mata gadis itu. Bola matanya berwarna coklat dan tatapannya sangat menggetarkan hatinya.


Hawa yang di tatap begitu intens oleh Adam ikut menelan ludahnya. Tak pernah sekalipun dia berada di posisi seperti ini dengan lawan jenisnya.


"Oppa~" lirih hawa saat melihat pandangan Adam yang sedang menjelajahi wajahnya.


Mendengar suara Hawa yang begitu lirih di depan wajahnya, makin membuat pikiran Adam semakin tak terkendali.


Hawa ingin memalingkan wajahnya saat melihat Adam yang makin membuang jarak di antara wajah mereka. Saat jarak wajah mereka tinggal beberapa senti, Adam sengaja berhenti. Dia tidak akan marah jika hawa menolaknya, tapi setelah beberapa saat terdiam. Dengan berani, bibirnya mengecup bibir hawa.


Cup


Seperti terkena sengatan listrik, tubuh hawa berubah kaku. Tubuhnya langsung menegang, bahkan tangannya mengepal kuat. Detak jantungnya berdetak tak menentu, seakan ikut lari maraton.


Adam yang menyadari gadis di depannya berubah tegang, langsung menjauhkan bibirnya sedikit. Matanya mendapati mata Hawa yang terpejam kuat seolah-olah baru kali ini di cium oleh lelaki.


Splash


Seakan tersadar apa yang telah dia lakukan, Adam langsung memundurkan tubuhnya. Dia tidak tahu kalau gadis di depannya belum pernah berciuman dengan lawan jenis.


Adam menggaruk belakang kepalanya.


Tangannya mencoba menyentuh tangan hawa yang terkepal kuat. Dia tidak menyangka efek dari ciumannya akan menjadi seperti ini. Karena selama ini, Adam dengan mantannya sudah sering melakukannya tapi tidak sampai melakukan ****. Karena jelas dia tidak mau membuat orang tuanya kecewa.


Tapi saat melihat gadis di depannya masih terdiam kaku, membuat perasaannya merasa bersalah karena sudah menciumnya.


"Hawa," panggil Adam lembut.Dia juga tidak melepaskan genggaman tangannya, dia tidak mau membuat hawa terkejut dan langsung pergi meninggalkannya. Tangan hawa begitu pas saat berada di genggaman tangan Adam, hingga membuat Adam tidak ingin melepaskan nya.


Hawa membuka matanya dengan pelan, bulu kuduknya meremang saat menatap mata Adam. Dia jelas melihat ada sinar penyesalan di mata Adam. Hawa mengalihkan pandangannya, dia belum siap jika harus di tatap sedemikian rupa oleh Adam.


Tanpa sadar hawa menggigit bibirnya. Dia berniat merapihkan rambutnya yang tidak berantakan dengan tangannya, tapi tidak terlaksana. Justru pandangannya melihat pemandangan yang lebih mengejutkan lagi.


Bagaimana bisa tangan gue terasa pas dalam genggaman tangannya?


Adam yang menyadari arah tujuan mata hawa makin mengeratkan genggamannya.


"Maukah kamu jadi kekasihku?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2