Adam & Hawa

Adam & Hawa
Chapter XXXV


__ADS_3

"Tunggu, Hawa!" Panggil Adam.


"Ada yang mau saya bicarakan?" ia menahan tubuh Hawa. "Apa kamu ada waktu luang sebentar?" tanya Adam.


Acara tadi sudah selesai, dan kini dia sedang berjalan menuju ruangannya. Namun, niatnya ia urungkan, saat melihat Hawa yang masih berada disana bersama dengan Ardi. Entah apa yang sedang Ardi lakukan dengan Hawa, dia tidak terlalu memperdulikannya.


Ardi melihat kearah Adam dengan seringai lebar tercetak jelas di wajahnya.


"Apa?" tanya Adam saat melihat Ardi yang menyeringai.


Ardi mengangkat bahunya seolah tak perduli.


Hawa melihat ke area sekitar yang masih di penuhi banyak orang, dari kru, hingga para penonton yang masih bertahan di sini.


Adam menyuruh Hawa untuk ikut ke ruangannya. Dia tahu bahwa Hawa merasa kurang nyaman, jika harus berbicara di sini. Lagian dia juga merasa tidak leluasa jika di lihat oleh banyak orang.


"Permisi, Kak Ardi," pamit Hawa sambil membungkukkan tubuhnya.


Ardi tersenyum mempersilahkan Adam membawa Hawa bersamanya.


"Hati-hati, Hawa! Adam orangnya suka gigit, loh!"


"Sialan, lo, Bang. Awas aja, gue bakalan aduin kelakuan lo, yang suka masih kecentilan sama cewek lain."


"Lihat , Hawa! Jangan mau sama cowok yang hobinya suka ngadu kaya dia. Nanti takutnya kalau kamu ngapa-ngapain, terus dia ngaduin kamu ke nyokapnya. Hahaha." Olok Ardi ke Adam.


"Sebahagia lo, aja Bang." Jawab Adam. Ia berjalan meninggalkan Ardi yang masih sibuk menertawakannya.


...------...


Bima yang sedang memainkan ponsel, terkejut saat Adam membawa masuk Hawa ke ruangan mereka. Para make up artis, langsung memandang gadis yang berada di samping Adam dengan penuh curiga. Mereka menatap tubuh Hawa, dari atas sampai ke bawah, kemudian kembali melihat kearah wajah gadis itu.


"Ckckck, pantesan lo putusin Rora. Ternyata ... Ada yang lebih cantik dari dia. Pinter banget kalau soal nyari cewek cantik," ujar sang MUA.


Dia berbicara sambil membereskan perlengkapan make up-nya.


Adam menatap Hawa cemas, Ia takut Hawa tersinggung dengan ucapan sang MUA.


Hawa berdiri canggung, diantara orang-orang yang ada di ruangan. Ia menatap Adam sejenak, kemudian menundukkan kepalanya. Ia menghela nafas, untuk meredakan rasa gugupnya.


"Duduklah, Hawa." Ucap Bima.


" Nggak usah dengerin, apa kata Nenek Lampir itu! Emang suka nyelekit, maklum, dia makannya cabe 1kg. Jadi gitu, suka pedes kalau ngomong." Ucap Bima.


Ia menyuruh Hawa untuk duduk di kursi yang dia tempati.

__ADS_1


Hawa tertawa canggung, tetapi ia tetap duduk di kursi yang diberikan oleh Bima. Matanya mengedar ke sekitar. Ia menemukan perempuan tadi, sedang ditarik keluar oleh Bima. Ia lalu mengusap lengannya yang tiba-tiba terasa dingin. Mungkin karena suhu penyejuk dalam ruangan ini terlalu tinggi.


"Maaf, ya! Mba Nita emang suka gitu sama orang lain." Ucap Adam tidak enak.


Adam menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya. Ia berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya, jika harus berduaan kembali dengan Adam di ruangan tertutup.


Adam menarik tangan Hawa dengan lembut, dan menggenggamnya. Matanya menatap dengan penuh kasih. Sudah 2 minggu mereka tidak bertemu, dan juga tidak saling berkomunikasi. Dan saat akhirnya, mereka bisa bertemu kembali, Adam tidak bisa menutupi rasa rindunya.


"I miss you," ucap Adam.


Hawa mematung. Bibirnya terasa kelu untuk menjawab. Ia menatap mata Adam yang begitu menjelaskan betapa rindu laki-laki itu padanya.


Tangannya bergetar saat menyentuh wajahnya. Ia mengusap lembut rahang Adam yang begitu tegas. Seakan ingin memastikan bahwa ini bukanlah mimpi belaka.


"Sejujurnya .... aku juga merindukan kamu, Oppa," ungkap Hawa.


"Kenapa tak menghubungiku? Aku akan langsung datang saat kamu menghubungiku. Tolong, Hawa! Jangan menyiksa diri kamu sendiri. Katakan jika kamu ingin bertemu denganku!"


"Aku ... aku hanya tidak ingin mengganggumu, Oppa," elak Hawa.


"Maafkan aku, jika selama 2 minggu ini tidak menghubungimu. Aku hanya tidak tahu harus berkata apa saat bertemu denganmu. Aku terlalu malu setelah ditolak olehmu. Jujur ... aku begitu terluka saat itu. Namun, setelah 2 minggu tidak melihatmu ... aku sadar kalau aku sudah benar-benar jatuh hati padamu." Ungkap Adam jujur.


Adam menggenggam tangan hawa lembut.


"Apa ... kamu mau menjadi kekasihku?" tanya Adam.


Netra Adam menatap tegas ke arah Hawa tanpa ada keraguan, hingga gadis itu kembali menitikan air mata. Tangannya pun bergerak menghapus cairan bening yang sama di wajah Adam. Dengan bibir yang bergetar menahan isak tangis, Hawa mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Adam.


Melihat itu, Adam langsung meraup tubuh Hawa dalam pelukannya.


"Terima kasih, Sayang! Terima kasih, sudah bersedia menjadi kekasihku. Aku janji akan menjaga kepercayaan kamu."


Hawa melepaskan rengkuhan mereka. Pipinya berubah merah merona karena malu.


"Berarti, kita sekarang sudah resmi jadi sepasang kekasih, kan?" tanya Adam.


"Nggak tau,"


"Yakh, mana bisa begitu? Kan, tadi kamu sudah mengangguk. Berarti tandanya kita sudah pacaran. Jangan bikin saya marah, yah sayang! Mau aku cium kamu kamu sekarang juga?" ancam Adam.


Hawa langsung berdiri, dan berniat pergi menjauh dari jangkauan Adam. Tetapi, ia tidak bisa melakukannya, karena Adam sudah memerangkap tubuh kecilnya dalam rengkuhan.


"Eits, tidak bisa! Kamu tidak bisa lari lagi dariku, karena aku sudah mengikatmu dengan cintaku. Hahaha."


Hawa berusaha melepaskan rengkuhan Adam di tubuhnya, tetapi tidak bisa. Kekuatan Adam lebih besar dari darinya. Akhirnya, ia menyerah dan membiarkan tubuhnya di rengkuh oleh Adam.

__ADS_1


Tak bisa di tampik, kalau dia sangat menikmati kebersamaan mereka saat ini. Sudah cukup, ia membohongi hatinya sendiri. Sekarang hawa ingin bersikap egois, karena dia juga ingin merasakan kebahagian bersama dengan orang terkasih.


"Kenapa diam? Udah nyerah?" goda Adam.


"Nggak ada apa-apa," kilah Hawa.


Matanya mengedar kearah lain, tak berani menatap Adam yang sedang memperhatikannya.


"Kkkk. Gemesin banget, sih, pacar aku!" goda Adam. Saking gemesnya, Ia mencubit pipi Hawa pelan.


"Jangan di cubit dong, Oppa!" rengek Hawa manja.


Adam yang baru pertama kali melihat Hawa yang merengek, langsung mencium pipi kanan Hawa.


Hawa yang terkejut, tanpa sadar mendorong tubuh Adam, sehingga membuat rengkuhan Adam lepas darinya.


"Oppa nggak boleh, yah, asal cium-cium! Hawa nggak suka!" Rajuk hawa.


Hawa langsung memalingkan tubuhnya, dan ia membelakangi Adam. Dia mencibir kelakuan kekasihnya yang begitu menyebalkan. Baru juga jadian, sudah main sosor-sosor aja, kaya bebek.


"Emang dia pikir gue cewe apaan, yang dengan gampangnya menyerahkan diri atas nama cinta. Ciih!"


Adam yang mendengarnya tertawa.


Suara hawa yang cukup keras masih bisa di dengar olehnya, karena di ruangan ini hanya ada mereka berdua.


Melihat kekasihnya yang tidak berhenti tertawa, membuat ia langsung memukul lengan Adam dengan cukup keras.


Adam langsung mencekal lengan pacarnya.


"Cie ... yang udah berani mukul pacarnya?" goda Adam.


"Oppa ... berhenti menggodaku," rengek Hawa.


Pipinya bersemu merah karena malu.


Untuk merayakan hari jadi mereka. Adam dan Hawa memilih menghabiskan waktu sore itu bersama sambil bercanda ria.


Tak dipikirkannya hari esok akan seperti apa.


Yang terpenting sekarang adalah bisa berduaan dengan kekasih tercinta.


'Yeah! gue udah nggak jomblo lagi.'


TBC

__ADS_1


__ADS_2