Adam & Hawa

Adam & Hawa
Chapter XXXII


__ADS_3

"Gue telfon nggak yah?" Hawa memandang ragu ponsel di tangannya.


"Tapi, kalau gue telfon dia sekarang nanti yang ada dia malah marah dan tersinggung. Lagian, gue juga nggak tau harus ngasih alasan apa jika dia bertanya 'Halo, ada apa? Bukannya kamu udah nolak saya tadi? Kenapa sekarang kamu malah nelfon saya lagi' ," Hawa menirukan gaya bicara Adam membuatnya terlihat seperti orang psiko.


Hawa menghela nafas, pasrah, dia tidak tahu harus dengan cara apa supaya dia tidak canggung nanti ketika mereka bertemu kembali.


"Hawa, apa kamu sudah membereskan kamar kamu?" tanya sang ibu dari luar kamarnya.


"Iya, ini, bentar lagi selesai, Bu." Hawa langsung meletakkan ponselnya di atas nakas lalu membereskan kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. Kakinya masih sedikit terasa sakit jika harus di gunakan untuk bergerak terlalu cepat. Oleh karena itu, Hawa mengambil dan menata bantalnya dengan sedikit tertatih dan setelah rapih Hawa keluar dari kamarnya menuju dapur.


"Udah selesai aku beresin, Bu kamarnya."


"Bagus dong? Yuk, sekarang waktunya kita makan! Tapi kamu panggil adik kamu dulu, di kamar!"


"Oke, siap Mom." Hawa bersiap memanggil Randy di kamarnya. Dia berjalan dengan pelan menuju kamar Randy yang terletak di samping kamarnya persis. Setelah sampai, Hawa menggedor pintu Randy dengar cukup keras hingga membuat sang ibu berdecak melihat kelakuannya.


"Woi, bangun! Dipanggil Ibu di suruh makan, cepetan!"


"Berisik banget sih, kak! Perasaan dari tadi tuh Lo udah kaya orang mau lahiran, rame sendiri. Ckckck."


"Wait! Maksud lo apa ngomong gitu sama gue, hah?"


"Yakh! Mau gue buang semua koleksi Jersey lo apa, hah!"


"Kalau lo berani sentuh koleksi Jersey gue, gue juga bakalan buang semua koleksi Adam di kamar lo itu!"


"Ibu~, Randy nya jahat Bu~" hawa langsung mengadu kepada ibunya. Sedangkan Randy dan ibunya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Hawa yang seperti anak kecil.


"Nggak inget umur apa, lo? Sumpah, jijik gue lihatnya." Randy mencibir kelakuan hawa yang sedang menjulurkan lidah padanya, seolah mengejeknya.


"Biarin, dari pada lo, masih muda tapi kelakuan kayak kakek-kakek yang udah berumur."


Randy yang tidak terima berniat menghampiri dan menjitak kepala hawa, tetapi di urungkan karena melihat kedatangan Ayahnya yang sudah di ruang makan. Bibirnya mencebik menatap hawa yang bersorak bahagia karena dia tidak jadi memukulnya.


"Tunggu saja nanti, gue bakalan bakar poster pacar halu, lo itu!" Ancam Randy dengan lirih

__ADS_1


"Randy, bagaimana sekolah kamu?" tanya sang kepala keluarga.


"Baik, Yah. Oh, iya, bulan depan sekolah mau ngadain tour ke Bali, jadi pihak sekolah meminta setiap murid untuk membayar biaya sekitar 1 juta kurang dikit. Paling lambat 1 Minggu sebelum keberangkatan, jadi Ayah jangan lupa bayar, yah?"


"Iya, nanti uangnya ayah titipin ke ibu."


"Diih, enak banget! Hawa juga pengin ikut, Yah?"


"Apaan, sih kak? Lo kemarin nggak inget apa habis semedi di Bali sebulan lebih, emang masih kurang?"


"Kurang, lah!"


"Diih, ngegas? Santai mbak bro nanti keselek baru tahu rasa."


"Ayah~ lihat tuh kelakuan Randy! Masa dari tadi ngledekin kakak mulu," rajuk hawa pada ayahnya.


"Aku lagi ,aku lagi yang disalahin. Jelas-jelas kakak duluan yang bikin gempar satu rumah dengan ke lebay'an kakak itu."


"Siapa yang lebay? Kamu kali yang lebay."


"Enak aja, kakak kali. Aku nggak pernah yah lebay kayak kakak. Emang kakak nggak inget waktu dulu, kakak pernah nangis kejer gara-gara nggak kebagian album barunya Adam Alditri sampai-sampai nangis seharian dan nggak mau makan juga. Tuh, siapa sekarang yang lebay?" Hawa langsung mengerucutkan bibirnya.


Ibu dan Ayah tetap melanjutkan acara makan mereka seakan tidak melihat pertengkaran anak-anaknya. Mereka sudah biasa bertengkar jika bertemu tetapi mereka akan saling menanyakan jika diantara salah satu diantara mereka tidak berada dirumah. Yah begitulah hubungan antara kakak beradik selalu berantem tapi ngangenin.


...--------...


Apartemen


Bima sedang berkutat di dapur sedangkan sang pemilik rumah masih tertidur pulas di ranjangnya. Bima yang semalam kelelahan memilih menginap di apartemen Adam tentu atas persetujuan sang pemiliknya. Bima yang memang pandai memasak, memilih memasak ayam rica-rica dan sayur capcay untuk sarapan mereka.


Setelah masakannya selesai, Bima menata semua hasil masakannya di atas meja makan dan juga mengambil piring serta sendoknya. Sementara itu, Adam yang baru saja keluar dari kamar melangkahkan kakinya menuju ruang makan meskipun belum mandi. Bima hanya diam saja tak mau berkomentar apa-apa dan memilih mengambil nasi serta lauk dan sayur dan di taruh diatas piringnya.


"Tumben lo masak, Bang?"


"Lagi pengin aja, kenapa?"

__ADS_1


"Lo nggak berniat ngeracunin gue, kan bang?" Bima yang sedang menyendokkan makanan kemulutnya langsung membanting sendoknya ke atas piring.


"Lo kenapa, sih, dari kemarin itu bawaannya nyebelin banget? Gue udah sabar-sabarin lo dari kemarin, yah Dam! Kalau elo masih kaya gini, mending gue balik sekarang."


"Apa sih, bang? Gitu aja ngambek? Maaf, deh! Gue kan tadi cuma bercanda doang. Duduk, bang. Duduk. Ayo kita makan lagi, makan lagi! Makasih yah, udah di masakin." Adam menarik tangan Adam yang akan pergi meninggalkan ruang makan. Bima menepis tangan Adam dan kembali duduk di kursinya. Akhirnya, mereka melanjutkan acara makan mereka yang tertunda karena harus ribut dulu.


"Hari ini gue ada jadwal nggak, Bang?"


"Ada."


"Dimana?


"Di stasiun TV."


"Ngapain?"


"Ngepel."


"Beneran?"


"Ya kali, Dam. Astaghfirullah hal'adzim. Sabar, sabar, sabar." Bima mengusap dad*nya tidak sabar. Sementara Adam malah terkikik geli sendiri melihat Bima yang marah-marah padanya.


"Kalau muka Lo bukan aset gue buat dapet duit, udah gue tonjok muka songong Lo itu, Dam? sumpah, ngeselin banget sih lo!"


"Kkkkk, habis muka lo lucu Bang kalau lagi misuh-misuh gitu. Hahaha."


"Udah seneng lo sekarang? Bisa ketawa-ketiwi kayak gitu. Lo nggak inget kemarin siapa yang habis di tolak cintanya?" cibir Bima sengaja.


"Kok, lo jahat sih bang sama gue? Gue kan jadi sedih lagi,"


"Bodo amat! Emang gue pikirin! Habisin makanannya! Gue mau pulang, nanti siang gue balik lagi kesini."


"Hmm,"


Tak dipedulikannya Bima yang pergi meninggalkan apartemen nya, karena Adam juga langsung pergi menuju kamarnya sendiri untuk mandi. Mungkin otaknya perlu disiram dengan air dingin, supaya bisa berpikir jernih. Dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan cinta dari Hawa, akan dia perjuangkan sampai tetes darah penghabisan.

__ADS_1


"Sekarang kamu bisa menolak cintaku, tapi akan ku pastikan suatu hari nanti kamu akan menjadi pasangan hidupku."


TBC


__ADS_2