
"Lo nggak akan mempermainkan dia, kan? Seperti lo mempermainkan mantan-mantan lo dulu." Desak Bima.
Ia menolehkan kepalanya, dan melihat ke arah sang manajer yang sedang menunggu jawaban pertanyaan dari dia.
"Maksud lo apa, bertanya seperti itu?"
"Gue tau kalau selama ini lo pacaran ,itu, cuma buat seneng-seneng doang. Tapi, please! Tidak untuk dia."
Ia semakin tidak mengerti, apa maksud dari ucapan sang manajer.
Iya, dia akui kalau selama ini ia pacaran hanya untuk bersenang-senang saja. Namun, semenjak mengenal gadis itu, dia sudah lupa akan segalanya. Yang ia inginkan sekarang adalah selalu bersama dia setiap waktu.
Bahkan sekarang pun, ia sudah merindukan sang kekasih.
"Gue chat dia, ah! Siapa tau dia lagi nggak sibuk," cetus Adam.
Ia langsung mengeluarkan ponsel, lalu mencari nomor kontak kekasihnya.
Bima yang merasa diabaikan langsung merebut ponsel Adam.
"Bang, apa-apaan sih? Gue mau chat Hawa, jadi balikin ponsel gue!"
"Lo belum jawab pertanyaan gue?"
"Pertanyaan yang mana, sih?"
"Ckckck. Nggak usah pura-pura bego deh, lo. Gue yakin lo tadi denger ucapan gue. Jadi, jawab sekarang juga!" Hardik sang manajer.
Ia menghela nafas, lalu matanya menatap datar Bima.
"Gue mau tanya dulu sama lo, Bang?" tanya Adam sambil memangku tangannya.
"Apa?" jawab Bima.
"Kenapa Lo sekhawatir itu, sama dia? Lo lagi nggak berniat menusuk gue dari belakang, kan Bang?" tuduh Adam.
"Astaghfirullah. Kenapa lo tega banget nuduh gue kaya gitu?" tanya Bima tak mengerti.
Bima menyugar rambut frustasi. Sedangkan Adam hanya diam, tak merasa bersalah dengan ucapannya. Justru, ia penasaran apa yang akan Bima katakan.
"Oke, gue bakalan jujur sama lo. Iya, Dulu gue emang sempet, suka sama dia, tapi ... tunggu dulu! Jangan marah dulu." Sergah Bima saat melihat Adam yang bangun dari kursi.
Adam menatap sengit manajernya. Beruntung, mereka sekarang sedang berada ruangan tertutup. Coba kalau ada yang denger, bisa jadi gosip nanti.
"Tapi itu dulu! Sebelum gue tahu, kalau dia cinta sama lo. Makanya, gue berharap banget sama lo, untuk tidak menyakiti hatinya." Ungkap Bima.
Bima sendiri memang sempat menaruh hati pada Hawa, tapi dia urungkan niatnya. Saat tahu, di hati Hawa hanya ada Adam Alditri.
Dan bagaimana bisa ia tahu?
Karena waktu itu, Bima tidak sengaja mendengar percakapan antara Hawa dengan temannya. Dan di lain waktu, Ia juga sering melihat tatapan penuh cinta dari gadis itu kepada Adam.
Jadi dari pada ia harus menahan sakit terlalu lama, lebih baik iya mundur. Karena mencintai seseorang, yang jelas-jelas tidak mencintai kita itu sangat menyakitkan. Dan, ia lebih memilih mengikhlaskan dia untuk orang lain.
"Yakin, lo udah nggak suka lagi sama dia?" tanya Adam memastikan.
Bima berdecak. "Ckckck, terserah lo mau percaya atau tidak. Itu bukan urusan gue, dan gue tekankan lagi sama lo, yah, Dam! Jangan pernah sakiti hatinya! Kalau sampai itu terjadi, gue nggak segan-segan buat nonjokin muka lo, itu!"
Bima menatap tajam Adam yang kini sedang menganggukkan kepalanya, seolah dia mendengarkan ucapannya.
Lalu dalam sekejap Bima memandang manajernya dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Gue cinta sama Hawa bukan karena kecantikannya, melainkan karena hatinya. Asal lo tahu yah, Bang! Mungkin dulu gue brengs*k karena udah nyakitin hati banyak perempuan. Namun, setelah gue ketemu dia, justru gue yang takut kehilangan dia, Bang." Mata Randy berkaca-kaca. Terlihat kesungguhan dalam setiap untaian katanya. Lelaki itu tampak terluka ketika dipaksa untuk berpisah dengan kekasih yang sangat dicintainya.
...---------...
"Kayaknya ada yang habis menang lotre, nih? Bahagia banget?" sindir Vivi.
Seketika senyumnya semakin lebar, saat disindir si teman. Bukan hanya itu saja, telinganya pun ikut memerah dibuatnya.
Vivi yang melihatnya semakin curiga. Ada apa gerangan, sahabatnya menjadi seperti ini?
"Ada apaan, sih? Kasih tahu gue! Gue nggak mau, yah, jadi orang yang nggak tahu apa-apa soal sahabatnya." Cecar Vivi.
Masih dengan wajah merona, ia menaruh kembali sendok di tangan ke atas meja. Kemudian, ia menatap wajah Vivi dengan salah tingkah.
"Gue habis jadian," gumam Hawa.
Kening Vivi berkerut samar.
"Sama siapa? Ryan atau siapa?" ulik Vivi.
"Sama Adam." Ungkapnya malu-malu.
Vivi berdecih.
"Terserah lo!" Cibir Vivi.
Bibirnya memberengut manja, saat si teman tidak percaya padanya.
Vivi memilih melanjutkan acara makan siang yang tertunda, karena harus mendengar omong kosong sang sahabat. Sudah serius ia mendengarkan, ternyata si teman hanya halu.
"Gue lagi nggak bohong, Vi?"
Ia menatap wajah Vivi dengan kecewa. Padahal ia sudah berekspektasi, kalau sang sahabat akan memberikan ucapan selamat kepada ia.
Tetapi ia harus menelan pil pahit, karena sang sang sahabat memilih acuh dan melanjutkan acara makan dia yang tertunda.
Getar ponsel, membuat ia mengalihkan perhatian. ia melengkungkan bibirnya saat melihat id caller si penelpon.
Suasana hati yang tadi mendung, kini cerah kembali.
"Assalamualaikum." Sapanya dengan senyum lebar.
Vivi mencibir kelakuan sang sahabat.
Ia membuang wajah, saat lagi-lagi Vivi mengejeknya.
["Wa'alaikumsalam. Apa kamu sudah makan, sayang?"]
"Em ... ini lagi makan. Kamu udah makan?"
Vivi menatap Hawa ngeri. Sejak kapan sang sahabat bisa bertingkah menjijikan seperti itu?
["Selamat makan, yah sayang. Aku juga lagi makan. Kamu makan pakai apa sayang?"]
"Iya, makasih. Selamat makan juga buat kamu." Bibirnya ia tipiskan. Menahan letupan bahagia di dada.
"Aku lagi makan soto ayam, di kantin." Imbuhnya.
Vivi langsung mengangsurkan sendok berisi nasi dan kuah soto ke mulut si teman.
Matanya langsung mendelik, saat Vivi menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Makan dulu, jangan pacaran bae!" Sindir Vivi.
"Biarin, terserah gue." Elaknya.
"10 menit lagi jam istirahat selesai. Gue nggak mau, nanti lo kelaparan."
["Bener, apa kata temen kamu, sayang. Lebih baik, kamu makan sekarang. Nanti malam, aku hubungin kamu lagi, Oke?"]
Hatinya merasa tidak rela, saat sang kekasih ingin mengakhiri panggilan. Ia masih ingin mengobrol dengan sang pujaan hati.
"Maaf, yah Oppa." Sesalnya.
Setelah ia mengakhiri panggilan dengan sang kekasih. Kemudian ia melanjutkan makan, tidak dihiraukannya sang sahabat yang menatap ingin tahu.
Selesai makan, ia beranjak dari kantin menuju toilet. Ia ingin buang air kecil, karena sudah ia tahan sedari tadi. Lagipula, tidak baik menahan kencing karena bisa mengakibatkan penyakit.
"Gue mau ke toilet dulu. Lo duluan, aja!" Ujar hawa sambil lalu.
Vivi hanya mengangguk, dan pergi ke ruangan dia sendiri. Ia yakin sang sahabat pasti sedang merajuk karena ditegur oleh dirinya.
Saat hawa sedang berada di dalam bilik toilet. Terdengar suara bisik-bisik dari luar.
"Lo kemarin lihat nggak, acara TV sebelah?"
"Kenapa?"
"Hawa, anak kesayangan Pak Rahmat, ada disana."
"Terus apa hubungannya? Gue nggak ngerti apa maksud lo."
"Adalah. Lo tau nggak, ternyata si Hawa sama Adam sudah saling mengenal satu sama lain. Gila nggak, tuh?"
"Semua anak di disini juga tau, kalau hawa itu ketua fans dari Adam. Jadi wajar dong, kalau sampai Adam kenal sama dia."
"Tapikan tetap saja. Itu sangat menyebalkan bagi gue. Gue juga ngefans banget sama dia, tapi nggak pernah di notice sama dia."
"Ckckck. Bilang aja lo iri sama sama dia. Gitu aja kok repot."
"Emang lo nggak iri sama dia? Lagian lo juga tau, kan, kalau karyawan cowok di sini banyak yang suka sama dia. Gue yakin, tuh orang pasti sudah jual diri, sama banyak orang."
Hawa terdiam membeku, wajahnya berubah pias. Saat lagi-lagi dia harus menerima cemoohan dari orang lain.
Sudah cukup sering ia mendengar perkataan yang menyudutkannya.
Apa mereka tidak punya hati, hingga dengan tega menjatuhkan harga diri orang lain.
Tidak bisakah, mereka berkaca pada diri mereka sendiri?
Apa mereka sudah lebih baik dari orang yang mereka gunjingkan?
Tetes air mata mengalir deras di mata indahnya.
Ampuni mereka, ya , Allah?' batin Hawa.
TBC
Jangan lupa like ,komen, dan vote nya yah teman-teman. Karena itu sangat membuatku bahagia.
Aku punya Rekomendasi novel yang bagus buat kalian semua. Jangan lupa mampir yah.
__ADS_1