Adam & Hawa

Adam & Hawa
Chapter XXVII


__ADS_3

Suasana cafe AND sore ini begitu ramai di datangi para pengunjung yang ingin melepaskan penat setelah lelah bekerja. Di kursi bagian pinggir dekat jendela, ada 2 orang anak ADAM yang sedang bersenda gurau.


Perempuan yang kita ketahui bernama Hawa kini sedang tertawa mendengar candaan dari lawan bicaranya,Rian. Hawa sangat menikmati kebersamaan nya dengan Rian. Bahkan saking lucunya , Hawa sampai tidak bisa menahan tawanya yang keluar dari bibir pink nya.


Rian terpesona melihat betapa cantiknya wanita yang ada di depannya. Tawanya begitu menular hingga membuat Rian tanpa sungkan ikut tertawa bersama dengan Hawa.


"Ya ampun mas Rian tuh ternyata orangnya bocor juga yah? Sumpah Mas! Hawa sampai tidak bisa berhenti tertawa mendengar lawakan mas Rian. Hahaha."


"Lagian si Sapto bego banget. Udah tau ada kaca di depannya, main terjang aja dia. Alamat jidatnya makin jenong kan dia."


"Terus-terus gimana Sapto nya sekarang Mas? Masih dendam nggak tuh sama si kaca? hahaha."


"Tadinya dia udah mau nendang tuh kaca,tapi keinget nanti kalau dia nendang kacanya terus pecah alamat bisa di SP dia sama pihak HRD."


"Hahaha. Bisa banget tuh Sapto. Besok gue mau nyatronin meja Sapto ah, mau gue kecengin dia. Hahaha. Sumpah gue nggak bisa bayangin betapa malunya tuh bocah."


"Calling-calling nanti kalau mau ngecengin dia Wa. Biar tambah malu dia nanti. Hahaha."


"Okidoki Capten! Udah ah cape nih,takut kencing di celana gue kalau bahas Sapto lagi."


Rian dan Hawa sama-sama saling menatap kemudian tawa mereka tersembur kembali. Hawa benar-benar merasa terhibur mengobrol dengan Rian. Saking sibuknya mereka menghentikan tawanya, mereka sampai memegang pipi mereka masing-masing hingga mengipasi wajahnya agar tak terlalu merah .


"Hah hah hah, sepertinya kita harus menghentikan ini! Gue takut beneran ngompol nih mas." Hawa berusaha mengontrol tawanya agar bisa berhenti. Wajahnya sudah terasa kaku saking lamanya dia tertawa.


"Gue juga udah nyoba tapi susah Wa."


"Oke. kita tarik nafas, terus buang pelan-pelan."


Rian mengikuti setiap instruksi yang di berikan dari Hawa untuk menghentikan tawa mereka. Setelah beberapa saat akhirnya tawa mereka benar-benar berhenti. Hawa mengambil gelas yang berisi es boba lalu meminumnya. Sedangkan Rian ikut meminum minumannya sendiri.


"Wa sepertinya udah cukup lama kita disini. Apa tak sebaiknya kita pulang? Gue nggak enak sama orangtua lo nih?"


Hawa melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam.


"Alamat bisa di ceramahi gue nih sama satpam gue."


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Maksud gue itu Randy,Adik gue Mas.!"


"Ooh. Ya udah yuk gue anter sekalian. Lagian kan tadi gue yang ngajakin lo, masa iya gue biyarin elo pulang sendiri. Gue kan laki-laki yang bertanggung jawab."


"Sombong amat Mas. kkkkk"


"Harus dong! Biar orang tuh tau kalau gue itu pantas untuk di perjuangkan. Iya nggak ?" Rian menarik turunkan alisnya sengaja untuk menggoda wanita di depannya. Hawa sendiri malah mendengus geli melihatnya.


"Iyain ajalah. Takut nanti malah bunuh diri di pohon tauge lagi.kkkkk"


"Yang ada pohon tauge nya yang mati di pites sama gue."


"Bisaan ih Mas Rian jawabnya."


"Udah yuk Mas! pulang yuk! Takut di cariin nih."


"Let's go!"


Hawa dan Rian berjalan bersama menuju kasir untuk membayar makanan yang mereka makan tadi. Saat Hawa akan membayar, Rian langsung mencegahnya.


"Biar gue yang bayar! Kan gue yang ngajak lo makan disini,jadi nggak mungkin lo yang bayar."


"Aamiin. Dengan senang hati Hawa."


Hawa berdiri di samping Rian yang sedang membayar bill makanan mereka. Setelah selesai Rian mengajak hawa untuk keluar dari cafe AND. Saat di tempat parkir, hawa menerima helm yang di berikan kepadanya. Dia menolak tawaran Rian yang akan memakaikan helm di kepalanya.


Maaf Mas..Bukannya gue nggak mau, gue cuma belum terbiasa saja.


......---------......


Keesokan paginya Hawa di antar oleh Randy ke kantor karena motornya sedang di opname di bengkel. Jadi selama motornya nggak ada Randy lah yang di tugaskan untuk mengantar jemput Hawa.


"Lo tuh nyusahin banget sih Kak? Pokoknya nanti kalau gue sampai telat gue nggak bakalan mau jemput lo."


"Dari pada mulut lo berisik mending lo fokus bawa motornya deh! Nanti kalau kita kecelakaan lo mau tanggung jawab, Haah!"


"Ish! Hobinya ngancem mulu."

__ADS_1


Randy membelah jalanan dengan kecepatan 60 km/jam. Hawa tau kalau adiknya sekarang sedang mengumpatinya di dalam hati. Tapi Hawa tau kalau sebenarnya Randy itu sangat menyayanginya , kalau tidak sayang mana mau dia bela-belain bangun lebih awal buat mengantarkannya ke kantor yang jelas-jelas arahnya berlawanan dengan sekolahnya.


Walaupun sekolahnya tinggal ngesot sampai. Secara jarak rumah dengan sekolahnya sangat dekat,tinggal belok satu gang sudah sampai.


Setelah menempuh waktu yang tidak cukup lama ini, mereka akhirnya sampai di depan kantor tempat Hawa bekerja. Hawa memegang pundak Randy untuk berpegangan, Randy sendiri memilih diam saja untuk menahan motornya supaya tidak jatuh.


Hawa merapihkan penampilannya yang berantakan sebelum memasuki lobby kantornya. Hawa melihat ke arah Adiknya yang masih diam menunggunya.


"Apa?"


Randy menyodorkan tangannya di depan Hawa, Hawa menatap tangan Randy di sodorkan padanya. Dahinya berkerut bingung. Randy yang menyadari kelolaan kakaknya langsung berdecak sebal."Ckckck"


"Duitnya mana?"


"Duit apaan?"


"Astaghfirullah! Ya duit buat jajan gue lah Kak?!"


"Ooh! Ngomong dong dari tadi."


"Gue dari tadi nyodorin tangan itu apa namanya kalau bukan minta duit Hawa yang cantik?"


"Kkkkkk." Hawa terkekeh melihat Randy merotasikan kedua bola matanya. Dia sangat senang saat melihat Adiknya merajuk, sangat menggemaskan.


"Nih gue kasih! Tapi jangan langsung di habisin loh!" Hawa menyodorkan uang satu lembar merah kepada adiknya. Randy langsung bersemangat mengambilnya. Senyumnya terukir indah di wajah tampannya.


"Makasih kak. Anggap saja ini uang bensin karena gue udah nganterin lo kerja dari kemarin. Hehehe. Gue pergi dulu yah kak! takut telat. Assalamualaikum "


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati Dek! Hangat ngebut-ngebut!!"


"Siap laksanakan!"


Hawa tersenyum kecil saat melihat motor Randy sudah mulai melaju pergi menjauhinya. Dia begitu beruntung punya Adik seperti Randy. Walaupun suka ngajak gelut Mulu kalau di rumah.


Tanpa Hawa sadari, ada seseorang yang menatap tajam keakraban Hawa dan Randy. Tangannya mengepal kuat saat melihat Hawa masih saja tersenyum melihat kepergian Randy.


Orang itu berjalan mendekati Hawa yang masih belum sadar akan kedatangannya. Saat orang itu sudah berada tepat di belakang Hawa, dia langsung menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Hawa.

__ADS_1


"Bersenang-senang heh?!"


Tbc


__ADS_2